Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Darah Ki Ageng Selo Mendidih Di Nadiku
Raka terhuyung ke belakang. Kain putih di tangannya terasa membara, bukan karena api, tapi karena ada ribuan semut tak kasat mata yang merayap masuk lewat pori-pori telapak tangannya.
"Darah..." bisiknya. Suaranya bukan suaranya lagi. Berat, tua, dan serak seperti suara dari dasar sumur. "Darah Ki Ageng Selo mendidih di nadiku!"
Dinda menjerit. Bukan jeritan takut, tapi jeritan nyeri yang luar biasa. Tujuh rajah di tubuhnya menyala merah seperti bara api. Kulitnya melepuh di tempat tinta hitam itu menempel.
Asap tipis mengepul dari luka-lukanya, berbau kemenyan dan bangkai tikus.
Seto yang sedari tadi diam di sudut gua, tiba-tiba tertawa. Tawa yang pecah, melengking, bukan suara manusia. "Akhirnya! Akhirnya darah murni itu bangkit! Tiga ratus tahun aku menunggu pewaris yang sanggup menampungnya!"
Raka mengangkat kepalanya. Matanya tidak lagi coklat. Sekarang putih total, tanpa pupil, tanpa iris. Hanya putih susu yang memantulkan cahaya obor dengan aneh. Dari sudut bibirnya, mengalir liur kental berwarna merah kehitaman.
"Siapa... kau... sebenarnya?" Raka menggeram. Tapi kata-kata itu keluar dalam dua lapis suara. Suara Raka yang ketakutan, dan suara tua yang mendominasi di bawahnya.
Seto melangkah maju. Jubah hitamnya tersingkap, dan untuk pertama kalinya Raka melihat tubuh aslinya. Bukan tubuh kakek renta. Kulit Seto terkelupas di beberapa bagian, memperlihatkan otot-otot yang menghitam dan tulang-tulang yang diselimuti ukiran-ukiran aneh yang bergerak sendiri seperti cacing.
"Aku adalah yang menjaga gerbang," jawab Seto. "Ki Ageng Selo bukan mati, Raka. Dia dibagi. Tujuh kekuatannya disegel dalam tujuh rajah. Dan tujuh rajah itu... ditanam di tujuh keturunan perempuan tak berdosa." Jari Seto yang berkuku panjang menunjuk ke arah Dinda yang sekarang terkapar, tubuhnya kejang-kejang. "Dia yang pertama. Enam lagi masih berkeliaran di luar sana."
Kepala Raka serasa dibelah. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya membanjiri otaknya. Dia melihat sebuah pertempuran di Alas Roban tiga abad lalu.
Seorang lelaki berjubah putih dengan tongkat berkepala naga melawan ribuan prajurit siluman.
Lelaki itu adalah Ki Ageng Selo. Dan di detik terakhir sebelum dia kalah, dia merobek dadanya sendiri dan meludahkan tujuh gumpalan darah bercahaya ke tujuh arah mata angin.
Untuk menjaga dunia, aku harus memecah diriku sendiri,_ suara itu menggema di kepala Raka. _Tapi darah akan selalu mencari untuk menyatu kembali._
"Kau menipuku!" Raka meraung. Dia menerjang Seto, tapi tubuhnya bergerak terlalu cepat, tidak manusiawi. Dalam satu kedipan, dia sudah mencengkeram leher Seto dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Kekuatan yang mengalir di tangannya bisa meremukkan batu.
Seto tidak takut. Dia malah menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang runcing semua.
"Bunuh aku, dan Dinda mati detik ini juga. Rajah pertama itu terhubung dengan jantungnya. Jika jantungku berhenti, jantungnya juga berhenti. Itu aturannya."
Raka melirik ke Dinda. Gadis itu sekarang memuntahkan darah hitam dari mulut dan hidungnya. Matanya mendelik, hanya putihnya yang terlihat. Di dadanya, rajah berbentuk mata satu berkedip-kedip seperti jantung kedua.
"Lepaskan dia!" bentak Raka. Suara tua di dalam dirinya tertawa. _Bodoh. Kau pikir kau bisa melawan takdir dengan belas kasihan?_
"Aku tidak menyanderanya," Seto berbisik.
Nafasnya bau tanah kuburan. "Aku menyelamatkannya. Tanpa aku, rajah itu sudah melahapnya dari dalam sejak dia lahir. Aku yang meredamnya selama tujuh belas tahun. Dan sekarang... kau yang harus memanennya."
Kata "memanen" membuat perut Raka mual. Dia membanting Seto ke dinding gua.
"Caranya?"
Seto batuk, tapi darah yang keluar dari mulutnya berwarna hijau pekat. "Kain putih itu. Ajian Rajah Pamungkas. Bacakan mantranya di atas tubuh Dinda. Rajah akan berpindah ke kain. Dia selamat. Kau... menjadi wadah yang baru."
"Dan kalau aku menolak?"
"Dia mati. Kau mati. Dan enam rajah lainnya akan mencari inang baru, memulai kekacauan yang bahkan Ki Ageng Selo tak sanggup hentikan tiga ratus tahun lalu." Seto menyeka darah hijau dari bibirnya. "Pilih, Raka. Jadi pahlawan yang mengutuk diri sendiri, atau jadi pengecut yang membunuh semua orang."
Raka menatap kain putih di tangannya. Tinta merahnya sekarang membentuk kalimat-kalimat yang bergerak sendiri, seperti ular.
Dia bisa mendengarnya. Mantra itu berbisik di kepalanya, memaksa lidahnya untuk bergerak.
Di lantai, Dinda merintih. "Mas... Raka... sakit... panas banget..."
Suara Dinda yang lemah itu seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kemanusiaan Raka. Dia berlutut di samping Dinda.
Gadis itu menggenggam tangannya, tapi genggamannya sedingin es. Di lengannya, rajah berbentuk cakar mulai merobek kulit dari dalam, mencoba keluar.
Raka menempelkan kain putih itu ke dahi Dinda. Panas. Seperti menempelkan setrika panas ke kulit.
Dan dia mulai membaca.
"Aji... roso... sukmo... tunggal..."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat obor-obor di gua padam satu per satu. Kegelapan merayap masuk. Tapi kain putih itu menyala, terang benderang, menerangi wajah Dinda yang pucat.
Dinda berteriak. Teriakan yang memecah gendang telinga. Dari tujuh titik rajah di tubuhnya, cahaya merah melesat keluar dan tersedot masuk ke dalam kain putih. Kain itu menyerapnya seperti spons menyerap air, tapi setiap tetes cahaya yang masuk membuat lengan Raka terasa terbakar.
"Terus! Jangan berhenti!" Seto berseru dari kegelapan. "Tarik sampai habis!"
Keringat darah mengucur dari dahi Raka.
Tulang-tulangnya serasa diremukkan dari dalam. Tapi dia terus membaca, terus menarik kekuatan terkutuk itu keluar dari tubuh Dinda.
Dan saat cahaya terakhir tersedot masuk, Dinda terkulai lemas. Nafasnya ada, tapi lemah. Tujuh rajah di tubuhnya hilang, hanya menyisakan bekas luka bakar berbentuk aneh.
Raka jatuh terduduk. Kain putih di tangannya sekarang berat, sangat berat, dan panasnya menjalar sampai ke jantungnya. Dia bisa merasakannya. Ada tujuh denyut baru di dalam dadanya, selain denyut jantungnya sendiri.
Dia berhasil. Dinda selamat.
Tapi di kegelapan, tawa Seto kembali menggema. Kali ini lebih puas, lebih menang.
"Selamat, Raka." Suara Seto terdengar tepat di telinganya, padahal dia masih di seberang gua.
"Kau baru saja membuka segel pertama. Enam lagi menunggu."
Raka menengadah. Mata putihnya menyala di gelap. "Di mana... yang lainnya?"
Seto melangkah keluar dari bayangan. Di tangannya, tergenggam sebuah peta kulit tua. Di peta itu, ada enam titik merah yang menyala.
"Surabaya. Yogyakarta. Bali. Kalimantan. Papua. Dan... yang terakhir..." Jari Seto berhenti di satu titik di tengah Jakarta. "Ada di kota yang paling kau benci."
Jantung Raka yang asli berhenti sedetik. Di Jakarta. Tempat ayahnya dibunuh. Tempat masa lalunya dikubur.
"Siapa?" tanya Raka. Suara tua di dalam dirinya sudah tahu jawabannya.
Seto menyeringai. "Kakak perempuanmu, Raka. Sari. Yang kau kira sudah mati lima tahun lalu."
Dunia Raka runtuh untuk kedua kalinya malam itu.
---