Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Nektar di Atas Aspal
Embusan angin dari arah kipas angin dapur luar sama sekali tidak mampu mendinginkan suhu kepala Hino yang mendidih. Di balik dinding semen yang menyekat ruang tengah, suara obrolan kaku antara Pak Juned dan Irmi masih terdengar samar, namun teror yang sesungguhnya justru sedang berteriak kencang di dalam lubang speaker ponsel pintarnya. Layar gawai itu masih menyala, menampilkan wajah Bu Hina yang menatapnya dengan pandangan mata yang liar dari seberang jalan kompleks.
"Masa bodoh!" desis Hino, suaranya tertahan dalam bisikan yang sangat tajam, mencoba menolak perintah ranjang sewaan dari wanita paruh baya tersebut. "Aku tidak bisa sekarang, Hina! Di rumah bawah sedang ada orang tua Irmi yang mengawasi!"
Bu Hina, yang sedang berdiri di balik gorden lantai dua rumah mewahnya, sengaja mengintip ke arah pekarangan kontrakan. Matanya yang jeli langsung menangkap keberadaan mobil sewaan yang terparkir di depan pagar luar. Sebuah senyuman miring yang penuh dengan paranoia beracun merayap di bibirnya yang dilapisi gincu mahal.
"Oke, kalau kau tidak mau datang sekarang," balas Hina dengan nada suara yang mendadak dingin, mengancam langsung ke urat nadi keselamatan Hino. "Aku akan berjalan kaki ke sana sekarang juga untuk membongkar semua cerita pohon mangga itu di depan orang tua Irmi! Bukan berarti aku kecanduan fisik denganmu ya, Hino. Ini namanya ngidam! Anak di dalam rahimku ini yang meminta ayahnya datang!"
"Ngidam katamu?! Sialan!" kutuk Hino, giginya bergemertak menahan rasa pening yang luar biasa di pelipisnya. Air liurnya terasa pahit, seolah ia ingin memuntahkan seluruh isi tubuhnya akibat tekanan berlapis dari rahim-rahim yang mengunci hidupnya. "Kau benar-benar membuatku harus terus memuntahkan sisa kewarasanku, Hina! Aku benar-benar tidak bisa sekarang!"
Hina mendengus, membetulkan posisi daster sutranya yang longgar. Ia tahu suaminya, Pak Baskoro, sedang pergi dua hari ke luar kota, dan anak laki-laki pertamanya yang sudah berusia enam belas tahun juga sedang berada di asrama sekolah SMA luar kota. Rumah besarnya adalah jebakan sepi yang sempurna untuk mengunci mati pelayan toko tersebut.
"Oh, oke... siang ini kau kuizinkan lolos," bisik Hina, suaranya terdengar seperti desisan ular di siang bolong. "Tapi nanti malam kau harus datang menyeberang dan bersiap di dalam kamarku. Jangan coba-coba kabur, atau parang Baskoro yang akan menjemputmu esok pagi."
Panggilan terputus sepihak. Hino menyandarkan punggungnya pada dinding dapur yang dingin, terengah-engah meratapi nasibnya yang kini sudah serupa dengan budak suruhan. Namun, belum sempat ia memasukkan kembali ponselnya ke saku flanel, pintu kamar depan rumah bawah mendadak terbuka dengan sentakan lebar.
Erni keluar dengan langkah kaki yang teramat ringan. Tubuhnya sudah wangi setelah mandi bersih, dan area intimnya sudah dipersiapkan dengan rapi agar ia tidak mendapat malu saat jadwal periksa kandungan dan USG ke bidan kampung besok pagi. Di dalam kantung dasternya, seikat uang tunai tebal dari Irmi memberikan keberanian baru yang sangat rakus.
"Mas, temani aku belanja ke pasar modern depan, buruan!" seru Erni, suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar oleh Irmi yang sedang menemani ibunya di ruang tengah. Erni sama sekali tidak mau ikutan urusan sandiwara menyambut mertua siri hari ini; ia hanya ingin menikmati hasil perasannya. "Aku mau beli beberapa perlengkapan bersalin, sekalian mau mani-pedi di salon ujung jalan."
Hino menoleh dengan tatapan mata yang layu. "Belanja apa lagi, Erni? Uang gajiku belum turun dari toko."
"Terserah akulah mau belanja apa! Buruan anter, nanti pulangnya aku bisa naik angkutan sendiri," potong Erni, ia melangkah mendekati Hino, lalu berbisik dengan nada menuntut yang sangat kencang. "Kalau bisa, kau pinjam dulu itu kunci mobil sewaan milik si Irmi di depan. Biar orang tuanya lihat kalau kau bukan pelayan toko yang cuma bisa naik motor butut!"
Hino membelalakkan matanya, menatap istri sahnya dengan rasa tidak percaya. "Kau gila, Erni?! Kau tidak lihat situasi di dalam sedang panas? Kau takut terpojok karena tidak punya uang, sampai bertingkah senekat ini?!"
Erni tertawa kencang, sebuah tawa lepas yang sangat sinis, memamerkan seikat uang merah yang menyembul dari balik saku pakaian barunya. Ia menepuk bahu Hino dengan gerakan meremehkan, mengabaikan ketakutan yang sejak sore mengurung batin suaminya.
"Kau ini, Mas... benar-benar sudah berubah menjadi pria penakut," cibir Erni, matanya melirik ke arah pintu kamar belakang tempat Irmi mengawasi mereka dengan pandangan cemburu. "Aku bukan berubah karena takut, Mas. Aku tahu situasi dan kondisi rumah ini sekarang. Aku katakan padamu, aku ini bukan lagi benalu yang bisa kau bentak-bentak di kamar baru. Aku adalah kupu-kupu yang tahu cara menyerap nektar paling manis dari atas penderitaan janda kaya itu!"