Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Derit pintu terbuka membuyarkan kecamuk batin Elgar. Lelaki itu buru-buru memasang wajah manis seperti tadi, dan menyambut Rebeca. Namun pandangannya tertumbuk pada wajah Rebeca yang tak seceria tadi. "Sweety, ada apa?" tanya Elgar seraya bangkit dari duduknya dan meraih tubuh Rebeca.
"Sayang ... maaf ya, kamu jangan marah," cicit Rebeca menundukan kepala.
"Marah? Lho, kenapa aku harus marah?"
"Karena aku nggak bisa check in sama kamu. Soalnya ..." Rebeca menggigit ujung lidahnya.
"Kenapa? Kamu takut?"
"Bukan!" Geleng-geleng kepala Rebeca.
"Terus?"
"Aku ... datang bulan."
"Shit!" Elgar mengumpat dalam hati. Berbanding terbalik dengan bibirnya yang berkata, "It's okay, Sweety. No problem. Kita bisa lakukan lain waktu." Ia mengusap pipi Rebeca, mengecupnya lembut. "Sekarang kita pulang aja ya? Aku antar naik taksi."
"Iya, aku juga mau pulang. Soalnya takut tembus. Aku nggak bawa pembalut."
"Oke, yuk!"
"Beneran kamu nggak marah? Kecewa?"
"Nggak, Sweety. Aku ngerti kok. Udah, kamu nggak usah merasa nggak enak gitu. Kan menstruasi bagian dari tubuh perempuan. Nanti, kalau kamu udah beres ... baru deh kita realisasikan niat bermesraan kita."
"Makasih, Babe." Rebeca memeluk Elgar, "Selain tampan, mapan, kamu juga pengertian banget. Aku jadi makin cinta deh sama kamu."
"Oh jelas. Aku kan pengen membahagiakan kamu. Dan salah satunya dengan jadi pacar yang pengertian." Namun dalam hati Elgar, makian terus keluar. "Setan! Sialan! Gagal deh rencana gua buat dapetin hadiah taruhan dalam waktu cepat! Kenapa sih si Beca mesti datang bulan sekarang? Monyet emang!"
***
Cika tak bisa memejamkan mata. Ingatannya terus tertuju pada pernikahannya dengan Robinson yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Ia berguling ke kanan dan kiri di atas sofa bed. Sesekali mengembuskan napas pelan. "Ya Allah ... kenapa jadi deg-degan gini sih?" Akhirnya Cika bangun dan berjalan ke ranjang Sinta. Memeriksa keadaan adiknya yang malam itu tumben-tumbennya tidur tanpa bergumam dan meringis. "Sinta ..." Ia pun berbalik, berniat ke kamar mandi, namun terhenti oleh suara ponselnya yang berdering.
Cika gegas mengambil ponselnya dan tubuhnya langsung menegang, melihat nama yang terpampang di layar. "P-Pak Robinson ngapain nelepon jam segini? Ada apa ya?" Ia menggigit bibir bawahnya pelan, sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. "H-Halo, Pak?"
Embusan napas berat Robinson menyambut gendang telinga Cika, disusul suara yang tak kalah berat, membuat tubuh Cika meremang. "Halo, Cika. Maaf jika saya mengganggu tidurmu."
Cika lekas menyahut, "Tidak, Pak. Saya kebetulan belum tidur."
"Syukurlah." Embusan napas lega mengiringi perkataan itu. "Oh iya, kamu di rumah sakit atau di rumah?"
"Di rumah sakit, Pak."
"Ohh ... bagaimana keadaan Sinta? Kemo-nya berjalan lancar kan?"
"Alhamdulillah, Pak, lancar. Sekarang Sinta sudah bisa tidur tanpa sedikit-sedikit terbangun dan meringis."
"Alhamdulillah."
"Mm ... Pak, maaf, apakah ada hal penting yang ingin Bapak bicarakan sampai menelepon saya jam segini?" Cika memberanikan diri bertanya.
"Ah ... iya, Cika. Saya ingin menanyakan sesuatu ke kamu. Ini tentang Rebeca."
"Silakan, Pak. Memangnya kenapa dengan Rebeca?"
"Begini Cika. Tadi pagi kan Beca pergi ke Korea untuk berlibur. Dia juga sudah sampai di sana. Tapi entah mengapa ... dari tadi siang, hati saya merasa tidak enak. Saya cemas sekali padanya, walaupun mantan istri saya bilang kalau Beca baik-baik saja." Cika mendengarkan tanpa menyela, membiarkan Robinson mengeluarkan semua unek-uneknya. "Di tengah kegundahan yang saya rasakan sekarang ... mendadak saya ingat pada lelaki yang beberapa minggu ke belakang bertelepon dengan Beca. Sepertinya Beca dan dia cukup dekat. Saya ingin bertanya padamu ... apakah selama di kampus, kamu pernah melihat Rebeca berinteraksi cukup intens dengan seorang lelaki?"
Cika tak langsung menjawab. Gadis berpiyama merah bata itu memutar otak, mengingat-ingat keseharian Rebeca di kampus. Setelah hampir tiga menit berpikir, Cika membuka suara, "Setahu saya, tidak, Pak. Soalnya kalau di kampus ... semua orang segan sekali pada Beca. Dia kan terkenal selalu pilih-pilih teman. Boro-boro lelaki, perempuan saja tak berani mendekati dia. Kecuali ... Mili."
Angguk-anggukan kepala Robinson. "Terima kasih atas jawabannya, Cika. Tapi saya punya satu pertanyaan lagi. Apakah kamu tentang Elgar Jeverson?"
Cika mengerutkan kening, menggeleng pelan walau Robinson tak melihatnya. "Saya tidak tahu, Pak."
"Hm, ya sudah kalau kamu tidak tahu. Sekali lagi maaf saya sudah mengganggu waktu tidurmu. Besok pagi saya akan menjemputmu untuk membicarakan finalisasi pernikahan kita."
"I-Iya, Pak. Jemput ke rumah saya saja. Jangan ke sini."
"Baik, Cika. Selamat istirahat."
"Iya, Pak. Bapak juga, semoga tidurnya nyenyak."
Ucapan sederhana itu berhasil membuat jantung Robinson berdetak lebih cepat. Ia pun segera mengakhiri bincang malam itu setelah mengucapkan terima kasih lagi pada Cika.
"Ya Tuhan ... kenapa jantungku berdebar seperti ini?"
***
Malam semakin larut. Koridor apartemen tampak lengang, hanya diterangi lampu-lampu temaram yang memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.
Giselle baru saja menggesek kartu akses ke pintu apartemennya ketika sebuah suara pria terdengar dari belakang.
"Giselle."
Tubuh wanita itu membeku. Jemarinya yang menggenggam kartu akses langsung menegang. Perlahan ia menoleh. Wajahnya seketika memucat, lalu berubah merah karena amarah.
"Lee So Min?"
Pria berwajah tampan yang usianya hampir sepuluh tahun lebih muda darinya itu tersenyum santai. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, seolah kedatangannya di sana adalah hal yang paling wajar. "Sudah lama ya kita nggak ketemu."
Sorot mata Giselle berubah tajam. "Mau apa kamu datang ke sini?"
Lee So Min terkekeh pelan. "Jangan galak-galak begitu, Giselle." Ia melangkah mendekat. "Aku kangen kamu. Apa kabar, Sayang?"
"Jangan panggil aku seperti itu!" Suara Giselle meninggi. Ia buru-buru melirik ke kanan dan kiri koridor, memastikan tak ada seorang pun yang melihat mereka. "Kamu nggak punya malu ya? Pergi dari sini!"
Lee justru semakin santai. "Aku cuma mau ngobrol."
"Aku nggak mau ngobrol sama kamu!"
Giselle menunjuk ke arah lift. "Pergi sekarang juga!"
Namun Lee tidak bergeming sedikit pun. "Segitunya kamu mengusir aku? Dulu kamu nggak seperti ini. Dulu kamu selalu senang setiap aku datang."
Rahang Giselle mengeras. "Itu dulu! Sekarang semuanya sudah berakhir."
Lee menghela napas pendek. "Berakhir buat kamu. Buat aku belum."
"Kamu gila! Kamu yang meninggalkanku! Kamu yang mengkhianati kepercayaanku!"
Tatapan Lee turun menatap wajah Giselle yang masih terlihat cantik meski usia tak lagi muda. "Aku benar-benar kangen. Aku mengaku salah, Giselle. Aku ingin memperbaiki semuanya."
Giselle mengepalkan kedua tangannya. Rasa kesal bercampur cemas memenuhi dadanya. "Kenapa dia harus muncul sekarang? Jangan ... jangan sampai Beca tiba-tiba pulang." Dengan suara ditekan serendah mungkin, Giselle kembali berkata, "Lee, aku mohon. Jangan datang ke apartemenku lagi."
Lee tersenyum tipis. "Kenapa? Takut anakmu tahu?"
Pertanyaan itu membuat napas Giselle tercekat. "Aku nggak tahu apa yang kamu maksud."
"Oh ya?" Lee mengeluarkan ponselnya, memutar-mutarnya di telapak tangan.
"Kalau Rebeca tahu aku adalah alasan kenapa kedua orang tuanya bercerai ... menurutmu dia bakal bereaksi bagaimana?"
Wajah Giselle langsung kehilangan warna. "Lee ..."
"Aku cuma ingin bertemu kamu. Itu saja."
"Apa maumu?"
Lee menatapnya beberapa detik, lalu menyeringai tipis. "Nanti saja kita bicarakan. Yang jelas ... jangan menolakku lagi, Sayang." Setelah mengucapkan kalimat itu, Lee berbalik menuju lift. Pintu lift terbuka. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sambil melambaikan tangan. "Sampai ketemu lagi, Giselle." Pintu lift pun tertutup.
Giselle masih terpaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas hingga ia harus bersandar pada dinding koridor. Air matanya perlahan menggenang. "Kenapa ... kenapa kamu datang lagi setelah bertahun-tahun?" bisiknya lirih. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Jangan sampai Rebeca tahu. Kalau semua itu terbongkar ... Rebeca pasti akan membenciku!"
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉