NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Sebulan berlalu begitu saja.

Waktu berjalan cepat, kini Aurora telah berusia tiga bulan. Tubuh mungilnya mulai tampak lebih berisi dibanding saat pertama kali Laras datang ke rumah itu. Pipinya yang dulu cekung kini mulai menggemaskan, kulitnya tampak lebih cerah, dan tangisannya sudah jauh berkurang.

Pagi itu, setelah memandikan dan menyusui Aurora, Laras membaringkan bayi kecil itu di dalam baby box yang biasa ia dorong ke mana pun selama bekerja. Aurora tampak asyik memainkan gantungan boneka kecil di atas kepalanya.

Sesekali terdengar tawa mungil yang membuat siapa pun ikut tersenyum. Laras mengusap lembut pipi putrinya.

"Anak pintar ... kita jalan-jalan sebentar, ya."

Aurora mengoceh pelan seolah menjawab. Laras pun mendorong baby box keluar dari kamar. Namun, berbeda dengan Aurora yang semakin ceria, suasana rumah itu justru semakin dingin.

Sejak pertengkaran besar Evan dan Carolin sebulan lalu, hubungan keduanya tidak pernah benar-benar membaik. Mereka masih makan di meja yang sama. Masih tinggal di bawah satu atap. Masih tampil mesra jika berada di depan keluarga Baskara atau awak media. Tetapi saat hanya berdua tatapan mereka terasa begitu asing.

Hampir tidak ada percakapan selain hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau Aurora. Para pelayan pun mulai menyadari perubahan itu. Mereka memilih bekerja dalam diam, takut salah bicara dan memancing pertengkaran baru.

Sementara itu. Sikap Carolin terhadap Laras juga perlahan berubah. Wanita itu memang masih bersikap sopan. Namun, sorot matanya tidak lagi ramah. Setiap kali melihat Aurora tersenyum dalam gendongan Laras, ada rasa kesal yang sulit ia sembunyikan. Bahkan pagi tadi, rasa tidak sukanya semakin bertambah.

Beberapa jam sebelumnya. Saat bersiap berangkat bekerja, ponsel Carolin berdering.

Nama asistennya muncul di layar.

"Halo."

[Selamat pagi, Mbak Carolin.]

"Ada hasil?"

[Sudah.]

"Lama juga kamu mencarinya," Carolin langsung menghentikan langkahnya.

"Bagaimana?"

[Saya sudah menyelidiki Nona Laras.]

"Lalu?"

[Tidak ada yang mencurigakan.]

Kening Carolin langsung berkerut.

"Maksudmu?"

[Semua datanya sesuai. Asli, dia memang bernama Laras Adipati. Lulusan program tenaga kerja ke Hong Kong. Pernah bekerja sebagai TKW dan perawat lansia selama beberapa tahun. Reputasinya juga sangat baik.]

Asisten itu membuka berkas di tangannya.

[Beberapa mantan majikannya bahkan memberikan penilaian yang bagus. Katanya Nona Laras orang yang sabar, telaten, penyayang anak-anak, dan bertanggung jawab.Tidak pernah terlibat masalah apa pun.]

Carolin terdiam.

"Hanya itu?"

[Iya, tidak ada catatan kriminal. Tidak punya utang. Tidak ada hubungan dengan media ataupun keluarga besar tertentu. Semuanya bersih.]

Carolin menggigit bibirnya pelan.

"Baiklah. Terima kasih."

[Sama-sama, Mbak.]

Panggilan pun berakhir.

Namun, bukannya merasa tenang. Hati Carolin justru semakin gelisah. Instingnya masih mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Sayangnya, semua penyelidikan menunjukkan hasil yang sempurna. Yang tidak Carolin ketahui. Seluruh identitas Laras memang telah dipersiapkan dengan sangat rapi. Semuanya telah diatur jauh-jauh hari. Di balik semua itu, ada tangan dingin Elang Anderson.

Pria yang selama ini membantu Amelia membangun kehidupan barunya. Ia memastikan tidak ada satu celah pun yang dapat menghubungkan Laras Adipati dengan Amelia Hartono. Karena bagi Elang, keberhasilan balas dendam itu bergantung pada satu hal. Jangan sampai identitas asli Amelia terbongkar sebelum waktunya.

Suasana ruang makan kembali terasa lengang. Sarapan pagi itu berlangsung nyaris tanpa percakapan. Carolin duduk sambil sesekali membalas pesan di ponselnya, sementara Evan hanya menikmati secangkir kopi dengan wajah yang tampak lelah.

Beberapa menit kemudian, Carolin meletakkan sendoknya.

"Aku berangkat dulu."

Evan mengangkat kepala. "Secepat ini?"

"Iya." Carolin mengambil tas kerjanya yang terletak di kursi sebelah. "Aku dapat proyek tambahan. Sepertinya bakal lembur beberapa hari ke depan."

Evan menghela napas pelan. "Car..."

Carolin berhenti melangkah. "Apa?"

"Kenapa tidak memilih berhenti saja?" Ucapan itu membuat Carolin perlahan menoleh.

Evan melanjutkan dengan nada tenang. "Apa yang sebenarnya kamu cari? Kita sudah hidup berkecukupan. Perusahaan berkembang. Rumah ada, harta juga tidak kurang. Aku rasa kita sudah cukup hidup mewah. Kenapa masih memaksakan diri bekerja sampai seperti ini?"

Tatapan Carolin langsung berubah dingin.

"Aku butuh perhatian publik." Jawabnya tanpa ragu. "Tidak mudah membangun karier sampai sejauh ini, Evan. Aku mengorbankan banyak hal. Dan jangan pernah berpikir aku akan berhenti."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Carolin langsung berbalik.

"Aku sudah terlambat. Selamat pagi."

Carolin melewati pintu dapur. Evan hanya mampu mengembuskan napas panjang.

Pandangannya kosong menatap kursi yang baru saja ditinggalkan istrinya. Tak lama kemudian, Laras masuk ke dapur. Ia mendorong baby box perlahan menuju meja.

Aurora yang sudah kenyang setelah kembali menyusui, tampak bermain dengan boneka kecil yang tergantung di atas tempat tidurnya.

Melihat Evan masih duduk sendirian di meja makan, Laras menghentikan langkahnya.

"Tuan..."

Evan menoleh. "Oh, Laras."

Dengan nada sopan, Laras bertanya, "Nyonya ... marah lagi sama Tuan?"

Evan tersenyum hambar. "Bisa dibilang begitu."

Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Aku sudah berkali-kali mencoba membujuknya berhenti bekerja. Tapi hasilnya selalu sama."

Laras mengangguk pelan. "Sulit, ya?"

"Sangat sulit." Evan tersenyum pahit.

"Kadang aku merasa pekerjaannya lebih penting daripada rumah ini."

Laras terdiam beberapa saat. Lalu berkata dengan suara lembut, "Kalau seseorang sudah mencintai pekerjaannya ... akan sulit membuatnya berhenti."

Evan menatap Laras. "Maksudmu?"

Laras tersenyum tipis. "Biasanya ada sesuatu yang membuat orang itu bertahan. Bisa karena impian. Bisa karena kebanggaan. Atau ... karena di sanalah dia merasa paling nyaman."

Evan tampak memikirkan ucapan itu. Laras kemudian tertawa kecil.

"Seperti saya, misalnya."

"Kamu?"

"Iya." Ia menunduk sebentar melihat Aurora yang sedang tersenyum sendiri.

"Saya nyaman bekerja di sini. Saya menyukai anak-anak. Dan Baby Aurora termasuk bayi yang sangat menggemaskan. Memang kadang rewel, tapi sekarang jauh lebih tenang."

Laras kembali mengangkat wajahnya.

"Saya juga merasa lingkungan rumah ini nyaman."

"Ehm..." Evan memperhatikannya.

"Saya bersyukur mendapat majikan yang memperlakukan saya dengan baik."

Tatapan Evan perlahan melembut. Laras melanjutkan dengan senyum hangat.

"Menurut saya ... seorang ayah yang mau meluangkan waktu untuk anaknya adalah sosok yang patut dihargai. Tidak semua laki-laki seperti itu. Tuan sangat perhatian pada Baby Aurora. Itu membuat saya menghormati Tuan."

Beberapa detik suasana menjadi hening. Evan tidak menyangka akan mendapat pujian setulus itu. Entah mengapa, kata-kata Laras membuat dadanya terasa hangat. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum kecil.

"Terima kasih."

Laras mengangguk sopan. "Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Di balik senyum lembutnya. Laras menyembunyikan tatapan yang sulit diartikan. Setiap pujian yang ia ucapkan telah diperhitungkan dengan matang. Karena ia tahu, seorang pria yang terus merasa diabaikan akan lebih mudah luluh ketika ada seseorang yang membuatnya merasa dihargai. Dan itulah langkah pertama yang sedang Laras bangun. Bukan karena cinta, melainkan demi membalas semua pengkhianatan yang pernah menghancurkan hidupnya.

1
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
mimief
gemes amet Thor aku
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!