NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keesokan paginya, seperti biasa setelah sarapan bersama, Daniel berpamitan kerja.

Kecupan hangat di kening Amira dan Felia menjadi pembuka hari yang manis, seolah ketegangan tentang ingatan Puncak semalam telah larut bersama malam.

Daniel melangkah keluar menuju mobilnya, meninggalkan kehangatan di dalam rumah.

Namun, baru saja beberapa menit mobil Daniel beranjak keluar dari gerbang, bel rumah kembali berbunyi.

Amira yang mengira suaminya ada barang yang tertinggal segera melangkah ke depan untuk membukakan pintu.

Saat akan menutup pintu, kedatangan Gayatri yang meminta bertemu dengan Felia mengejutkan Amira.

Ibu mertuanya itu berdiri di ambang pintu dengan wajah angkuh, namun ada gurat pemaksaan saat menuntut untuk melihat cucunya.

"Minggir, aku mau ketemu sama Felia!" ketus Gayatri, mencoba menerobos masuk.

Mengingat semua perlakuan buruk wanita itu di masa lalu dan bagaimana Felia selalu merasa ketakutan setiap kali neneknya datang membawa aura permusuhan, Amira menahan gagang pintu dengan kuat.

Tatapan matanya kini tidak lagi rapuh, melainkan penuh keberanian seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.

"Maaf Nyonya, Felia tidak mau bertemu dengan Anda," ucap Amira yang kemudian menutup pintu rumahnya dengan tegas tepat di depan wajah Gayatri, menguncinya rapat-rapat tanpa peduli pada teriakan marah wanita itu dari luar.

Gayatri menggedor-gedor pintu rumah dengan brutal dari luar.

Suara hantaman keras pada kayu jati itu terdengar berdentum berkali-kali, diringi teriakan marahnya yang menuntut agar pintu segera dibuka.

Mendengar kegaduhan di depan, Felia yang sedang duduk di ruang tengah langsung tersentak.

Wajah kecilnya seketika pias, dan tubuhnya mulai gemetar ketakutan karena mengenali suara lengkingan neneknya.

Melihat reaksi putrinya, Amira mengajak Felia ke kamar utama di lantai atas guna menjauhkan bocah itu dari sumber suara yang mengintimidasi.

Amira mengunci pintu kamar rapat-rapat, lalu memeluk Felia dengan erat sampai napas putrinya kembali teratur.

Untuk mengalihkan perhatian dan menghilangkan trauma Felia, Amira mengambil buku gambar dan krayon baru yang mereka beli di mal kemarin, lalu menyodorkannya dengan senyuman menenangkan.

"Felia mau menggambar?" tanya Amira lembut, membelai rambut putrinya.

Melihat buku gambar baru di hadapannya, ketakutan di wajah Felia perlahan memudar, digantikan oleh binar penuh semangat.

"Iya Mama, Felia mau!" seru Felia riang, langsung meraih krayon warna-warni dan mulai melupakan ketukan pintu yang samar-samar masih terdengar dari lantai bawah.

Felia mulai menggambar dengan tekun di atas kasur.

Jemari mungilnya menggoreskan krayon hijau dan kuning, membentuk gambar rumah kecil dengan matahari yang tersenyum.

Amira memperhatikan putrinya dengan lega, terutama karena kini sudah tidak ada suara Gayatri di depan rumah mereka.

Suasana rumah kembali hening dan tenang.

Tok tok tok!

Ketukan di pintu lantai bawah kembali terdengar, kali ini lebih pelan dan sopan.

Amira menghela napas panjang. Amira membuka pintu dan mengira itu Gayatri yang masih nekat datang untuk membuat keributan.

Wajahnya sudah bersiap untuk kembali bersikap tegas.

Namun, saat membuka pintu, Amira melihat seorang lelaki dan wanita berpakaian rapi dengan setelan formal, masing-masing membawa sebuah map kulit tebal di tangan mereka.

"Selamat siang. Pak Daniel ada?" tanya pria itu dengan sopan.

"Pak Daniel sedang di kantor. Ada keperluan apa?" jawab Amira ramah.

Melihat gelagat keduanya yang tampak profesional dan tidak berniat buruk, Amira mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruang tamu.

Setelah mereka duduk, wanita yang menjadi tamu itu menatap Amira dengan dahi berkerut, tampak mengamati wajah Amira dengan saksama.

"Apakah Anda Nyonya Selena?" tanyanya ragu.

Amira tersenyum tipis, sudah terbiasa dengan reaksi seperti ini.

"Bukan, saya Amira. Wajah kami memang mirip," koreksinya dengan tenang.

"Ada apa, ya?" tanya Amira penasaran, melihat ekspresi kedua tamu itu yang mendadak berubah menjadi canggung.

Pria itu berdeham, lalu membuka map yang dibawanya dan menyodorkan selembar berkas resmi ke atas meja.

"Ini asuransi Nyonya Selena dan asuransi mobil Tuan Daniel yang mengalami kecelakaan Tuan Daniel satu bulan yang lalu," jelas pria itu.

"Kami dari pihak agen asuransi ingin menyerahkan dokumen pencairan dana dan klaim kerusakan total atas insiden tabrakan di jalur Puncak malam itu."

Deg.

Amira terpaku menatap lembaran kertas di atas meja.

Di sana tertulis jelas tanggal kejadian, nomor pelat mobil Daniel, dan kronologi singkat benturan dua kendaraan yang melibatkan suaminya.

Kebohongan Daniel tentang "melihat keramaian dan menolongnya" semalam, seketika runtuh di hadapan dokumen resmi ini.

"Ini uang asuransi Nyonya Selena sebesar 30 Miliar," ucap petugas wanita itu sembari menyodorkan berkas perincian dana klaim jiwa yang nominalnya sangat fantastis.

"Tiga puluh miliar?" gumam Amira dengan suara tertahan.

Dadanya mendadak terasa sesak. Angka yang begitu besar itu tertulis di atas dokumen kematian mantan istri suaminya.

"Benar, Nyonya. Dan ini untuk mobil Tuan Daniel," tambah petugas pria sambil menyodorkan lembar dokumen kedua yang berisi klaim kerusakan total atas mobil mewah Daniel yang ringsek pada malam yang sama.

"Karena Tuan Daniel sedang tidak berada di rumah, Anda sebagai istri sah bisa mewakili beliau untuk menerima berkas ini."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Amira menandatanganinya satu per satu.

Pena di tangannya terasa begitu berat saat menggoreskan tanda tangan di atas kertas-kertas yang menyimpan misteri kelam tersebut.

Setelah proses administrasi selesai, kedua petugas asuransi itu berpamitan dan melangkah keluar dari rumah.

Amira mengantar mereka sampai ke pintu depan, lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa salinan berkas tersebut.

Ia duduk bersandar, menatap nanar dokumen di atas meja yang dengan jelas membuktikan bahwa mobil Daniel terlibat langsung dalam kecelakaan satu bulan lalu—bukan sekadar "kebetulan lewat dan menolong" seperti cerita Daniel semalam.

"Apa yang sedang kamu sembunyikan, Mas?" gumam Amira lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Rasa curiga kini bercampur aduk dengan rasa takut, mengikis perlahan kepercayaan yang baru saja ia serahkan kembali pada suaminya.

Amira segera melangkah ke kamar Felia dengan langkah tergesa-gesa namun berusaha tetap terlihat tenang di depan putrinya.

Amira memanggil suster untuk menemani Felia agar bocah itu tidak sendirian dan tetap aman di dalam rumah.

Setelah memastikan suster menjaga Felia, Amira kembali ke kamarnya dengan dada yang bergemuruh hebat.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memasukkan semua uang asuransi ke tasnya, termasuk berkas-berkas klaim yang baru saja ia tandatangani.

Dokumen itu adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan cerita Daniel.

Rasa penasaran dan gelisah yang membakar hati membuat Amira tidak bisa menunggu Daniel pulang ke rumah nanti malam.

Kebenaran harus terungkap sekarang juga. a membuang waktu, ia segera memanggil taksi untuk mengantarnya ke kantor Daniel.

Di sepanjang perjalanan, Amira hanya menatap kosong ke luar jendela, meremas tali tasnya erat-erat sembari mempersiapkan hati untuk menghadapi apa pun rahasia yang tengah disembunyikan oleh suaminya.

Sesampainya di perusahaan, Amira segera menuju ke lantai atas dengan langkah penuh kemarahan yang tertahan.

Begitu ia melangkah masuk ke koridor utama kantor, semua orang terkejut dan ada yang pingsan melihat wajah Amira yang seperti Selena, seolah-olah melihat hantu yang kembali dari kematian.

Daniel terkejut ketika melihat Amira ada di hadapannya.

"Amira? Sayang, ada apa?" tanyanya, mencoba mendekat dengan wajah penuh kebingungan.

Tanpa basa-basi, Amira menatap suaminya dengan mata berapi-api.

"Mas, jujur sama aku, apakah kamu yang menabrakku?"

Daniel tertegun, wajahnya pucat pasi. "Sayang, bukan aku..."

"JANGAN BOHONG!!" teriak Amira, suaranya menggema di seluruh lantai itu.

Melihat kerumunan karyawan yang mulai berbisik, Daniel lekas menutup pintu ruang kerjanya dan menarik Amira masuk.

"Sayang, ada apa?" tanya Daniel lagi, suaranya kini mulai gemetar.

"Jawab, Mas!!" tantang Amira, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Daniel menghela napas panjang, bahunya merosot, pertahanan dirinya akhirnya runtuh.

"Iya, aku yang menabrakmu. Malam itu aku mengantuk dan aku tidak sengaja menabrakmu."

Amira terhuyung mundur, hatinya terasa hancur berkeping-keping.

"Jahat kamu, Mas! Apa karena asuransi itu kamu membunuhku? Agar asuransi mantan istrimu cair karena wajahku yang sama, kamu takut jika asuransi tidak cair?!"

Daniel mematung, keningnya mengernyit bingung.

"Asuransi? Asuransi apa?"

Tanpa menjawab, Amira membuka tasnya dan melempar uang asuransi ke arah Daniel, berkas-berkas itu berserakan di lantai ruang kerja yang mewah itu. "

"Lihat itu! Mulai detik ini, aku bukan istrimu lagi dan tolong jangan muncul lagi di hadapan lagi!!"

BRAKKK!!

Amira membanting pintu ruang kerja itu dan meninggalkan ruangan itu, berlari menuju lift sambil menangis sesenggukan. Suara hatinya berteriak pedih, "Jahat kamu, Mas..."

"Amira, tunggu aku!! Aku tidak tahu masalah ini!!" teriak Daniel panik, mencoba mengejar istrinya keluar, namun Amira sudah jauh berlari dengan luka batin yang tak lagi bisa disembuhkan.

"Amira!!" teriak Daniel frustrasi, namun Amira tak lagi menoleh.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!