NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Pedagang Keliling yang Mencurigakan

Malam berlalu dengan dingin dan penuh ketakutan. Bobon terbangun di dalam gua kecil di tengah hutan, tempat warga Desa Windu Sari mengungsi. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena ingatan samar tentang api dan teriakan.

Nenek Mira duduk di sampingnya, menjaga dengan mata waspada. Beberapa warga lain juga terbangun. Mereka saling berbisik, merencanakan langkah selanjutnya.

"Kita harus ke kota terdekat," kata Pak Karta. "Di sana ada pasukan kerajaan. Mereka akan melindungi kita."

"Tapi jalan ke kota melewati hutan bambu. Berbahaya," sahut seorang warga.

"Lebih berbahaya tinggal di sini. Para penyerang bisa kembali kapan saja."

Bobon mendengar semua percakapan itu. Dia bangkit dan mendekati Pak Karta. "Aku akan melindungi kalian, Pak."

Pak Karta menatap Bobon dengan mata penuh arti. "Kau sudah melakukan cukup banyak, Bobon. Tapi kau juga harus melindungi dirimu sendiri."

"Aku tidak takut. Aku bisa lari cepat dan memukul keras."

Pak Karta tersenyum. "Aku tahu. Tapi musuh kita bukan hanya orang biasa. Mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Kau harus pergi ke Kerajaan Kencana dan mencari perlindungan di sana."

Nenek Mira mendekati Bobon dan memegang tangannya. "Kita akan pergi ke Kerajaan Kencana, Bobon. Tapi kita harus berpisah dengan warga desa. Mereka akan ke kota terdekat, kita akan ke istana."

"Berpisah dengan Tono?" tanya Bobon sedih.

"Kau akan bertemu dengannya lagi suatu hari. Sekarang kita harus fokus pada keselamatan."

Bobon mengangguk meskipun hatinya berat. Dia mendekati Tono yang sedang tidur dan mengusap rambutnya pelan. "Aku akan kembali, Ton. Janji."

Tono menggeliat dalam tidurnya dan tersenyum.

Saat matahari mulai terbit, rombongan warga desa berpisah. Mereka yang menuju kota berjalan ke arah timur. Bobon dan Nenek Mira berjalan ke arah utara, menuju Kerajaan Kencana.

Perjalanan mereka melewati hutan yang lebat. Pohon-pohon tinggi menaungi jalan setapak. Suara burung dan serangga mengisi kesunyian. Bobon berjalan di samping Nenek Mira dengan langkah berat. Tangannya membawa bungkusan kecil berisi bekal.

"Bobon, kau lapar?" tanya Nenek Mira.

"Sedikit, Nek. Tapi aku tahan."

Nenek Mira tersenyum. Bobon biasanya tidak pernah bisa menahan lapar. Tapi hari ini dia berbeda. Matanya lebih tajam. Telinganya lebih peka. Dia seperti sedang waspada terhadap sesuatu.

"Kau mendengar sesuatu, Bobon?"

"Ada langkah kaki, Nek. Bukan binatang. Manusia."

Nenek Mira berhenti. Dia mendengarkan dengan seksama. Tidak ada suara apa pun. Tapi dia percaya pada Bobon. Selama bertahun-tahun, Bobon selalu bisa merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakan orang lain.

"Berapa banyak?"

"Tiga orang. Mereka mengikuti kita dari tadi."

Nenek Mira menggenggam tangannya erat. "Ayo cepat. Kita harus keluar dari hutan ini."

Mereka mempercepat langkah. Bobon sesekali menoleh ke belakang. Matanya yang polos berubah menjadi tajam. Ada sesuatu di balik pepohonan yang bergerak mengikuti mereka.

Setelah berjalan hampir satu jam, mereka sampai di pinggir hutan. Di depan mereka terbentang jalan raya yang menghubungkan desa-desa ke kota. Tapi sebelum mereka bisa melangkah keluar, tiga orang muncul dari balik pohon.

Mereka adalah pedagang keliling dengan pakaian biasa. Tapi mata mereka tidak seperti pedagang. Mata mereka tajam dan penuh perhitungan.

"Halo, Nenek dan cucu. Mau ke mana?" tanya pedagang tertua dengan suara ramah.

Nenek Mira menjawab dengan tenang. "Kami mau ke pasar kota. Ada saudara di sana."

"Pasar kota? Tapi jalan ini menuju ke utara, Nenek. Pasar kota di timur."

Nenek Mira tersenyum tipis. "Kami mau ke pasar utara. Ada saudara di sana."

Pedagang itu tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. "Aku dengar ada desa yang terbakar semalam. Desa Windu Sari. Apa kalian dari sana?"

"Tidak. Kami dari desa seberang."

Pedagang itu mendekat. "Aku juga dengar ada bocah aneh di desa itu. Bocah gendut yang bisa menangkis pukulan dan lari secepat angin. Apa kau bocah itu?"

Bobon menggeleng. "Aku Bobon. Tapi aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

Pedagang itu tertawa. "Bobon? Nama yang aneh. Tapi kau persis seperti deskripsi yang kami terima. Bocah gendut dengan pipi tembem dan rambut acak-acakan."

Nenek Mira melangkah di depan Bobon. "Apa yang kau inginkan dari kami?"

"Kami hanya ingin membawa bocah ini ke suatu tempat. Majikan kami sangat ingin bertemu dengannya."

"Majikan siapa?"

"Pertanyaan yang bagus. Tapi jawabannya tidak untuk kalian."

Pedagang itu memberi isyarat pada dua rekannya. Mereka mulai mendekat dari samping. Tangan mereka bergerak ke pinggang masing-masing. Ada senjata tersembunyi di balik jubah mereka.

Bobon merasakan ketegangan di udara. Dadanya berdebar kencang. Ada sesuatu yang aneh terjadi. Gerakan mereka lambat. Terlalu lambat. Seolah-olah Bobon bisa melihat setiap detail gerakan mereka sebelum mereka melakukannya.

"Mereka mau menangkap kita, Nek," bisik Bobon.

"Aku tahu. Lari, Bobon! Lari secepat mungkin!"

Nenek Mira mendorong Bobon ke arah jalan raya. Tapi Bobon tidak lari. Dia berdiri di tempatnya dengan tubuh tegang.

"Aku tidak mau lari, Nek. Mereka mengancam Nenek."

"Bobon, dengar kata Nenek..."

Tapi sebelum Nenek Mira selesai bicara, salah satu pedagang melompat ke arah Bobon. Tangannya mencengkeram bahu Bobon dengan erat. Genggaman itu cukup kuat untuk melumpuhkan orang dewasa.

Tapi Bobon tidak bergerak. Dia hanya menatap tangan itu dengan tatapan kosong. Kemudian perlahan, dia melepaskan genggaman itu dengan jari-jarinya.

"Jangan pegang aku," kata Bobon pelan.

Pedagang itu terkejut. "Kau... kau melepaskan genggamanku?"

"Aku tidak suka dipegang."

Bobon mendorong pedagang itu dengan satu tangan. Dorongan itu lembut, tapi pedagang itu terlempar sejauh lima meter dan jatuh di semak-semak. Teman-temannya terkejut dan segera mengeluarkan senjata mereka. Dua pisau berkilat muncul di tangan mereka.

"Bocah ini berbahaya! Serang dia!"

Mereka menyerang bersamaan. Pisau melayang ke arah Bobon dengan kecepatan tinggi. Tapi Bobon menghindar dengan gerakan yang aneh. Tubuhnya yang gemuk bergoyang seperti bambu tertiup angin. Setiap pisau meleset tipis.

"Aneh sekali," gumam Bobon sambil menghindari serangan berikutnya. "Kalian lambat sekali."

Pedagang kedua mengayunkan pisaunya ke arah perut Bobon. Bobon menangkis dengan tangannya. Pisau itu mengenai telapak tangan Bobon dan berhenti. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Hanya dentingan logam.

"Pisaumu tumpul," kata Bobon polos.

"Tidak mungkin!" teriak pedagang itu. Dia memeriksa pisaunya. Ujungnya bengkok. "Pisau ini terbuat dari baja terbaik!"

Bobon mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi aku lapar. Boleh aku pergi sekarang?"

Pedagang ketiga, yang tertua, tidak menyerah. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah bola kecil berwarna hitam. Dia melemparkannya ke tanah. Ledakan kecil terjadi dan asap tebal memenuhi udara.

"Asap racun!" teriak Nenek Mira. "Bobon, tutup hidungmu!"

Tapi Bobon sudah menghirup asap itu. Dia batuk beberapa kali, lalu berhenti. Dia mengendus-endus udara.

"Baunya tidak enak, Nek. Tapi aku tidak sakit."

Pedagang tertua itu terkejut. "Racun itu bisa membunuh kerbau dalam hitungan detik! Kenapa kau masih berdiri?"

"Aku tidak tahu. Mungkin karena aku Bobon."

Pedagang itu mundur dengan wajah pucat. Dia menatap Bobon dengan mata ketakutan. "Kau... kau pasti iblis. Aku lapor ke majikan."

Mereka bertiga melarikan diri ke dalam hutan. Bobon tidak mengejar. Dia hanya berdiri di sana, menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Nek, kenapa mereka lari? Aku tidak melakukan apa-apa."

Nenek Mira menghela napas panjang. Dia mendekati Bobon dan memeriksa tubuhnya. Tidak ada luka. Tidak ada bekas racun. Hanya kulit yang sedikit kemerahan di telapak tangan.

"Bobon, kau tidak merasa sakit? Atau pusing?"

"Tidak, Nek. Aku hanya lapar."

Nenek Mira menggeleng-gelengkan kepala. "Kau benar-benar anak yang aneh, Bobon. Tapi Nenek bersyukur kau tidak apa-apa."

Mereka melanjutkan perjalanan. Bobon berjalan dengan langkah lebih ringan sekarang. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dia tidak mengerti apa itu, tapi dia merasa lebih kuat. Lebih cepat. Lebih sadar.

"Bobon, tadi kau menghindari serangan pisau dengan gerakan yang indah," kata Nenek Mira sambil berjalan. "Kau belajar itu dari mana?"

"Aku tidak belajar, Nek. Tubuhku bergerak sendiri. Seperti... aku sudah pernah melakukannya sebelumnya."

Nenek Mira diam. Dia menatap Bobon dengan mata penuh arti. "Kau memang sudah pernah melakukannya, Nak. Ribuan kali. Tapi kau lupa."

"Lupa? Aku lupa apa, Nek?"

"Semuanya. Tapi suatu hari kau akan ingat."

Bobon mengerutkan kening. Dia tidak mengerti. Tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat. Seperti ada kenangan yang mencoba muncul ke permukaan.

Mereka tiba di sebuah kedai di tepi jalan. Kedai itu sederhana, dengan atap jerami dan beberapa meja kayu. Pemilik kedai, seorang pria tua dengan senyum ramah, menyambut mereka.

"Mau makan? Ada nasi dan sayur. Juga ikan asin."

Bobon langsung bersemangat. "Mau, mau! Aku lapar sekali."

Nenek Mira tersenyum. "Kami akan makan di sini. Tapi kami hanya punya uang sedikit."

"Tidak apa-apa. Makan dulu, bayar nanti."

Mereka duduk di meja dekat jendela. Bobon menyantap nasi dengan lahap. Ikan asin renyah dan sayur segar membuatnya bahagia. Untuk sesaat, dia melupakan semua yang terjadi.

Tapi di luar kedai, di balik pohon besar, seorang pengemis tua memperhatikan mereka. Pengemis itu adalah orang yang sama yang meninggalkan gulungan kertas di depan rumah Nenek Mira.

"Segel keduanya mulai retak," bisik pengemis itu. "Racun mematikan tidak berpengaruh padanya. Fisiknya kebal terhadap senjata. Ini sudah melewati batas manusia biasa. Dunia persilatan harus segera tahu."

Pengemis itu menghilang dalam bayangan. Tapi sesuatu tertinggal di ambang pintu kedai. Sehelai kain biru. Selendang Biru.

Saat Bobon dan Nenek Mira selesai makan dan keluar dari kedai, Bobon melihat kain itu. Dia memungutnya dan memperhatikan dengan cermat. Kain itu lembut dan berwarna biru tua.

"Nek, ini kain apa?"

Nenek Mira mengambil kain itu. Wajahnya berubah. "Ini... ini lambang Sekte Selendang Biru. Mereka tahu kita di sini."

"Sekte Selendang Biru? Apa itu, Nek?"

"Mereka adalah sekte bela diri yang kuat, Bobon. Dan mereka... mereka adalah teman. Ayo cepat, kita harus pergi."

Mereka berjalan lebih cepat. Bobon masih memegang kain biru itu. Kain itu terasa hangat di tangannya. Entah mengapa, dia merasa tenang memegangnya.

Di kejauhan, di atas bukit, seorang wanita dengan selendang biru melambai ke arah mereka. Bobon melihatnya sekilas. Wajah wanita itu cantik dan matanya penuh harap.

"Aku akan menunggumu," bisik wanita itu dalam angin. "Kembalilah padaku, kekasihku."

Bobon tidak mendengar kata-kata itu. Tapi hatinya berdebar. Ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang telah lama hilang.

Perjalanan mereka berlanjut menuju utara. Menuju Kerajaan Kencana. Menuju takdir yang telah menanti selama sepuluh tahun.

Dan di tubuh Bobon, di punggungnya, segel ketiga mulai menunjukkan retakan kecil.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!