cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Hati Seluas Samudra
*
Selamat membaca⬇️
***
Satu bulan sudah Anita tinggal bersama dengan Rissa. Wanita yang dulunya dia anggap sebagai rivalnya, untuk mendapatkan perhatian seorang Barra Prayoga. Pria yang berkepribadian tenang dan penyayang.
Barra yang tampan dan berkarisma, serta sangat perhatian. Membuatnya lupa akan statusnya yang telah bersuami. Apalagi setelah tahu bahwa dirinya hamil, dan keberadaan suami yang tak tahu rimbanya. Maka terbersit lah dalam hatinya untuk menjadikan Barra sebagai ayah dari anak yang dikandungnya. Dirinya menyadari bahwa bukan tidak mungkin jika suatu saat, sang suami akan menceraikannya. Mengingat mereka hanya menikah secara siri. Dan dugaannya ternyata tidak meleset. Kini statusnya telah menjadi janda. Akan tetapi dirinya justru tengah mengandung benih pria yang telah menalaknya.
Di dalam kamar yang di tempatinya Anita terpekur. Merenungi semuanya. Mengingatkan kembali pada keluarganya yang telah jatuh dan bangkrut karena nafsu duniawi. Papa dan mamanya adalah orang yang gila judi. Sehingga menjadi gelap mata, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Termasuk skandal korupsi yang membawanya masuk ke dalam bui.
Padahal tidak ada orang yang kaya karena judi. Hingga pada akhirnya karena terlibat hutang merekapun tanpa rasa bersalah menumbalkan Anita sebagai penebus hutang.
Kedua orangtuanya memaksanya untuk menikah dengan pemilik kasino tersebut. Awalnya Anita menolak. Namun karena ancaman orang tuanya, akhirnya hanya bisa pasrah. Karena dirinya tidak tahu alasan di balik ayahnya menikahkan dirinya dengan Riko. Suatu ketika secara tidak sengaja dia mendengar percakapan Riko dan ayahnya. Dari situlah Anita yang penasaran pun mulai curiga. Lalu diam-diam menyewa sesorang untuk menyelidiki, ada skandal apa antara suami dan ayahnya. Lewat seseorang yang disewanya Anita mengetahui semuanya dan hal itu membuatnya syok.
Tes...
Butiran bening jatuh tanpa diminta. Hingga lama kelamaan semakin deras, laksana hujan lokal. Dipukul dadanya yang terasa sangat menyesakkan.
Seminggu setelah dirinya tinggal di rumah Rissa, Anita mendapatkan kabar bahwa papanya telah membaik. Dan kembali dibawa ke tahanan. Dan setelah berkasnya lengkap serta melewati serangkaian sidang, pak Kuncoro dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Karena ternyata banyak sekali kasus yang terungkap, yang melibatkan papanya. Termasuk penipuan berkedok investasi.
"Apakah kamu ingin menemui Papamu Nit?" tanya Rissa kala itu
"Tidak Mbak. Nita malu untuk menampakkan diri. Dialah yang membuat Nita seperti ini," jawab Anita sendu
"Kalau kamu ingin menemuinya, ayo aku antar. Bagaimanapun juga beliau adalah Papa kamu," saran Rissa.
"Nita tidak mau Mbak. Biarlah dia mempertanggung jawabkan perbuatannya," jawab Anita keukeuh pada pendiriannya.
"Ya sudah kalau begitu, terserah kamu. Istirahatlah jangan terlalu banyak berfikir. Nanti bisa berpengaruh pada bayimu." Rissa menasehati. Anita hanya mengangguk, menanggapi nasehat Rissa.
Karena pada kenyataannya mental Anita menjadi down kembali. Tatkala melihat berita di tivi. Riko sang mantan suami, akhirnya berhasil diringkus oleh pihak berwajib. Setelah melalui proses penangkapan yang alot.
Kini keluarga satu satunya tinggallah sang ibu. Namun tidak bisa diandalkan.
Anita benar-benar terpuruk saat ini. Sehari harinya dia hanya mengurung diri di kamar. Dirinya hanya akan keluar kamar jika ada Rissa di rumah. Janin yang dikandungnya sudah berusia 20 minggu. Rissa selalu rutin mengantar Anita ke dokter untuk memeriksakan kandungannya.
Anita tersenyum getir di tengah isak tangisnya. Nyatanya wanita yang dianggapnya sebagai rival itulah, yang kini mau menampungnya. Dan selalu ada di saat dirinya terpuruk seperti ini. Memberikannya tempat yang nyaman untuknya tinggal. Padahal dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Maafkan Nita Mbak. Hatimu bagai seluas samudra, masih mau menerima Nita. Padahal kamu tahu, kalau Nita hampir saja, menghancurkan rumah tanggamu." Anita makin tergugu dan menyesali semuanya
***
Sementara di kantor, Rissa sangat tidak tenang. Dia memikirkan kondisi Anita yang sepertinya tidak baik baik saja. Ibu satu anak itu terlihat gelisah di tempat duduknya. Berulang kali melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Sehingga memancing perhatian Winda rekan sekantornya yang tempat duduknya tepat berada di samping tempat duduk Rissa.
"Kamu kenapa Ris? Kelihatannya gelisah bener. Ada apa? Mau cerita sama Mbak?" tanya Winda setengah berbisik.
"Nanti aja deh Mbak, pas waktu istirahat," sahut Rissa
Hingga tepat pukul 12.00 saat jam makan siang. Winda lantas menarik tangan Rissa karena rasa penasaran yang tak terbendung.
"Cepat cerita sama Mbak. Tidak biasanya kamu seperti ini. Ada yang mengganggu pikiranmu kah?" cecar Winda ketika mereka telah sampai di sebuah kafe. Tempat yang menjadi pilihan Winda membawa Rissa. Agar leluasa menceritakan masalahnya. Kafe tersebut sangat luas. Namun Winda memilih tempat outdoor yang agak sepi.
"Sebaiknya kita pesan makan dulu Mbak. Biar tidak membuang waktu," ucap Rissa
"Oke," sahut Winda. Kemudian dia memanggil waitress, untuk memesan makanan. Selesai memesan makan Winda segera menagih penjelasan Rissa.
"Sekarang ceritakan sama Mbak. Apa yang menjadi beban pikiranmu kali ini? Apa si Barra bikin ulah lagi atau si pelakor itu?" tanya Winda tidak sabar.
"Tenang dong Mbak. Oke aku cerita." Rissa menegakkan posisi duduknya dan berkata dengan lirih.
"Sebenarnya aku ehmmm... sudah sebulan ini, Anita tinggal di rumahku..." Belum selesai Rissa bicara, Winda sudah langsung berseru, memotong ucapannya.
"Whaaattt... ?!" seru Winda.
" Ssssttt... Apaan sih mbak. Jangan keras-keras, tidak enak kedengaran yang lain." Rissa berbisik seraya menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Sorry-sorry. Mbak terkejut soalnya. Coba tolong beri alasan kenapa kamu membawanya tinggal di rumahmu?" tanya Winda sambil terkekeh
"Alasan aku membawanya, karena melihat kondisi mentalnya. Dia tidak mungkin tinggal sendirian, tanpa ada yang mendampingi," ucap Rissa lirih.
Winda terlihat manggut manggut, lantas berucap, "Sebenarnya Mbak tidak mengerti dengan jalan pikiranmu deh, Ris."
"Kenapa begitu, Mbak?"
"Ya gila aja kamu. Malah membawa uler masuk ke dalam rumah. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti, dia akan mematukmu loh Ris." Winda mengungkapkan pendapatnya.
Rissa menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya. Namun yang terjadi kemudian, dia malah membisikkan sesuatu pada rekan yang sudah dianggapnya kakak sendiri tersebut.
"Astaghfirullah Ris. Kamu itu baiknya kebangetan deh. Apa ini definisi hati seluas samudra ya Ris?"
"Maksudnya?"
"Sudah jelas-jelas kamu tahu, wanita itu hampir merebut suamimu. Dan di saat dia terpuruk seperti ini, justru kamu lah yang hadir memberikan uluran tangan."
"Aku melakukannya atas dasar kemanusiaan. Meski pada awal tujuannya berbeda dan tidak ada niat."
"Tapi Mbak salut banget sama kamu, Ris." Winda menjeda ucapannya sejenak, karena waitress datang membawa makanan yang dipesannya, setelah waitress tersebut pergi, dia kemudian melanjutkan ucapannya kembali...
"Hanya saja kamu mesti hati hati. Orang labil seperti dia bisa berbuat apa saja," ujar Winda menasehati
"Iya Mbak. Dan aku juga sudah mengungsikan suamiku di tempat yang aman, untuk dia tinggal sementara di sana," jelas Rissa.
"Bagus itu. Ternyata kamu sudah selangkah di depan ya Ris. Memang sih aku akui. Suami kamu itu sangat karismatik. Jadi ya tidak aneh kalau ada perempuan yang gatel ingin nempel-nempel manja kayak ulet," ucap Winda.
"Haaah... Apa jangan-jangan, Mbak Winda juga suka ya, sama suamiku?" tanya Rissa mengedip kedipkan matanya dengan mimik wajah yang dibuat sememelas mungkin.
Tawa Winda langsung meledak. "Siapa juga yang tidak suka melihat laki-laki yang bening macam suami kamu itu Ris. Tapi sayangnya aku bukan tipe wanita penggoda. Karena bang Arman jauh lebih menggoda." Winda menanggapi ucapan Rissa dengan candaan. Karena ia tahu bahwa ucapan Rissa juga hanyalah gurauan. Jadilah keduanya tertawa bersama.
Selanjutnya mereka berdua menyantap makanan yang tadi telah dipesannya. Diselingi dengan obrolan. Hingga waktu tak terasa hampir mendekati akhir jam makan siang.
"Astaga Ris. Tidak terasa hampir satu jam kita di sini. Ayo kita kembali." Winda lantas berdiri.
"Iya ya Mbak, tidak terasa. Terlalu asyik mengobrol," sahut Rissa sembari terkekeh
Setelah membayar makanan yang tadi disantapnya. Mereka berdua bergegas kembali ke kantor.
Sementara itu keduanya tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari tadi.
Kira kira siapa ya orang itu...
Ikuti terus yuk...stay tune
...----------------...