Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 ~ Istri Garra
"Apa yang baru saja kita lakukan tadi? Hanya hiburan terakhir sebelum kau pergi? Atau memang selama ini kau hanya berpura-pura agar aku terus memberimu apa yang kau butuhkan?"
Hezlin merasakan sakit yang menusuk di dadanya, namun ia tetap memaksakan dirinya bersikap acuh tak acuh. Ia mengangkat bahu santai.
"Bukankah itu yang kau inginkan juga? Tidak ada cinta, tidak ada harapan lebih. Sekarang aku sudah selesai dengan bagianku dari perjanjian ini. Tidak ada alasan untuk terus tinggal."
Garra tertawa kecil, namun tawanya tanpa senyum dingin dan pahit. Ia melangkah mendekat, membungkuk dan mengangkat dagu Hezlin kasar namun tidak menyakiti, memaksanya menatap lurus padanya.
"Baiklah kalau itu yang kau mau. Bicarakan dulu dengan orangtuamu. Jika mereka setuju dan keputusanmu tetap tidak berubah, kita akan urus surat-surat perceraian secepatnya. Jangan sampai kau menyesal nanti."
Ia melepaskan dagu Hezlin dengan kasar, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Besok pagi aku akan minta pengacara menyiapkan semuanya. Jangan berharap aku akan menahanmu lebih lama lagi."
BRAKK!
Pintu ditutup rapat, meninggalkan Hezlin sendirian di kamar yang tiba-tiba terasa begitu sunyi dan dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya, ia berhasil membuat Garra salah paham, namun hatinya justru terasa hancur berkeping-keping.
••
••
Pagi ini, begitu selesai membersihkan diri dan merapikan penampilan, Hezlin langsung turun ke ruang makan. Di sana, meja panjang sudah terisi berbagai hidangan yang tersaji rapi dan harum.
"Bi Rum," panggilnya pelan saat melihat pembantu rumah tangga itu sedang menata gelas. "Mas Garra belum turun?"
Bi Rum menoleh, lalu menjawab sopan. "Tuan sudah berangkat sejak pagi buta, Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya sarapan terlebih dahulu sebelum beraktivitas pagi ini."
Hezlin terdiam sesaat, ada rasa perih yang samar terasa di dadanya.
"Begitu..." gumamnya pelan.
"Dan satu lagi, Nyonya," lanjut Bi Rum hati-hati. "Tuan juga bilang, beliau harus pergi ke luar kota untuk urusan penting. Kemungkinan baru akan pulang lusa."
Hezlin mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan perasaannya di balik senyum tipis. "Terima kasih, Bi. Aku mengerti."
Ia duduk di kursinya, namun meja makan itu terasa jauh lebih luas dan sunyi dari biasanya. Tanpa kehadiran Garra, suasana terasa hampa. Perlahan ia mengambil sendoknya, mencoba memakan hidangan di hadapannya meski rasanya terasa hambar di lidah.
'Baiklah,' batinnya. 'Mungkin ini memberi waktu bagi kita berdua untuk menenangkan diri, sebelum semuanya benar-benar berakhir.'
••
••
Tidak lama kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna merah mengkilap berhenti mulus di depan gerbang kediaman orang tua Hezlin.
Perlahan pintu pengemudi terbuka, dan Hezlin turun dengan anggun. Begitu ia melangkah mendekati teras, seorang pelayan sudah menyambutnya dengan sopan.
"Nona, selamat pagi," sapa pelayan itu sambil sedikit menunduk.
"Pagi. Apakah Ayah ada di dalam?" tanya Hezlin langsung.
"Kebetulan beliau masih ada di ruang kerja. Silakan masuk, Nona."
Hezlin mengangguk pelan, lalu melangkah masuk melewati pintu utama yang terbuka lebar. Suasana rumah ini terasa lebih hangat dan akrab baginya, namun di balik itu, hatinya terasa berat, ia harus menyampaikan keputusan yang mungkin akan menimbulkan banyak pertanyaan.
Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya, lalu mengetuk pintu tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk," suara berat dari dalam terdengar jelas.
Hezlin menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.
Begitu masuk, ia melihat ayahnya sedang duduk di balik meja kerja besar, menaruh kacamata baca dan menatap putrinya dengan tatapan lembut.
"Hezlin? Kau datang pagi-pagi sekali," sapa Tuan Arthur, lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah."
Hezlin menutup pintu pelan, lalu melangkah mendekat dan duduk dengan postur tegak. Tangannya tergenggam rapat di atas pangkuan, berusaha menata kata-kata sebaik mungkin.
"Ayah, aku ada hal penting yang ingin dibicarakan," ucapnya mantap, meski detak jantungnya berdebar agak kencang.
Tuan Arthur mengernyit sedikit, merasakan ada keseriusan dalam nada bicara putrinya. "Baiklah. Katakan saja."
Hezlin menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata ayahnya.
"Aku ingin mengajukan perceraian dengan Mas Garra."
Ruangan itu seketika hening. Tuan Arthur terdiam, matanya melebar sedikit terkejut, namun ia berusaha tetap tenang.
"Perceraian? Kenapa tiba-tiba memikirkan hal itu?" tanyanya hati-hati. "Bukankah pernikahan ini berjalan baik, dan tujuan awal kita sudah tercapai?"
Hezlin mengangguk pelan, memainkan peran yang sudah ia susun matang-matang.
"Benar, Ayah. Perusahaan kita sudah pulih, keuangan stabil, dan aku tidak lagi membutuhkan apa pun dari keluarga Kingston. Aku rasa tidak ada gunanya lagi mempertahankan ikatan yang dasarnya hanya kesepakatan bisnis. Lebih baik kita berpisah secara baik-baik, sebelum nanti ada hal yang lebih rumit."
Ia tersenyum tipis, mencoba terlihat yakin dan tidak tergoyahkan.
Brak!
Tuan Arthur menepuk meja dengan keras, wajahnya seketika berubah tegang dan marah. Ia berdiri tegak, menatap Hezlin dengan pandangan tajam.
"Bercerai? Kau benar-benar tidak berpikir panjang, tentang hal ini?!" bentaknya keras.
"Ayah, dengarkan penjelasanku—"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" potong Tuan Arthur cepat. "Kau kira nama besar dan pengaruh keluarga Kingston itu bisa didapatkan sembarangan orang? Baru saja kita mulai bangkit, pintu-pintu kesempatan yang dulunya tertutup rapat kini terbuka lebar hanya karena statusmu sebagai istri Garra!"
Ia melangkah mendekat, suaranya penuh penekanan.
"Masih banyak hal yang ingin kita capai, perluasan usaha, kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar, stabilitas nama keluarga di dunia bisnis. Semua itu bisa didapatkan selama kau masih terikat dengannya! Dan kau mau membuang kesempatan emas ini begitu saja hanya karena keinginan sesaatmu?!"
Tuan Arthur menggeleng keras, menolak mentah-mentah.
"Aku tidak akan membiarkannya. Selama kau masih menjadi istri Garra, nama kita tetap dihormati, posisi kita tetap aman, dan masa depan kita masih terbuka luas. Perceraian itu hanya akan membuat kita kembali jatuh ke dasar, bahkan lebih buruk dari sebelumnya."
Ia menatap Hezlin dengan tegas.
"Lupakan soal perceraian itu. Jangan sampai kau merusak semua yang sudah kita bangun susah payah ini. Aku tidak akan pernah menyetujuinya, paham?!"
•
•
❤️