Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: GERBANG BUKIT RAYA
Pagi terakhir di Kesatrian Saksana Guard, Kota Mariposa, bergulir bersama kabut tipis yang enggan beranjak dari pucuk-pucuk pohon pinus. Di dalam ruang kerja staf intelijen yang telah dikosongkan, Kapten Ayuni Ameera Bakri berdiri menatap keluar jendela. Dua tahun lebih sudah berlalu semenjak ia menginjakkan kaki di markas militer Para Raider ini. Dua tahun yang penuh dengan ketegangan operasi, pengumpulan data taktis, dan pembuktian diri hingga namanya terpatri sebagai salah satu staf intel yang paling dihormati, disegani, dan diandalkan di dalam pangkalan.
Ayu melirik jam tangan pintar ber-strap putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu terus berjalan, tidak menunggu kesiapan emosional siapa pun. Di sudut ruangan, tumpukan kardus berisi berkas-berkas rahasia yang telah disegel serta koper-koper pakaian sudah terkemas dengan sangat rapi. Semuanya siap dimuat ke dalam truk dinas.
Di usianya yang kini menginjak tiga puluh dua tahun, Ayu membawa serta kedewasaan yang matang. Wajah ovalnya yang dibingkai oleh jilbab hitam itu tampak teduh, dengan sebuah tahi lalat kecil yang manis di bawah mata kanannya yang selalu menjadi ciri khas penampilannya. Dari luar, kehidupan seorang Kapten Ayuni tampak begitu sempurna dan tanpa cela. Orang luar yang memandangnya pasti akan langsung melabeli mereka sebagai keluarga bahagia yang luar biasa. Seorang perwira wanita berprestasi, memiliki suami yang mapan, dan seorang anak laki-laki kecil berusia empat tahun yang sangat tampan dan menggemaskan.
Namun, kenyataan di balik pintu rumah tangga tidak pernah sesederhana apa yang tertangkap oleh mata awam. Padahal, yang benar-benar tahu dan saling memahami apa yang bergejolak di dalam riak rumah tangga itu sendiri hanyalah Ayu dan suaminya. Bagi kedua sahabat karibnya—Lettu dr. Shaneen dan Lettu Yunita—Ayu adalah prototipe dari manusia paling kuat yang pernah mereka kenal. Dia adalah wanita yang sanggup bertahan di tengah tekanan operasi intelijen yang tinggi tanpa pernah mengeluh. Namun, siapa yang sangka bahwa di balik cangkang beton itu, Ayu sebenarnya adalah manusia paling rapuh. Segala rasa lelah, luka, dan kerinduan yang menganga selalu berhasil ia tutupi dengan sempurna di balik senyuman manis alami dan candaan renyah, seolah-olah hidupnya tidak pernah digores oleh belati luka apa pun.
Kini, Ayu menyadari bahwa fase baru dalam hidupnya akan segera dimulai. Kisah cinta dan komitmen rumah tangganya kembali diuji lewat sebuah penempatan dinas baru yang entah akan menjadi mimpi indah atau justru mimpi buruk yang enggan ia datangi. Dia dan suaminya harus terus melanjutkan hubungan jarak jauh demi sebuah pekerjaan masing-masing. Di dalam hubungan yang terpisah jarak ribuan kilometer ini, Ayu selalu menanamkan pada dirinya bahwa hanya ada dua fondasi utama yang wajib tertanam kuat agar biduk mereka tidak karam, kepercayaan mutlak dan komunikasi yang tak pernah putus.
Berbeda dengan Shaneen dan Yunita yang beruntung bisa bertugas di satu ksatrian bersama suami mereka, Ayu adalah satu-satunya di antara ketiga sahabat itu yang menikah dengan pria yang berstatus sebagai masyarakat sipil. Jangan salah, meski bukan dari kalangan militer, suami Ayu memiliki posisi yang terpandang sebagai staf administrasi di salah satu rumah sakit terbesar di ibu kota pusat bagian timur.
Pekerjaan suaminya yang mapan di pusat kota itulah yang memicu perdebatan kecil di awal pernikahan mereka. Kecintaan Ayu yang teramat besar terhadap seragam loreng dan sumpah prajuritnya sempat menjadi kerikil tajam. Sejak awal membina rumah tangga, Ayu sebenarnya sudah dituntut dan diminta oleh suaminya untuk berhenti dari dunia militer, mengabdi sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga di kota timur.
Namun, keluar dari institusi militer tidaklah semudah membalikkan telapak tangan hanya berdasarkan kemauan sepihak. Ada ikatan dinas, janji prasetia perwira, serta pro dan kontra panjang yang harus dihadapi. Ayu memiliki harga diri yang tinggi; ia sama sekali tidak mau dicap sebagai tentara atau pasukan militer gagal yang mundur di tengah jalan sebelum masa baktinya tuntas. Jadi, mau tidak mau, ia memilih teguh pada pendiriannya untuk terus mengabdi pada bumi ibu pertiwi sampai batas waktu yang sudah ia tentukan sendiri di dalam kepalanya.
Dampaknya, selama dua tahun lebih menjabat di Mariposa, hubungan mereka hanya dirawat lewat jaringan udara—mengobrol lewat telepon selular di sela-sela waktu piket atau melakukan video call sebelum putranya tidur. Untuk bertemu secara fisik, rasanya sukar sekali. Tuntutan pekerjaan di rumah sakit pusat timur yang padat serta intensitas tugas intelijen Ayu yang tinggi benar-benar menenggelamkan keduanya dalam kesibukan masing-masing. Namun, perpindahan Ayu kali ini diprediksi akan menjadi sejarah terpanjang dan paling krusial dalam lembaran hidupnya.
"Ayu! Sudah selesai melamunnya? Truk logistik kita sudah mau berangkat!"
Suara cempreng khas Yunita memecah keheningan ruangan. Lettu Yunita masuk dengan langkah tergesa-gesa, menggendong anaknya yang sudah berusia enam tahun dan tampak mengantuk. Di belakangnya, Yusuf—suami Yunita yang juga seorang perwira—mengikuti sambil memanggul tas ransel militer berukuran besar.
Tak lama kemudian, Shaneen masuk bersama suaminya, Letkol Reyes Miguel. Shaneen tampak repot menuntun kedua anak kembar mereka yang baru berusia dua tahun—satu laki-laki dan satu perempuan yang sedang aktif-aktifnya berlarian. Sesuai dengan prinsip yang sudah berjalan sejak lama, kemanapun Letkol Reyes dan Dokter Shaneen ditempatkan dinas, otomatis kedua manusia ajaib itu pasti ikut mengekor, Ayu dan Yunita.
Kemanapun sang Letkol melangkah memimpin satuan, anak-anak yang paling ia andalkan dan percayai seperti Ayu, Yunita, serta Yusuf sudah pasti akan selalu ikut diboyong dalam satu gerbong perpindahan. Mereka bukan sekadar bawahan, mereka adalah tim terbaik, otak, sekaligus otot dari setiap komando Letkol Reyes.
"Semua aman, Komandan," ujar Ayu tegas seraya memberikan hormat singkat pada Letkol Reyes yang dibalas dengan senyuman tipis sarat wibawa.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita bergerak menuju Kota Bukit Raya. Tujuan kita adalah Pusdikmil Bukit Raya," perintah Letkol Reyes.
Perjalanan dari Mariposa menuju tempat penugasan yang baru memakan waktu beberapa jam, membelah jalur darat yang beralih dari dataran karst menuju kawasan perbukitan yang mistis dan megah. Tempat yang mereka tuju kali ini adalah sebuah kawasan militer yang melegenda di pinggiran kota pusat pesisir, tepatnya di daerah Bukit Raya. Sebuah wilayah yang dikenal sebagai jantungnya Pusat Pendidikan Militer.
Begitu iring-iringan kendaraan dinas memasuki gerbang utama Kota Bukit Raya, pemandangan alam yang menonjol langsung menyergap indra penglihatan mereka. Berbeda dengan Mariposa yang didominasi tebing batu kapur, Bukit Raya adalah hamparan perbukitan hijau yang luas, dikelilingi oleh hutan-hutan sekunder tempat penempaan fisik para prajurit sejati. Cuaca di sini memiliki karakteristik yang unik dan kontras pada siang hari, matahari terasa begitu menyengat, membakar kulit dengan hawa panas yang kering khas tanah Sulawesi. Namun, ketika angin bukit mulai berembus di sore hari, cuaca bisa mendadak berubah menjadi sejuk, membawa aroma tanah merah dan daun-daun basah dari dalam hutan latihan.
Kawasan Pusdikmil Bukit Raya berdiri dengan kokoh di tengah keheningan alam tersebut. Kompleks barak militer, lapangan upacara yang luas membentang, serta pohon-pohon trembesi tua yang rindang berjejer rapi di sepanjang jalan ksatrian, memberikan kesan magis sekaligus intimidatif. Ini adalah tempat di mana ribuan bintara dan tamtama baru ditempa dari masyarakat sipil menjadi mesin tempur negara. Suara gema yel-yel prajurit siswa yang sedang berlatih lari di kejauhan terdengar samar-samar, memecah kesunyian perbukitan, menciptakan atmosfer militer yang kental, natural, namun berwibawa.
Ayu menurunkan kaca jendela mobil dinasnya, membiarkan angin Bukit Raya menerpa wajah tirusnya. Ia memeluk putra kecilnya yang berusia empat tahun yang kini tertidur pulas di pangkuannya. Matanya menatap barisan pohon kedukan yang memagari lapangan tembak Bukit Raya. Ada perasaan tidak menentu yang mendadak menyusup ke dalam dadanya. Sebagai seorang personil intelijen, instingnya selalu berbisik tajam jika ada sesuatu yang besar yang sedang menantinya di belokan takdir depan.
Di Kota Bukit Raya ini, di bawah langit kota pusat pesisir yang menyimpan ribuan cerita kedisplinan, Ayu tahu tugasnya tidak akan lagi sama. Ia melirik dirinya sekali lagi melalui spion tengah, lalu mengembuskan napas panjang. Apapun yang menantinya di ksatrian baru ini—entah itu akhir dari masa LDR-nya, atau justru babak baru dari masa lalu yang belum usai—ia bersumpah demi pangkat kapten di pundaknya bahwa ia akan menghadapinya dengan kepala tegak. Sejarah terpanjang dalam hidupnya baru saja dimulai ketika ban mobil dinas itu berhenti sempurna di depan gedung Markas Komando Pusdikmil Bukit Raya.