Demi melunasi hutang Orang tuanya, Ayura terpaksa harus menikah dengan Rio, anak pemilik kontrakan tempat orang tuanya berhutang.
Pada saat yang sama, Ayura sedang menjalin hubungan yang sangat indah dengan Cristian. Namun takdir ternyata harus memisahkan mereka.
Delapan tahun berlalu, Cristian yang sudah sukses kembali dalam kehidupan Ayura yang sudah hancur. Pernikahannya dengan Rio hanya membawa penderitaan untuknya.
Akankah Cristian akan kembali memiliki cinta Ayura, akankah Ayura lepas dari pernikahan yang sangat menyiksanya itu...???
Hai readers tersayang, selamat membaca 😊💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunis WM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marsya dan Diana pulang
Sesampainya di rumah yang ternyata adalah milik Cristian, Ayura memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper. Dia tidak mau tinggal lagi di rumah itu setelah dia tahu semuanya.
“Ayy, aku mohon jangan begini. Kamu mau tinggal di mana, kamu tidak punya siapa-siapa di sini. Kamu juga belum tahu dengan baik kota ini. Tinggallah di sini setidaknya sampai kau dapat rumah yang lain,”
Ayura menghentikan kegiatannya, dia duduk di tempat tidur dan membuang nafas dengan kasar. Apa yang di katakan Cristian ada benarnya. Ayura tidak punya tujuan dna juga dia tidak tahu seluk beluk kota itu karena baru beberapa hari di ada di sana. Sepertinya Ayura memang tidak punya pilihan lain selain tinggal di rumah itu sampai dia menemukan rumah lain.
“Baiklah, aku akan tinggal sementara sampai aku dapat rumah yang lain. Tapi aku punya syarat,” Cristian menaikkan sebelah alisnya.
“Syarat apa?” tanyanya.
“Aku tidak mau kita bertemu lagi dalam kebetulan apapun, aku mohon,” Cristian bisa melihat bahwa di mata Ayura ada luka yang sangat dalam. Entah apakah dia salah satu orang yang sudah menggoreskan luka itu atau tidak, tapi yang jelas Cristian tahu kalau Ayura sangat lelah dengan kehidupannya.
Cristian bisa mengerti, pernikahannya pasti telah banyak menguras emosi dna air matanya.
“Untuk saat ini samapi fikiran dan hatimu tenang, aku tidak akan menemuimu. Tapi aku pasti akan datang lagi, Ayy. Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu.”
Setelah mengatakannya, Cristian pergi meninggalkan Ayura. Wanita itu memijat-mijat keningnya meskipun kepalanya sedang tidak sakit.
Mendengar suara mobil Cristian yang semakin menjauh, Ayura lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Sandra.
“San, kenapa kau lakukan ini padaku. Aku sudah bilang padamu jangan sampai ada yang tahu, kenapa kau cerita pada Cristian. Lalu rumah ini…”
“Maafkan aku, Ayy. Aku hanya ingin membantu kalian berdua,”
“Membantu kami, apa maksud kamu. Aku sudah menikah, San. Begitu juga Cristian. Aku tidak mau mengganggu rumah tangganya, dan sampai hari ini aku juga masih menjadi istri Kak Rio. Aku tidak mau terlibat hubungan rumit, San. Aku lelah, aku capek,”
Di seberang telepon Sandra memicingkan matanya, Cristian sudah menikah? Kapan?
“Apa maksud kamu, Ayy. Kapan Cristian menikah?” Setahuku dia masih sendiri, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain dengan kamu delapan tahun yang lalu.”
Ayura tersentak mendengarnya, dia diam tidak tahu apa yang harus di katakannya. Di kepalanya kembali terdengar beberapa kali Cristian mengatakan kalau dirinya salah faham dan berusaha menjelaskan sesuatu tapi Ayura selalu menahannya dan tidak mau mendengarnya.
“Ayy… Ayura, kau masih di sana. Ayura….”
Ayura memutuskan sambungan telepon di saat Sandra masih berbicara di ujung telepon. Dia tidak menyangka kalau Cristian ternyata belum memiliki pendamping hidup.
“Jadi kau masih sendiri,” Ayura membuang nafasnya.
“Apa juga bedanya jika memang kau masih sendirii, toh kita tidak mungkin bersama lagi.”
Kenyataan bahwa ternyata Cristian belum menikah tidak mengubah apapun. Ayura tetap akan menjaga jarak jauh dengan laki-laki itu. Dia merasa sudah tidak pantas menjadi bagian dari masa depan Cristian. Dia sudah menikah dan sebagian dari dirinya mungkin sudah hancur, Ayura tidak mau laki-laki seperti Cristian mendapatkan pasangan seperti dirinya.
Cristian berhak mencari wanita baik yang masih utuh bukan perempuan bekas seperti dirinya.
Sementara itu di kota yang lain, Diana baru saja kembali bersama Marsya. Begitu turun dari mobil, gadis kecil itu langsung berlari ke dalam rumah mencari ibunya.
“Mamaaaa…..” teriaknya menggema di seluruh sudut rumah.
Marsya mencari di dapur, tidak menemukan yang dia cari Marsya berlari menaiki tangga dan membuka pintu kamar orang tuanya. Namun tetap tidak menemukan sosok Ibu yang sudah dia rindukan. Dengan wajah yang masih penuh harap bertemu dengan Ibunya, Marsya turun kembali mencari Bibi Ima, wanita itu pasti tahu di mana Ibunya.
“Bibi, Mama dimana?” tanyanya ketika melihat Bibi Ima di belakang yang sedang menjemur pakaian.
“Neng, kapan datang,” Bibi Ima tidak menjawab pertanyaannya membuat Marsya mengulang pertanyaannya.
“Ayura tidak ada lagi di rumah ini, sayang. Mama mu meninggalkanmu untuk selamanya. Dia pergi dari rumah meninggalkan Papa dan kamu,” Diana yang menjawabnya. Gadis kecil itu berlari menghampiri neneknya.
“Kemana, Nek. Mama kemana, Marsya mau ketemu Mama,” katanya dengan polos.
“Dia tidak akan kembali sayang, dia meninggalkan kalian. Mama mu tidak menyayangi kau dan Papamu lagi. Dia pergi meninggalkan rumah ini dan tidak akan kembali lagi,” mata gadis kecil itu sudah mulai berkaca-kaca. Dia menggeleng tidak percaya apa yang di katakan Neneknya.
“Nenek bohong, Mama bilang sangat merindukan Marsya. Mama bilang ingin bertemu Marsya, tidak mungkin Mama meninggalkan Marsya,” air matanya mulai jatuh menetes. Diana memeluk dan menenangkan cucunya itu.
“Sudahlah, sayang. Ada nenek dan Kakek, juga Papa dan Tante Rena. Kami semua sangat menyayangi kamu, kami tidak akan seperti Ibumu yang meninggalkamu,” kata Diana memeluk Marsya yang terisak.
“Kenapa Mama pergi sih, Nek. Mama sudah tidak sayang Marsya lagi?” gadis kecil itu masih menangis di pelukan Diana.
“Iya, sayang. Ibumu pasti tidak menyayangi kamu lagi, itu sebabnya dia pergi meninggalkan rumah.”
Diana mengisi pikiran Marsya dengan kebohongan yang mungkin akan membuat anak itu membenci ibunya. Bibi Ima yang sedang membersihkan ruang tamu mendengar apa yang di katakan Diana pada gadis kecil itu.
Bukan hanya memisahkan ibu dan anak, Diana juga dengan tega mengarang cerita untuk membuat seorang anak membenci Ibunya sendiri.
“Marsya, sayang…” Rio yang mendengar anak dan Ibunya kembali langsung pulang ke rumah. Tapi hubungan Marsya dan Rio tidak terlalu baik sehingga dia tidak begitu dekat dengannya. Gadis kecil itu sering melihat Rio membentak Ibunya, juga pernah beberapa kali Marsya melihat Rio memukul Ibunya meski secara tidak langsung di depan matanya.
Pun sama dengan Rio, dia menyerahkan Marsya pada Diana dan tidak terlalu mengurus anaknya itu karena sibuk menjalin asmara gelap dengan Cindy.
“Ayo sama Papa” Diana mendorong Marsya pada Rio dengan pelan. Tapi gadis kecil itu enggan melepas tangannya dari pelukan Diana.
“Sayang, ini Papa. Papa sangat merindukan Marsya. Sini sayang, Papa mau peluk Marsya,”
Rio sudah membuka lebar kedua tangannya menyambut anaknya, tapi Marsya sama sekali tidak bergerak dan hanya diam menatap kosong pada laki-laki yang di panggil Papa itu.
“Kita cari Mama sama-sama, yah.” Mendengar itu Marsya segera mendekat pada Rio.
“Mama dimana?” tanyanya. Rio menghapus jejak air mata di pipi gadis kecilnya.
“Mama pergi sebentar, katanya kalau Marsya pulang Mama juga akan pulang,” bujuk Rio.
“Jangan bohongi anakmu, Rio. Ibunya tidak akn pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah ini, dia tidak akan kembali,”
“Sudahlah, Ma. Aku yang akan mengurus anakku, Mama jangan membuatnya membenci Ibunya.”
Rio meninggalkan Ibunya dan membawa Marsya ke kamar bersamanya. Diana mendengar dari Rena kalau anaknya itu sudah sangat berubah semenjak Ayura pergi, dan sekarang dia melihat kalau Rio benar-benar sangat berbeda.
tapi entahlah dari awal baca cerita ini aku benar² istighfar² terus sambil berdoa semoga aku & anak² keturunanku gaada yg menikah terpaksa begini,
di cerita ini benar² terasa mimpi buruknya, sangat menakutkan utk perempuan.