Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Bu Sari menolak bertemu di tempat mewah.
Ia memilih warung soto kecil di pinggir jalan Tangerang, tempat kipas angin tua berputar lambat dan suara sendok beradu dengan mangkuk menutupi percakapan. Gio datang lebih dulu, memastikan tidak ada orang yang mengikuti. Rayhan masuk lima belas menit kemudian dengan kemeja putih sederhana, tanpa pengawal yang terlihat.
Perempuan paruh baya itu langsung berdiri saat melihatnya.
"Pak Rayhan?"
"Duduk saja, Bu." Rayhan menarik kursi di seberangnya. "Terima kasih sudah mau bertemu."
Bu Sari memeluk tas kainnya terlalu erat. Matanya bergerak ke pintu, ke jendela, lalu kembali ke wajah Rayhan. "Saya tidak mau cari masalah, Pak. Saya sudah lama keluar dari rumah itu."
"Saya tidak datang untuk menyeret Ibu ke masalah." Rayhan meletakkan amplop tipis berisi kartu nama pengacara dan nomor darurat di atas meja. "Saya datang karena seorang anak pernah tidak punya orang dewasa yang membelanya."
Jari Bu Sari gemetar.
Ia tidak menyentuh amplop itu, tetapi matanya berubah basah sebelum satu kata pun keluar.
"Keira anak baik, Pak," katanya lirih. "Dari kecil begitu. Kalau dimarahi, dia cuma menunduk. Kalau disuruh jaga Kiara, dia jaga. Kalau Kiara menangis, dia yang disalahkan."
Rayhan diam.
Di sampingnya, Gio membuka buku catatan kecil. Tidak ada alat rekam yang tampak. Rayhan sengaja tidak meletakkannya di meja, memberi Bu Sari ruang untuk merasa aman.
"Saya perlu tahu sejak awal," kata Rayhan. "Saat Keira masuk Rumah Yanto."
Bu Sari mengusap ujung matanya dengan tisu. "Waktu itu Nyonya Meilan belum punya anak. Sudah bertahun-tahun menikah. Orang-orang keluarga suka bisik-bisik. Lalu suatu malam Pak Fengky pulang membawa perempuan tua, katanya kenalan dari konsultan keluarga. Saya tidak boleh ikut masuk ruang tengah, tapi saya yang antar teh."
"Apa yang Ibu dengar?"
Bu Sari menelan ludah. "Perempuan itu bilang rumah mereka dingin, belum ada anak kandung karena jalannya tertutup. Kalau mau terbuka, harus ada anak perempuan yang punya nasib menyambung tangan dan kaki dengan anak yang akan lahir."
Gio berhenti menulis sesaat.
"Istilah itu dipakai persis begitu?"
"Saya tidak paham, Pak. Tapi saya ingat karena aneh. Nyonya Meilan tanya, 'Kalau anak itu masuk rumah, saya bisa hamil?' Perempuan itu jawab, 'Kalau cocok, anak asli Ibu akan menempel hidupnya pada anak itu.'"
Sendok di tangan Rayhan tidak bergerak.
Soto di depannya mulai kehilangan uap. Dari luar, suara motor lewat berulang kali. Dunia terus berjalan seperti biasa, sementara di meja sempit itu masa kecil Keira dibedah dengan kata-kata yang seharusnya tidak pernah ditempelkan pada seorang anak.
"Lalu mereka mencari Keira," kata Rayhan.
Bu Sari mengangguk pelan. "Beberapa minggu kemudian, Keira datang. Kecil sekali. Rambutnya sebahu, bawa boneka kain lusuh. Dia panggil Nyonya Meilan 'Mama' dengan suara takut-takut. Nyonya Meilan tersenyum di depan tamu, tapi setelah tamu pergi, dia bilang pada saya, 'Jangan terlalu dimanja. Anak ini bukan anak rumah kalau belum terbukti membawa hasil.'"
Mata Gio terangkat tajam.
Rayhan merasakan sesuatu di dadanya turun, berat dan dingin.
"Berapa umur Keira saat itu?"
"Mungkin tiga tahun lebih. Belum lancar baca, tapi sudah pintar lipat baju sendiri. Kalau makan, dia selalu sisakan lauk terakhir. Saya tanya kenapa. Dia bilang, kalau nanti Mama lapar, bisa makan."
Bu Sari menutup mulutnya sebentar.
"Padahal Nyonya Meilan tidak pernah makan sisa lauk anak kecil itu."
Rayhan menatap meja. Di benaknya muncul Keira yang sekarang, selalu memastikan Genki makan lebih dulu, selalu menahan diri agar tidak merepotkan siapa pun. Ia baru sadar kebiasaan itu bukan sekadar sifat lembut. Itu jejak dari rumah yang mengajarkan seorang anak bahwa cinta harus dibayar dengan berguna.
"Setelah itu Meilan hamil," kata Rayhan.
"Iya." Bu Sari mengangguk cepat, seperti ingatan itu masih jelas. "Rumah langsung ramai. Keluarga datang bawa hadiah. Orang-orang bilang Keira pembawa jalan. Nyonya Meilan mulai menyuruh Keira ikut ke mana-mana kalau kontrol kandungan. Katanya supaya bayi di perut tenang."
"Keira diperlakukan lebih baik?"
Bu Sari tersenyum getir. "Lebih sering dipajang, Pak. Bukan lebih disayang."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menghantam keras.
Rayhan akhirnya mengangkat pandangan. "Apa yang terjadi setelah Kiara lahir?"
"Semua berubah. Keira harus mengalah. Kalau Kiara tidur, Keira tidak boleh bersuara. Kalau Kiara sakit, Keira disuruh duduk di samping ranjang sampai malam. Katanya, Kiara bisa tenang kalau ada Kak Keira."
"Kak Keira," ulang Gio, mencatat.
"Dulu Kiara juga memanggil begitu. Tapi lama-lama, kalau marah, Kiara bilang, 'Kamu cuma anak yang diambil Mama supaya aku lahir.' Saya pernah dengar sendiri."
Wajah Rayhan tidak berubah, tetapi tangan yang memegang gelas air menegang sampai ruas jarinya memutih.
Bu Sari segera menunduk. "Saya tidak berani ikut campur. Saya cuma pembantu. Kalau saya bela Keira, Nyonya Meilan marah. Pernah saya kasih Keira bubur karena dia belum makan, Nyonya bilang saya mau membuat anak itu besar kepala."
"Bu Sari," suara Rayhan rendah, "apakah Keira pernah tahu alasan sebenarnya dia diadopsi?"
Perempuan itu menggeleng. "Tidak dengan kata-kata jelas. Tapi anak kecil bisa merasa, Pak. Dia tahu kalau semua orang lebih sayang Kiara. Dia tahu kalau dia harus ada supaya Kiara baik-baik saja. Setiap Kiara demam, Keira yang paling takut. Bukan karena takut dimarahi saja. Dia benar-benar percaya kalau Kiara sakit, itu salah dia."
Di saku Rayhan, ponselnya bergetar. Pesan dari Keira masuk lagi.
Kei: Aku antar Genki ke TK dulu. Nanti siang kamu makan yang benar, ya. Jangan cuma kopi.
Rayhan menatap pesan itu. Keira masih mengingatkan orang lain makan, padahal sejak kecil tubuhnya sendiri diperlakukan seperti penyangga hidup orang lain.
Ia membalas singkat.
Rayhan: Iya. Hati-hati di jalan.
Lalu ia menaruh ponsel menghadap bawah.
"Ada satu kejadian yang harus saya tanyakan," katanya kepada Bu Sari. "Hari Keira hilang waktu SD."
Wajah Bu Sari langsung pucat.
Gio menahan napas.
Bu Sari menggenggam tas kainnya lebih erat sampai buku jarinya menonjol. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap mangkuk soto yang tidak ia sentuh. Ketika bicara lagi, suaranya berubah seperti orang yang membuka pintu kamar gelap.
"Saya pikir Bapak akan bertanya itu."
Rayhan tidak mendesak.
"Hari itu Kiara demam tinggi," lanjut Bu Sari. "Dokter sudah datang ke rumah. Nyonya Meilan panik. Tapi sebelum panik, ada telepon masuk. Setelah telepon itu, Nyonya menyuruh sopir tidak menjemput Keira tepat waktu."
"Siapa yang menelepon?"
"Saya tidak tahu. Tapi setelah menutup telepon, Nyonya berkata begini kepada Pak Fengky." Bu Sari mengangkat wajah, matanya penuh takut lama. "Kalau anak itu memang pembawa jalan, dia akan kembali sendiri. Kalau tidak, lebih baik hilang sekalian."
Untuk pertama kalinya pagi itu, Rayhan kehilangan semua kehangatan dari wajahnya.
"Besok," katanya kepada Gio tanpa melepas pandangan dari Bu Sari, "cari sopir yang bertugas hari itu."
Bu Sari gemetar. "Pak, saya tidak mau nama saya muncul."
"Tidak akan." Rayhan berdiri. "Tapi kebenaran hari itu akan muncul."
Di luar warung, matahari sudah naik. Panasnya menempel di aspal, tajam dan menyilaukan.
Rayhan berjalan ke mobil dengan langkah tenang, tetapi di dalam dadanya, satu kalimat terus berulang seperti api yang tidak mau padam.
Lebih baik hilang sekalian.