Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Setelah Sunyi
Kelas yang terlalu sunyi ternyata juga bisa membuat orang tidak nyaman.
Sehari setelah semua tangkapan layar dihapus, murid-murid tidak lagi berbisik terang-terangan. Tidak ada ponsel yang sengaja diarahkan ke Erlyn. Tidak ada pertanyaan setengah kotor tentang kakak tiri. Bahkan siswi di baris belakang yang paling sering menyindir memilih menatap papan tulis sepanjang pagi, seolah hidupnya tiba-tiba dipenuhi semangat belajar.
Seharusnya itu membuat Erlyn lega.
Sebagian memang lega.
Sebagian lain justru merasa seperti berjalan di lantai yang baru saja dipel. Bersih, tetapi licin. Semua orang tahu sesuatu terjadi, tetapi tidak ada yang mau mengaku pernah ikut menginjaknya.
Wali kelas memanggil Erlyn saat istirahat kedua.
Di ruang guru, ada seorang siswi dari kelas sebelah yang Erlyn kenali dari jauh. Rambutnya panjang, wajahnya pucat, kedua tangannya menggenggam tali tas. Di sebelahnya, seorang guru BK duduk dengan map berisi beberapa lembar cetakan screenshot.
"Dia yang pertama menyebarkan foto dari mall," kata guru BK.
Siswi itu tidak menatap Erlyn. "Maaf."
Satu kata.
Pendek.
Tidak cukup untuk semua jam yang Erlyn habiskan menahan napas di kelas. Tidak cukup untuk rasa takut saat nomor anonim mengirim pesan langsung. Tidak cukup untuk membuat kata kakak tiri kembali terdengar biasa.
Namun guru BK menunggu.
Wali kelas juga menunggu.
Erlyn akhirnya berkata, "Saya dengar."
Siswi itu mengangkat kepala sedikit, mungkin berharap lebih.
Erlyn tidak memberi.
Ia keluar dari ruang guru dengan perasaan lelah, bukan menang. Di koridor, Angie dan Jessica sudah menunggu. Angie langsung mendekat.
"Dia minta maaf?"
"Iya."
"Kamu maafkan?"
Erlyn menatap lantai. "Aku dengar."
Jessica mengangguk pelan. "Itu cukup."
Angie menoleh. "Kamu dingin juga ternyata."
"Bukan dingin. Realistis," kata Jessica. "Permintaan maaf yang dipaksa guru tidak harus langsung dibayar dengan pengampunan."
Kalimat itu membuat Erlyn merasa lebih ringan.
Mereka bertiga pergi ke kantin. Untuk pertama kalinya, Jessica duduk bersama mereka tanpa alasan tugas atau krisis. Ia membeli air mineral dan roti keju, lalu membuka buku catatan berisi daftar target belajar.
Angie menatap daftar itu dengan ngeri. "Kamu manusia atau jadwal berjalan?"
"Manusia yang ingin keluar dari kota ini."
"Ke mana?"
Jessica menutup buku sebentar. "Jakarta. Kalau jalur SNBP lancar."
Erlyn menoleh. "Kamu daftar Jakarta?"
"Iya. Desain komunikasi visual. Masih proses, tapi guru BK bilang peluangku besar."
Angie langsung bersiul pelan. "Keren."
Jessica mengangkat bahu, tetapi senyumnya muncul sedikit. "Belum keterima."
"Tapi kamu ingin pergi?" tanya Erlyn.
Jessica menatap halaman kantin yang ramai. "Aku ingin punya ruang yang tidak selalu diisi orang yang merasa tahu hidupku."
Erlyn memahami kalimat itu terlalu cepat.
Mereka makan lebih lama dari biasanya. Angie mengeluh tentang tugas sejarah. Jessica memperbaiki layout poster kelas yang menurutnya kacau. Erlyn mendengarkan sambil sesekali tertawa. Setelah beberapa hari penuh rasa malu, duduk di meja kantin tanpa menjadi tontonan terasa seperti hadiah kecil.
Sore harinya, saat pulang, Chisen tidak datang ke gerbang.
Sopir keluarga menunggu seperti biasa.
Erlyn masuk mobil, lalu menemukan satu kotak kecil di kursi belakang. Di atasnya ada sticky note dengan tulisan rapi.
Makan sebelum les.
Tidak ada nama.
Ia membuka kotak itu.
Roti cokelat dari toko dekat SPI.
Erlyn menatapnya lama. Roti cokelat pernah menjadi bahan candaan Kevin, upeti Angie, dan sekarang muncul dari tangan Chisen tanpa penjelasan. Aneh sekali bagaimana makanan kecil bisa membawa tiga perasaan berbeda.
Ia memotretnya dan hampir mengirim ke Chisen.
Hampir.
Akhirnya ia hanya mengetik:
Terima kasih.
Balasan Chisen datang lima menit kemudian.
Ko Chisen: Jangan makan di mobil. Remahnya susah dibersihkan.
Erlyn memandangi layar, lalu tertawa pelan sendirian di kursi belakang.
Saat makan malam, Jing beberapa kali menatap wajahnya, mungkin mencari sisa pucat yang kemarin tidak bisa disembunyikan.
"Sekolah hari ini lebih baik?" tanya Mama.
Erlyn mengangguk. "Lebih tenang."
Om Changli meletakkan sumpit. "Kalau ada masalah, bilang. Jangan tunggu sampai berat."
Erlyn melirik Chisen tanpa sadar. Chisen sedang mengambil sayur, tidak melihatnya.
"Iya, Om."
Jing tersenyum kecil. "Mama senang kamu punya Angie dan Jessica."
"Mereka galak."
"Kadang itu perlu."
Chisen tiba-tiba berkata, "Benar."
Erlyn menoleh. "Koh mendukung orang galak?"
"Tergantung targetnya."
Jawaban itu membuat Om Changli tertawa pelan, dan meja makan yang beberapa hari terakhir terasa hati-hati akhirnya sedikit mengendur.
Erlyn ikut tersenyum, kecil saja, tetapi kali ini tidak perlu dipaksakan untuk menenangkan siapa pun.
Ia merasa benar-benar pulang.
Sedikit.
Di rumah, les berjalan seperti biasa. Tidak ada percakapan tentang guru BK. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah baik-baik saja. Chisen hanya meletakkan soal di depannya dan berkata, "Mulai."
Namun saat Erlyn membuka buku, ia melihat selembar kertas kecil terselip di halaman pertama.
Tulisan Chisen.
Kalau ada pesan anonim lagi, langsung beri tahu.
Erlyn menatap tulisan itu.
Di luar, rumah Jalan Kenanga mulai wangi melati lagi setelah hujan. Di dalam ruang belajar, Chisen duduk di seberangnya, wajah datar, seolah catatan kecil itu bukan apa-apa.
Erlyn melipat kertas tersebut dan menyimpannya di kotak pensil.
"Koh," katanya.
"Apa?"
"Roti cokelatnya enak."
Chisen tidak mengangkat kepala. "Aku tidak tanya."
Tetapi ujung pensilnya berhenti mengetuk meja selama satu detik.