Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Langit sudah gelap saat mobil Regan akhirnya berhenti di depan mess. Hari sudah lewat Magrib, sedikit lebih lama dari janji awal karena Zayyan begitu asyik bermain. Di tangan kiri Regan, beberapa kantong plastik berisi makan malam yang sempat ia belikan untuk mereka bertiga.
Regan menggandeng tangan Zayyan melangkah menyusuri koridor hingga tiba di depan pintu mess. Begitu pintu terbuka, Regan menuntun Zayyan masuk ke dalam.
"Zayyan mandi dulu ya, biar pas Ibu pulang Zayyan udah bersih dan wangi," ujar Regan lembut sambil melepas tas sekolah anak itu.
"Iya, Om," jawab Zayyan menurut. Anak itu langsung berjalan menuju kamar mandi membawa baju gantinya.
Regan tersenyum tipis menatap punggung kecil itu, lalu melangkah ke meja makan untuk menata makanan yang baru saja ia beli.
Mess tersebut terasa begitu sempit dan sederhana, sangat berbeda dengan kediaman mewahnya. Regan mengedarkan pandangan, lalu mulai bergerak merapikan barang-barang yang berserakan, menyusun buku-buku Zayyan di meja kecil, dan membersihkan sisa debu agar Arin tidak makin terbeban saat pulang nanti.
Di tengah kesibukannya, ponsel di saku celana Regan bergetar. Nama "Mama" tertera di layar. Regan menghentikan kegiatannya, menghela napas pendek, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Ma?" panggil Regan santai.
"Regan, kamu di mana? Jam segini kok belum sampai rumah? Kamu pulang kan malam ini?"
Regan melirik ke arah pintu kamar mandi yang terdengar gemericik air, lalu memutarkan badannya membelakangi suara itu.
"Ngga, Ma. Regan nginap di rumah teman malam ini," jawab Regan.
"Rumah teman yang mana? Regan, Papa kamu itu...."
"Teman kantor, Ma. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan sampai besok pagi. Udah dulu ya, Ma, Regan lagi sibuk," potong Regan sebelum mamanya sempat menginterogasi lebih jauh.
Tanpa menunggu balasan lagi, Regan langsung mematikan sambungan telepon. Ia mengembuskan napas berat, lalu kembali melanjutkan kegiatannya merapikan mess mungil itu.
Pintu kamar mandi terbuka. Zayyan melangkah keluar sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar karena kedinginan, hanya terbungkus handuk dari dada hingga paha.
"Duh, kedinginan ya?" Regan yang melihatnya langsung mendekat dan berlutut di hadapan anak itu. Tangannya bergerak cepat mengambil handuk di kepala Zayyan lalu menggosok rambutnya pelan-pelan.
"Iya Om... airnya dingin," sahut Zayyan dengan gigi yang sedikit bergemelutuk.
"Mana tempat bajunya? Biar Om bantu ambil," tanya Regan sigap.
Zayyan menunjuk ke arah lemari plastik tiga susun di sudut ruangan.
"Di laci yang paling atas, Om. Baju tidur Zayyan di sana."
"Zayyan, Om juga mau mandi sebentar ya," kata Regan.
Sebelum menjemput Zayyan tadi, ia memang sempat mampir ke mal untuk membeli beberapa setel pakaian santai dan peralatan mandi sendiri. Regan lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang serba terbatas itu.
"Handuk Ibu mana?" tanya Regan bingung mencari keberadaan handuk lain.
"Ada di kamar mandi, Om, tergantung di pintu. Yang warna biru punya Ibu," sahut Zayyan polos sambil menduduki pinggiran kasur.
Regan mengangguk paham. Ia mengambil baju gantinya dari dalam tas belanjaan. "Om mandi dulu ya. Mau nonton kartun nggak?"
"Mau, Om!" seru Zayyan dengan mata berbinar.
Regan mengambil remote TV tua di atas meja, menyalakannya, lalu memilihkan saluran kartun favorit anak-anak. Ia menyerahkan remote itu ke tangan Zayyan.
"Nih. Tunggu ya, jangan kemana-mana," pesan Regan menepuk pelan bahu Zayyan sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar mandi.
Gemericik air di kamar mandi akhirnya berhenti. Regan mematikan pancuran, lalu mematikan kran. Namun, saat hendak meraih pakaian gantinya, matanya terpaku pada gantungan baju yang kosong. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena terlalu fokus menyiapkan TV untuk Zayyan, tas belanjaan berisi baju barunya tertinggal di atas meja luar.
Pandangannya tertuju pada handuk warna biru milik Arin yang tergantung di pintu kamar mandi. Tanpa pilihan lain, Regan meraih handuk itu dan melingkarkannya di pinggang. Handuk itu terasa agak kekecilan untuk posturnya yang tinggi tegap, tapi cukuplah untuk menutup bagian bawah tubuhnya.
Regan membuka sedikit pintu kamar mandi, memunculkan kepalanya ke luar.
"Zayyan, Ibu udah pulang belum?" tanya Regan setengah berbisik.
"Belum, Om!" jawab Zayyan nyaring tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV.
Merasa aman, Regan mengembuskan napas lega. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan santai, berniat mengambil baju gantinya yang ada di atas meja. Tepat saat langkah kaki basahnya sampai di tengah ruangan...
Cklek.
"Assalamualaikum..."
Suara lembut Arin terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu mess. Arin melangkah masuk sambil membawa tasnya, namun kalimatnya terhenti seketika. Matanya membelalak sempurna menatap Regan yang berdiri bertelanjang dada, hanya berbalut handuk biru miliknya yang tampak terlalu pas-pasan di tubuh pria itu.
Suasana di dalam mess yang sempit itu seketika membeku.
Regan menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan, membeku dengan tangan yang masih setengah terulur ke arah meja tempat baju gantinya berada. Tatapan matanya bertabrakan langsung dengan mata Arin yang melebar penuh syok di ambang pintu.
Arin mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna pemandangan di hadapannya. Regan pria berbadan tegap dan tinggi itu berdiri bertelanjang dada dengan tetesan air yang masih mengalir di kulitnya, dan hanya tertutup oleh handuk warna biru muda milik Arin yang sangat pas-pasan di pinggangnya.
"Wa....wa'alaikumsalam..." sahut Regan terbata, kewibawaannya menghilang seketika.
Wajah Arin langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia dengan cepat memalingkan wajah ke arah dinding, menutup pintu mess rapat-rapat dengan napas memburu.
"Kamu... kamu kenapa nggak pakai baju?!" seru Arin panik, berusaha menutupi kegugupannya sambil meremas tali tasnya kuat-kuat.
"Terus itu... itu kan handuk aku, Regan!"
"Aku... aku lupa bawa baju ke dalam," jawab Regan kikuk. Tangan kekarnya buru-buru menutupi dadanya, merasa canggung luar biasa.
"Lagipula kata Zayyan kamu belum pulang..."
Zayyan yang sedang duduk di depan TV akhirnya menoleh, menatap ibu dan omnya bergantian dengan polos.
"Ibu udah pulang? Tadi pas Om tanya, Ibu emang belum sampai..."
"Regan, cepat pakai baju kamu!" potong Arin cepat tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Regan.
Tanpa membuang waktu lagi, Regan menyambar tas belanjaannya dari atas meja dengan gerakan kilat, lalu setengah berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Di luar, Arin mengelus dadanya yang berdegup kencang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar akibat kejutan tak terduga yang baru saja menyambutnya di rumah.