NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur Saja...Sedikit

Beberapa menit berlalu. Setelah seluruh bagian kebaya selesai di tandai oleh sang desainer, Kanaya kembali berganti pakaian sebelum keluar dari kamar tamu. Kini giliran Dirga yang diminta untuk melakukan pengukuran beskap yang telah di pilih Kanaya beberapa saat sebelumnya.

Prosesnya berlangsung jauh lebih singkat. Dirga hanya berdiri tegak tanpa banyak bicara sementara sang desainer mencatat ukuran bahu, lingkar dada, panjang lengan, hingga panjang celana. Sesekali pria itu hanya mengangguk singkat saat di minta mengangkat kedua tangan atau berbalik. Kurang dari lima belas menit, seluruh pengukuran pun selesai.

"Sudah, Pak Dirga. Semua ukurannya sudah lengkap," ucap sang desainer sambil menutup buku catatannya.

Dirga hanya menganggukkan kepala pelan sebelum kembali mengenakan jam tangannya. "Baik."

Setelah semuanya selesai, mereka kembali menuju ruang tamu. Beberapa vendor yang sejak tadi menunggu mulai membereskan katalog . Laras tampak masih berbincang dengan wedding organizer mengenai susunan acara, sementara Wina sesekali ikut memberikan pendapat.

Melihat Dirga dan Kanaya kembali duduk, Laras mengembuskan napas lega.

"Syukurlah, berarti urusan baju sudah selesai. Tinggal catering dan beberapa detail kecil saja."

Wedding organizer itu mengangguk sopan. "Kalau konsepnya sudah di sepakati hari ini, kami bisa langsung mulai mempersiapkan semuanya."

"Bagus." Laras tersenyum puas sebelum pandangannya bergantian mengarah kepada Dirga dan Kanaya. "Kalau urusan orang tua hampir selesai, sekarang gantian kalian."

Keduanya spontan menoleh.

"Kalian dari tadi duduk, saling menatap, tapi ngobrolnya belum." Laras terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. "Masa calon pengantin masih secanggung ini?"

Kanaya hanya menundukkan kepala sambil tersenyum tipis, sedangkan Dirga tetap memasang ekspresi datarnya.

"Ibu..."

"Tidak ada bantahan, Dirga." Laras langsung memotong ucapan putranya sambil menunjuk ke arah taman kecil di samping rumah. "Di samping ada taman yang lumayan adem. Sana, ngobrol sebentar."

Dirga mengembuskan napas pelan. "Memangnya harus sekarang?"

"Iya, sekarang." Laras menjawab tanpa memberi ruang untuk menolak. "Nanti kalau sudah menikah jangan sampai masih bingung mau ngobrol apa."

Kanaya perlahan mengangkat wajahnya, lalu melirik sekilas ke arah Dirga seolah menunggu keputusan pria itu.

Dirga terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbalik, kemudian menoleh singkat ke arah Kanaya.

"Ayo."

Ajakan itu terdengar datar seperti biasanya, tetapi cukup membuat Kanaya ikut berbalik. Ia membenarkan letak tas kecil di bahunya terlebih dahulu sebelum mengangguk pelan.

"Iya, silahkan."

Di bawah tatapan puas kedua ibu mereka, Dirga melangkah lebih dulu menuju pintu samping rumah. Kanaya berjalan beberapa langkah di belakangnya, sementara suara percakapan para vendor kembali memenuhi ruang tamu ketika kedua calon pengantin itu perlahan menghilang menuju taman samping rumah.

...****************...

Taman kecil disamping rumah itu tampak begitu tenang di malam hari Semilir angin sesekali menggoyangkan dedaunan, sementara cahaya bulan yang menyelinap di sela-sela pepohonan, menciptakan bayangan yang memanjang di atas hamparan rumput.

Kanaya dan Dirga duduk berdampingan di sebuah bangku taman berbahan kayu. Meski hanya di. pisahkan oleh jarak beberapa puluh sentimeter, tak satu pun dari mereka membuka pembicaraan.

Dirga duduk dengan kedua siku bertumpu di atas paha, sesekali memandang lurus ke depan, sedangkan Kanaya lebih banyak memperhatikan taman kecil yang membentang dihadapan mereka.

Keheningan itu berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Kanaya mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum kecil.

"Hidup ini kadang aneh ya, Pak Dirga."

Suara lembut itu membuat Dirga menoleh sekilas.

"Aneh kenapa?" tanyanya singkat.

Kanaya tidak langsung menjawab. Pandangannya masih lurus ke depan, menikmati hembusan angin yang perlahan menerbangkan beberapa helai rambut disisi wajahnya.

"Kita tidak saling memilih," ucapnya pelan. "Tapi justru Tuhan yang memilih kita."

Beberapa detik ia terdiam, lalu kembali melanjutkan dengan senyum tipis yang masih menghiasi wajahnya.

"Apa Anda percaya kalau Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati manusia?"

Dirga kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

"Entah."

Jawaban singkat itu justru membuat senyum Kanaya sedikit melebar.

"Saya percaya."

Dirga tidak menyela.

"Makanya..." lanjut Kanaya pelan. "Selama pernikahan kita nanti, saya akan tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk Anda."

Kalimat itu membuat Dirga kembali menoleh ke arahnya.

"Entah Anda menerimanya atau tidak, itu hak Anda." Kanaya membalas tatapan pria itu dengan tenang. "Dan sesuai permintaan Anda, saya juga tidak akan mencampuri sedikit pun urusan pribadi Anda."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Tatapannya masih lurus menembus hamparan taman didepan mereka, seolah kata-kata berikutnya sengaja ia pilih dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar sebagai keluhan.

"Termasuk... urusan Anda dengan kekasih Anda. Saya juga tidak akan ikut campur."

Kalimat itu membuat suasana kembali tenggelam dalam keheningan. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di atas kepala mereka dan sesekali menerbangkan beberapa helai rambut Kanaya ke depan wajahnya.

Dirga tidak segera menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah halaman rumah, sementara jemarinya saling bertaut di atas lutut, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya memecah keheningan dengan suara yang tetap datar, tetapi kali ini terdengar sedikit lebih pelan.

"Kamu kecewa dengan syarat ynag kuberikan?"

Kanaya memalingkan wajahnya ke arah Dirga. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tidak terlihat, lalu ia menganggukkan kepala dengan jujur.

"Jujur saja... sedikit."

Ia tidak berusaha menutupi perasaannya. Baginya, tidak ada gunanya berpura-pura kuat hanya untuk menjaga suasana tetap baik.

"Tapi tidak masalah, Pak Dirga," lanjutnya pelan sambil kembali mengalihkan pandangan ke depan. "Seperti yang saya katakan tadi... Tuhan Maha mmbolak-balikkan hati manusia. Hari ini mungkin kita berpikir seperti ini, tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi nanti?"

Dirga memandang perempuan di sampingnya beberapa saat. Entah apa yang sedang di pikirkannya, wajahnya tetap sulit di tebak seperti biasa. Namun, setelah menghembuskan napas pelan, ia akhirnya kembali membuka suara.

"Aku tidak ingin memberimu harapan."

Kanaya mengangguk pelan, seolah sejak awal memang sudah memahami maksud kalimat itu.

"Saya tau."

"Karena itu jangan berharap terlalu banyak."

Senyum tipis kembali muncul di wajah Kanaya. Tidak ada raut kecewa ataupun marah. Ia hanya mengangguk pelan sambil menjawab dengan suara selembut biasanya.

"Hmm... tentu saja, Pak Dirga."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini rasanya tidak lagi secanggung sebelumnya. Mereka sama-sama membiarkan angin malam mengambil alih percakapan yang baru saja selesai, hingga akhirnya Dirga kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari taman di depan.

"Setelah menikah nanti, apa kamu akan melanjutkan pendidikanmu?"

Pertanyaan itu membuat Kanaya sedikit menoleh. Ia tidak menyangka Dirga akan menanyakan hal tersebut.

"Iya," jawabnya mantap. "Saya tetap akan melanjutkan S2. Apa boleh?"

Dirga menganggukkan kepala tipis. "Silahkan."

"Aku tidak akan menghalangi ataupun mengganggu aktifitasmu. Lakukan saja apa yang memang ingin kamu lakukan."

Kanaya mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.

"Jika nanti ada sesuatu yang kamu butuhkan untuk keperluan kuliahmu..." lanjut Dirga dengan nada yang masih sama tenangnya, "...katakan saja."

Kanaya tersenyum kecil sebelum mengangguk. "Iya."

Dirga kembali terdiam sejenak... lalu berkata,"Lusa aku akan meluangkan waktu."

"Aku akan mengantarmu mencari cincin sekaligus mengurus keperluan pernikahan yang masih kurang."

Senyum Kanaya kembali mengembang, kali ini sedikit lebih jelas. "Baiklah."

Dirga mengangguk tipis. Setelah itu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka layar kunci sebelum mengulurkannya kepada Kanaya.

"Masukkan nomor ponselmu."

"Ah...iya"

Kanaya menerimanya dengan kedua tangan. Jemarinya segera bergerak mengetikkan deretan angka satu persatu, sementara Dirga hanya menunggu dalam diam.

Tidak ada lagi percakapan yang terucap di antara mereka. Hanya suara ketukan pelan jari Kanaya di layar ponsel yang sesekali terdengar, berpadu dengan semilir angin yang masih berhsmbus lembut.

Entah kenapa, keheningan yang semula terasa asing kini perlahan berubah menjadi jauh lebih nyaman di bandingkan beberapa menit sebelumnya.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!