Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22- Gara Tisu Toilet
"Arion!"
Nah kan, baru 23 jam Sheril mengatakan bahwa ia marah kepada Arion karena lelaki itu tiba-tiba pindah jurusan tanpa memberitahu dirinya. Sekarang Sheril sudah kembali mengejar Arion.
Mendengar namanya di panggil, Arion tersenyum tipis. Kemudian ia membalikkan badan dan menatap Sheril yang sedang berlari-lari menghampirinya. Arion menatap Sheril tanpa ekspresi.
Setibanya di hadapan Arion, tanpa ba-bi-bu lagi Sheril langsung menendang kaki Arion.
"Shit," umpat Arion karena terkejut mendapatkan serangan secara tiba-tiba, sebenarnya tendangan Sheril tidak terasa sakit.
"Maksud lo apaan, hah? Gak ngomong apa-apa, gak ngetik apa-apa, langsung di kirimin foto selfie lo habis potong rambut!" Sheril datang dan langsung mengomel kepada Arion, menyampaikan kekesalannya.


Lihat, gadis mana yang tidak luluh jika tiba-tiba di kirimkan foto selfie seperti itu oleh orang yang di sukainya?
Sheril sampai meleleh seperti lilin.
Ceritanya Sheril yang sedang marah, kenapa Sheril jadi luluh hanya karena Arion mengirim foto selfie-nya? Memang sih moment langka, tapi harusnya hari ini Sheril masih marah kepada Arion. Hanya dengan satu detik melihat foto selfie Arion, secepat itu mengubah suasana hati Sheril yang sedang marah menjadi luluh.
Gawat, pesona Arion terlalu kuat permisa.
"Ceritanya gue lagi marah sama lo, Arion! Gak usah pake cara licik ya bikin gue luluh kayak gini. Gue jadi curiga lo kasih gue pelet,"
Arion mengernyit heran, merasa ada kata asing yang Sheril ucapkan barusan.
"What's the meaning of 'licik?'" Tanya Arion, meminta penjelasan apa maksud kata tersebut.
Sheril menunjukkan kesepuluh jarinya. "Sly, crafty, foxy, cunning, slippery, shifty, artful, catty, pawky, slithery." Sheril menerjemahkan arti licik ke dalam semua bahasa Inggris. Terlalu banyak sinonim.
"And, how about 'pelet'?"
Sheril menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung bagaimana menjelaskannya arti kata pelet yang tidak mengandung makanan ikan. Ini bukanlah waktu yang tepat Arion menanyakan arti dari kosakata bahasa yang Sheril gunakan tadi.
"Au ah, bingung gue jelasinnya. Tanya Gara aja sana, gue masih marah sama lo." usir Sheril seraya mengibaskan tangannya.
Setelah merasa puas telah menyampaikan kekesalannya, Sheril melangkah pergi meninggalkan Arion. Di tengah jalan, Sheril kembali menoleh ke belakang dan tidak menemukan keberadaan Arion di tempat tadi.
"Ish, tuh orang gak ada niatnya apa ngejar gue?" Gerutu Sheril.
Berusaha bersikap bodo amat, Sheril kembali melanjutkan jalannya. "Sabar Sher. Orang sabar makin cakep kayak Kendall Jenner biar dapet pacar kayak Arion paket perfect." Selama berjalan, Sheril berusaha menguatkan dirinya sendiri agar tidak kembali luluh.
Hati ini terlalu lemah bwang~
Wajah Sheril semakin tidak enak di pandang ketika Arion secara tiba-tiba berdiri di hadapannya, muncul dari balik tembok.
"Minggir lo! Gue masih marah," ketus Sheril.
Arion tidak menjawab maupun tidak pindah bergerak. Saat ini Arion persis seperti patung yang hanya bisa menatapi keberadaan Sheril saja.
Sheril jalan ke samping, berusaha menghindari Arion. Tapi yang ada Arion juga ikut kemana arah gerak Sheril, mencegah gadis itu tidak pergi dari hadapannya.
"Minggir Arion! Gue marah nih sama lo!" Sheril berusaha mendorong Arion agar berpindah tempat tidak menghalangi jalannya.
Arion tetap diam, menahan badannya agar tidak berpindah sedikitpun dari hadapan Sheril. Ah, sekarang Sheril merutuki kenapa sekolah menciptakan gang-gang kecil di samping tangga.
"Yon, ih! Kok lo makin ngeselin sih?"
Arion maju satu langkah mendekati Sheril. Refleks, Sheril mundur satu melangkah. Ekspresi Arion tampak mencurigakan saat ini.
"Yon," panggil Sheril, namun lagi dan lagi Arion tak menghiraukannya.
"Arion, stop, Yon." Semakin Sheril melarang Arion, semakin gencar Arion melangkah mendekati Sheril.
"Arion, gue bilang berhenti. I said stop Arion."
Sheril berhenti melangkah saat kakinya menabrak tembok yang ada di belakangnya. Entah kesialan atau keberuntungan Sheril telah terperangkap oleh Arion. Ekspresi Arion sama sekali tidak bisa Sheril mengerti.
Arion mendekatkan wajahnya ke wajah Sheril. Masih terbayang dengan adegan di drama Korea semalam, spontan Sheril memejamkan matanya panik. Arion menyeringai melihat Sheril sedang memejamkan matanya, raut wajah Sheril begitu jelas menunjukkan kepanikan.
Sesaat Arion termenung melihat wajah Sheril dari jarak sedekat ini.
"Fuh," Arion tersenyum kecil setelah meniup wajah Sheril.
Andai saja bukan karena janji yang ia pegang sejak hari ulang tahunnya ke 16 dan karena hal lainnya, sudah pasti Arion akan mencium Sheril sekarang juga.
"Jika gue ajak lo makan bareng saat pulang sekolah, apa lo masih marah sama gue?" Arion belum terbiasa jika berbicara dengan anak seumurannya tanpa menggunakan kata baku.
Sheril mengerjapkan mata, tidak percaya jika Arion mengajak Sheril makan bersama. Yang artinya, mereka akan menghabiskan waktu di luar jam sekolah.
"Emangnya lo gak sibuk?" Tanya Sheril memastikan, takut PHP.
Arion menggeleng, "enggak."
Sheril bergumam, pura-pura sedang berpikir, sok jual mahal. Padahal dalam hatinya Sheril sudah bersorak kegirangan ketika Arion mengajaknya makan bersama di luar. Tanpa ada kaitannya dengan belajar. Gotcha!
"Wherever I want to go, whatever I want to eat. Deal?" Sheril mengulurkan tangannya, mengajak Arion bersalaman sebagai tanda persetujuan.
"Whatever," Arion menyambut jabatan tangan Sheril.
Ini adalah kali pertama mereka berjabatan tangan sejak perkenalan pertama. Uluran tangan yang Arion tolak tahun lalu, kini di sambut dengan senang hati. Semesta memang sebercanda itu.
🌞🌞🌞
Arion menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya. Sangat tidak percaya. Ia kira Sheril akan membawanya ke sebuah restauran atau kafe-kafe. Ternyata Sheril membawanya ke tempat makan yang terletak di pinggir jalan raya.
"Sher, are you sure this is the place?" Tanya Arion pelan.
Sheril mengangguk tanpa beban. "Why not? You have agreed with my choice," balasnya.
Arion mendengus kesal.
"Pak, bakso satu, mie ayamnya satu, es teh dua ya, makan di sini!" Setelah menyebutkan pesanannya, Sheril mengajak Arion duduk di bangku panjang.
Sheril menahan tawanya melihat Arion yang sudah tidak nyaman sejak masuk ke sini. Tipikal orang yang anti makan di pinggir jalan.
"Calm down, Yon. Gue sama nyokap udah sering banget ke sini."
"Seriously?" Arion masih tidak percaya.
Sebelum Sheril menjawab, pelayanan meletakkan dua mangkuk makanan dan dua gelas es teh di atas meja. Arion menatap makanan itu aneh, sebab ia sama sekali belum pernah melihat dan mencoba mie ayam dan bakso. Makanan khas Indonesia.
"Ini namanya bakso. Ini mie ayam. Nih, cobain deh. Gue pengen tau, lo suka yang mana," Sheril menyerahkan garpu dan sendok kepada Arion.
Meskipun ragu-ragu, Arion tetap mencoba kedua makanan tersebut sebagaimana yang Sheril perintahkan.
"Which one," desak Sheril karena Arion belum mengatakan apa-apa sejak mencoba kedua makanan tersebut. Sheril akan memakan makanan yang tidak Arion pilih, perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
"I think, I like this one," Arion menunjuk mie ayam.
Senyuman Sheril merekah, tanpa buang-buang waktu, ia langsung menarik mangkuk bakso dan memakannya dengan lahap saking kelaparannya.
Sheril menyedot es tehnya ketika bakso telah ia makan setengah porsi. Hendak membersihkan bibir, Sheril menarik tempat tisu lalu menarik tisu secukupnya sebelum di robek.
Arion terbelak melihat apa yang sedang Sheril lakukan. Sontak Arion langsung meletakkan sendok dan garpunya begitu saja. Membuat Sheril mengernyit heran.
"Kenapa Yon? Ada masalah? Tampang lo kayak abis liat setan tau gak,"
"Is it tissue toilet?" Arion menganga tidak percaya. Bagaimana bisa tisu toilet berada di tempat makan?
Ini merupakan salah satu culture shock Indonesia.
Sheril tersenyum miring, lucu sekali rasanya melihat Arion terkejut sekaligus tidak percaya seperti ini.
"I think so, something like that,"
Ario menjauhkan mangkuk mie ayamnya yang ternyata sudah habis.
"I'm done now!" Arion bergidik geli, lalu segera meninggalkan tempat makan ini.
Setelah Arion pergi, Sheril akhirnya tertawa setelah menahannya sejak tadi. Pasti Arion sedang membayangkan yang tidak-tidak.
"Dasar si Bambang. Geli-geli juga abis nih semangkok mie ayamnya." Sheril tersenyum puas. Setelah membayar makanan, Sheril bergegas pergi menyusul Arion yang sudah menjauh.
🌞🌞🌞
Arion memberhentikan motornya di depan rumah Sheril. Sejak kejadian tisu toilet tadi, Arion belum berbicara sepatah katapun.
Sheril turun dari motor, ia memegang lengan Arion kemudian tertawa. Tujuannya memegang lengan Arion agar lelaki itu tidak pergi begitu saja setelah mengantarkannya pulang. Sementara Arion menatap Sheril tidak suka.
Merasa gemas, Sheril mencolek dagu Arion, menggodanya. "Ciaelah ceritanya marah nih gara-gara kejadian tisu toilet tadi?"
Arion tidak memberikan jawaban.
Setelah puas menertawakan Arion, Sheril akhirnya menjelaskan. "Itu udah hal wajar di Indonesia karena kita gak pakai tisu itu di toilet. Kenapa tempat makan kayak gitu pakainya tisu roll-an soalnya biar gampang. Tinggal narik doang'kan terus pakai deh!" Sheril memperagakan menarik tisu toilet, membuat Arion semakin terbayang yang tidak-tidak.
"I'm going to home now!" Ketus Arion, ia menyalakan mesin motor kemudian pergi dari hadapan Sheril.
"BESOK KITA MAKAN MIE AYAM LAGI YA!" teriak Sheril sebelum Arion semakin jauh.
Sheril senyam-senyum sendiri sambil masuk ke dalam rumah. Senyuman di bibirnya luntur begitu saja melihat koper-koper di ruang tengah rumahnya.
"Mah, mau kemana? Ini isinya baju siapa?"
Dewi melangkah maju mendekati anak semata wayangnya. "Nanti kita bahas. Sekarang kamu mandi terus siap-siap, kita pergi sekarang dari rumah ini."
"Kita gak pergi jauh'kan?" Tanya Sheril ragu, perasaannya mulai tidak enak mengenai hal ini.
Dewi tersenyum sendu. "Yogyakarta. Apa itu jauh?"
"Berapa lama?"
"Apa... Kita bisa pindah juga ke sana?"
Sheril tidak mampu menjawab pertanyaan ibundanya.
udh nunggu lama bgt 😭