Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN DARI KAISAR
"Berikan ramuan itu pada mereka, pastikan mereka tetap hidup tapi tidak bisa bergerak, aku akan kembali besok malam untuk sesi berikutnya," perintah Rania, pada bawahan nya.
"Baik, Nona" jawab nya tegas dan patuh.
Rania berjalan menuju pintu gudang, namun dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, memberikan senyum miring yang paling mematikan.
"Selamat menikmati malam pertama kalian di neraka buatanku, dan jangan berharap ada yang menolong, karena di hutan ini, satu-satunya yang akan mendengar teriakan kalian hanyalah pohon-pohon mati," ucap Rania.
BRAKKK
Pintu gudang tertutup rapat, meninggalkan Diana dan Viola dalam kegelapan yang mencekam bersama para prajurit bayangan yang siap menjalankan perintah penyiksaan dari Rania.
Rania berjalan keluar menuju mansion, menghirup udara malam yang terasa sangat segar, beban di hatinya sedikit terangkat, meski ia tahu ini baru permulaan.
"Satu masalah selesai, tinggal bagaimana menjelaskan pada Duke dan kaisar gila itu kenapa dua tahanan penting mereka hilang," batin Rania sambil tersenyum tipis.
Saat Rania hampir sampai di paviliunnya, dia melihat sosok Dav sudah berdiri di sana dengan wajah yang sulit diartikan.
"Untuk apa Anda malam-malam ada di sini, ingin mencuri?" tanya Rania, memicingkan mata nya.
"Uang saya sudah sangat banyak, Nona," jawab Dav, kesal.
"Oh ya aku lupa, kau kan pria jomblo, tentu saja uang mu banyak, karena kamu tidak memiliki kekasih," ucap Rania, melipat kedua tangannya.
Dav menghela nafas nya panjang, berusaha meredam kekesalan nya, ternyata Nona melati milik tuan nya ini, sangat menyebalkan.
"Sabar Dav, sabar, bagaimana pun gadis menyebalkan ini, besar kemungkinan akan menjadi Permaisuri Kekaisaran Gild," batin Dav, sabar.
"Sial! Bisa gila aku kalau harus berhadapan dengan Lady Rania setiap hari," batin Dav, tertekan.
"Kau mengumpat ku?" tanya Rania, dingin.
"Maaf Lady Rania... Yang Mulia Kaisar menitipkan pesan," ucap Dav sambil membungkuk.
"Apalagi sekarang? Apa dia ingin ku cium lagi?" tanya Rania, memutar bola matanya malas.
"Ehem!"
Dav berdehem canggung, wajahnya memerah.
"Bukan, Lady. Beliau hanya bilang... Anda di tunggu kedatangannya ke istana kekaisaran besok," jawab Dav, sopan.
"Katakan padanya, aku sibuk! Sekarang pergi!" ucap Rania mendengus kasar.
Tidak ingin berdebat lebih lama dengan Rania, karena Dav masih ingat bagaimana rasa tinjuan dari gadis kecil itu, yang mampu membuat wajah nya lebam selama seminggu.
"Saya permisi, Lady," ucap Dav, berjalan pergi dari sana
Setelah kepergian Dav, Rania masuk ke kamarnya, bersiap untuk istirahat karena besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.
Rania melepaskan jubah hitamnya dan melemparkannya ke atas kursi, tubuhnya terasa pegal, namun ada kepuasan yang menjalar di nadinya, dia merebahkan diri di ranjang empuknya, menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Sistem," panggil Rania dalam hati.
"Indikator Kiamat 18%."
"Kaisar Aron Gild sedang mengalami insomnia karena terus memikirkan ciuman Anda, disarankan untuk segera tidur agar Anda tidak ditarik ke dalam mimpinya secara paksa melalui ikatan energi, untuk kembali berciuman mesra."
"Tutup mulutmu! Kenapa laporanmu semakin tidak bermutu?" umpat Rania sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Meskipun begitu, dia tidak bisa memungkiri bahwa bayangan seringai Aron saat dia mencium pipinya tadi terus berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak.
"Berhenti memikirkan kaisar gila itu Rania," batin Rania, menutup mata nya.
*****
Keesokan paginya, suasana di kediaman Belmont terasa sangat tegang.
Duke Victor telah mengumpulkan seluruh pelayan dan prajurit di aula utama, setelah mendapatkan kabar bahwa Diana dan Viola melarikan diri dari penjara istana.
Wajah Duke Victor terlihat sangat kusut, matanya merah karena tidak tidur semalaman.
Di sampingnya, Dante berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya mengeras saat beberapa ksatria melapor bahwa Diana dan Viola telah hilang dari penjara istana.
BRAKK
"Bagaimana mungkin dua wanita lemah bisa kabur dari penjara bawah tanah istana?!" bentak Duke Victor, menggebrak meja hingga cangkir teh di atasnya bergetar.
"Maaf, Duke, penjaga melapor bahwa mereka melihat pria berpakaian hitam yang berlari sangat cepat. Saat mereka tersadar, sel sudah kosong," lapor salah satu ksatria dengan gemetar.
"Pasti ada yang membantu mereka! Cari sampai ketemu! Aku tidak mau mereka kembali dan mencelakai Rania lagi!" perintah Dante penuh amarah.
Tepat saat itu, Rania turun dari tangga dengan gaun berwarna mocca yang elegan, rambutnya tergerai indah dengan hiasan bulan sabit yang berkilau di dahinya.
Rania berjalan dengan tenang, seolah-olah berita hilangnya dua tahanan itu hanyalah berita cuaca harian yang membosankan.
"Tidak perlu repot-repot mencari mereka," ucap Rania santai, suaranya menghentikan perdebatan di aula.
"Rania? Apa maksudmu?" tanya Duke Victor dan Dante serentak menoleh.
Rania duduk di kursi makan utama, mulai mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat anggun.
"Mereka tidak kabur, mereka hanya pindah tempat ke lokasi yang lebih aman," jawab Rania, melirik Ayah dan Kakak nya.
Dante memicingkan mata, otaknya yang cerdas mulai menyambungkan titik-titik kecurigaan.
"Rania... jangan katakan padaku kalau kau yang-"
"Iya, aku yang membawa mereka," potong Rania sebelum Dante menyelesaikan kalimatnya.
Rania menggigit rotinya, lalu menatap ayah dan kakaknya dengan tatapan menantang.
"Penjara istana terlalu mewah untuk mereka. Aku ingin mereka merasakan dinginnya lantai gudang sebelum mereka benar-benar membusuk di neraka," ucap Rania, dingin.
"Rania... itu berbahaya Nak, jika Kaisar tahu kau membobol penjara pribadinya, dia bisa menganggap ini sebagai pengkhianat pada kekaisaran," ucap Duke Victor terduduk lemas di kursinya.
"Kaisar gila itu sudah tahu," jawab Rania datar.
"Dav sudah datang semalam, dan sepertinya majikannya itu justru senang aku bermain-main sedikit," lanjut Rania, santai, seperti membicarakan tukang kebun.
Duke Victor memijit pelipisnya, putri kecilnya benar-benar sudah berubah menjadi sosok yang tidak bisa diprediksi.
"Sekarang, kalian berdua ikut aku ke ruang kerja Ayah. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan pada kalian berdua," ucap Rania meletakkan garpunya, suaranya berubah menjadi sangat dingin.
"Ayo"
Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan Rania di tengah-tengah dua pria tinggi itu, membuat tubuh kecil Rania tenggelam.
Di dalam ruang kerja Duke Victor yang tertutup rapat, Rania meletakkan surat pengakuan Tabib Aris dan botol racun mawar hitam di atas meja.
"Baca ini," perintah Rania singkat.
Duke Victor dan Dante mulai membaca surat itu, perlahan, wajah mereka berubah menjadi pucat pasi, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak-ledak.
Sementara tangan Duke Victor gemetar hebat hingga kertas itu hampir sobek.
"Jadi... Eleanor... dia tidak mati karena melahirkan?" bisik Victor dengan suara yang pecah, air mata mulai menggenang di matanya yang selama ini keras.
"Dia dibunuh? Oleh Diana?" tanya Duke Victor, pelan.
sehat selalu buat autor paling the best lah pokoknya 👏👏👏👏