Zidan Arkan, seorang CFO muda yang selama ini selalu mendapatkan perhatian dari banyak orang terutama kaum hawa, merasa harga dirinya terluka saat ada satu orang perempuan yang selalu mengabaikannya sejak hari pertama pertemuan mereka. Zidan berencana untuk membuat perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Tapi Lalita, nama perempuan itu, baru saja bercerai dari mantan suaminya dan sedang tak ingin membuka hatinya untuk laki-laki lain yang kemungkinan besar akan menyakitinya sama seperti mantan suaminya. Berhasilkah rencana Zidan? Akankah Lalita jatuh ke dalam pelukan Zidan? Atau malah Zidan yang bertekuk lutut dihadapan Lalita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Lalita mematut dirinya di depan cermin. Dia sudah berdandan cantik, dan berpakaian bagus, jumpsuit panjang tanpa lengan bermotif bunga yang membuatnya tampak anggun. Entah kenapa dia ingin tampil cantik ketika bertemu dengan Zidan nanti.
Drrttt... Drrttt... Adit is calling.....
“Halo.”
“La, Mama drop, barusan dibawa ke rumah sakit naik ambulans. Kamu temani aku ke rumah sakita ya, please..”
Lalita bingung. Dia sudah ada janji dengan Zidan. Tapi dia juga kasihan kepada Adit, karena dia tahu betapa sayangnya Adit kepada Mamanya. Lalita juga tahu, Adit paling takut ke rumah sakit. Entah apa alasannya, Adit berani bertengkar sampai berdarah-darah tapi dia tidak berani masuk ke rumah sakit, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa, seperti saat Lalita mengalami keguguran dulu.
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
”Aku sudah di dekat apartemenmu, bersiaplah.”
Lalita kemudian mengirimkan pesan WhatsApp kepada Zidan dan dengan sangat menyesal membatalkan janji untuk pergi makan malam dengannya. Tidak lama kemudian bel pintu apartemennya berbunyi, Lalita membukanya dan ternyata Adit sudah berada di sana.
"Honey, aku takut sekali." Adit langsung maju dan memeluk Lalita dengan erat.
Lalita menepuk-nepuk punggung Adit, berusaha menenangkannya.
"Semua akan baik-baik saja." Lalita berbicara dengan sangat dengan tenang agar ketenangannya bisa menular ke Adit.
Setelah Adit lebih tenang mereka pergi meninggalkan apartemen Lalita. Adit menggenggam tangan Lalita dengan erat, tidak mau melepaskannya sama sekali. Lalita membiarkannya saja, dia sangat mengetahui dan paham dengan ketakutan Adit. Kalau dengan menggenggam tangannya bisa sedikit meredakan kegelisahannya tentang kondisi Mamanya, Lalita tidak keberatan. Lalita memutuskan untuk menurunkan sedikit egonya kepada Adit demi Mamanya yang sedang sakit.
Lalita menemani Adit di rumah sakit sampai dini hari. Papanya sedang pergi ke luar kota, begitu juga dengan adik-adiknya yang memang tinggal di luar kota, Adit sendirian mengurus Mamanya malam ini. Karena hanya satu orang yang boleh masuk ke ruangan ICU, Lalita menunggu di ruang tunggu, Adit menemani Mamanya di dalam dengan kondisinya yang masih harus dipantau dengan peralatan dan tenaga medis.
"Honey, bangun." Adit membangunkan Lalita yang tertidur di ruang tunggu entah sejak kapan.
Lalita membuka matanya perlahan.
"Maaf ya, kamu sampai ketiduran. Pasti kamu capek dan mengantuk, saat aku sedang sibuk mengurus Mama semalam."
"Tidak apa-apa, kamu kan memang harus melakukannya. Tapi sekarang aku harus pulang, aku harus bekerja." Lalita terkejut setelah melihat jam tangannya yang menunjuk ke angka 6.
"Aku antar pulang."
"Tidak usah, kamu kan juga pasti capek dan mengantuk. Kamu istirahat dulu saja."
"La, aku yang sudah membawamu ke sini. Jadi aku juga yang akan mengantarkanmu pulang, kamu mandi dan bersiap-siap, lalu aku antar kamu ke kantor." Adit memaksa.
"Aku bisa berangkat ke kantor sendiri." Lalita tetap menolak.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyetir pagi ini, kamu pasti masih capek dan mengantuk."
"Tapi kamu juga belum tidur semalaman."
"Aku sudah biasa terjaga sampai pagi, sedangkan kamu tidak. Sudahlah nurut saja, keburu telat nanti malahan kalau kita debat terus." Adit tidak mau lagi dibantah.
Akhirnya Lalita mengalah. Dia membiarkan Adit mengantarnya pulang ke apartemen. Dia juga membiarkan Adit masuk ke dalam apartemennya.
"Tunggu sebentar, akan kubuatkan kopi hitam untukmu."
Setelah membuatkan kopi untuk Adit, Lalita masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
"Nanti pulang kerja aku akan menjemputmu," kata Adit saat mobilnya sudah berhenti di depan lobby kantor PT. CJR.
"Tidak usah, aku belum tahu akan pulang jam berapa." Lalita bermaksud menolaknya dengan halus.
"Aku masih membutuhkanmu menemaniku di rumah sakit nanti malam. Please, Honey." Adit memohon.
"Dit, aku tidak yakin apakah ini ide yang bagus. Kamu tahu kan, aku tidak mau dekat-dekat denganmu lagi." Lalita mengutarakan keberatannya.
"Kenapa? Kamu takut akan jatuh hati padaku lagi? Atau kamu takut pacarmu marah kalau kamu pergi denganku?" Adit sedikit marah.
"Bukan begitu, lagipula aku juga tidak punya pacar."
"Kalau begitu tidak ada masalah kan? Aku hanya bisa minta tolong kepadamu. Hanya kamu yang bisa mengerti aku."
"Kamu kan punya banyak perempuan, apa tidak ada satupun yang bisa kamu minta tolong?"
"Mereka semua cuma perempuan untuk bersenang-senang, bukan untuk melalui suka duka kehidupanku. Hanya kamu yang ..... " Ucapan Adit terhenti karena tiba-tiba terdengar bunyi klakson dengan keras dari arah mobil belakang. Sebuah mobil Vellfire hitam mengklakson mobil Adit karena berhenti terlalu lama di depan lobby.
"Aku turun dulu. Pergilah." Lalita mengambil kesempatan ini untuk turun dari mobil Adit.
"Aku akan menghubungimu nanti." Adit berteriak sebelum mengemudikan mobilnya meninggalkan Lalita.
Setelah Pajero Sport putih Adit pergi, Vellfire hitam itu berhenti dan Lalita sudah tahu siapa yang akan turun dari mobil itu.
"Lama amat sih!" Zidan langsung memarahi Lalita saat melewati perempuan itu. Dia merasa marah kepada Lalita karena perempuan itu semalam sudah membohonginya.
"Maaf, Pak." Lalita lalu berjalan di belakang Zidan menuju ke lift. Dia merasakan kemarahan laki-laki itu, sehingga tidak berani berkata apapun kepadanya, lagipula ini di kantor.
"Sudah baikan?" tanya Zidan saat lift mulai berjalan.
"Apanya, Pak?" Lalita bingung dengan pertanyaan Zidan.
"Katanya semalam kamu tidak enak badan, jadi tidur lebih cepat kan." Zidan mengingatkan Lalita akan kebohongannya.
Lalita merutuki dirinya dalam hati, lupa dengan kejadian semalam saat dia membatalkan janjinya dengan Zidan.
"Ah, iya, sudah baikan kok."
"Tapi kenapa dari tadi menguap terus? Dan matamu kelihatan seperti kurang tidur. Padahal kamu sudah tidur sebelum jam sembilan malam." Meskipun berkata seperti itu, tapi Zidan sama sekali tidak menatap Lalita. Cukup sekilas tadi pagi saat melihatnya turun dari mobil Adit, dia sudah bisa melihat wajah Lalita yang tampak lelah dan mengantuk.
"Semalam terbangun lalu tidak bisa tidur lagi." Lalita menjawab sekenanya.
Pikiran Zidan sudah kemana-mana. Membayangkan apa yang semalam Lalita lakukan bersama dengan Adit. Kenapa Lalita pagi ini tampak lelah dan mengantuk, dan Adit yang mengantarkannya ke kantor? Apakah semalam Lalita menginap di tempat Adit? Apakah..... Argh, Zidan tak ingin memikirkannya lebih jauh.
"Maaf, apa Bapak habis minum? Masih tercium bau alkoholnya, Pak." Lalita mencoba meredakan kemarahan Zidan dengan mengajaknya berbicara, hal yang selama ini tidak pernah Lalita lakukan jika di kantor.
"Bukan urusanmu," kata Zidan sambil keluar dari lift dan meninggalkan Lalita dibelakangnya.
Apakah dia marah gara-gara aku membatalkan janji semalam? Tapi semalam dia terdengar khawatir saat aku bilang sedang tidak enak badan, sampai aku merasa bersalah kepadanya karena membohonginya. Tapi pagi ini dia benar-benar kekanakan, marah-marah seperti ini.
Lalita tak mempedulikannya lagi. Dia berjalan ke meja kerjanya, saat melewati ruangan Zidan dia sama sekali tidak melihat ke arahnya karena Zidan menutup pintunya. Lalita mulai bekerja, meski kepalanya masih terasa sakit, mungkin karena kurang tidur.
Sedangkan Zidan, sampai di dalam ruangannya langsung membanting pintunya dengan keras. Sekretarisnya, Dina, sampai kaget mendengarnya. Sejak pagi itu suasana di ruangan lantai 4 mencekam. Zidan marah-marah dan teriakannya sampai terdengar di seluruh penjuru lantai 4. Tak terkecuali Lalita, dia yang berada hampir di ujung ruangan sangat jauh dari ruangan Zidan sampai bisa mendengar kemarahan Zidan. Lalita hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengarnya. So childish.
Saat jam makan siang, Mario masuk ke dalam ruangan Zidan, dan menutup pintu ruangannya. "Bro, kamu kenapa lagi sih? Semalam sudah hangover, masih belum cukup juga?" tanya Mario yang semalam menemani Zidan hangover lagi.
"Tadi pagi, Lalita datang ke kantor diantarkan Adit." Semalam Zidan sudah menceritakan masalahnya kepada Mario.
"Lalu?" Mario belum memahami kegelisahan Zidan.
"Berarti semalam dia menginap dengan Adit kan?" Zidan mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ya aku tidak tahu. Kenapa kamu tidak tanya langsung saja ke orangnya? Daripada kamu berprasangka buruk dan menggila seperti ini."
Zidan mengangkat sebelah alisnya dan menatap Mario. Sepertinya idenya bagus juga.
"Tanya langsung saja ke Lalita, aku tadi melihat dia ada di lorong tangga darurat, sepertinya sedang menerima panggilan telepon. Kamu datangi dia sekarang, lalu kembali bekerja dengan baik, jangan marah-marah terus. Telingaku sakit mendengarnya." Mario lalu keluar meninggalkan ruangan Zidan.
Zidan menuruti saran Mario tanpa berpikir panjang. Dia berjalan menuju ke arah lorong tangga darurat. Samar-samar dia mendengar suara Lalita dari balik pintu.
“Baiklah, aku akan menginap lagi di sana malam ini. Bye, Dit.”
Zidan langsung membatalkan niatnya, dia berbalik dan kembali ke kantornya. Sepertinya benar pikiran Zidan bahwa Lalita semalam menginap dengan Adit.
Lalu sisa hari itu menjadi semakin seperti neraka.
semangat Thor,,aku selalu nunggu updatean mu
Lalitaaa apa rasanya diperhatiin 3 cowok gitu ? tell me please
andrew cariin cwk lain yg baik yaaa yaa yaaa