Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.
Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.
Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.
Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?
Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Past in a Dream : Gerimis Cerah
Langit warna biru muda terlihat begitu segar seakan mengusir dahaga. Riuhnya dunia luar dengan lalu-lalang jalanan masih terdengar damai, seperti kicauan burung di pagi hari. Tidak banyak orang bertebaran, begitu juga pengendara yang memacu kendaraannya. Lumi merasa diuntungkan dengan keadaan. Anjing jenis Labrador Retriever berwarna coklat berjalan memandu pemiliknya. Setelah kejadian kursi itu, Lumi langsung pergi berjala-jalan ke taman untuk mencari udara segar dan mencari ketenangan diri. Emosinya yang membuncah tadi pagi, membuat energinya sedikit terkuras. Berharap jalan-jalan sejenak, mengurangi stresnya.
Baru saja hatinya tentram dan merasa diuntungkan. Suara roda dua melaju begitu cepat terdengar menyapa pendengarannya. Langkah kaki Lumi terhenti kala lajunya roda tersebut semakin mendekat ke arahnya. Dia segera melangkah mundur seraya menarik anjingnya untuk menepi bersamanya. Walaupun sudah menepi entah kenapa kecelakaan tetap terjadi.
Brugh! Prak!
Suara derit rantai sepeda terdengar bergemericik.
Tubuhnya terjatuh, akibat kelalaiannya yang tidak memperhatikan jalanan. Matanya yang mengantuk membuat lagu sepedanya oleng tak teratur, bahkan pria itu tak menyadari akan adanya seseorang di depannya. Hingga dia tak bisa mengendalikan rem sepeda secara mendadak.
"Akh, sialan," ringisnya seraya bangkit dari jatuhnya yang tengkurap. Perih terasa pada telapak tangan kanannya yang tergores aspal jalanan.
Wajahnya mulai berpaling menatap Lumi yang tengah terdiam, mendengarkan kejadian yang terjadi. Seraya bibirnya yang terus mengaduh, pria itu menghampiri Lumi dengan rasa kesal.
"Apa kau tidak punya mata," bentaknya menyalahkan Lumi.
Saling berhadapan, hidung Lumi samar berkedut mencium sesuatu. Bau mie instan, bau masam khas bangun tidur bahkan aroma kasur yang apek tercium dari pria dihadapannya. Lumi bisa menebak pria tersebut baru bangun tidur dengan noda mie yang masih tertinggal di bajunya — dan tebakan Lumi memang benar. Pria yang terus berceloteh dan mengumpat padanya, penampilannya sungguh kacau seperti tak terurus. Entah karena baru bangun tidur atau memang kehidupannya tidak bersih dan disiplin — yang jelas pria dihadapannya sungguh tak berbau sedap.
"Apa kau mendengarkanku? Kearah mana matamu itu melihat?" gerutu pria tersebut, merasa di acuhkan seraya melihat arah pandang Lumi. "Hey aku di sampingmu," keluh pria itu menghampiri Lumi lebih dekat.
Saat dirinya begitu dekat pada wajahnya, dia merasakan aneh — kenapa Lumi tidak bergeming dan masih acuh. Dahinya mengernyit kebingungan, matanya mulai menelaah turun dan sait itu dia melihat ada tongkat ditangannya.
"Akh, sialan! ini tidak adil. Sebaiknya kau jangan menyusahkan orang lain." Frustasi pria tersebut menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya berjalan menghampiri sepedanya yang tergeletak.
"Kau tak sadar dirikah," ketusnya seraya mengangkat sepedanya. "Kalau kau buta sebaiknya kau tinggal diam di rumah, jangan menyusahkan orang yang normal. Kalau begini siapa yang disalahkan," hardiknya menatap remeh bercampur kesal pada Lumi.
Sementara Lumi hanya terdiam dan membisu. Bukan karena takut — tapi dirinya tengah mencerna apa yang terjadi.
"Saya minta maaf," ucap Lumi pelan dan datar. "Tapi sepertinya mata Anda lebih buta dari saya. Anda jatuh di belakang saya, padahal saya dan anjing saya sudah menepi. Apa mata itu berguna. Bagaimana Anda tidak melihat orang yang ada di depan Anda," sarkas Lumi, membela dirinya — mempertahankan harga dirinya.
Pria tersebut ternganga marah, matanya nyalang, dia tidak terima Lumi menyalahkannya. Kepalan tangan mulai terlihat pada pria itu, dia ingin memukul Lumi. Tapi niat itu dia urungkan karena melihat anjing yang di samping Lumi sudah menunjukkan gigi taringnya dan siap menerkamnya kapan saja. Rasa kesal dan juga malu karena dia menyadari kesalahannya. Pria tersebut dengan cepat pergi melaju dengan sepedanya.
Mata Lumi yang terlihat tidak bernyawa, sebenarnya dia merasa sedih. Semilir angin menyentuh tengkuk lehernya. Lumi kemudian berbalik. Suara air mengalir lembut sedikit deras dibawah aspal hitam yang dia pijak. Kakinya melangkah lebih dekat mencapai batas penyangga. Semilir angin sejuk mulai lebih jelas menerpa wajahnya — rambutnya tersibak ke belakang.
Pikiran Lumi seketika kosong kemudian ada satu juntaian benang. Sehelai benang itu mulai Lumi tarik hingga membentuk kumpulan benang yang berbelit dan kusut. Itu tidak ada ujungnya dan menenggelamkan Lumi dalam helaian benang yang bergulung.
Lumi teringat umpatan pria tadi, hatinya berdenyut nyeri merasa dunia mengasingkan dirinya. Lumi merasa rendah diri akan dunia yang tak akan bisa adil. Tangannya mulai mengucek kasar kedua matanya. Dia merasa kesal dan melampiaskan itu pada matanya. Hatinya yang masih pilu, merutuki keadaan merasa tidak puas hanya dengan mengusap kasar. Dia menepuk kedua matanya, seakan menampar kedua pipinya. Hati yang sulit, Lumi mencoba menenangkan emosinya.
Tarikan nafas panjang dan hembusan perlahan membuat Lumi sedikit membaik.
"Ayo...." Lumi menarik tali harness yang terikat pada anjingnya dan melanjutkan perjalanan mereka.
.
.
.
.
Aroma tanah dan kayu yang natural tercium hidung Lumi. Tubuh yang membawa beban hidup dalam dirinya, mencoba mencari ketenangan sejenak di taman kota. Semilir angin sejuk menghilangkan rasa lelah Lumi. Gemerisik daun oleh angin terdengar seperti musik dalam telinganya. Lumi menengadahkan kepalanya, seakan tahu langit sedang cerah sekarang. Bisa dia rasakan dari suasana yang hangat dan damai — dimana sejuknya angin masih terasa.
"Aku ingin melihat langit," gumamnya sendu yang tengah terduduk di bangku taman berlatar pohon yang besar dan tinggi menaunginya oleh dedaunan hijau segar yang rimbun — menghalangi sinar matahari tembus secara langsung.
Angin berdesir lembut menggoyangkan dahan dan dedaunan. Nampak sorot cahaya yang masuk melalui celah dedaunan yang rimbun ikut goyah — cahaya itu menari-nari di permukaan tanah. Selain usiknya angin — ternyata angin itu membawa wangi yang samar daru pohon di belakang kursinya.
"Manis, paper mint, dan pahit," gumam Lumi terheran dengan penciumannya.
Suara percikan tipis air terdengar dari arah depan. "Apakah di depanku ada danau?" terkanya teralih dari penciuman anehnya.
Tubuhnya mulai menurun berjongkok, memastikan apa yang dia tebak. Kedua tangannya terbentang meraba-raba rumput dan tanah. Hingga jemarinya menyentuh benda kecil keras yang bentuknya tidak teratur. Dia raih — dan dia lempar kerikil itu. Bunyi riak air terdengar setelahnya. Prasangka Lumi ternyata benar, di depannya ada danau.
Tubuhnya kembali bangkit dan terduduk perlahan di atas bangku. Tangannya membelai halus anjing berbulu lebat tersebut yang berada di bawah bangku.
"Ayo kemari Hans!" titah Lumi dibarengi tepukan pada pahanya.
Hans, anjing pintar itu langsung melompat ke atas bangku. Dia mulai merebahkan dirinya dengan kepalanya di atas paha Lumi. Belaian halus tangan Lumi pada kepala Hans membuatnya tertidur tenang.
Tak terasa sudah tiga bulan dari hari kecelakaan itu — kecelakaan yang merenggut cahayanya, menggelapkan dunia yang sebenarnya. Kecelakaan itu mengambil penglihatannya. Harus bersyukur atau putus asa, Lumi hanya bisa bangkit dan mengerjakan apa yang sudah dia tanggung. Keterkejutan dirinya yang buta tidak membuat dia meratapi nasib terlalu lama. Kepemimpinan masih ada di tangannya. Lumi yang bekerja di rumah tidak membuat perusahaan menurun. Perusahaan tetap pada angka yang stabil. Lagipula yang cacat bukanlah otaknya, hanya mata, Lumi masih bisa mengurus itu.
Saat Lumi memikirkan hal itu, satu tetes air jatuh menyentuh pipinya. Spontan Lumi menyeka basah di pipinya. Dia mulai kebingungan dari mana asalnya tetesan air tersebut. Kemudian satu tetes lainnya kembali turun, menjadi lebih lebat. Lumi merentangkan tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka. Tetesan kecil seperti percikan itu kini mulai menjadi rintik air.
"Ah, sial.... gerimis." Lumi mulai membuka jaketnya dan menutupi tubuh Hans anjingnya ketimbang dirinya.
Alih-alih untuk mencari tempat berteduh, Lumi membiarkan dirinya kehujanan di tengah cuaca hangat. Tubuhnya merasa enggan untuk bergerak. Dia memilih pasrah, membiarkan rintik hujan membasahinya.
Saat Lumi terbenam dalam rintik hujan. Tiba-tiba rintik itu menghilang bersamaan suara yang bergemeretak kecil begitu riuh.
"Kau tidak perlu memayungiku," ucap Lumi yang tahu akan kehadiran seseorang di hadapannya.
"Wah, bagaimana kau bisa tahu ada orang yang memayungimu." Suara wanita itu terdengar kagum.
"Aku tahu dari wangimu," ungkap Lumi yang membuat wanita itu ternganga kagum.
"Benarkah? Menurutmu wangi parfumku seperti apa?" tanya wanita itu nadanya bersemangat.
"Wanginya seperti permen paper mint yang manis tapi ada sedikit sensasi pahit."
'Kenapa aku menjawab pertanyaannya?' Lumi termenung dengan respon spontan yang dia lontarkan. Tidak biasanya dia merespon orang asing.
"Wow, kau hebat," puji wanita itu yang memberanikan dirinya untuk duduk di samping Lumi.
"Siapa yang mempersilahkan kau duduk di sampingku? Jika kau hanya merasa kasihan padaku lebih baik urungkan niatmu. Aku tidak membutuhkannya," ungkap Lumi begitu dingin.
"Ternyata kau pria yang dingin dan — angkuh," lontar wanita itu membuat Lumi sedikit tersentak hatinya. Namun, Lumi sudah terbiasa dengan hal tersebut.
"Tapi aku tak peduli, aku terlanjur melihatmu. Wanita baik ini tidak bisa membiarkannya. Jadi terima saja belas kasihanku ini pria sombong," kukuhnya seraya tertawa pelan di akhir kalimatnya terdengar begitu renyah.
"Ayo kita nikmati saja suara rintik hujan yang hangat ini, mungkin ini bisa membuatmu mencair." Wanita itu tertawa kembali kala melontarkan candaannya.
"Rasa sedih tidak harus selalu mendung tapi hangat yang menjalar juga ada, itu disebut rasa terharu," ungkap wanita tersebut tanpa alasan yang jelas kenapa dia mengatakan hal tersebut.
Lumi hanya terdiam mencoba tidak peduli. Namun itu patut disyukuri — merasakan seseorang menemani hatinya yang hampa, tidak seburuk yang dia bayangkan. Kalimat yang tak henti keluar dari wanita itu membuat Lumi merasa aneh. Untuk pertama kalinya Lumi merasa sedih itu menjadi hangat.