NovelToon NovelToon
Cinta Yang Datang Terlambat

Cinta Yang Datang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. Aipp

Follow IG @samsularipin_101

"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".

Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.

Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.

Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghakiman diatas Ombak

Speedboat itu meluncur tanpa ampun membelah perairan Selat Madura. Mesin berdaya tinggi meraung keras, meninggalkan jejak buih putih yang memanjang di belakang buritan. Angin laut menerpa wajah Jevandra tanpa henti, tetapi fokusnya tidak sedikit pun goyah. Tatapannya terus mengunci Baskoro yang berdiri di dekat kemudi dengan napas memburu. Wajah pria itu tampak pucat, sementara sorot matanya memancarkan keputusasaan yang semakin sulit disembunyikan.

"Hentikan kapal ini, Baskoro!" seru Jevandra, berusaha mengalahkan suara mesin dan deburan ombak. "Kalau terus memaksa, kita berdua bisa celaka!"

Baskoro perlahan menoleh. Senyum sinis kembali terukir di wajahnya, meski terlihat dipenuhi kepanikan. Di lengannya tergenggam erat sebuah tas kerja berbahan kulit, seolah benda itu adalah harapan terakhir yang masih ia miliki. Di dalamnya tersimpan hard disk eksternal dan berbagai dokumen penting yang telah ia siapkan sebagai bekal pelarian menuju Singapura.

"Celaka?" katanya sambil tertawa pendek. "Bukan aku yang akan hancur, Jevandra. Yang akan runtuh adalah Pratama Group. Begitu aku berhasil keluar dari wilayah ini, seluruh rahasia kotor perusahaan ayahmu akan tersebar ke publik."

Belum sempat Jevandra menjawab, Baskoro melepaskan pegangan pada kemudi dan langsung menerjangnya.

Benturan keras tak dapat dihindari.

Di atas geladak yang terus berguncang dihantam ombak, keduanya saling beradu tenaga. Meski usianya tak lagi muda, Baskoro bertarung dengan tenaga yang lahir dari kepanikan dan naluri untuk bertahan hidup. Sebuah pukulan keras sempat mengenai sisi rahang Jevandra hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terdorong mendekati pagar pembatas kapal.

"Kamu hanya anak muda yang hidup dari keberuntungan!" bentak Baskoro. "Kalau bukan karena Alana, kamu tidak akan pernah sampai sejauh ini!"

Sambil berteriak, ia mengangkat kaki, berusaha menendang Jevandra ke laut.

Namun Jevandra bergerak lebih cepat.

Memanfaatkan ayunan kapal yang miring akibat diterjang ombak besar, ia menghindar lalu mencengkeram kerah kemeja Baskoro. Dengan satu gerakan tegas, tubuh pria itu dibanting hingga menghantam lantai geladak.

Tas kerja yang sedari tadi dipeluk Baskoro terlepas dari genggamannya. Resletingnya terbuka, membuat sejumlah dokumen berhamburan di atas dek yang licin, disusul sebuah hard disk berwarna hitam yang meluncur beberapa meter.

Mata Baskoro langsung membelalak.

Ia merangkak panik menuju benda tersebut.

Namun Jevandra lebih dahulu mencapainya.

Tanpa ragu, ia menginjak hard disk itu hingga terdengar bunyi retakan keras. Setelah memastikan perangkat itu rusak, ia menendangnya jauh ke laut hingga menghilang ditelan ombak.

"Tidak...!" pekik Baskoro dengan suara parau. Tatapannya kosong ketika melihat benda yang selama ini menjadi sandaran seluruh rencananya tenggelam ke dasar laut.

Belum sempat suasana kembali tenang, suara sirene memecah udara.

Dari kejauhan, dua kapal patroli cepat milik Polairud dan Bea Cukai melaju mendekat dari dua arah berbeda. Operasi pengejaran yang telah dikoordinasikan melalui jaringan keluarga Wijaya akhirnya berhasil menutup seluruh jalur pelarian.

Menyadari tidak ada lagi kesempatan untuk kabur, Jevandra segera mengambil alih kemudi speedboat. Ia mengurangi laju kapal hingga akhirnya mesin dimatikan sepenuhnya.

Beberapa detik kemudian, para petugas melompat ke atas kapal.

Baskoro yang kini tak lagi memiliki tenaga hanya terduduk pasrah di atas dek. Tangannya segera diborgol sebelum digiring menuju kapal patroli.

Saat melewati Jevandra, ia menghentikan langkahnya sejenak dan menatap dengan sorot mata penuh kebencian.

"Jangan merasa sudah menang," ucapnya lirih namun tajam. "Mulai hari ini, hidupmu sudah terikat dengan keluarga Wijaya. Tanpa sadar, kamu telah menyerahkan dirimu kepada mereka."

Jevandra tidak memberikan jawaban.

Ia hanya membalas tatapan itu dengan ekspresi dingin hingga Baskoro akhirnya dibawa pergi.

Tak lama kemudian, rombongan kembali merapat di dermaga privat Tanjung Perak.

Di ujung dermaga, Alana telah menunggu.

Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan diterpa angin laut. Meski begitu, pembawaannya tetap tenang dan berwibawa.

Pandangannya langsung tertuju kepada Jevandra yang turun dari kapal. Kemejanya basah oleh percikan air laut, sementara terdapat beberapa bekas gesekan di lengan dan sudut bibirnya.

Tanpa banyak bicara, Alana melangkah menghampiri.

Ia mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya, lalu dengan gerakan lembut mengusap darah tipis yang masih menempel di bibir Jevandra.

"Kamu benar-benar nekat," katanya pelan. Ada nada lega yang berusaha ia sembunyikan. "Tapi aku harus mengakui... keputusanmu tadi menyelamatkan semuanya."

Jevandra perlahan menggenggam pergelangan tangan Alana, menghentikan gerakan wanita itu untuk sesaat.

"Aku berani mengambil risiko," ujarnya sambil menatap mata Alana, "karena aku yakin ada seseorang yang tidak akan membiarkanku menghadapi semuanya sendirian."

Senyum tipis muncul di wajah Alana.

Kali ini senyum itu terasa tulus, tanpa kepura-puraan ataupun kepentingan bisnis yang selama ini menjadi tameng di antara mereka.

"Masalah Baskoro sudah selesai," katanya. "Ayahmu juga sudah menerima seluruh laporan. Tim legal sedang mengurus proses pemindahannya ke Jakarta dengan pengawalan penuh."

Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan,

"Dan sekarang... giliran kita yang kembali."

Jevandra mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak badai itu dimulai, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Namun ketika ia menatap Alana yang berdiri di sampingnya, ia menyadari satu hal.

Pertarungan di Tanjung Perak memang telah berakhir, tetapi kehidupan mereka belum benar-benar memasuki masa tenang. Di Jakarta, masih ada babak baru yang menunggu—babak yang bukan lagi sekadar tentang perebutan kekuasaan, melainkan tentang hubungan, kepercayaan, dan pilihan yang akan menentukan masa depan mereka.

Bersambung.....

1
fatmawati (pipit)
mungkin digaleri ini jevandra dijebak dari seseorang yg tidak menyukai dirinya dan bisa saja jevandra menghamili alana... setelah itu mungkin alana pergi jauh yg tidak diketahui oleh orang jevandra
fatmawati (pipit)
Alana terpaksa menikah dengan orang iblis bermuka manusia lalu silvia pintar cari muka dari jevandra
fatmawati (pipit)
kenapa alana masih bertahan, klau memang dia masih mencintai masa lalu lebih baik pergi dari kehidupan javier saja
fatmawati (pipit): klau nikah karna kerjasama lebih baik perusahaan bangkrut lalu pelan pelan bangkit memulai usaha sendiri tanpa ada suntikan dana dari perusahaan lain
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!