Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Saat Lin Xiang membuka pintu dan melihat Zhao Heng menggendong A Bao masuk, ia bergegas mendekat dan mengulurkan tangan ingin mengambil A Bao, "kakak Zhao, biar aku saja."
Halaman rumah dipenuhi barang-barang. Lin Xiang khawatir Zhao Heng akan tersandung karena matanya tidak melihat. namun, Zhao Heng tidak memberikan A Bao padanya. Sebaliknya, ia langsung berjalan ke dalam rumah menuju kamar barat.
Melihat hal ini, Lin Xiang sangat terkejut. Mungkinkah mata Zhao Heng sudah sembuh?
"Tolong jaga A Bao. Aku akan mencari tabib Qian." ujar Zhao Heng. Ia meraba-raba di atas kang hingga menemukan selimut kecil A B ao. Ia menyelimuti A Bao, lalu bergegas keluar. Saat melewati ruang tengah, Lin Xiang melihat pinggang Zhao Heng menabrak meja di sampingnya.
" baik, aku akan berjaga di sini bersama A Bao." kata Lin Xiang. Sadar tidak banyak yang bisa ia bantu, ia segera bergegas ke kamar untuk menjaga A Bao.
Zhao Heng terus berjalan keluar. Ia ingat Zhao Xuan pernah bilang bahwa rumah tabib Qian ada di ujung barat desa, jadi ia harus terus berjalan ke barat.
Dengan pikiran itu, begitu keluar dari halaman, ia ditarik kembali oleh sebuah tangan yang kuat. Merasakan cengkraman di lengannya, ia menunduk dan berkata dengan nada pasrah, "chunniang, aku harus mencari tabib Qian."
Awalnya Wang chunniang ingin menahannya, tetapi Zhao Xuan menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya.
Ayah baru saja bangkit dan mau keluar mencari orang. Ibunya tidak boleh memadamkan semangat ayah hanya karena khawatir.
Akhirnya, Wang chunniang melepaskan tangan Zhao Heng dan berbisik pelan, "A Bao mungkin pingsan karena lapar, pagi tadi dia hanya makan dua huntun (Pangsit rebus) kecil. Aku tunggu di rumah, kamu jalan lurus saja ke barat."
Mendengar perkataan Wang chunniang, Zhao Heng menepuk tangannya, lalu berjalan menuju arah barat.
Namun, Wang chunniang tetap tidak tenang. Ia meredam langkah nya dan mengikuti Zhao Heng dari jarak jauh, memastikan dirinya tidak terlihat.
Kemudian, ia melihat suaminya yang dulu serba bisa itu tersandung papan batu yang mencuat di dekat sumur tua di ujung desa, dan jatuh tersungkur. Pada saat suaminya jatuh, Wang chunniang baru tersadar dari khayalannya..... Suaminya benar-benar tidak bisa melihat. Ia hanya begitu bersemangat dan terburu-buru karena mengkhawatirkan anak mereka.
Saat itu sudah ada beberapa orang di jalanan. Melihat Zhao Heng jatuh, semua orang segera membantu membangunkannya.
"Ayah A Bao, kamu mau mencari siapa? Kami bisa panggilkan!"
"Betul, ayah A Bao, kamu cari siapa? Cari tukang besi Yang? Apa Dabao nya menggangu A Bao lagi?"
"Ayah A Bao?"
Aneh sekali. Entah karena A Bao sering bermain di jalanan, sebelum A Bao datang, mereka memanggil Zhao Heng dengan sebutan"ayah Xuan", sekarang panggilan itu berubah menjadi"ayah A Bao". Wang chunniang tersenyum getir.
Ia mengusap matanya yang memerah, melihat Zhao Heng berhasil menemukan tabib Qian dengan bantuan orang-orang.
"Tabib Qian , putriku terjatuh dan terluka. Aku minta tolong periksa dia." kata Zhao Heng kepada tabib Qian.
tabib Qian biasanya hanya berinteraksi dengan Wang chunniang, dan Zhao Heng selalu duduk diam di samping tanpa bicara.
Saat tabib Qian dan Zhao Heng berjalan pulang, seorang wanita paruh baya dengan Mata tajam tiba-tiba berlari menghampiri Zhao Heng. Ia memanggil punggung Zhao Heng, "Hei, ayah A Bao ya, kudengar akhir-akhir ini kalian sedang membuka lahan untuk ditanami. Kami punya dua petak lahan di tepi sungai. Anakku sudah lulus ujian Xiucai (Sarjana),jadi kami harus pindah ke kota kabupaten. Kalau kalian mau beli tanah, apa mau mempertimbangkan tanah kami? "
"Eh, ibu Xiucai, masalah ini kamu harus tanyakan pada chunniang. Kurasa ayah A Bao tidak mengurus hal-hal seperti itu."
"Benar, chunniang sangat cekatan, carilah chunniang saja."
Semua orang muali berceloteh. Awalnya Zhao Heng tidak ingin bicara. Namun setelah berpikir, akhirnya ia membuka suara, "saudari, silahkan datang ke rumah kami menjelang sore untuk membicarakannya."
Zhao Heng memang berwajah tampan. Meskipun matanya tidak bisa melihat, aura yang ia pancarkan tidak bisa berbohong. Begitu ia bicara, sekelompok orang itu langsung terpaku menatap wajahnya.
Wang chunniang yang bersembunyi di balik bayangan memutar bola matanya.
Di rumah keluarga Zhao,
tabib Qian mengikuti Zhao Heng pulang, ia melihat dua anak kecil terbaring berdampingan di atas kang. Jiang Ting tidak pingsan, hanya menderita beberapa lecet. Sementara A Bao pingsan dan belum sadar.
tabib Qian memeriksa denyut nadi A Bao dengan teliti, namun tidak menemukan kejanggalan. Ia akhirnya menyentuh perut kecil A Bao. Tepat pada saat itu, perut A Bao mengeluarkan suara grukk grukk grukk.
"Sup ayam sudah di masak, sebentar lagi matang," Lin Xiang buru-buru berkata.
"Pergelangan tangannya sudah di betulkan. Kalian hanya perlu mengoleskan obat padanya,"kata tabib Qian setelah memeriksanya lagi.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan anda hari ini," kata Wang chunniang, lalu keluar mengantar tabib Qian.
Zhao Xuan berdiri di samping, mengoleskan obat pada A Bao, tetapi A Bao masih memegang erat peluit bambu di lehernya.
"Ayah, punggung tangan A Bao terluka, tapi dia terus menggenggamnya dan tidak mau melepaskannya." kata Zhao Xuan kepada Zhao Heng.
Zhao Heng meraba ke depan, jari-jari panjangnya menyentuh kepala A Bao. Ia lalu menarik turun tangan A Bao, dan jari-jarinya yang kekar dengan lembut membuka paksa genggaman tangan A Bao. Melihat itu, Zhao Xuan bergunam sesuatu sambil mengoleskan obat pada jari-jari A Bao.
" Ayah, selain lari cepat, A Bao tidak punya kemampuan bela diri lain. Dia tidak bisa belajar ketepel, dan larinya juga tidak tekun. Kita harus memikirkan cara lain untuk mengajarinya melindungi diri," kata Zhao Xuan khawatir.
" ya, aku akan memikirkannya."jawab Zhao Heng mengangguk.
A Bao terbangun di tengah hari. Ia terbangun karena tercium aroma sup ayam yang harum. Ia langsung bangkit duduk dan mendapati pergelangan tangan serta lengannya di balut perban. Tercium aroma kuat obat herbal dari perban itu.
"Turun untuk makan," kata Zhao Heng yang berjaga di samping, suaranya terdengar dingin.
A Bao yang mendengar suara Zhao Heng langsung berteriak girang, lalu melompat ke pangkuan Zhao Heng. Zhao Heng kelabakan menangkapnya, wajahnya terlihat marah.
A Bao seolah tidak melihat kemarahan itu. Ia mengulurkan tangan kecilnya menyentuh mata Zhao Heng, lalu bertanya pelan, "ayah, apa matamu sudah bisa Melihat?"
"Belum," jawab Zhao Heng.
A Bao memanyunkan bibir, lalu meringkuk di pelukan Zhao Heng, tidak mau turun. Zhao Heng pun memindahkannya ke meja makan.
"A Bao, sore nanti ibu akan di rumah,ibu dan bibi Xiang akan mengukur badan kalian untuk membuatkan baju, karena cuaca akan segera panas." kata Wang chunniang kepada A Bao.
A Bao mengangguk patuh, namun ia berbisik pelan,"aku tidak mau sepatu jelek ya."
Siapa sangka, detik berikutnya, Zhao Heng berkata, "dia akan keluar bersamaku sore nanti."
"Ayah, kamu mau bawa A Bao ke mana?"