Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Pagi datang dengan cahaya pucat dan bau obat.
Demam Keira turun sedikit, tetapi tubuhnya masih lemas. Dokter Handoko datang lagi pukul delapan, memeriksa suhu, tekanan darah, dan tenggorokannya. Pak Hasan berdiri di dekat pintu seperti penjaga yang siap disalahkan oleh siapa pun bila Keira batuk sekali lagi.
Richard berdiri di sisi ranjang, kemeja yang sama dari kemarin sudah kusut di lengan. Keira pura-pura tidak memperhatikan bahwa pria itu belum pulang.
"Tidak perlu rawat inap," kata Dokter Handoko. "Tapi harus istirahat total dua hari. Jangan kerja, jangan keluar, jangan mandi air dingin."
Kalimat terakhir membuat Keira memalingkan wajah.
Richard menatapnya.
Pak Hasan pura-pura melihat tirai.
Setelah dokter pergi, kamar menjadi sunyi. Pak Hasan turun untuk membuat bubur baru. Tinggal Richard dan Keira, dipisahkan meja kecil berisi obat, termometer, dan segelas air hangat.
"Kenapa melakukan itu?" tanya Richard.
Keira tahu ia tidak sedang bertanya tentang flu. Pria ini terlalu pintar untuk benar-benar percaya alasan gerah.
"Saya tidak tahu maksud Om."
"Kamu tahu."
Keira menatap selimut. "Mungkin saya terlalu capek."
"Capek tidak membuat orang berdiri di bawah shower dingin tengah malam."
Jantung Keira bergerak pelan. Ia bisa berbohong lagi. Ia bisa menangis. Namun tubuhnya masih lemah, dan semalam Richard benar-benar duduk sampai subuh. Untuk pertama kalinya, ia memilih setengah jujur.
"Saya takut kalau saya tidak memanggil, Om tidak akan datang."
Richard diam.
Keira cepat tersenyum lemah. "Maaf. Itu terdengar kekanak-kanakan."
"Memang."
Jawaban itu membuat Keira berkedip.
Richard menarik kursi lebih dekat ke ranjang dan duduk. "Tapi bukan berarti tidak boleh."
Keira menatapnya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Obat penurun panas membuat kepalanya mengantuk, tetapi dadanya terlalu penuh untuk tidur. Richard mengambil strip obat, memisahkan satu tablet, lalu menyerahkannya. Keira meminumnya dengan air hangat. Tangannya gemetar sedikit saat mengembalikan gelas.
Richard mengambil gelas itu dari tangannya.
Jari mereka bersentuhan.
Keira bisa saja menarik tangan. Ia tidak melakukannya. Sebaliknya, ketika Richard meletakkan gelas di meja, Keira menggerakkan jari kelingkingnya pelan dan mengaitkannya pada jari Richard.
Gerakan itu kecil.
Hampir seperti tidak sengaja.
Richard membeku.
Keira menahan napas, tetapi wajahnya tetap lemas seperti orang sakit yang mencari pegangan tanpa sadar.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Richard tidak menarik tangan.
Di bawah selimut, jantung Keira berdebar lebih cepat daripada demamnya.
"Om," katanya pelan, "kenapa Om selalu datang kalau saya sakit?"
Richard menatap jari mereka yang saling terkait. "Karena tidak ada orang lain."
Keira tersenyum kecil. "Pak Hasan ada."
"Pak Hasan bukan saya."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Kali ini Richard sendiri tampak menyadarinya. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi ia tetap tidak menarik tangan.
Keira menunduk, menyembunyikan senyumnya di balik selimut. "Iya. Pak Hasan bukan Om."
Suara langkah terdengar di luar kamar. Pak Hasan mengetuk pintu sebelum masuk membawa bubur. Richard langsung menarik tangannya, tetapi terlambat sedikit. Pak Hasan pasti melihat. Pria tua itu hanya meletakkan nampan di meja dengan wajah yang terlalu netral.
"Buburnya masih hangat, Non Kei."
"Terima kasih, Pak."
"Pak Lim juga makan sedikit. Dari kemarin belum makan benar."
Richard berdiri. "Saya makan nanti."
"Nanti itu biasanya tidak jadi, Pak."
Keira hampir tertawa melihat Pak Hasan menegur Richard seolah sedang menegur anggota keluarga sendiri.
Setelah Pak Hasan keluar, Richard mengambil mangkuk bubur dan menyuapi Keira dua sendok, lebih karena ingin memastikan ia makan daripada karena lembut. Sendoknya terlalu penuh pada awalnya, lalu ia memperbaiki ukuran suapan setelah Keira hampir tersedak.
"Pelan-pelan, Om. Saya bukan proyek tender."
Richard menatapnya. "Kalau kamu proyek, aku sudah ganti manajernya."
Keira tertawa sampai batuk.
Richard mengangkat tisu ke bibirnya. Gerakannya kaku, tetapi hati-hati.
Ia tidak pernah terlihat seperti orang yang terbiasa merawat. Sendoknya terlalu kaku, tisu terlalu cepat diangkat, dan ketika Keira batuk lagi, ia menekan tombol panggil di samping ranjang seolah seluruh rumah harus bergerak.
"Om, saya tidak sekarat."
"Kamu demam."
"Demam tidak perlu alarm keluarga."
"Aku tidak mengambil risiko."
Keira terdiam. Kata risiko di mulut Richard terdengar seperti istilah bisnis, tetapi matanya tidak seperti sedang menghitung untung rugi.
Saat Pak Hasan masuk karena bel kamar berbunyi, Keira cepat berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Om panik."
Richard menatapnya.
Pak Hasan menunduk menyembunyikan senyum. "Nggih, saya ambil air hangat saja."
Siang itu Keira tertidur lagi. Ketika ia membuka mata, kursi di dekat ranjang sudah kosong. Di meja ada catatan pendek dengan tulisan tangan tegas.
Minum obat pukul dua. Jangan mandi air dingin.
Keira menyentuh kertas itu, lalu tersenyum.
Di bawah catatan itu ada satu benda lain: termometer digital baru dengan stiker kecil bertuliskan namanya. Bukan tulisan Richard, pasti tulisan staf. Namun perintah untuk membelinya tidak mungkin datang dari orang lain.
Keira mengukur suhu sendiri. 37,4.
Ia memotret angka itu dan mengirimkannya ke Om Lim tanpa teks.
Balasan datang dua menit kemudian.
Bagus. Makan sebelum obat.
Keira menatap layar, lalu tertawa pelan sampai tenggorokannya sakit.
Pak Hasan masuk beberapa menit kemudian membawa nampan makan siang. Ia melihat ponsel di tangan Keira dan senyum yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
"Pak Lim?"
Keira cepat meletakkan ponsel. "Cuma tanya suhu."
"Nggih. Tanya suhu sampai Non Kei senyum begitu."
"Pak Hasan."
"Saya tidak bilang apa-apa."
Namun wajah Pak Hasan mengatakan terlalu banyak. Keira mengambil sendok, pura-pura fokus pada bubur. Di luar pintu, rumah berjalan pelan. Tidak ada tekanan kantor, tidak ada suara Kevin, tidak ada Vanya. Hanya catatan obat, air hangat, dan seseorang yang menunggu kabar suhunya.
Keira tidak suka betapa mudahnya hal kecil seperti itu membuatnya merasa aman.
Rasa aman adalah umpan paling lembut.
Dan mungkin paling sulit dilepaskan.
Sore itu Richard menelepon lagi. Bukan video call. Hanya suara.
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Obat?"
"Sudah."
"Jangan bohong."
Keira memandang mangkuk yang tinggal separuh. "Saya sedang makan."
"Habiskan."
"Om selalu begini kalau mengurus orang sakit?"
Ada jeda singkat. "Aku tidak mengurus orang sakit."
Keira menggenggam sendok lebih erat. Jawaban itu terlalu polos untuk pria sedingin Richard, terlalu jujur untuk sekadar basa-basi orang dewasa yang sedang menjaga jarak aman dari perasaan yang tumbuh diam-diam di antara mereka berdua, malam itu.
Di kamar mandi Villa Awan, jauh dari Rumah Tan, Richard menatap tangannya sendiri di bawah air dingin. Jari kelingkingnya masih terasa hangat.