Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Imran di rumah sakit
Elvan menghentikan langkahnya tepat di samping Papa Arland. Tatapan matanya yang sedingin es langsung mengunci sosok Imran. Aura mengintimidasi khas seorang dokter muda yang cerdas langsung menguar, membuat atmosfer di lorong VVIP itu semakin mencekam.
"Ada masalah apa di sini, Pa?" tanya Elvan datar, namun terselip nada menuntut di dalamnya.
Imran menoleh, menatap Elvan dari atas ke bawah sebelum menyunggingkan senyum remeh.
"Ah, si sulung. Sudah jadi dokter rupanya. Baguslah, setidaknya ada yang bisa menggantikan posisi papamu jika dia mulai menua dan tidak becus lagi."
"Jaga ucapanmu, Imran!" desis Papa Arland, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Batas kesabarannya hampir habis.
Elvan tidak terpancing. Ia justru maju satu langkah, menempatkan tubuhnya di depan sang papa seolah menjadi perisai.
"Anda berada di area privat rumah sakit, Tuan Imran. Jika kedatangan Anda ke sini hanya untuk memicu keributan dan mengganggu ketenangan pasien, terutama Keana, saya tidak akan segan memanggil pihak keamanan untuk menyeret Anda keluar dari gedung ini."
Hendra tertawa kecil, melangkah mundur satu langkah dengan santai.
"Mengancam saya? Lucu sekali. Saya ke sini hanya ingin memastikan kondisi keponakan saya. Tapi melihat kalian berdua yang tampak defensif, saya jadi semakin yakin kalau hak asuh Keana memang jatuh ke tangan yang salah lima tahun lalu."
Imran membenarkan posisi kerah jasnya, lalu menatap Papa Arland dengan pandangan penuh kemenangan.
"Ingat kata-kata saya, Arland. Ini baru awal. Saya akan mengawasi setiap kelalaian kecil yang kamu lakukan pada Keana. Selamat pagi."
Dengan langkah angkuh, Imran berbalik dan berjalan menuju lift, meninggalkan ketegangan yang masih membeku di lorong tersebut.
Papa Arland mengembuskan napas berat, bahunya sedikit merosot begitu pintu lift tertutup. Rasa bersalah yang sempat mereda kini kembali menghantam dadanya.
"Pa, jangan didengarkan. Pria itu hanya mencari celah untuk menjatuhkan keluarga kita," ucap Elvan, suaranya melunak saat berbicara pada papanya.
"Papa tahu, El. Tapi apa yang dikatakannya... ada benarnya," bisik Papa Arland lirih. "Papa gagal mengantisipasi pemicu traumanya kemarin. Papa terlalu fokus pada fisiknya, sampai lupa kalau mentalnya masih sangat rapuh."
"Ini bukan salah Papa. Itu murni kecelakaan di sekolah," tegas Elvan. "Sekarang yang terpenting kita perketat privasi Keana di rumah sakit ini. Elvan tidak mau orang itu atau mata-matanya berani mendekati kamar Keana."
Papa Arland mengangguk setuju, mencoba menguasai kembali emosinya. "Kamu benar. Ayo masuk, jangan sampai Mama dan adik-adikmu curiga."
Keduanya berjalan menuju ruangan Keana.
Ketika keduanya mendorong pintu kamar rawat VVIP, atmosfer tegang di lorong langsung tergantikan oleh pemandangan hangat. Keana tampak sedang tertawa kecil menyuap supnya, sementara Gavin sibuk mengoceh memamerkan filter-filter lucu di ponselnya.
"Lho, Elvan? Sudah kembali? Cepat sekali," sapa Mama Soraya menyadari kedatangan putra sulungnya. Namun, sebagai seorang istri yang peka, Mama Soraya langsung menangkap perubahan raut wajah suaminya.
"Papa... ada apa? Kok mukanya tegang begitu?"
Gavin dan Keana seketika menghentikan aktivitas mereka, ikut menatap Papa Arland dan Elvan dengan bingung.
Gavin yang menyadari abang sulungnya sudah mengenakan jubah dokter rapi langsung menyipitkan mata. "Bang El abis ketemu pasien ngeselin ya di luar? Mukanya kayak mau ngajak tawuran."
Elvan melirik Gavin sekilas dengan tatapan datarnya, mengabaikan celetukan adiknya yang selalu sembarangan.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Tadi Elvan hanya berpapasan dengan Papa di lorong saat mau masuk," jawab Elvan tenang, suaranya terdengar sangat meyakinkan seolah tidak terjadi badai apa pun di luar sana beberapa menit yang lalu.
Papa Arland tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan di wajahnya sendiri agar sang istri tidak semakin curiga. Ia berjalan mendekati Mama Soraya dan merangkul pundaknya lembut.
"Iya, Ma. Papa cuma agak lelah karena sedikit kurang tidur semalam. Tidak ada apa-apa."
Meskipun insting seorang ibu dan istri membuatnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan, beliau memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan di depan anak-anaknya.
Sementara itu, Gavin yang duduk di sisi ranjang Keana diam-diam memperhatikan interaksi ayah dan abangnya dengan dahi sedikit berkerut. Sebagai anak yang biasanya paling peka terhadap perubahan atmosfer meski sering bersikap konyol, ia tahu ada yang tidak beres. Tatapan mata Elvan saat masuk tadi bukan tatapan lelah, melainkan tatapan waspada yang tajam.
Gavin menyenggol lengan Keana pelan dengan sikunya, berbisik sangat lirih,
"Ndut, kamu merasa aura kamar ini tiba-tiba jadi agak mencekam gak, sih? Kayak ada konspirasi tingkat tinggi."
Keana yang sedang mengunyah sup asparagusnya menggeleng pelan, ikut berbisik.
"Kak Gavin jangan mulai deh. Papa cuma capek."
"Hush. Anak-anak dilarang berbisik di depan makanan," tegur Mama Soraya hangat, membuat Gavin langsung memamerkan cengiran kudanya dan kembali menyuap nasi goreng menteganya dengan lahap.
Setelah memastikan Keana menghabiskan sarapannya dan suasana di dalam kamar kembali mencair, Elvan memberi kode mata kepada Papa Arland bahwa ia harus segera menuju ke ruang perawat untuk memulai shift siangnya.
"Elvan kerja dulu, Pa, Ma," pamit Elvan. Ia menatap Keana yang kini terlihat jauh lebih segar.
"Kea, Aku ada di lantai ini sampai sore nanti. Kalau ada apa-apa atau merasa sesak lagi, langsung suruh Gavin memanggilku. Mengerti?"
"Iya, Bang El. Semangat kerjanya," jawab Keana manis dengan senyuman yang membuat hati siapa pun meleleh.
Elvan mengangguk, lalu berbalik keluar dari kamar rawat. Begitu pintu VVIP itu tertutup rapat di belakangnya, senyuman tipis di wajah Elvan langsung lenyap. Wajahnya kembali mengeras, dipenuhi oleh kilat kemarahan yang tertahan sejak konfrontasinya dengan Imran tadi.
"Kamu tidak pergi ke kampus, Gavin? Ini hari pertama mu masuk kuliah kan?" tanya Mama Soraya.
"Iya, tapi Gavin males, Ma. Gavin di sini aja ya, jaga Keana. Kan Mama sama papa mau kerja, kasian dong Kea kalu sendirian".
"Sebenarnya itu tidak bagus, tapi kali ini saja, tidak apa-apa kamu tidak masuk kuliah. Kasian juga Kea kalau tidak ada yang menjaga. Takutnya Kea butuh sesuatu" timpal Papa Arland . Walaupun alasan sebenarnya takut ada mata-mata dari Imran.
"Yasudah. Kamu jaga Kea baik-baik. Awas, jangan keluyuran!" peringatan sang Mama.
"Siap Boss!" Gavin berdiri tegak sembari memberi hormat. Keana yang melihat itu hanya cekikikan melihat sikap kakaknya.
"Hari ini, Kea juga sudah bisa pulang. Nanti sore kita pulang ke rumah" ucap Papa Arland.
Keana senang mendengarnya.
"Akhirnya. Kamu pulang juga, Ndut" Sahut Gavin.
"Ih, Kak Gavin! Kea gak gendut ya!" protes Keana spontan, memanyunkan bibirnya kesal sambil melempar sendok plastik bekas pudingnya ke arah Gavin yang dengan mudah ditangkap olehnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gak gendut gimana, pipi lo udah kayak bakpao anget gitu sejak bangun tidur," goda Gavin lagi, sengaja mencubit kedua pipi Keana gemas sampai adiknya itu mengaduh.
"Ma, lihat Kak Gavin nih! Baru sembuh udah diajak berantem!" adu Keana pada Mama Soraya, mencari pembelaan.
Mama Soraya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya, namun senyum lega tak lepas dari wajahnya.
"Gavin, jangan digodain terus adiknya. Tapi Papa serius kan, kita bisa pulang sore ini? Semua administrasinya sudah beres?" tanya Mama Soraya, beralih menatap suaminya.
Papa Arland mengangguk hangat, mengusap pundak sang istri untuk memberikan rasa tenang.
"Iya, Ma. Dokter Rian sudah memberikan izin. Semua hasil pemeriksaan Keana bagus. Sisanya tinggal rawat jalan dan pemulihan trauma di rumah, di lingkungan yang membuat Kea merasa paling aman."
Mendengar kata "rumah", binar bahagia di mata Keana semakin terpancar. Kamar rumah sakit yang serba putih dan bau obat-obatan ini perlahan mulai membuatnya jenuh. Ia merindukan kamarnya sendiri, merindukan aroma masakan Mama di dapur rumah mereka, dan merindukan suasana tenang yang biasa menyelimutinya.
"Asyik! Akhirnya bisa tidur di kasur sendiri," seru Keana riang.
"Iya, tapi sampai di rumah lo harus tetap istirahat total. Gak ada main gadget sampai larut malam, gak ada begadang. Nanti kakak yang bakal jadi kepala sipir yang mengawasimu 24 jam," sahut Gavin sok berkuasa, membusungkan dadanya berlagak seperti penjaga keamanan.
"Dih, emang Kea mau diawasi sama Kak Gavin? Yang ada nanti camilan Kea habis semua dimaling sama sipirnya," balas Keana telak, membuat Papa Arland dan Mama Soraya tertawa renyah, sementara Gavin langsung mendelik dramatis memegangi dadanya seolah terluka parah.
Di tengah tawa hangat itu, Papa Arland diam-diam menatap Keana dengan tatapan penuh tekad. Di dalam hatinya, ia berjanji tidak akan membiarkan siapa pun termasuk Imran merusak kebahagiaan dan senyuman yang baru saja kembali di wajah Keana. Rumah mereka harus menjadi benteng terkuat untuk melindungi gadis kecil ini.