NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:129.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Sebulan berlalu begitu saja.

Waktu berjalan cepat, kini Aurora telah berusia tiga bulan. Tubuh mungilnya mulai tampak lebih berisi dibanding saat pertama kali Laras datang ke rumah itu. Pipinya yang dulu cekung kini mulai menggemaskan, kulitnya tampak lebih cerah, dan tangisannya sudah jauh berkurang.

Pagi itu, setelah memandikan dan menyusui Aurora, Laras membaringkan bayi kecil itu di dalam baby box yang biasa ia dorong ke mana pun selama bekerja. Aurora tampak asyik memainkan gantungan boneka kecil di atas kepalanya.

Sesekali terdengar tawa mungil yang membuat siapa pun ikut tersenyum. Laras mengusap lembut pipi putrinya.

"Anak pintar ... kita jalan-jalan sebentar, ya."

Aurora mengoceh pelan seolah menjawab. Laras pun mendorong baby box keluar dari kamar. Namun, berbeda dengan Aurora yang semakin ceria, suasana rumah itu justru semakin dingin.

Sejak pertengkaran besar Evan dan Carolin sebulan lalu, hubungan keduanya tidak pernah benar-benar membaik. Mereka masih makan di meja yang sama. Masih tinggal di bawah satu atap. Masih tampil mesra jika berada di depan keluarga Baskara atau awak media. Tetapi saat hanya berdua tatapan mereka terasa begitu asing.

Hampir tidak ada percakapan selain hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau Aurora. Para pelayan pun mulai menyadari perubahan itu. Mereka memilih bekerja dalam diam, takut salah bicara dan memancing pertengkaran baru.

Sementara itu. Sikap Carolin terhadap Laras juga perlahan berubah. Wanita itu memang masih bersikap sopan. Namun, sorot matanya tidak lagi ramah. Setiap kali melihat Aurora tersenyum dalam gendongan Laras, ada rasa kesal yang sulit ia sembunyikan. Bahkan pagi tadi, rasa tidak sukanya semakin bertambah.

Beberapa jam sebelumnya. Saat bersiap berangkat bekerja, ponsel Carolin berdering.

Nama asistennya muncul di layar.

"Halo."

[Selamat pagi, Mbak Carolin.]

"Ada hasil?"

[Sudah.]

"Lama juga kamu mencarinya," Carolin langsung menghentikan langkahnya.

"Bagaimana?"

[Saya sudah menyelidiki Nona Laras.]

"Lalu?"

[Tidak ada yang mencurigakan.]

Kening Carolin langsung berkerut.

"Maksudmu?"

[Semua datanya sesuai. Asli, dia memang bernama Laras Adipati. Lulusan program tenaga kerja ke Hong Kong. Pernah bekerja sebagai TKW dan perawat lansia selama beberapa tahun. Reputasinya juga sangat baik.]

Asisten itu membuka berkas di tangannya.

[Beberapa mantan majikannya bahkan memberikan penilaian yang bagus. Katanya Nona Laras orang yang sabar, telaten, penyayang anak-anak, dan bertanggung jawab.Tidak pernah terlibat masalah apa pun.]

Carolin terdiam.

"Hanya itu?"

[Iya, tidak ada catatan kriminal. Tidak punya utang. Tidak ada hubungan dengan media ataupun keluarga besar tertentu. Semuanya bersih.]

Carolin menggigit bibirnya pelan.

"Baiklah. Terima kasih."

[Sama-sama, Mbak.]

Panggilan pun berakhir.

Namun, bukannya merasa tenang. Hati Carolin justru semakin gelisah. Instingnya masih mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Sayangnya, semua penyelidikan menunjukkan hasil yang sempurna. Yang tidak Carolin ketahui. Seluruh identitas Laras memang telah dipersiapkan dengan sangat rapi. Semuanya telah diatur jauh-jauh hari. Di balik semua itu, ada tangan dingin Elang Anderson.

Pria yang selama ini membantu Amelia membangun kehidupan barunya. Ia memastikan tidak ada satu celah pun yang dapat menghubungkan Laras Adipati dengan Amelia Hartono. Karena bagi Elang, keberhasilan balas dendam itu bergantung pada satu hal. Jangan sampai identitas asli Amelia terbongkar sebelum waktunya.

Suasana ruang makan kembali terasa lengang. Sarapan pagi itu berlangsung nyaris tanpa percakapan. Carolin duduk sambil sesekali membalas pesan di ponselnya, sementara Evan hanya menikmati secangkir kopi dengan wajah yang tampak lelah.

Beberapa menit kemudian, Carolin meletakkan sendoknya.

"Aku berangkat dulu."

Evan mengangkat kepala. "Secepat ini?"

"Iya." Carolin mengambil tas kerjanya yang terletak di kursi sebelah. "Aku dapat proyek tambahan. Sepertinya bakal lembur beberapa hari ke depan."

Evan menghela napas pelan. "Car..."

Carolin berhenti melangkah. "Apa?"

"Kenapa tidak memilih berhenti saja?" Ucapan itu membuat Carolin perlahan menoleh.

Evan melanjutkan dengan nada tenang. "Apa yang sebenarnya kamu cari? Kita sudah hidup berkecukupan. Perusahaan berkembang. Rumah ada, harta juga tidak kurang. Aku rasa kita sudah cukup hidup mewah. Kenapa masih memaksakan diri bekerja sampai seperti ini?"

Tatapan Carolin langsung berubah dingin.

"Aku butuh perhatian publik." Jawabnya tanpa ragu. "Tidak mudah membangun karier sampai sejauh ini, Evan. Aku mengorbankan banyak hal. Dan jangan pernah berpikir aku akan berhenti."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Carolin langsung berbalik.

"Aku sudah terlambat. Selamat pagi."

Carolin melewati pintu dapur. Evan hanya mampu mengembuskan napas panjang.

Pandangannya kosong menatap kursi yang baru saja ditinggalkan istrinya. Tak lama kemudian, Laras masuk ke dapur. Ia mendorong baby box perlahan menuju meja.

Aurora yang sudah kenyang setelah kembali menyusui, tampak bermain dengan boneka kecil yang tergantung di atas tempat tidurnya.

Melihat Evan masih duduk sendirian di meja makan, Laras menghentikan langkahnya.

"Tuan..."

Evan menoleh. "Oh, Laras."

Dengan nada sopan, Laras bertanya, "Nyonya ... marah lagi sama Tuan?"

Evan tersenyum hambar. "Bisa dibilang begitu."

Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Aku sudah berkali-kali mencoba membujuknya berhenti bekerja. Tapi hasilnya selalu sama."

Laras mengangguk pelan. "Sulit, ya?"

"Sangat sulit." Evan tersenyum pahit.

"Kadang aku merasa pekerjaannya lebih penting daripada rumah ini."

Laras terdiam beberapa saat. Lalu berkata dengan suara lembut, "Kalau seseorang sudah mencintai pekerjaannya ... akan sulit membuatnya berhenti."

Evan menatap Laras. "Maksudmu?"

Laras tersenyum tipis. "Biasanya ada sesuatu yang membuat orang itu bertahan. Bisa karena impian. Bisa karena kebanggaan. Atau ... karena di sanalah dia merasa paling nyaman."

Evan tampak memikirkan ucapan itu. Laras kemudian tertawa kecil.

"Seperti saya, misalnya."

"Kamu?"

"Iya." Ia menunduk sebentar melihat Aurora yang sedang tersenyum sendiri.

"Saya nyaman bekerja di sini. Saya menyukai anak-anak. Dan Baby Aurora termasuk bayi yang sangat menggemaskan. Memang kadang rewel, tapi sekarang jauh lebih tenang."

Laras kembali mengangkat wajahnya.

"Saya juga merasa lingkungan rumah ini nyaman."

"Ehm..." Evan memperhatikannya.

"Saya bersyukur mendapat majikan yang memperlakukan saya dengan baik."

Tatapan Evan perlahan melembut. Laras melanjutkan dengan senyum hangat.

"Menurut saya ... seorang ayah yang mau meluangkan waktu untuk anaknya adalah sosok yang patut dihargai. Tidak semua laki-laki seperti itu. Tuan sangat perhatian pada Baby Aurora. Itu membuat saya menghormati Tuan."

Beberapa detik suasana menjadi hening. Evan tidak menyangka akan mendapat pujian setulus itu. Entah mengapa, kata-kata Laras membuat dadanya terasa hangat. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum kecil.

"Terima kasih."

Laras mengangguk sopan. "Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Di balik senyum lembutnya. Laras menyembunyikan tatapan yang sulit diartikan. Setiap pujian yang ia ucapkan telah diperhitungkan dengan matang. Karena ia tahu, seorang pria yang terus merasa diabaikan akan lebih mudah luluh ketika ada seseorang yang membuatnya merasa dihargai. Dan itulah langkah pertama yang sedang Laras bangun. Bukan karena cinta, melainkan demi membalas semua pengkhianatan yang pernah menghancurkan hidupnya.

1
Ummee
beneran tamat kak?
nggantung kak😭
masih pensaran siapa yg bikin Elang celaka
Ummee: insyaAllah kalo ada rezeki lebih ya kak, maafff🙏
ini lagi fokus kebutuhan anak.
semoga kakak di lancarkan rezeki nya oleh Allah, Aamiin🤲
total 4 replies
Ummee
malang benar nasib Elang, kak author...
Ummee
kenapa merasa bersalah? kan yg salah bapak nya evan krn menggambil uang perusahaan
Ummee
apa Laras tdk pakai seragam baby sitter?
Ummee
ya iyalah, Aurora takut sama kamu mak lampir, u uppss🤭
Ummee
penasaran, misal ada di dunia nyata, si bayi DNA nya ikut siapa ya? 🙏
Ummee: oke kak, mkasih infonya🥰🙏
total 2 replies
Alfin Jambak
krnapa tidak ada sambungan dari kisah si elang
siska bejo
untuk cerita elang sudah selesai sampai disini kak
Aditya hp/ bunda Lia
nama grup wa nya apa aku cari gak ada
Aisyah Alfatih: DM aja wa ku kak nantinaku undang ke grup
total 3 replies
Keinara Leticia
mau banget kak
Keinara Leticia
mau kak
Aisyah Alfatih: gabung ke grup yang ada di sini ya nanti ada Wanya
total 1 replies
Yani
Ka, mau gabung link
Aisyah Alfatih: boleh kak langsung masuk grup kak
total 1 replies
tenny
seruu
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 💪🥰🥰🥰
Si Memeh
karya mu emang selalu bagus dn seru thooooorrrr 👍👍👍
Woro Septi
tamat ya ga jelas
Aisyah Alfatih: untung di lanjut sampai tamat kak,karna gagal retensi 🫣
total 1 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
karya hebat! tapi masih misterius
Dewi Ansyari
Astaga Elang kasihan celaka😭😭😭,semoga bisa selamat
Dewi Ansyari
Kasihan Elang cinta yg tidak pernah terbalaskan 😭😭
Dewi Ansyari
Tunghulah kehancuran kamu Evan,Carolin dan tuan baskara,sebentar lagi kalian akan mendapatkan ganjarannya 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!