menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Gimana Dik?" tanyaku lagi. Kali ini aku yang harus sabar. Selama ini aku tak terlalu perhitungan kalau untuk makan. Tapi saat ada Azzahra?
"Kita cari menu seafood di tempat yang lain aja ya Mas? Apa keberatan?" tanyanya sambil menatapku serius.
Ditanya seperti itu bagaimana bisa aku menolaknya. Tentu aku mengiyakan permintaan itu.
"Oke Dik, gak masalah. Tapi Mas bayar uang sewa tempatnya dulu ya? Baru kita pergi," kataku lagi.
Aku beranjak, hendak pergi. Tapi tangan Azzahra tiba-tiba menahanku.
"Sewa tempat?" tanyanya setengah penasaran.
"Iya Dik," jawabku sambil kembali duduk.
"Mas tadi sengaja ngajak makan di sini, biar kamu bebas makan tanpa makai cadar. Soalnya di sini ada ruangan untuk jaga privasi. Tapi ya gitu..., ada kualitas ada harga," jawabku menjelaskan.
Lagian aku gak memasalahkan uang. Hanya ingin Azzahra makan dengan tenang tanpa perhitungan.
Dia menunduk. Tangannya memilin tangan yang satunya.
"Maaf Mas. Kalau gitu, kita makan aja di sini," katanya dengan lirih.
"Loh! Mas gak masalah lho Dik buat pindah?" kataku dengan yakin.
"Gak Mas. Katanya Mas tadi, gak masalah sekali-kali. Apa masih berlaku?" Dia menatapku seperti sudah menyetujui kemauanku.
"Ah iya tentu. Kalau gitu mau pesen apa?" tanyaku dengan semangat. Lagian udah nahan lapar juga. Masa mau pindah-pindah. Untung Azzahra pengertian.
"Azzah yang ini aja Mas," katanya sambil menunjuk menu yang paling murah.
Aku tersenyum kecil. Mungkin dia gak mau jadi pemborosan.
"Oke!" jawabku semangat. Sepertinya aku gak perlu bertanya padanya.
Langsung ku panggil seorang pelayan dari pintu masuk ruang privat ini.
Aku order sambil menunjuk beberapa menu makanan dan minuman.
"Oke Mas. Kepiting 2 porsi. Junkfoodnya yang gak pedas 1. Lalu minumnya jus strawberry 2. Minta buah semangka 1 porsi sama lobsternya 1 porsi," ucapnya mengulang perkataanku.
"Iya Mas, di ruangan ini," ucapku sambil kembali menemui istriku.
"Udah Mas?" tanyanya dan aku mengangguk.
Aku kembali duduk di depannya.
"Sekali ini aja ya Dik. Jangan menolak atau marah. Jika merasa keberatan, lain kali mas gak mengulang makan di sini. Karena Mas pikir, makan siang di sini untuk kencan kita," jelasku sungguh-sungguh.
Dia terlihat malu-malu. Seperti sebelumnya dia selalu memilin atau memelintir bajunya. Sepertinya dia agak grogi untuk bicara.
Ku tatap dia tanpa keraguan. Kencan dengan istri sendiri. Rasanya emang beda banget. Coba saja jika aku ngajak LC atau wanita bayaran. Pasti langsung bergelayut manja minta diapa-apakan.
"Iya Mas. InsyaAllah Azzah gak akan mempermasalahkan soal hari ini," jawabnya.
Aku langsung tersenyum lebar. Seneng banget selalu dingertiin oleh seorang perempuan.
"Makasih ya Dik." Ku raih tangannya. Ku genggam dengan erat.
Tiba-tiba waiters itu mengetuk pintu depan.
Tentu pelayan di sini tak sembarang masuk. Karena ruang ini privasi. Jadi apapun yang terjadi di dalam, waiters pun gak boleh lihat.
"Oh sini Mas!" Ku ambil alih nampan yang dibawanya.
"Tunggu yang satunya ya Mas," ucapnya.
Aku mengangguk saja. Lalu ku bawa masuk hidangan itu.
"Orderan datang, silahkan!" ucapku sambil menggoda sedikit si Azzahra.
Ternyata Azzahra bisa tertawa. Meskipun tak bersuara keras, tawa itu cukup membuatku berbunga-bunga. Aku makin penasaran dibuatnya.
Setelah ku letakkan di meja. Dia terlihat terkejut. Tapi pada akhirnya dia hanya pasrah. Dia sudah berjanji tidak akan marah apapun yang terjadi.
Selang beberapa menit kemudian, waiters kembali mengetuk pintu yang tak terkunci.
Aku segera keluar dan mengambil alih. Lalu ku bawa masuk.
Makanan siap saji ternyata cuma mi intans yang di cup. Tapi dikasih beberapa topping seperti baso, sosis dan sayur.
"Ini punya Azzah ya Mas?" tanyanya seraya mengambil mi itu.
Aku mengangguk mengiyakan. Mungkin dia pikir aku ini rakus. Pesen makanan banyak banget. Padahal makan pun belum tentu habis.
"Bukan cuma itu aja. Ini, ini, ini semua boleh kamu makan," ucapku sambil menunjukkan semua menu.
"Sebanyak ini?" tanyanya heran.
"Iya, kalau kurang bisa nambah lagi!" ucapku semangat.
Melihat situasi aman. Azzahra akhirnya berani melepas niqabnya. Dia mengambil sumpit.
"Ayo makan Mas. Jangan lupa berdoa," ucapnya.
Aku tersenyum senang. Pasti aturan di rumah Azzahra juga berlaku di sini.
Aku mengambil kepiting seporsi. Kami makan dengan diam. Menikmati semuanya. Tapi Azzahra hanya menikmati mi cup itu.
"Kepitingnya dimakan Dik? Mubazir," ucapku sambil menyodorkan sepiring kepiting.
Dia tak bersuara. Hanya anggukan kecil sebagai jawabannya.
Bahkan di luar pun, aturan orang tuanya masih berlaku untuknya. Benar-benar anak yang patuh.
Pada akhirnya makanan itu tak habis. Jadi inilah sekarang..., dari pada mubazir akhirnya sama Azzahra dibungkus dibawa pulang. Apapun itu aku tak marah padanya.
"Jadi belanja beras Mas?" tanyanya mengingatkan.
"Jadi dong? Kemana ya enaknya?" tanyaku sambil menatap jalan di depan. Harus fokus, kalau gak nanti bisa bikin orang lain celaka.
"Di mini swalayan ya Mas. Yang jualan sayur," tunjuknya.
"Oke Dik!"
Tiba di swalayan. Kami belanja kebutuhan rumah tangga. Aku suruh dia yang pilih. Akhirnya kalau soal urusan dapur, dia punya pilihan sendiri. Setiap dia ambil satu barang, aku ambilkan satu lagi. Beras cuma ambil yang 5 kilogram. Ya aku tambahin 5 kilogram lagi. Begitu pula dengan minyak. Kalau sedikit takutnya kurang.
Dia terkejut saat sudah sampai kasir.
"Kok jadi banyak Mas?" tanyanya terheran-heran.
"Biar gak kehabisan," jawabku sekenanya.
Tiba membayar, cuma habis sekitar 500 ribuan. Tak sebanding dengan sekali makan tadi yang hampir sejuta. Pantas Azzahra terkejut beli di restoran tadi. Aku baru tahu, ternyata ini alasannya.
Usai belanja, akhirnya kita kembali pulang. Sungguh bahagia rasanya. Tapi sayangnya, besok aku harus ke toko. Banyak orderan yang tertunda. Sebelum hari raya, stok harus mencukupi.
"Alhamdulillah sampai rumah. Capek gak Dik?" tanyaku saat kami sudah beristirahat di dalam kamar.
Ini masih setengah 3 siang. Kayaknya gak masalah buat tidur sebentar. Capek ditambah perut kenyang, bawaannya jadi ngantuk.
"Tidur yuk Dik?" ajakku sambil meraih tubuhnya ke tubuhku. Dia memakai hijab pada umumnya. Tak panjang seperti biasanya. Mungkin ini hijab yang khusus di dalam kamar. Pikirku.
"Eh!" Dia hampir mengelak.
Tapi ku tahan. Tangan ini masih mendekap tubuhnya dari belakang.
"Mas gak akan ngapa-ngapain kamu Dik. Cukup gini aja," ucapku sambil tidur memeluknya.
Awalnya tubuh itu menegang karena takut. Tapi lama kelamaan jadi tenang. Dan mata ini yang tak kuasa menahan kantuk, akhirnya terpejam juga.
Hingga adzan 'ashar membangunkan kami. Kami? Tunggu. Di sampingku sudah tak ada Azzahra. Aku kaget bukan kepalang. Pikiranku kemana-mana.
Azzahra gak mungkin pulang ke rumah ortunya kan? Pikirku bingung.
Apa mungkin gara-gara ku peluk tadi? Tanyaku bingung.
Segera aku terbangun. Berharap bisa segera menemukan Azzahra.
Namun sampi di dapur. Azzahra tak terlihat juga. Aku takut Azzahra mengadu sama ortunya.
Tidak? Azzahra gak mungkin ninggalin aku begitu sajakan?
Bersambung...