Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Panggilan yang Tidak Disengaja
Setelah membaca pesan Kian, Ning duduk lama di tepi kasur.
Malam sudah terasa terlalu tua, tetapi perutnya kosong sejak siang. Obat dari rumah sakit masih berada di tas, dan ia belum makan apa pun yang cukup untuk menelannya. Tubuh ini memberi peringatan dengan cara yang jelas: lutut ringan, kepala pening, dan mulut pahit.
Di dekat gang menuju kontrakan, sebuah warteg kecil masih buka.
Lampu neon putihnya berkedip pelan. Di etalase kaca, tersisa tempe goreng, sayur daun singkong, telur balado yang tinggal dua, dan kuah bening yang permukaannya mulai dingin. Aroma bawang goreng dan sambal membuat perut Ning berbunyi pelan.
"Makan, Mbak?" tanya pemilik warteg, perempuan paruh baya dengan celemek batik yang sudah pudar.
Ning mengangguk. "Nasi sedikit, tempe satu, sayur saja, Bu."
"Pakai sambal?"
"Sedikit."
Pemilik warteg menyendok nasi ke piring plastik, menambahkan tempe dan sayur. "Lima belas ribu."
Ning membayar dengan uang tunai dari dompet. Angka itu kecil, tetapi setelah seharian melihat tagihan rumah sakit, ongkos ojol, dan saldo yang berubah karena transfer Felix, setiap rupiah terasa punya berat.
Ia duduk di meja paling ujung.
Suara televisi menggantung di sudut ruangan. Berita malam membahas kemacetan Jakarta dan harga bahan pokok. Dua pengemudi ojol makan sambil bercanda pelan. Di luar, motor lewat sesekali, lampunya menyapu lantai warteg yang kusam.
Ning menyuap nasi.
Rasanya sederhana. Tempe agak keras. Sayurnya terlalu asin. Tapi begitu makanan masuk ke perut, tubuhnya seperti baru ingat bahwa ia masih hidup.
Dulu, saat hamil, ia sering susah makan. Mual datang tanpa jadwal. Kadang ia hanya ingin bubur polos, kadang tengah malam tiba-tiba ingin sesuatu yang asam. Kevin tidak pernah banyak bicara. Ia hanya mengambil kunci mobil, keluar dengan wajah datar, lalu kembali membawa apa yang Ning sebutkan setengah bercanda.
Suatu malam, ia pernah ingin makan bubur hangat dengan suwiran ayam.
Kevin pulang empat puluh menit kemudian dengan tiga bungkus dari tempat berbeda.
Ketika Ning bertanya kenapa sebanyak itu, pria itu hanya berkata, "Aku tidak tahu yang mana yang kamu mau."
Ning tersenyum di atas piring warteg yang murah.
Senyum itu segera pudar.
Ia membuka ponsel, menatap pesan dari nomor asing itu lagi.
Pekerjaan tutor. Besok lanjut.
Kalimat Kian kering seperti daun jatuh, tetapi bagi Ning, itu lebih hangat daripada makanan di depannya.
Ia ingin membalas. Mengetik terima kasih terasa terlalu formal. Mengetik saya akan datang terasa terlalu biasa. Mengetik Mama pasti datang jelas tidak mungkin.
Akhirnya ia hanya menulis:
Baik. Saya datang besok.
Pesan itu terkirim.
Tidak ada balasan.
Ning menatap layar beberapa detik lagi. Di bawah riwayat chat dari Mbak Rina, ada nomor kontak yang dikirim untuk rumah Kian. Nama kontaknya: Kevin Nie.
Jantung Ning berdenyut tidak nyaman.
Ia tahu seharusnya tidak menyentuh nomor itu.
Tapi jarinya sudah bergerak, bukan untuk menelepon, hanya untuk melihat. Ia ingin memastikan angka-angkanya. Ingin tahu apakah nomor itu sama dengan nomor lama yang dulu pernah ia hafal lebih baik daripada tanggal ulang tahunnya sendiri.
Layarnya retak. Sentuhannya meleset.
Panggilan tersambung.
Ning membeku.
Ia cepat-cepat hendak menekan tombol merah, tetapi suara di seberang sudah masuk lebih dulu.
"Halo."
Satu kata.
Lebih rendah daripada enam belas tahun lalu. Lebih tenang. Lebih berat. Tetapi tetap suara yang sama.
Sendok di tangan Ning jatuh ke piring.
Pemilik warteg menoleh. "Mbak?"
Ning cepat mengambil sendok itu, lalu berdiri. Ia keluar dari warteg dengan ponsel menempel di telinga, napas kacau.
"Halo?" suara Kevin terdengar lagi, kali ini sedikit lebih dingin.
"Maaf." Ning menelan ludah. "Saya... saya Ning. Tutor privat yang tadi datang ke rumah."
Ada jeda singkat.
"Saya tahu."
Dua kata itu membuat Ning hampir lupa bernapas.
"Saya tidak sengaja menekan tombol panggil," lanjut Ning cepat. "Maaf mengganggu malam-malam."
"Ada masalah dengan Kian?"
Cara Kevin menyebut nama anak mereka membuat dada Ning sakit. Pendek, datar, tetapi ada perhatian yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.
"Tidak. Maksud saya, tadi dia..." Ning berhenti. Ia tidak ingin mengadukan Kian seperti orang asing. "Dia belum siap belajar. Tapi barusan ada pesan masuk. Katanya pekerjaan tutor besok lanjut."
"Kalau begitu datang besok."
Ning menggenggam ponsel lebih erat. "Pak Kevin tidak keberatan?"
"Kalau Kian mengirim pesan, berarti dia mengizinkan." Suara Kevin tetap tenang. "Datang sesuai jadwal."
"Baik."
Seharusnya percakapan selesai di sana.
Ning tahu itu.
Namun di depannya, gang menuju kontrakan tampak gelap. Lampu jalan di ujung gang mati. Kabel listrik melintang di atas seperti garis hitam. Dari dalam, terdengar suara laki-laki tertawa keras, lalu botol plastik jatuh.
Ingatan tubuh ini memberi rasa takut yang sangat tua.
Malam. Gang sempit. Langkah kaki mabuk. Pintu kontrakan yang tipis.
Ning menahan napas.
"Ada lagi?" tanya Kevin.
Ia seharusnya berkata tidak.
Tapi suara itu terlalu dekat dengan masa lalu yang pernah membuatnya merasa aman.
"Bisa..." Ning menggigit bibir, malu pada dirinya sendiri. "Bisa jangan tutup dulu sebentar?"
Di seberang, Kevin diam.
Ning cepat berkata, "Saya sedang jalan pulang. Gang kontrakan agak gelap. Saya tidak akan bicara macam-macam. Lima menit saja."
Masih sunyi.
Ning mulai menyesal. "Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Maaf, saya lancang."
"Jalan."
Ning berhenti.
"Saya tidak akan tutup," kata Kevin.
Hanya itu.
Namun mata Ning langsung panas.
Ia melangkah masuk ke gang.
Di telinganya, suara napas Kevin terdengar sangat pelan. Sesekali ada bunyi kertas dibalik, mungkin ia masih bekerja. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada pertanyaan berlebihan. Tapi panggilan itu tetap tersambung.
Ning berjalan melewati warung tertutup, jemuran yang bergerak pelan terkena angin, dan genangan air kecil yang memantulkan lampu rusak. Seekor kucing melintas di depan kakinya, membuatnya hampir tersandung.
"Hati-hati," kata Kevin tiba-tiba.
Ning membeku sesaat. "Anda dengar?"
"Langkahmu berhenti."
Sama seperti dulu.
Kevin selalu menangkap hal kecil yang bahkan Ning sendiri tidak sadar ia tunjukkan.
"Saya hampir tersandung," jawab Ning, suaranya melembut tanpa bisa ia cegah.
"Lihat jalan."
"Iya."
Mereka diam lagi.
Aneh. Bersama Kevin dalam diam selalu lebih menenangkan daripada mendengar seribu kalimat dari orang lain.
Ketika pintu kontrakan akhirnya terlihat, Ning menghela napas lega.
"Saya sudah sampai."
"Kunci pintunya."
"Sudah."
"Minum obat."
Ning menatap kantong obat di tasnya, lalu tersenyum kecil. "Iya."
Panggilan langsung terputus.
Ning menatap layar gelap beberapa detik.
Kevin tetap Kevin.
Dingin, pendek, seolah tidak peduli. Tapi ia tidak menutup telepon sebelum memastikan Ning sampai.
Kamar kontrakan masih panas dan sempit. Kipas angin berdecit seperti tadi. Ning menyalakan lampu kecil, mengunci pintu, lalu membuka kulkas mini di sudut. Di dalamnya hampir kosong. Hanya ada botol air, satu bungkus nasi basi yang tidak berani ia sentuh, dan kotak kecil berisi kue bulan.
Ning mengambilnya.
Di label plastik tertulis rasa delima.
Tangannya berhenti.
Hari itu rupanya malam Festival Kue Bulan.
Delima adalah buah kesukaannya dulu. Kevin pernah menanam pohon delima di halaman rumah karena ia berkata buah itu terlihat seperti permata kecil yang bisa dimakan. Ning menertawakannya selama dua hari, tetapi ia diam-diam sangat menyukai pohon itu.
Ia duduk di kasur, membuka kue bulan itu pelan, lalu menggigit sedikit.
Manisnya memenuhi mulut.
Air mata jatuh lagi, tetapi kali ini Ning tidak menghapusnya.
Di malam yang sama, di Menteng Enclave, meja makan rumah nomor satu sudah sepi. Bi Ruan meninggalkan sepiring buah delima dan beberapa potong kue bulan untuk tuan rumah, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar dihapus.
Kian turun tanpa suara.
Ia menatap piring itu lama, lalu mengambil satu potong kue bulan rasa delima dan beberapa biji delima merah ke dalam mangkuk kecil.
Tidak ada yang melihatnya naik kembali ke kamar.
Di depan jendela, dengan lampu kamar dimatikan, Kian duduk sendirian menatap bulan.
Ia menggigit kue bulan itu pelan.
Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak membuang kertas kecil berisi nomor ponsel Ning.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya