"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Menerima Misi Mingguan!
Tanpa membuang waktu lagi, Dinda segera mengetuk tombol virtual bertuliskan "TERIMA MISI" di layar ponselnya. Seketika itu juga, layar hitam berkedip dan memunculkan rentetan teks peringatan baru yang otomatis membuat pupil matanya melebar:
[ MISI BERHASIL DITERIMA ]
Waktu pengerjaan dimulai: 7 hari dari sekarang.
PERINGATAN: Jika Anda gagal menyelesaikan misi dalam batas waktu yang ditentukan, Tuan Rumah akan menerima hukuman berupa KEHILANGAN KEMAMPUAN BERBICARA (BISU) SELAMA 24 JAM.
Dinda seketika dilanda panik luar biasa begitu menuntaskan kalimat terakhir. "Duh, gusti... Hukumannya ngeri banget!" cicitnya lirih dengan wajah agak pias.
"Nggak bicara sejam saja bibirku sudah berkedut-kedut rasanya, ini disuruh bisu sampai dua puluh empat jam? Enggak, enggak boleh! Pokoknya aku harus bisa... Aku harus menyelesaikan misi ini bagaimanapun caranya!" gumam Dinda pelan dengan kepalan tangan penuh tekad.
Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, menopang dagu sembari berpikir keras. "Tapi... barang apa yang mau kujual ya?" Pikiran Dinda kembali melayang, mencoba menyisir kembali ingatan tentang barang-barang modern apa yang kiranya tidak eksis di Desa Rejo ini.
Detik berikutnya, kilasan ingatan saat dirinya mandi di sungai tadi pagi mendadak terlintas. Senyuman girang langsung terbit di wajah cantiknya. "Aha! Kenapa aku nggak coba jual sabun mandi batangan yang wangi itu saja, ya? Orang-orang desa sini kan mandinya masih pakai gosokan kelapa atau lulur daun."
Ide cemerlang sudah di tangan. Untuk eksekusinya, Dinda berencana mencobanya besok atau lusa.
Tepat di saat Dinda sedang tersenyum-senyum sendiri membayangkan keberhasilan misinya, sebuah teriakan nyaring dari arah luar pekarangan seketika membuyarkan lamunannya.
"Dinda...! Dinda...!"
Suara itu terdengar melengking bersahabat. Dinda yang penasaran segera bangkit dari kasur, melangkah ke luar balkon dan melongokkan kepalanya ke bawah tangga. "Nilam? Ada apa?" tanya Dinda begitu melihat sosok gadis desa itu berdiri di sana.
"Dinda! Ayo kita pergi ke rumah Ketua Kampung!" ajak Nilam dengan mata berbinar semangat. "Di sana sedang ada acara masak-masak besar karena nanti malam mau diadakan hajatan selamatan. Di sana juga sudah ada Mbok Ginem sama Kang Wira, lho!"
Dinda agak ragu, jemarinya meremas pelan kusen pintu kayu. "Memangnya tidak apa-apa kalau aku ikut ke sana? Aku kan orang asing."
"tidak apa-apa, Dinda! Kita kan ke sana cuma mau bantu-bantu lihat atau kupas bawang," ucap Nilam meyakinkan dengan lambaian tangan.
"Baiklah, tunggu sebentar ya," sahut Dinda lalu berbalik masuk ke dalam bilik.
Gadis itu meraih sebuah ikat rambut bermotif perak indah yang tempo hari sempat ia ambil dari dalam ruang dimensi cincin ajaibnya. Dinda mengumpulkan rambut panjangnya, lalu mengikatnya tinggi-tinggi ala high ponytail, menampilkan leher mulusnya yang kini dipenuhi tanda kemerahan samar akibat ulah Wira tadi siang. Setelah memastikan kebayanya rapi, ia berjalan pelan menuruni anak tangga kayu dengan sangat hati-hati.
"Wah, Dinda...! Kamu cantik sekali! Pakaian kebaya yang kamu pakai ini beda sekali modelnya dengan punyaku," puji Nilam takjub begitu Dinda menginjakkan kaki di tanah. Tangan Nilam bahkan terulur, meraba lembut permukaan lengan kebaya bludru biru milik Dinda dengan rasa kagum.
"Terima kasih, Nilam... Aku hanya tidak terbiasa memakai kain kemben terbuka sepertimu. Bisa-bisa aku langsung masuk angin," kilih Dinda beralibi, menyembunyikan fakta kalau dia memang belum terbiasa dengan mode busana kuno.
"Oh, begitu ya. Baiklah kalau begitu, ayo kita jalan!" Ajak Nilam yang tanpa canggung langsung menggandeng akrab lengan Dinda.
Keduanya berjalan beriringan membelah jalanan desa yang tanahnya terbilang lumayan bersih dari sampah. Di tengah perjalanan, rasa penasaran Dinda kembali terusik.
"Nilam, kalau boleh tahu... usiamu sekarang berapa?" tanya Dinda santai.
Nilam menoleh, lalu menjawab sembari tersenyum polos, "Usiaku baru tujuh belas tahun, Dinda. Kalau kamu sendiri berapa?"
Dinda seketika terperanjat di tempatnya. Tujuh belas tahun? Tapi kok... ucap Dinda menjerit dalam hati.
Ia reflek melirik proporsi tubuh Nilam dari atas ke bawah. Menurut pandangan modern Dinda, fisik Nilam sudah terlihat matang layaknya wanita dewasa yang sudah matang. Ya, walaupun 'aset kembar' milik Nilam memang tidak sepadat dan sebesar milik Dinda, namun pembawaan fisiknya seolah mencerminkan umur dua puluhan.
"Ah... kalau aku, aku sudah dua puluh tiga tahun," jawab Dinda meringis kecil, agak sungkan.
"Apa?! Kamu sudah dua puluh tiga?!" Pekik Nilam kaget setengah mati, langkah kakinya sampai terhenti sejenak. "Wah... kalau di desa ini, umur segitu umumnya sudah menggendong dua anak, tahu! Malah ada yang sudah punya tiga!"
Dinda hanya bisa melempar senyum kecut menanggapi fakta keras perbedaan zaman tersebut.
"Tapi... walaupun usiamu sudah dua puluh tiga, kamu sama sekali tidak kelihatan tua, Dinda. Malah terlihat seperti masih umur tujuh belas atau delapan belas tahun... Wajahmu sangat halus dan muda," puji Nilam lagi, matanya menyipit penuh selidik yang jenaka. "Dinda, apa rahasianya, toh?"
Dinda tertawa kecil mendengar kepolosan teman barunya itu. "Ah, mana ada rahasia apa-apa. Yang penting kita harus selalu bahagia. Dan lagi... aku kan dasarnya bukan gadis desa, jadi sangat jarang mengerjakan pekerjaan kasar di bawah terik matahari seperti yang biasa kamu lakukan."
Nilam seketika menghela napas, bahunya merosot turun. "Yah, kamu benar juga... Kulitku terlihat agak gelap dan tua karena setiap hari harus membantu Ayah dan Ibu mencangkul di ladang," sahutnya pelan, tersisip rasa iri yang sehat.
Tanpa terasa, obrolan itu membawa langkah kaki keduanya tiba di pekarangan luas rumah Ketua Kampung. Suasana di sana benar-benar riuh dan ramai oleh riuh rendah suara warga desa. Di sudut kejauhan pelataran, netra cokelat Dinda langsung menangkap sosok seorang pria bertubuh tegap dan jangkung yang sedang sibuk mendirikan tiang tenda dari batangan bambu.
Pria itu berdiri membelakanginya, menampilkan punggung bidang yang kokoh dan berotot di balik kain batiknya. Walaupun hanya melihat punggungnya dari kejauhan, anehnya jantung Dinda langsung berdesir hebat. Dia tahu persis siapa pemilik tubuh gagah itu.
"Dinda, lihat! Itu sepertinya Kang Wira, deh," bisik Nilam tiba-tiba, menyenggol siku Dinda dan seketika membuyarkan lamunan romantis sang gadis yang tengah terpaku menatap punggung Wira.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍