Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Air spirit
Hutan Kabut Utara mendapatkan namanya bukan tanpa alasan. Pagi itu, kabut putih tebal menyelimuti pepohonan raksasa setinggi puluhan meter, membatasi jarak pandang hingga hanya lima langkah. Udara terasa lembap dan dingin, membawa aroma tanah basah dan daun busuk yang menusuk hidung.
Puluhan pemuda dari berbagai cabang Klan Lin tersebar di area tepi hutan, masing-masing mencari jejak hewan spiritual tingkat rendah seperti Rusa Tanduk Perak atau Babi Hutan Berduri. Suara-suara teriakan semangat dan dentuman senjata sesekali terdengar dari kejauhan, namun di sekitar kelompok Lin Hao, suasana terasa mencekam.
Lin Hao berjalan di barisan depan, dikelilingi oleh empat pengawal pribadinya dan Luo Feng, sang ahli racun yang menyamar sebagai pemburu biasa. Di belakang mereka, beberapa anggota klan lain mengikuti dengan ragu-ragu, termasuk Lin Fan yang sengaja menjaga jarak sepuluh meter di belakang.
"Ingat,"
bisik Lin Hao pada Luo Feng tanpa menoleh.
"Tanda sudah diberikan?"
Luo Feng mengangguk kecil, jari-jarinya memainkan sebuah kantong kulit kecil di pinggangnya.
"Serbuk Pemikat sudah disebar di jalur sebelah kiri, tepat di dekat tebing curam. Begitu dia menghirupnya, Serigala Bayangan akan mencium 'bau mangsa' darinya dalam hitungan detik. Mereka lapar, Tuan Muda."
Lin Hao tersenyum tipis. Ia menoleh sekilas ke arah Lin Fan, yang tampak sedang memperhatikan dedaunan di sekitarnya dengan ekspresi polos. Teruslah berpura-pura bodoh, Fan. Hari ini adalah hari terakhir kebebasmu.
Tiba-tiba, angin berhembus kencang, menerobos celah-celah pohon dan membawa serta hembusan kabut yang lebih pekat. Lin Fan berhenti mendadak. Hidungnya berkedut. Di balik aroma lembap hutan, ia mencium sesuatu yang manis dan tajam—aroma Serbuk Pemikat yang dicampur dengan zat kimia pengikat indera penciuman binatang.
Aromanya berasal dari jalur kiri. Jalur yang secara "kebetulan" disarankan oleh salah satu pengawal Lin Hao lima menit lalu sebagai rute yang kaya akan jejak hewan.
Lin Fan tidak panik. Jantungnya berdetak stabil. Ia tahu persis apa yang menunggu di sana. Namun, ia tidak bisa sekadar berbalik dan lari; itu akan membuat Lin Hao curiga dan mungkin memaksa konfrontasi langsung di depan umum. Ia harus terlihat seperti korban yang "terjebak", bukan orang yang menghindar.
"Aku melihat jejak!" seru Lin Fan tiba-tiba, suaranya cukup keras untuk didengar kelompok depan. "Di sebelah kiri! Sepertinya jejak kaki besar!"
Lin Hao dan Luo Feng saling pandang, mata mereka berbinar licik. Dia masuk perangkap.
"Hati-hati, Fan!" "Jangan terlalu jauh!"
pura-pura Lin Hao memperingatkan, meski sudut bibirnya terangkat puas.
Lin Fan mengangguk, lalu berlari kecil menuju jalur kiri, masuk ke dalam kepulan kabut yang semakin tebal. Begitu ia melewati batas pandang kelompok utama, senyumnya menghilang. Wajahnya menjadi dingin dan fokus.
Ia tidak terus maju ke pusat jebakan. Sebaliknya, ia berbelok tajam ke kanan, menyusup di balik batang pohon raksasa yang berlumut. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan lonceng tembaga retak. Dengan aliran Qi tipis yang ia alirkan melalui jarinya, ia memukul lonceng itu dengan ritme tertentu.
Ding... ding-ding...
Suara yang dihasilkan bukan nada musik, melainkan frekuensi rendah yang hampir tak terdengar oleh telinga manusia, namun sangat mengganggu bagi hewan yang mengandalkan echolocation atau pendengaran super sensitif seperti Serigala Bayangan.
Seketika, dari balik semak-semak di depan jebakan (tempat Lin Fan seharusnya berada jika ia lurus), terdengar raungan kesakitan dan kebingungan. Tiga ekor Serigala Bayangan muncul, tubuh mereka berwarna abu-abu transparan, mata mereka merah menyala. Mereka tampak gelisah, kepala mereka bergoyang-goyang karena gangguan frekuensi suara Lin Fan.
"Bagus," gumam Lin Fan.
"Mereka kehilangan arah."
Namun, bahaya belum berakhir. Luo Feng tidak hanya mengandalkan serbuk pemikat. Ia juga telah menempatkan Jaring Laba-laba Besi yang dilapisi racun paralisis di dahan-dahan pohon di atas area jebakan. Jika Lin Fan lolos dari serigala, ia akan terjebak di jaring itu.
Lin Fan mendongak. Matanya yang tajam menembus kabut, melihat kilatan halus benang-benang lengket di antara dahan. Ia menghela napas. Licik sekali.
Ia memutuskan untuk mengubah rencana. Alih-alih menghindari jebakan, ia akan menggunakannya melawan pemiliknya.
Lin Fan mengambil sebuah batu kerikil, membungkusnya dengan daun lebar, dan melemparkannya dengan presisi tinggi ke arah tengah jaring laba-laba. Batu itu tersangkut di tengah jaring, membuatnya bergetar.
Getaran itu menarik perhatian Serigala Bayangan yang sedang bingung. Salah satu serigala, yang paling besar, melompat ke atas, mencoba menangkap "mangsa" yang bergerak di jaring. Tubuhnya yang setengah transparan menyentuh benang beracun.
Sssst!
Asap putih keluar dari bulu serigala itu. Racun pada jaring ternyata bereaksi aneh dengan energi spiritual Serigala Bayangan, menyebabkan ledakan kecil energi kacau. Serigala itu meraung kesakitan dan jatuh ke tanah, menggeliat liar. Dua serigala lainnya, yang insting hewannya kuat, menjadi takut dan mundur ke dalam semak-semak, meninggalkan area tersebut.
Jaring itu kini rusak di bagian tengah, menciptakan celah.
Lin Fan segera memanfaatkan momen itu. Ia melompat gesit melalui celah jaring, mendarat dengan ringan di sisi lain tebing. Di sana, tersembunyi di balik rimbunnya tanaman merambat, terdapat celah sempit di dinding batu—masukannya ke gua rahasia yang ia cari.
Sebelum masuk, ia mengambil segenggam tanah berlumpur dan mengoleskannya ke wajah serta bajunya, menutupi aroma tubuhnya sendiri. Lalu, ia mengambil sedikit darah dari luka gores kecil di tangannya (yang ia buat sendiri dengan kuku) dan meneteskannya di tanah dekat jalan masuk jebakan, seolah-olah ia telah diseret oleh binatang buas.
"Biarkan mereka berpikir aku sudah mati atau terluka parah," pikir Lin Fan.
"Ini akan memberi waktu bagiku untuk membersihkan diri dan menemukan Air Spirit."
Ia merayap masuk ke dalam celah gua yang gelap.
Sementara itu, di luar hutan, Lin Hao menunggu dengan sabar. Lima belas menit telah berlalu. Tidak ada suara teriakan minta tolong. Tidak ada tanda-tanda perjuangan. Hanya keheningan yang mencekam.
"Sudah selesai?"
tanya Lin Hao pada Luo Feng.
Luo Feng mengenduskan udara, wajahnya bingung.
"Aroma serbuk pemikat masih ada... tapi aroma darah segar... hilang? Atau tertutup bau ozon aneh?"
Tiba-tiba, salah satu pengawal Lin Hao berlari keluar dari hutan, wajahnya pucat. "Tuan Muda! Kami menemukan... kami menemukan sisa-sisa pertarungan di tepi tebing!"
Lin Hao bergegas mengikuti pengawalnya. Di lokasi yang ditunjuk, terdapat jejak cakar serigala yang dalam, potongan jaring laba-laba yang putus, dan genangan darah kecil di tanah.
"Darah...?"
Lin Hao berjongkok, menyentuh cairan merah itu. Masih hangat.
"Dan jaringku rusak? Siapa yang merusak jaringku?"
Luo Feng memeriksa jaring yang putus. Matanya melebar.
"Ini... ini bukan kekuatan fisik biasa. Benangnya putus dari dalam, seolah-olah ada ledakan energi kecil. Dan serigala-serigala itu... mereka kabur. Bukan karena kalah, tapi karena ketakutan."
Lin Hao berdiri, kepalan tangannya mengepal erat. Perasaan tidak enak merayap di dadanya. Sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Lin Fan tidak seharusnya bisa melawan serigala bayangan, apalagi merusak jebakan racunnya.
"Cepat Cari dia!" perintah Lin Hao
"Cari sampai ke dasar hutan. Aku ingin melihat mayatnya. Atau setidaknya, tulang-belulangnya."
Para pengawal menyebar, memasuki hutan dengan senjata terhunus.
Namun, mereka tidak akan menemukan Lin Fan.
Di dalam kegelapan gua yang lembap, Lin Fan duduk bersila di tepi kolam kecil yang bersinar biru pucat. Air Spirit Murni. Energinya murni, dingin, dan menenangkan. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air, merasakan sensasi kesemutan yang menyenangkan menjalar ke seluruh lengan.
Ia mengambil botol kosong dari tasnya dan mulai mengisinya. Setiap tetes air ini berharga emas bagi proses penyembuhan meridiannya. Dengan air ini, ia bisa membersihkan residu racun dari tubuhnya (jika terpapar nanti) dan mempercepat penyerapan pil-pilnya.
Lin Fan tersenyum dalam kegelapan. Di luar, Lin Hao mungkin sedang marah-marah mencari mayat fiktif. Tapi di sini, di perut bumi, Lin Fan sedang minum dari sumber kekuatan sejati.
"Terima kasih atas 'hadiah' jebakanmu, Hao," bisik Lin Fan pada dirinya sendiri.
"Tanpa tekanan serigala dan jaringmu, aku mungkin tidak akan pernah menemukan celah masuk ke gua ini secepat ini."
Ia meneguk sedikit air spirit tersebut. Rasanya seperti es mentega yang meleleh di lidah, memberikan dorongan energi instan ke Dantiannya. Meridiannya yang baru pulih bergetar senang, menyerap kemurnian air itu seperti spons kering.
Lin Fan tahu ia tidak bisa tinggal lama. Saat matahari mulai condong ke barat, ia harus keluar. Dan ketika ia keluar, ia tidak akan lagi menjadi mangsa. Ia akan menjadi predator yang menunggu di balik bayangan.
Permainan di hutan baru saja dimulai, dan Lin Fan telah menguasai papan permainan.