Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Desa di Ujung Dunia
Tiga belas hari.
Bagi dewa-dewa di ibu kota Kerajaan Surga Tiran yang abadi, tiga belas hari mungkin hanya terasa seperti kedipan mata. Namun bagi umat manusia fana yang sedang melakukan kebebasan, tiga belas hari itu terasa seperti tiga belas abad di neraka terbawah.
Gurun Kematian tidak pernah menahan kekejamannya. Badai salju yang membutakan mata berganti dengan badai es tajam yang bisa merobek kulit telanjang. Daging asap yang mereka jarah dari Gunung Darah telah habis di hari kesepuluh.
Tiga hari terakhir, mereka hanya bertahan hidup dengan memakan salju dan memotong daging dari bangkai Serigala Tulang Purba.
Setiap kali fajar menyingsing, Ye Cangtian dan Xing Yun harus menghadapi realitas pahit. Ratusan sosok kaku tergeletak di atas salju, tubuh mereka membeku secara permanen karena tertidur di malam hari.
Dari lima puluh ribu budak yang keluar dari gerbang Gunung Darah, kini hanya tersisa kurang dari tiga puluh ribu orang yang masih mampu menyeret kaki mereka.
Meski begitu, pengorbanan itu tidak sepenuhnya sia-sia. Delapan ratus budak muda yang berhasil membuka meridian pertama mereka kini bertindak sebagai garda depan, otot mereka mengeras dan insting bertahan hidup mereka menajam.
Di hari ketiga belas, langkah Ye Cangtian terhenti.
Ia berdiri di tepi sebuah tebing es yang curam. Matanya yang cekung karena kurang tidur menatap lurus ke bawah, menembus lapisan kabut tebal yang menyelimuti sebuah lembah raksasa.
"Kenapa kita berhenti?" napas Xing Yun tersengal-sengal saat ia tiba di samping Cangtian.
Cangtian tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke bawah.
Xing Yun menyipitkan matanya, berusaha menembus kabut tebal itu. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Kabut itu tidak berhembus mengikuti angin badai. Kabut itu... hangat.
"Itu... bukan kabut salju," bisik Xing Yun, jantungnya mulai berdebar kencang. Ia berjongkok, meraup segenggam salju di tepi tebing. Salju itu mencair seketika di telapak tangannya. "Itu uap! Ada sumber panas vulkanik di bawah sana!"
Didorong oleh rasa penasaran dan harapan yang meledak-ledak, Cangtian melompat turun dari tebing, meluncur menyusuri lereng es yang curam, diikuti oleh Xing Yun dan beberapa pemuda dari garda depan.
Begitu mereka menembus lapisan uap tebal itu, suhu udara melonjak drastis. Hawa beku Gurun Kematian tertahan sepenuhnya di luar lembah.
Pemandangan yang tersaji di depan mata mereka membuat napas mereka tercekat.
Di dasar lembah raksasa itu, terbentang hamparan lumut vulkanik hijau yang sangat luas. Sebuah sungai bawah tanah bersuhu hangat mengalir membelah lembah, menghasilkan uap tebal yang menyembunyikan tempat ini dari pandangan siapa pun di langit.
Pepohonan jamur purba seukuran menara menjulang tinggi, dahan-dahannya memancarkan cahaya biru pendar yang menggantikan ketiadaan sinar matahari.
"Air..." Paman Lu yang baru saja menyusul turun, jatuh berlutut di tepi sungai. Ia meraup air hangat itu dan meminumnya dengan semangat, air mata mengalir deras dari mata tuanya. "Air yang tidak membekukan bibir..."
Suara isak tangis lega segera menggema saat puluhan ribu manusia mulai berbondong-bondong menuruni lereng tebing. Mereka melempar zirah mereka yang berat, membasuh tubuh kotor mereka di sungai hangat, dan merebahkan diri di atas hamparan lumut hijau yang empuk.
Xing Yun berdiri di samping Cangtian, matanya yang tajam menganalisis struktur lembah tersebut.
"Ini... nyata," gumam Xing Yun dengan nada kagum. "Uap tebal ini adalah perisai alami. Dari atas udara, lembah ini hanya terlihat seperti awan badai biasa. Sungai ini tidak beracun, dan lumut vulkanik di sini bisa dimakan."
Xing Yun menoleh ke arah Cangtian, matanya berkilat penuh ambisi. "Cangtian... kita tidak perlu lari lagi. Kita bisa membangun peradaban kita sendiri di sini. Kita bisa bersembunyi dari para dewa sampai kita cukup kuat untuk meruntuhkan kerajaan mereka."
Cangtian menatap lautan manusia fana yang sedang bersuka ria di bawahnya. Pemuda itu mengangguk pelan. "Ya. Kita berhenti di sini."
Keesokan paginya, sebuah pertemuan darurat diadakan di tengah lembah.
Xing Yun, Paman Lu, dan puluhan tetua yang tersisa berkumpul mengelilingi sebuah batu datar yang dijadikan meja. Ye Cangtian duduk bersila di atas batu yang sedikit lebih tinggi, kedua pedang peraknya tergeletak di pangkuannya.
"Kita tidak bisa hanya bertahan hidup," buka pembicaraan Xing Yun. "Jika kita ingin membangun rumah di sini, kita butuh aturan. Kita butuh pemerintahan. Dan yang terpenting, kita butuh seorang pemimpin mutlak."
Xing Yun menatap lurus ke arah Cangtian. Puluhan pasang mata tetua lainnya juga melakukan hal yang sama.
"Ye Cangtian," lanjut Xing Yun, nada suaranya berubah menjadi sangat formal. "Kau yang membunuh pengawas. Kau yang memimpin kebebasan. Dan kaulah dewa pertama manusia fana. Jadilah Raja kami. Pimpin kami."
Paman Lu dan para tetua serentak mengangguk, bersiap untuk berlutut dan mengucapkan sumpah setia.
Namun, sebelum lutut mereka menyentuh tanah, sebuah gelombang Qi yang sangat lembut menahan gerakan mereka.
Cangtian menggelengkan kepalanya pelan. "Aku menolak."
Keputusan itu membuat semua orang terkejut. Xing Yun mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Puluhan ribu orang di luar sana hanya percaya padamu! Jika bukan kau, siapa yang akan menyatukan mereka?"
"Aku adalah pedang. Pedang tidak bisa digunakan untuk mencatat hasil panen, mengatur pembagian wilayah, atau menyelesaikan sengketa antara dua tetangga yang memperebutkan makanan," jawab Cangtian tenang. Matanya yang hitam menatap dalam-dalam ke mata Xing Yun.
"Kau adalah otaknya, Xing Yun. Kau yang mengatur logistik kita. Kau yang menghasut pemberontakan di kawah. Kau memiliki ambisi dan kecerdasan seorang raja."
"Tapi aku tidak punya kekuatan fisik sepertimu!" protes Xing Yun. "Tanpa kekuatan, otoritas hanyalah ilusi!"
"Aku akan menjadi kekuatan mutlakmu," potong Cangtian tegas. Ia berdiri lalu mengambil pedangnya.
"Manusia fana tidak butuh satu pahlawan tunggal. Kita butuh sistem. Kau, Xing Yun, jadilah Tetua Kepala. Atur urusan sipil, bangun perumahan, bagikan tugas berburu. Paman Lu, kau akan membantunya mengurus mereka yang sakit."
Cangtian menatap ke arah luar lembah, di mana badai salju Gurun Kematian masih mengamuk.
"Tugasku bukanlah memerintah. Tugasku adalah memastikan tidak ada dewa atau monster yang berani menginjakkan kakinya di lembah ini." Cangtian menoleh kembali ke Xing Yun.
"Aku akan fokus pada kultivasi. Aku akan melatih delapan ratus pemuda yang telah membuka meridian mereka. Aku akan menciptakan Pasukan Fana pertama yang akan menjadi pedang bagi peradaban kita."
Xing Yun terdiam. Otak jeniusnya menganalisis pembagian tugas itu, dan ia tidak bisa menemukan celah sedikit pun. Ini adalah simbiosis yang sempurna. Otak dan Otot bekerja di ranahnya masing-masing tanpa ada konflik kepentingan.
"Baik," Xing Yun akhirnya mengangguk, sebuah senyum tipis melengkung di bibirnya. Senyum yang penuh dengan rasa hormat, dan sedikit... kelegaan, karena ia tahu Cangtian tidak berniat mendominasi kekuasaan politik. "Jika itu maumu, Panglima Cangtian."
Hari itu, di bawah pepohonan jamur purba yang bercahaya biru, sejarah baru ditulis.
Xing Yun membagi puluhan ribu manusia fana menjadi kelompok-kelompok pekerja, pemburu, dan pembangun. Dalam waktu kurang dari sebulan, gubuk-gubuk batu mulai berdiri. Jembatan kayu dibangun melintasi sungai hangat. Kehidupan peradaban mulai berjalan.
Atas usulan Xing Yun, lembah tersembunyi itu diberi nama: Desa Fajar.
Sementara itu, di sudut lembah yang paling sepi, berdekatan dengan sumber air panas vulkanik, Ye Cangtian duduk bermeditasi siang dan malam. Delapan ratus pemuda yang selamat duduk di sekelilingnya, meniru setiap tarikan napasnya.
Di sinilah Cangtian mulai melakukan eksperimen gila. Ia tidak lagi memiliki meteorit purba untuk memberikan Qi instan.
Ia harus merumuskan sendiri rute peredaran energi yang bisa menyerap Qi alam semesta yang tipis ke dalam tubuh fananya. Ratusan kali meridiannya hampir meledak karena kesalahan jalur, menyebabkan ia batuk darah. Namun ratusan kali pula ia mencoba ulang.
Dengan setiap darah yang ia muntahkan, dengan setiap keringat yang membasahi tanah Desa Fajar, Ye Cangtian sedang memahat satu per satu anak tangga menuju keabadian... bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia.