"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macha Sayang Saddy
"Daddy... ."
Di bawah pengaruh obat penenang yang belum sepenuhnya lenyap, gadis kecil itu bergumam lirih saat mendapati sosok itu perlahan mendekati ranjangnya.
"Daddy..." panggilnya lagi.
Tangan kecilnya yang lemah kini terulur, meminta sosok itu untuk merengkuhnya.
Sejenak, laki-laki itu mematung-ragu.
Namun, melihat binar samar di mata mungil yang sayu itu, perlahan ia membungkukkan tubuhnya. Tangan besarnya kemudian bergerak merengkuh tubuh mungil yang rapuh itu.
"Daddy... pulang?" Gadis kecil itu berbisik pelan, nyaris tak terdengar karena teredam oleh masker oksigen.
Dalam rengkuhan itu, Leon hanya membisu. Mulutnya terkatup rapat. Namun, perasaan asing yang tiba-tiba menyeruak di dalam dirinya seolah menghantam dadanya dengan telak. Membuatnya sesak.
"Macha... lindu daddy." Suara kecil itu kembali mengudara, memecah hening diantara dinginnya udara kamar yang menusuk.
Leon memundurkan wajahnya perlahan.
Disana, di balik masker oksigen itu, sebaris senyum itu terbit. Senyuman polos yang selalu membayangi Leon sejak dua pertemuan singkat mereka sebelumnya.
"Daddy..." Lagi, suara itu memanggil. Seolah kata itu adalah panggilan favorit dari gadis kecil berumur tiga tahun itu.
Tenggorokan Leon tercekat. Logikanya berontak menolak, namun jemarinya justru terulur—mengusap kaku puncak kepala bocah itu tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata.
Kelopak mata yang kian berat itu perlahan terpejam. "Macha... shayang.. Daddy." bisik Marsha untuk terakhir kali, sebelum akhirnya tubuh mungil itu sepenuhnya menyerah pada efek obat penenang yang menjalar.
Ruangan itu kembali sunyi, menyisakan Leon yang mematung dan Alina yang kini terisak dalam rengkuhan Ummi Hannah.
Melihat interaksi singkat tadi, dada Alina terasa seperti dihantam sembilu. Sejak lahir, Marsha tak pernah merasakan hangatnya dekapan seorang ayah. Namun kini, di saat tubuh kecilnya didera sakit, tatapan dan kerinduan polos gadis kecil itu pada Leon justru membuktikan betapa dalamnya rasa haus Marsha akan sosok ayah.
Rasa bersalah itupun menjalar tanpa kompromi.
Jika saja dulu ia tidak terpaksa meninggalkan laki-laki itu, mungkin saja Marsha akan hidup bahagia. Jika saja ia tidak memilih untuk meninggalkan laki-laki itu, mungkin saja Marsha tidak akan di dera sakit.
Kenapa? Kenapa ia harus melalui semua ini.
Alina sangat lelah.
Lelah sekali.
Leon kemudian bangkit. Wajahnya kembali membeku—dingin, sedingin es di kutub.
"Antar aku untuk pemeriksaan itu." ucapnya datar tanpa nada.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Alina dengan cepat mengusap isaknya. "Al titip Marsha dulu ya, Teh."
"Ya, pergilah."
Anggukan ummi Hannah itu membuat Alina kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu, di susul Leon yang berjalan pelan di belakangnya.
Hening seketika menjalar saat dua insan itu sama-sama melangkah dalam kebisuan.
Hingga akhirnya mereka tiba di ruang laboratorium.
Seorang perawat dengan sigap mempersiapkan alat dan mengambil tindakan. Tak sampai lima menit, prosedur itu selesai, ditutup dengan selembar plester yang menempel rapi di bekas suntikan Leon.
"Terimakasih." Ucap Alina, pelan.
Perempuan yang sedari tadi berdiri mematung di belakang Leon itu akhirnya berseru. Suaranya terdengar layu, sepadan dengan raut wajahnya yang menyiratkan kelelahan mendalam serta binar mata yang kian redup.
Lagi, Leon hanya membisu.
Laki-laki itu kemudian beranjak dan menyusul Max yang sudah menunggunya di luar dengan sigap.
"Tuan, pihak Yield Global kembali menanyakan kepastian perjalanan dinas Anda ke Paris." Max berseru saat ia tak memiliki pilihan lain selain melaporkannya pada atasannya itu. Ia hanya memiliki setengah jam lagi untuk memberikan konfirmasi terkait kehadiran Leon dalam konferensi itu.
"Kapan jadwal keberangkatan ku?" Tanya Leon, datar.
"Dua hari lagi, Tuan. Pihak Yield Global merencanakan konferensi ini berlangsung hingga akhir bulan—atau sekitar tiga minggu ke depan."
Akhir bulan ini?
Jadi, laki-laki itu akan pergi hingga akhir bulan nanti?
Itu artinya, Leon akan berada di luar negeri tepat di saat ia seharusnya mendonorkan sumsum tulang belakangan untuk Marsha?
Tidak.
Tidak boleh.
Laki-laki itu tidak boleh pergi.
"Mas akan pergi?"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar