Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Difitnah
Li Yunru mengambil alih seember air setelah membolak-balik tumisan terung ungu di dalam wajan. Aroma harum minyak wijen langsung menyebar di udara.
"Aku hanya ingin membuat teh krisan. Apakah kamu pernah mencicipinya?" tanyanya sambil menoleh pada Bai Muzhi.
Bai Muzhi mengangguk pelan. "Menurutku rasanya tidak buruk."
Kebanyakan teh di dunia ini diseduh begitu saja tanpa gula. Karena itu menurut Bai Muzhi, semua teh pada dasarnya memiliki rasa yang hampir sama. Namun entah mengapa, ia tetap penasaran dengan teh buatan Li Yunru.
"Aku akan membuatnya nanti. Aku jamin pasti rasanya enak."
Li Yunru tampak sangat percaya diri. Namun sebelum itu, ia harus menyelesaikan tumisan terung ungu lebih dulu.
Setelah terung layu, Li Yunru menambahkan kecap asin, garam, lada dan sedikit minyak wijen. Aroma gurih langsung memenuhi halaman belakang. Beberapa kali adukan lagi, tumisan itu pun matang sempurna.
Li Yunru menyajikan tumis terung ungu ke piring keramik besar.
Biasanya ,tumisan terung ungu sangat cocok dimakan bersama nasi putih hangat. Untungnya, koki Istana Shing sudah lebih dulu menanak nasi untuk makan siang.
"Harum sekali. Apakah sayur berwarna ungu itu benar-benar enak?"
Hong Maxing biasanya lebih menyukai daging dibandingkan sayur, sehingga ia sedikit ragu dengan rasa terung ungu.
"Tentu saja enak. Kamu akan tahu jika mencobanya."
Kesadarannya kembali memasuki ruang cincin spiritual dan mengambil beberapa bunga krisan kering yang tersimpan rapi di dalam laci kayu solid.
Selain bumbu dan bahan makanan dari zaman modern, ternyata ada juga bunga kering dan daun teh untuk membuat minuman.
Li Yunru lalu mengeluarkan sebuah bejana perunggu dari ruang cincin spiritual. Ia menuangkan air ke dalamnya dan membiarkannya mendidih di atas api. Selama menunggu air menjadi panas, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Hong Maxing menatap terung ungu itu dengan curiga seolah sedang menghadapi makanan beracun. Sayur berwarna ungu itu benar-benar bisa dimakan?
Namun setelah suapan pertama masuk ke mulutnya, ekspresinya langsung berubah. Lalu mengambil suapan kedua tanpa banyak berkata-kata. Dan suapan ketiga datang lebih cepat. Beberapa saat kemudian, piring di depannya hampir kosong.
"Sayuran ungu ini ternyata enak untuk dimakan. Cantik, kamu benar-benar koki spiritual yang luar biasa."
Hong Maxing bahkan melupakan pertengkaran mereka sebelumnya dan langsung memuji masakan Li Yunru dengan antusias.
"Tentu saja. Apa yang kumasak pasti enak." Li Yunru tersenyum bangga. "Ini juga berkat terung ungu dan bawang bombai yang ditanam suku kelinci. Rasanya benar-benar lezat."
Bai Muzhi tidak makan seantusias Hong Maxing. Sikapnya tetap elegan dan tenang, tetapi kecepatan tangannya sama sekali tidak lambat. Energi spiritual samar dari makanan hangat itu mengalir di tubuhnya dan membuatnya merasa nyaman.
"Raja ini sudah memberi tahu suku mereka. Jika kamu membutuhkan sayuran, datang saja untuk memintanya."
"Tidak masalah." Li Yunru mengangguk sambil mengambil nasi lagi.
Sebenarnya, ada beberapa jenis sayuran di ruang cincin spiritual miliknya. Bagaimanapun juga, ruang itu memiliki tanah dan beberapa petak lahan pertanian kecil. Memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menanam beberapa jenis sayuran hijau.
Li Yunru bahkan mulai berpikir untuk menanam lebih banyak sayuran hijau untuk memasak sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak perlu selalu mengambil dari kebun suku kelinci.
Sambil makan, Hong Maxing melirik Ruu yang masih terbaring lemas. "Ada apa dengan kelinci gendut itu?" tanyanya.
"Keracunan," jawab Li Yunru santai. Kemudian ia seperti baru teringat sesuatu. "Oh, benar. Tadi ada manusia setengah binatang dari suku ular hitam datang ke sini."
"Ular hitam?"
Hong Maxing langsung tersedak. Makanan yang baru saja ditelannya terasa seperti tersangkut di tenggorokan. Ia buru-buru meminum segelas air sebelum menatap Li Yunru dengan ekspresi terkejut.
"Apakah dia berambut ungu kehitaman, berkuku hitam dan bermata ungu?" tanyanya serius.
"Ya, ya." Li Yunru mengangguk cepat. "Kamu tahu siapa pria itu?"
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa dia? Itulah alasan kenapa aku datang ke sini hari ini."
Hong Maxing mencibir dan sorot matanya berubah tajam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Bai Muzhi.
"Tahukah kamu bahwa aku sendiri difitnah? Aku bukan orang yang melukai jiwamu, tapi Yan Diming. Dia menggunakan Xu Jiangyue untuk merayumu demi mengambil alih wilayah ini."
Yang mengejutkan, ekspresi Bai Muzhi sama sekali tidak terlihat kesal ataupun marah. Ia melirik Hong Maxing sekilas sebelum melanjutkan makan dengan tenang.
"Aku tahu."
Hong Maxing tertegun sejenak, lalu menyadari sesuatu. "... Sejak kapan kamu tahu?!"
"Sudah lama sekali."
Hong Maxing langsung marah hingga semua ekor rubah merahnya berdiri tegak.
"... Lalu mengapa kamu tidak mengatakannya sejak lama??! Aku sudah difitnah lebih dari tiga ratus tahun! Bukan tiga puluh tahun!"
"Kamu sendiri tidak pernah mengatakannya padaku." Bai Muzhi tetap tenang. "Jadi aku tidak mau repot dengan urusan orang-orang di wilayahmu."
"...."
Hong Maxing merasa ingin muntah darah.
Apakah naga memang tidak punya perasaan? pikirnya frustrasi.
Mungkinkah dia harus menyuap Bai Muzhi dengan sekotak besar mutiara berkilau agar pria itu mau bicara?
"Siapa sebenarnya Yan Diming itu?" Li Yunru menjadi semakin penasaran.
Hong Maxing menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya. "Dia adalah penguasa sekaligus ahli racun di Lembah Gelap. Cantik, jika kamu bertemu dengannya lagi, larilah sejauh mungkin dan berhati-hatilah. Dia sangat jahat dan mampu membunuh apa pun dengan racunnya."
Li Yunru terdiam sejenak sambil mengingat pria setengah ular itu. "Kalau soal itu, dia kebetulan datang ke sini untuk membunuhku."
Mata Hong Maxing langsung membelalak lebar. "Apa?! Dia sudah berani mengambil tindakan? Sangat cepat! Yan Diming sialan itu, beraninya dia berulah di wilayah ini! Lalu bagaimana kamu mengatasinya?"
Pria itu menatap Li Yunru dengan rasa penasaran yang kuat. Dia sempat berpikir, Bai Muzhi pasti yang mengusir Yan Diming tadi. Namun pikiran itu langsung hancur oleh jawaban Li Yunru berikutnya.
"Aku memukulnya dengan sudip, lalu menyumpalkan bawang bombai ke mulutnya. Nah, beres." Li Yunru menjawab santai sambil melihat air di bejana.
Ular tidak suka sesuatu yang terlalu bau. Termasuk bawang-bawangan.
Sedangkan Hong Maxing langsung membayangkan ekspresi Yan Diming saat itu. Ia akhirnya teringat bahwa Yan Diming, sang ahli racun terkenal di Lembah Gelap, ternyata memiliki alergi parah terhadap semua jenis perbawangan. Itu adalah rahasia yang hanya diketahui sedikit orang.
Tatapan Hong Maxing sedikit mencurigai Li Yunru. Merasa tidak percaya sama sekali.
"Kamu benar-benar memberinya bawang?"
"Ya."
"Dan masih sempat memukulnya dengan sudip?"
"Ya ... Oh, lupa, aku juga tak sengaja menusuk ekornya dengan pisau. Jangan salahkan aku. Itu reaksi alami untuk melindungi diri sendiri." Li Yunru terlihat berpikir tentang kejadian itu. "Dia tidak akan berjalan pincang, kan?"
"...."
Untuk sekarang, Hong Maxing merasa ada makhluk yang lebih jahat daripada Yan Diming.
Sementara itu, Li Yunru sendiri tidak terlalu memikirkan masalah Yan Diming lagi. Saat melihat air di bejana perunggu sudah mendidih, ia memasukkan beberapa bunga krisan kering ke dalamnya.
Ia membiarkannya selama beberapa menit sebelum menyaring teh ke dalam teko keramik putih. Setelah itu, tambahkan madu secukupnya untuk memperkaya rasa.
"Mari berhenti membicarakan ular itu. Sekarang waktunya menikmati teh."
Li Yunru menuangkan teh krisan madu ke dalam cangkir kecil, lalu memberikannya pada mereka berdua.
Hong Maxing yang awalnya masih ingin bertanya lebih banyak, akhirnya tertarik pada aroma teh tersebut.
Bai Muzhi juga menerima cangkir tehnya dengan tenang. Uap hangat naik perlahan ke wajah tampannya. Lalu ia menyesapnya sedikit.
"Bagaimana?" Li Yunru bertanya penuh harap padanya.
Bai Muzhi menyesapnya lagi. Aroma bunga krisan yang lembut berpadu dengan rasa madu yang manis namun tidak berlebihan. Ia terdiam selama beberapa saat seolah sedang menilai sesuatu, lalu mengangguk kecil.
"Lebih enak dari teh krisan yang kubuat," jawab Bai Muzhi jujur.
Hong Maxing yang ikut mencicipi langsung membelalakkan mata. "Ternyata rasanya manis!"
"Tentu saja. Aku menambahkan madu."
"Teh ternyata bisa dibuat seperti ini ...," gumam pria rubah merah itu kagum sambil kembali menyesap tehnya. "Cantik, beri aku resep. Aku ingin membuatnya sendiri di masa depan."
"Tentu, tidak masalah."
Sementara suasana di halaman belakang Istana Shing perlahan menjadi santai, keadaan Yan Diming di sisi lain justru sangat menyedihkan ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tepi sungai yang jauh dari Istana Shing, Yan Diming mencuci wajahnya berulang kali sambil berkumur untuk menghilangkan bau bawang yang masih tertinggal di mulutnya. Ia sudah muntah berkali-kali hingga semua makanan di perutnya keluar. Kini, wajahnya pucat seperti mayat.
Saat menyentuh perutnya yang kempis, Yan Diming menggertakkan giginya kuat-kuat. Mata ungu gelapnya menyipit suram seolah ingin membunuh seseorang. Bahkan ekornya yang ditusuk pisau pun masih sakit sampai sekarang.
"Gadis manusia itu benar-benar berani memberiku makan bawang!" geramnya penuh kebencian.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa dirinya alergi terhadap semua jenis bawang. Dan Hong Maxing merupakan salah satu pengecualian.
Ya! Pasti Hong Maxing, rubah sialan itu!
"Lain kali aku akan meracuninya. Aku ingin melihat berapa lama manusia itu mampu bertahan terhadap racun buatanku." Aura membunuh di tubuhnya semakin dingin.
Tiba-tiba terdengar suara dedaunan kering dan ranting patah dari belakangnya.
Yan Diming langsung menoleh tajam. "Siapa di sana?! Keluar!"
Aroma bunga yang manis terbawa angin dan menyebar ke sekitar. Yan Diming mengerutkan kening dan langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Kemudian suara wanita yang centil terdengar dari balik pepohonan.
"Pangeran tampan~, apakah kamu membutuhkan bantuanku?"
Yan Diming segera memasang kewaspadaan penuh. Aura membunuhnya langsung menyebar ke segala arah. Mata ularnya menyipit penuh bahaya.
"Siapa itu?!" tanyanya dingin.
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih