"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Lemang
#Edisi Spesial
Di sebuah ruangan yang cukup luas, lampu sorot menyala dengan sangat terang, menyinari suatu bagian ruangan yang disebut dengan panggung.
Ireng dan Sembrani duduk bersebelahan. Mereka memakai kalung dengan ornamen Garuda di bagian tengahnya. Sementara di lubang telinga mereka tersemat sesuatu berkabel yang terhubung dengan kalung mereka.
Di sofa panjang yang terletak di tengah panggung, duduklah dua tua renta dan seorang pria muda. Seseorang menyodorkan sesuatu di depan mereka untuk digunakan.
"Apa ini? Penthol putih berekor melingkar?" tanya si Kakek tidak mengerti dengan benda yang dipegangnya.
"Itu namanya earphone, Kek Aki!" jawab Gege yang duduk di sebelah si Nenek.
"Benda macam apa irfon itu?" tanya si Nenek dengan melafalkan nama benda itu sekenanya.
Jika ada yang bertanya-tanya kemanakah kakek, nenek, dan Gege diculik serta dibawa. Di sinilah mereka. Di sebuah talk show yang akan segera dimulai.
"Pakai saja, tidak usah banyak tanya! Acara akan segera dimulai!" perintah salah seorang kru.
"Durasi-durasi!" teriak yang lainnya mengingatkan untuk menghemat kata, atau episode kali ini akan lebih dari dua ribu kata.
Kakek dan nenek kekeh tidak mau memakainya. Sementara Gege sudah memakainya sejak tadi. Anak muda dan orang tua itu memang berbeda ya.
"Masa tak akan indah tanpa kelakar. Bangsa tak akan sejahtera tanpa moralitas yang tertata. Legenda Mas Pisang pun tak akan berjaya tanpa pembaca yang setia bertandang. Mari simak ES Lemang dalam sesi kali ini bersama saya, Bintang Malam!" ucapnya membuka acara.
"Baiklah. Langsung saja ke komentar pertama," lanjutnya.
@Fitty
"Aku bingung Kak. Tapi tetap menanti up selanjutnya."
"Jangan bingung, Fitty! Karena semua episode dengan judul ES Lemang memang tidak ada kaitannya dengan alur utama cerita LMP. Sesi ini adalah sesi khusus yang diperuntukkan bagi teman-teman pembaca. Cerita utama akan berlanjut setelah ES Lemang berakhir," jawab Ireng.
"Terimakasih sudah senantiasa menanti. Otor Cho juga kangen sama 'Siti Anak Desa' yang jahil dan lucu nih. Ditunggu up-nya ya!" tambah Sembrani.
"Kok kuda bisa bicara? Kok Sembrani tahu pikiran Otor Cho? Wah nih para kuda pada ngawur ya? Kenapa pula sesi ini berjudul ES Lemang? Apa pula itu LMP?" si Kakek berdiri seraya menjatuhkan bom pertanyaan.
"Mereka memakai mikrofon penerjemah makanya bisa bahasa manusia. Mereka juga memakai earphone yang terhubung langsung dengan Otor alias penulis. LMP adalah singkatan dari Legenda Mas Pisang. Sementara ES Lemang adalah singkatan dari Extra Story LEgenda Mas pisaNG," jawab Bintang Malam.
"Sekarang aku paham kenapa sesi ini berbeda," sahut Gege.
"Jangan-jangan kera penculik itu akan menjadikan bayi pisang kita menjadi es pisang lemang? Nggak-nggak. Nini nggak mau kehilangan Mas Pisang secepat ini!" histeris si Nenek menggeleng-gelengkan kepala.
"Woi, Ireng! Kemana si Kera itu membawa putraku?" geram si Kakek mencengkeram kalung Ireng.
"Apa? Mas Pi diculik?!" sentak Gege menggebrak meja.
"Mana aku tahu. Kata Otor Cho, tunggu aja episode berikutnya!" jawab Ireng.
"Ngomongin soal kera, mari kita lanjut ke pesan berikutnya!"
@Rose Yulis
"Dasar monyet nakal! Malah dibawa Mas Pisangnya. Sembrani sama Ireng kejar tuu monyet!"
"Ahahahaha kalau saya jadi Kang Cilok, pasti juga mikir seperti itu. Jadi daun atau hilang. Kenapa nggak sekalian mikir jadi emas saja? Kan rambutnya orange tuh. Kira-kira siapa ya pria-pria berjas itu? Penasaran. Terus siapa si Wanita berambut orange? Jangan-jangan si Kera raksasa mau nipu Aki dan Nini."
@Riana AS
"Eeeh. Kok Mas Pinya diculik. Aduh Kang Monyet ah, balikin dong! Awas nanti kalau ketemu Ireng samaSembra! Diceburin ke danau panas mau?"
@Fitty
Hai...Mas Pi mau dibawa kemana, onyet?"
@Yonadefiro
"Kan Gege pulang Mas Pi diciduk."
"Maaf, kalau saja aku tahu Mas Pi akan diculik, aku tak akan pulang hari itu," ucap Gege penuh penyesalan.
"Bukan hanya kami celup ke sungai air panas. Tapi akan kami ceburkan ke 'Danau Hijau Buatan Kakek'nya @Rose. Mihihihihihi," ringkik Sembrani.
"Kita lumayan terkenal juga ya, Bro! Terharu aku," ringkik Ireng.
"Benar juga. Sepertinya kalian berdua cukup dinotis oleh teman-teman pembaca. Banyak loh komentar tentang kalian. Mari simak komentar berikut!" Bintang malam menekan tombol 'next" pada remot kontrol jarak jauhnya.
Terpampang lah beberapa komentar di layar besar yang ada di belakang mereka. Muncul pula komentar baru di hadapan mereka dalam wujud hollogram.
@Rose Yulis
"Cuma kalau ngomongin Ireng, sepertinya ganteng. Sampai dibahas rahangnya yang kokoh. Apakah sekokoh semen tiga roda atau Padang? Hahaha."
@Riana AS
"Tapi setelah kupikir-pikir. Kok pipiku nggak setirus Ireng ya? Entah bentuk apa aku tak tahu."
@Bintang Malam
"Kok kudanya tahu arah pasar ya?"
"Hahaha kalau dibikin bakso, boleh nggak Ireng?"
@Rose Yulis
"Ahahahaha Sembrani sama Ireng main volly. Ada-ada saja autor ini. Ngakak aku dibuatnya. Ntu Mas ganteng Gege jaga bayi malah molor duluan. Entah apa yang terjadi kalau nggak ada Sembrani sama Ireng. Btw, Ireng itu nama kucing tetanggaku loh."
@Rose Yulis
"Ireng. Ingat serigalanya Sungsang Geni novel Pendekar Dewa Matahari. Hihihi."
@Maylea
"Hayoloh, Ireng! Kamu kemanain tuh hasil panennya kakek?"
@Yunana
"Sembrono atau Sembrani itu sepertinya saudaranya Sembarangan."
"Wow banyak sekali. Kita tanggapi dari mana dulu nih?" tanya Ireng.
"Terimakasih sudah mengingatkan @Maylea. Hayo jawab jujur kemana kau hilangkan hasil panen kami? Waktu itu kau belum menjawabnya," ucap si Kakek.
"Maafkan aku, Ki! Ada kondisi darurat waktu aku kesasar ke semesta @Citra Abadi. Jadi, terpaksa kuserahkan muatanku waktu itu ke "Delapan Pendekar Harimau' supaya aku bisa pulang," jawab Ireng.
"Aku tak tahu kalau kau ini triplets, Sembrani," ucap Gege seraya menoleh ke arah Sembrani.
"Aku tidak kenal siapa itu Sembrono dan Sembarangan. Lagian bukankah kau yang memanggilku Sembrono?" jawab Sembrani.
"Jangan durhaka pada saudara sendiri! Itu tidak baik. Kita harus menemukan saudaramu!" ujar Gege.
"Terserah deh. Kau sendiri bukannya jaga bayi dengan baik malah enak-enak tidur," balas Sembrani.
"Maaf. Habisnya ngantuk berat," jawab Gege.
"Kalian para kuda juga sama nggak benernya! Sekali lagi kalian berani menjadikan Mas Pisang sebagai bola volly, aku tidak akan segan-segan menjadikan kalian sebagai bakso seperti kata @Bintang Malam!" sela si Kakek mengancam.
"Jangan dong!" ucap Ireng dan Sembrani bersamaan.
"Ngomong-ngomong banyak juga ya yang namanya Ireng. Aku mau bikin grup sosmed 'Aliansi Nama Ireng'. Anggotanya ada serigala sama kucing juga. Bisa bikin boyband nih. Eh, maksudnya fabelband. Nanti namanya Fabullous. Kikiki," celetuk Ireng.
"Ah iya! Sepertinya aku harus bertandang ke dunianya 'Pendekar Dewa Matahari' nih. Biar bisa kenalan sama Ireng si Serigala," lanjutnya.
"Kok banyakan komentar tentang Ireng sih?" tanya Sembrani Iri.
"Tentu saja! Aku ini kan kuda terganteng di seluruh semesta. Hahaha!" ucap Ireng penuh percaya diri.
"Apa benar itu, Kek?" tanya Bintang Malam.
"Bisa jadi. Tapi aku tidak yakin apakah tulang belulangnya sekuat semen tiga roda atau Padang," jawab si Kakek.
"Lebih kuat dari semen dong, Ki! Kulitku saja mulus. Boyband mah lewat!" sahut Ireng.
"Dasar kuda narsis!" sindir Sembrani.
"Sudah-sudah. Daripada berdebat kuda, mari kita lanjut membahas komentar tentang Naga Vanyu!" ucap Bintang Malam mengendalikan diskusi.
@Yonadefiro
"Aku, Naga Vanyu aku minta jodoh. Dari mata air keluar gelembung mistis. Anticipate. Muncul papan, "Coba lagi tahun depan, Bocah Gendheng!"
"Apa jadinya dalam kegelapan peta muncul seperti Dementor dalam serial Harry Potter. Duh token listriknya diisi buruan!"
@Rose Yulis
"Kenapa si Aki cuma minta sebotol susu? Nggak minta pabriknya sekalian?"
@Rose Yulis.
"Ngomong-ngomong kenapa gelap? Matanya nggak bisa nyemburin api buat bikin obor? Jangan sampai kalah naga sama kuda Sembrani."
Wah ada juga ya yang kepikiran buat minta jodoh. Mungkin seharusnya waktu itu aku mencobanya juga. Hm...," respon Gege.
"Idenya @Rose Yulis itu bagus loh, Ki! Kita bisa mendapat penghasilan tambahan dari pabrik susu. Eh si Aki malah cuma minta sebotol susu," ucap Si Nenek.
"Bukankah dengan sebotol susu kita bisa menyusui Mas Pisang?" dengan tersenyum si Kakek bertanya.
"Iya sih," jawab si Nenek.
"Maka bersyukurlah! Kita tidak boleh terlalu serakah karena keserakahan akan membawa ketidak berkahan," ujar si Kakek.
"Kakek ternyata sangat bijaksana, ya? Aw, 'AKu Terbius' dengan kebijaksanaan kakek, salut dan terharu," Bintang Malam bertepuk tangan.
"Ngomong-ngomong Dementor di sini apa ya?" tanya Gege.
"Dementor itu semacam makhluk penghisap kebahagiaan," jelas singkat Bintang Malam.
"Mungkin kami akan berakhir menjadi homo langues yang terpuruk sampai akhir hayat kami. Karena tidak bisa menyadari kehadiran peta semacam itu," ucap Gege bergidik ngeri.
"Jangan pesimis seperti itu! Di sana masih ada Naga Vanyu. Dia pasti akan menyelamatkan kita," sahut si Kakek.
"Tapi Ki, bagaimana kalau peta semacam demitor atau apalah itu juga menghisap kebahagiaan Naga Vanyu sampai habis?" sela si Nenek.
"Tingkatan Naga Vanyu itu lebih tinggi dari peta. Ya pasti menang Naga Vanyu lah," jawab si Kakek.
"Hm, berarti kehadiran peta Dementor di tengah kegelapan tidak akan menjadi masalah yang serius ya?" tanya Bintang Malam yang ditanggapi dengan anggukan oleh si Kakek.
"Oke. Mari kita lihat rekaman CCTV untuk mengetahui jawaban dari komentar yang belum terjawab!" lanjutnya.
Rekaman pun mulai diputar. Terlihat layar hitam pekat dengan percakapan sebagai berikut.
"Berapa lama lagi kegelapan ini akan berakhir," tanya si Kakek.
"Aku tidak tahu," jawab Naga Vanyu.
"Tidak bisakah kau menyemburkan api dari mulut atau matamu untuk menerangi tempat ini?" tanya si Kakek lagi.
"Kau lupa kalau aku ini naga air? Aku mungkin tidak bisa menyemburkan api. Tapi aku bisa menciptakan cahaya dari air," jawab Naga Vanyu.
"Kalau begitu lakukan!" perintah si Kakek.
"Sayangnya, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku saat ini. Energi yang sangat besar dari jantung pisang ini membuat aliran energi di tempat ini menjadi kacau. Seperti listrik yang konslet," jelas Naga Vanyu.
"Mungkin Naga Vanyu lupa membeli token listrik. Makanya lampunya padam," celetuk Gege.
"Kalau saja ada yang menjual token listrik untuk alam, aku pasti sudah mendatangi tempat itu, wahai Anak Muda!" jawab tegas Naga Vanyu.
Begitulah isi percakapan yang terselip antara episode enam belas hingga delapan belas. Mari kita lanjut ke rekaman berikutnya.
Kali ini terlihat seorang lelaki tengah duduk bersila sambil bersedekap di sebuah ruangan. Di depannya tergeletak selembar uang seratus ribu.
"Bisa jadi emas nggak ya?" batinnya sambil memandang uang itu.
Ya. Orang itu adalah Kang Cilok yang menerima uang dari si Wanita berambut orange yang menculik Gege. Kang Cilok telah berada di rumahnya.
"Jadi emas, jadi emas, jadi emas...," hatinya terus mengatakan itu secara berulang-ulang, namun tidak terjadi apa-apa pada uang tersebut.
Begitulah isi dari rekaman yang membosankan itu. Ireng bahkan sampai terkantuk-kantuk melihatnya.
"Kenapa semua kejadian itu bisa ditayangkan di sini?" tanya si Kakek.
"Jangan-jangan kau juga punya rekaman adegan mandimk?" tukas Gege.
"Itu rahasia perusahaan. Mari kita lanjut ke komentar berikutnya. Kali ini tentang Babang Ganteng Gege. Langsung kita comot perwakilannya!" ucap Bintang Malam.
@Maylea
"Si Gege anak pasar suka mencuri ketimun. Si Gans Gege dapat salam manis dari Maylea si Gadis Masa Depan."
@Yonadefiro
"Ada apa dengan Gege dan kuda-kuda? Daripada mengejar kuda, lebih baik mengejar aku saja!"
"Babang Gege sepertinya punya penggemar. Ehem. Terus ada tambahan salam dari @Yonadefiro untuk mendengarkan suaranya di audio book-nya," ucap Bintang Malam.
"Terimakasih untuk semua. Salam hangat untuk @Maylea. Dan nanti saya akan coba dengar suara @Yonadefiro," jawab singkat Gege seperlunya.
"Babang Gege beneran nggak mau saingan sama si Kancil? Ada loh beberapa teman pembaca yang sampai bernyanyi setelah melihat masa lalu Babang Gege," ujar Bintang Malam.
"Mencuri itu tidak baik. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Ngomong-ngomong aku penasaran dengan lagunya," jawab Gege seperlunya lagi.
"Si Gege anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas ditangkap, jangan diberi ampun!" Bintang Malam menyanyikan lagu anak-anak yang berjudul si Kancil.
"Hahaha lucu juga," respon singkat Gege.
"Kita lanjut membahas kakek dan nenek dengan perwakilan komentar berikutnya ya!" ucap Bintang Malam.
@Zhia
"Hallo, Tor! Baru baca sampai sini. Sudah memberi kesan yang baik tentang karya ini loh. Yang pertama aku benar-benar salut sama Nini dan Aki. Cinta mereka benar-benar sejati. Meskipun mereka belum diberi keturunan hingga usia tua renta. Kalau dikaitkan dengan hubungan jaman sekarang, pasti sudah cerai. Huhuhu. Cinta jaman sekarang banyak yang PHP. Eh? Kok aku malah curhat? Terus aku masih ngehalu tentang peta berkepala segitiga, matanya satu. Bukan sejenis setan, jin, atau apalah itu. Lalu jenis apa? Salut deh sama cerita ini berbeda dengan cerita lain. Pokoknya wish you the best."
@KaH KH Myumyauw
"Wah hebat sekali kakek bisa menghajar penjahat. Waktu muda makan apa?"
@Dai Ou
"Baru baca tapi sudah jatuh cinta sama karakter santui si Kakek."
@W Wiliandari
"Nininya pasti cantik aslinya."
@Yunana
"Kalau capek berdiri/duduk, Aki coba maju/mundur saja."
"Banyak loh yang kagum dengan hubungan kakek dan nenek seperti yang diungkapkan @Zhia. Apa sih resepnya?" tanya Bintang Malam.
"Hanya komunikasi dan saling mengerti," jawab si Kakek.
"Benar kita harus saling terbuka dan saling menguatkan," tambah si Nenek.
"Itu hal-hal sederhana yang mungkin sulit dilakukan sebagian orang. Lalu apa jawaban kakek atas pertanyaan Myu?" tanya Bintang malam.
"Pisang dan toge. Toge dimasukkan bakso itu nikmat loh! Terus setelahnya makan pisang," jawab si Kakek.
@Sep
"Sangat pisang wkwkwk."
"Judulnya juga Legenda Mas Pisang. Isinya juga pasti serba-serbi pisang," sahut Ireng.
@Deo
"Lahirnya ditemenin pisang."
"Bener banget @Deo! Lahirnya gantungan bersebelahan dengan buah pisang di pohon pisang," sahut Ireng lagi.
@Kani Suwaeba
"Jadi ingat jaman SD. Aku berasa baca dongeng."
"Sengaja ditulis seperti itu biar bisa nostalgia," sahut Sembrani.
"Oh, begitu ya. Ngomong-ngomong saya juga penasaran dengan masa muda kakek dan nenek. Pasti cantik dan ganteng ya," puji Bintang Malam.
"Makasih pujiannya semua. Saya jadi tersipu," ucap si Nenek.
"Apakah kakek akan melakukan saran @Yunana?" tanya Bintang Malam.
"Boleh juga. Sekalian kanan/kiri oke," jawab singkat si Kakek.
"Sekalian senam poco-poco ya, Kek? Hahaha," ucap Bintang Malam.
"Eh?! Aki tidak tahu bagaimana senamnya para pocong," kata si Kakek.
"Bukan pocong, Kek! Tapi Poco-Poco," jelas Gege.
"Berhubung kita sudah kehabisan kuota kata. Mari kita akhiri perbincangan di sesi ini!" potong Bintang Malam.
"Terimakasih buat teman-teman yang senantiasa meluangkan waktu untuk Legenda Mas Pisang," Ucap semuanya serempak.
"Terimakasih kepada teman-teman yang sudah menuliskan komentar kreatif dan dukungan di kolom komentar," ucap Ireng.
"Bila ada pertanyaan, jangan sungkan untuk mengungkapkannya di kolom komentar. Untuk pertanyaan yang belum terjawab, seperti siapa si wanita berambut orange, atau yang ingin mengenal peta di dunia LMP lebih baik, ikuti terus cerita ini ya!" lanjut Sembrani.
"Terimakasih untuk likes, votes, rates, dan favoritnya ya!" sambung si Kakek.
"Dukungan dan apresiasi kalian sangat berarti!" tambah si Nenek.
"Sampai jumpa lagi di sesi ES Lemang berikutnya!!!" imbuh Gege.
"Terus tuliskan komentar kreatif kalian di kolom komentar ya! Siapa tahu komentar kalian akan menjadi inspirasi pengisi sesi ES Lemang berikutnya. Otor Cho selalu membaca komentar kalian loh! dan berhalu dengan komentar tersebut," lanjutnya.
"Oh iya! Ada sedikit masukan dari @Dai Ou, dan @Yumi Nur. Tanda baca seperti tanda seru atau tanya itu sebaiknya melekat pada kata sebelumnya ya! Kalau dari Cho sendiri sih hanya ingin mengingatkan untuk menggunakan dialog tag bila terjadi percakapan di antara banyak tokoh. Agar tidak membingungkan. Mari belajar bersama!"
"Sekali lagi terima kasih semua. Kehadiran teman-teman selalu kami nantikan di episode mendatang!!!" seru kakek, nenek, Gege, Ireng, dan Sembrani.
Mari saling mendukung