Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian Ruka
"Kalian mau kemana?" tanya Mama dengan mata mendelik ke arahku.
"Oh, kami akan keluar sebentar. Apa ada yang mau Mama titipkan?"
"Tidak ada!" jawab Mama Riski sambil berlalu, dengan ujung mata seakan mengawasi diriku.
***
Setelah memesan 2 porsi spageti dan 2 gelas softdrink, kami menuju salah satu meja kosong. Beberapa kali aku curi-curi pandang, berharap akan menemukan makna dari raut wajahnya yang dingin.
Riski menyibukkan diri dengan menatap layar ponsel. Ia bahkan tidak menatap diriku semenjak kami memasuki restoran hingga beberapa pertayaan buruk mengganggu pikiranku.
Apakah ia terpaksa mengajakku kesini? Mungkin memang benar ia terpaksa? Padahal aku berharap ini akan menjadi kencan romantis pertama kami.
Ah! Bahkan, sekarang imajinasiku mulai mengalahkan akal sehat yang ku punya. Aku sudah berani berharap lebih. Padahal pernikahan kami hanya sebuah perjanjian hitam di atas putih.
Dulu, saat ayah menyinggung masalah pernikahan, beliau selalu mengatakan bahwa aku harus menikah dengan laki-laki yang bisa membuatku bahagia.
Katanya, itu adalah salah satu doa yang selalu ia langitkan untukku--anak semata wayangnya. Saat itu aku hanya menanggapinya dengan tertawa bahkan hingga bahuku terguncang. Kalau sudah begitu, Ayah cuma bisa menggeleng-geleng kepala saja.
Kadang aku merasa sangat bersalah pada ayah karena menyetujui pernikahan ini. Jika beliau masih hidup, pasti ayah sangat kecewa jika sampai mengetahui.
Hidup memang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi bagaimana cara kita dalam bertahan? Itu yang lebih penting.
"Kalian sudah datang?" ucap Riski sambil tersenyum simpul.
Aku menoleh kebelakang mendapati Ruka berjalan beriringan dengan Dokter Bayu. Wanita itu terlihat lebih segar malam ini, gaun merah menyala di padu dengan heels dan tas tangan hitam membuat penampilannya terlihat lebih modis.
Aku lupa bahwa ia memang wanita fashionable yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Berbeda dengan diriku yang lebih nyaman dengan penampilan serba sederhana. Bahkan, untuk kesalon saja aku tidak pernah, kecuali urusan rambut.
Ruka begitu berani memeluk Riski di hadapanku. Mungkin karena ia tahu jika aku bukanlah istri yang sebenarnya bagi dirinya.
Pasti Riski sudah jauh-jauh hari mengatakan pada Ruka jika pernikahan kami hanyalah sebuah rekayasa. Aku memaling wajah saat tatapan ku dan Riski beradu, mencoba menyembunyikan rasa cemburu yang saat ini sedang mengambil alih di hatiku.
"Kau baik-baik saja?" ucap Dokter Bayu sambil menatap manik mataku.
"Tentu, aku bahkan jauh lebih baik sekarang."
Riski mengurai diri dari pelukan lalu memperbaiki posisi duduknya. Beberapa kali Ruka menatapku dengan tatapan tak suka, ia bahkan mencoba membuat Riski tak menanggapi diriku dengan mengalihkan pembicaraan kepada pekerjaan kantor.
Aku mendengus kesal. Riski seperti paham jika aku mulai tidak suka dengan kehadiran Ruka dan dokter Bayu. Seorang pramusaji menghampiri meja kami dengan membawa beberapa menu. Selera makan yang tadinya menggebu kini menguap entah kemana.
Aku bangkit lalu pamit kepada mereka, membuat Riski kaget. Sedangkan aku, tanpa menunggu jawaban mereka aku beranjak melangkag keluar restoran.
Sial. Kenapa pria dingin itu tega merusak makan malamku.
Bersambung!!
____________
Asslamualaiku readers Lover!
Terimakasih banyak-banyak dan salam cinta dari aku si author pemula.
Tolong dukungannya dong Reader lovers untuk vote, like dan komen supaya aku makin semangat dalam menulis.
💜💜💜💜💜💓💜💜💜💜💜
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏