NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Misteri Air Dalam Bak Mandi

Sementara itu, di belahan kota seberang, Lucas telah menempuh perjalanan jauh membelah jalur berbatu menggunakan sepeda motor tuanya. Pria itu kini telah kembali dari pusat kota Luminara menuju ke rumah kayu sederhananya di bukit Arcania. Di atas jok belakang motornya, terikat erat beberapa kantong besar berisi tumpukan perlengkapan bayi yang baru saja diborongnya untuk White.

Pasangan suami istri petani itu sebenarnya berada di puncak kebahagiaan. Mereka sangat bersyukur karena setelah lima belas tahun menanti dalam kesunyian, alam semesta akhirnya mengirimkan seorang anak untuk melengkapi rumah mereka, meskipun mereka tahu betul bahwa White bukanlah darah daging yang lahir dari rahim Sarah sendiri.

Namun, kebahagiaan itu mendadak terusik saat Sarah mulai membongkar isi kantong belanjaan di atas ranjang kamar.

"Lucas... kenapa semua pakaian, selimut, dan handuk ini berwarna merah muda? Apa kau sama sekali tidak melihat ada warna lain di toko kota?"

Sarah menyipitkan kelopak matanya yang tajam, menatap tumpukan pakaian White yang semuanya seragam memancarkan warna pink cerah. Wanita itu melempar selembar baju bayi ke atas kasur, bertanya dengan nada suara yang mulai ditekan akibat rasa kesal yang merayap.

"Tidak ada yang salah dengan itu, Sarah. Aku sengaja memilih warna merah muda agar anak perempuan kita terlihat jauh lebih feminin dan anggun," jawab Lucas dengan nada santai, tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintainya.

Sarah mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa gusar. Sebagai seorang wanita yang terbiasa hidup keras di ladang, Sarah memiliki kepribadian yang cukup tomboi dan secara personal sangat membenci warna merah muda yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.

"Apa kau sedang mencoba untuk menyindir karakterku, Lucas? Apa kau mengkhawatirkan anak ini nanti tidak akan tumbuh menjadi gadis yang feminin karena memiliki ibu yang kasar sepertiku?"

Sarah mendengus kencang dan melayangkan pelototan matanya yang setajam silet. Tatapan itu seketika membuat nyali Lucas menciut dan gelagapan setengah mati. Pria itu tahu betul hukum domestik rumah tangga mereka: jika istrinya yang tomboi itu sudah merajuk marah, dia bisa dihukum dicueki dan didiamkan selama berhari-hari tanpa jatah makan malam.

"Bukan begitu, Sayang! Demi Tuhan, percayalah padaku. Kau tetap menjadi wanita yang paling cantik dan sempurna di mataku, tidak peduli seberapa tangguh dirimu di ladang. Tolong, jangan marah padaku," ucap Lucas cepat, refleks berlutut di tepi ranjang dan mencoba meraih kedua tangan Sarah untuk membujuknya.

"Sudahlah, Lucas. Singkirkan tanganmu. Lebih baik aku segera memandikan White saja daripada meladeni bualanmu," ucap Sarah ketus sambil menepis kasar tangan suaminya.

Lucas hanya bisa menghela napas panjang yang pasrah, menatap punggung Sarah yang berjalan menjauh sembari menggendong White. Nasi telah menjelma menjadi bubur; pria itu merutuki kebodohannya sendiri karena bersikeras membeli warna yang paling diharamkan oleh istrinya.

****

Sarah kini sudah berada di dalam kamar mandi kecil yang terletak di sudut lantai satu. Dia bersiap untuk memandikan White. Di dalam sebuah bak mandi plastik khusus bayi, Sarah telah menuangkan campuran air dingin dan air mendidih, memastikan suhunya hangat-hangat kuku agar nyaman bagi kulit sensitif seorang bayi yang baru lahir.

"Ayo Sayang, waktunya membersihkan tubuhmu!" seru Sarah lembut, suaranya mendadak berubah manis 180 derajat saat berbicara pada bayinya.

Dia melepaskan lilitan kain sutra putih yang menempel di tubuh White, lalu menyangga kepala kecil itu dengan telapak tangannya secara perlahan.

Dengan penuh kehati-hatian, Sarah menurunkan tubuh mungil White ke dalam bak mandi. Namun, fenomena aneh terjadi tepat pada detik pertama ketika permukaan kulit kaki bayi itu menyentuh air hangat tersebut. Suhu air hangat di dalam bak mandi mendadak turun drastis dalam sekejap mata. Air itu bergolak pelan, berubah wujud menjadi air dingin yang menusuk kulit hingga memunculkan kabut tipis di permukaannya.

"Kenapa air hangat ini mendadak menjadi sedingin ini?" gumam Sarah dengan dahi berkerut dalam.

Sarah menarik jarinya, mengusap air tersebut. Rasanya seperti air yang baru saja dicairkan dari balok es. Padahal, dia sangat yakin baru dua menit yang lalu dia memeriksa suhunya yang hangat. Sangat tidak masuk akal secara hukum fisika bagi air hangat untuk berubah suhu secepat es membeku di tengah cuaca musim panas Arcania yang terik seperti ini.

Khawatir tubuh White yang masih sangat rapuh akan menggigil kedinginan atau jatuh sakit akibat masuk angin, Sarah buru-buru mengangkat kembali tubuh bayi perempuan itu dan membaringkannya di atas kasur berlapis selimut.

Dengan rasa penasaran yang bercampur kesal, Sarah membuang seluruh air dingin itu ke saluran pembuangan, lalu memasak air panas yang baru di dapur.

Setelah air hangat baru siap, Sarah kembali membawa bak mandi itu ke kamar dan mencoba menurunkan tubuh White untuk yang kedua kalinya. Dan kejadian supranatural itu terulang kembali dengan presisi yang mengerikan.

Air hangat itu kembali berubah menjadi sedingin es sesaat setelah bersentuhan dengan kulit White—bahkan kali ini intensitas dinginnya terasa jauh lebih pekat dari sebelumnya, membuat ujung jari Sarah mendadak mati rasa karena beku.

"Apa aku sedang mengalami halusinasi tingkat parah? Aku sudah mengganti seluruh airnya dengan air panas baru, tapi kenapa air ini tetap berubah menjadi sedingin es?"

Sarah mengernyitkan dahinya bingung, menatap tangannya yang basah. Sementara itu, White yang berada di dalam dekapannya justru mengeluarkan suara tawa riang yang menggemaskan, menatap ekspresi kebingungan ibunya seolah-olah fenomena es ini adalah mainan yang menyenangkan baginya.

"Kenapa kau malah tertawa, Bocah kecil? Apa menurutmu wajah kebingungan Ibu ini terlihat lucu?"

Sarah menatap bayinya yang tampak seolah sedang mengejek akal sehatnya. Karena tingkat kesabarannya mulai menipis akibat kelelahan fisik di ladang dan dia terlalu malas untuk kembali memasak air ke dapur untuk ketiga kalinya, Sarah memutuskan untuk membatalkan ritual mandi White. Dia memilih untuk hanya menyeka tubuh mungil White menggunakan selembar handuk kecil yang sudah dibasahi air biasa.

Tepat pada momen itu, sosok Lucas mendadak muncul di ambang pintu kamar dengan wajah bersalah.

"Sayang... apa yang sedang kau lakukan? Bukankah tadi kau bilang ingin memandikan White di bak? Kenapa kau malah hanya menyekanya dengan handuk kecil?" tanya Lucas heran melihat bak mandi bayi yang tergeletak penuh air di lantai.

"Bagaimana mungkin aku bisa memandikannya di dalam bak itu, Lucas?! Kau harus tahu ini! Air hangat yang kumasak dengan susah payah tadi mendadak berubah menjadi sedingin es kutub begitu menyentuh kulit tubuh White!" seru Sarah dengan nada suara yang menggebu-gebu, meluapkan rasa frustrasinya.

Lucas mengerutkan dahinya sejenak, lalu sebuah tawa kecil lolos dari mulutnya, menganggap ucapan istrinya hanyalah bualan konyol akibat sindrom ibu baru. "Sayang, mungkin kau hanya terlalu lelah dan kurang tidur karena stres memikirkan White. Mana mungkin air panas bisa berubah menjadi es dalam hitungan detik? Ini sedang musim panas, Sarah, rumah kita berada di Arcania, bukan di kutub utara."

"Aku tidak sedang bercanda atau mengada-ada, Lucas! Aku sudah mengganti airnya dua kali berturut-turut, dan hasilnya tetap sama! Anak ini... bayi perempuan ini... dia seperti memiliki kekuatan sihir es atau semacamnya di dalam tubuhnya!" balas Sarah tegas, jarinya menunjuk ke arah White yang kini mendadak kembali terlihat tenang di atas kasur.

Lucas melangkah mendekat, menggelengkan kepalanya melihat tingkat histeria istrinya. Pria itu berlutut di samping bak mandi plastik, lalu mencelupkan seluruh jari tangannya ke dalam air yang dimaksud oleh Sarah.

Dia mengaduk-aduk air tersebut selama beberapa detik, lalu mendongak menatap wajah Sarah dengan tatapan mata yang datar dan bingung.

"Airnya biasa saja, Sarah. Sama sekali tidak dingin. Malah menurut indra perasaku, suhunya cenderung masih hangat dan sangat pas untuk memandikan bayi," ucap Lucas dengan nada suara yang teramat tenang.

"Sepertinya perasaan psikologis-mu saja yang saat ini sedang terlalu sensitif. Kau tadi sedang menahan amarah padaku soal pilihan baju berwarna merah muda itu, kan? Mungkin stres dan amarah itu terbawa hingga membuat halusinasimu bekerja sampai ke kamar mandi ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!