NovelToon NovelToon
Istri Imutku

Istri Imutku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:122.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nagyta Salma Ramadhani

Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.

Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.

Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.

Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.

Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.

Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.

Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 23 - Bulan dan Bintang

"Alhamdulillah" ucap Chandra dan Dylan secara bersamaan.

"Tuan Dylan, ceritanya kita besanan nih" ucap Chandra sembari tertawa kecil.

"Ah, benar sekali katamu Tuan Chandra" ucap Dylan sembari tertawa kecil.

Serena langsung mengeluarkan kotak berwarna merah dari saku yang ada di gamisnya. Kotak berwarna merah tersebut berisi cincin lamaran yang berupa sebuah cincin berlian.

Serena pun segera mengeluarkan cincin berlian yang menjadi cincin lamaran tersebut dari kotaknya. Serena segera memasangkam cincin tersebut di jari manis Chalista. Karena Devan dan Chalista masih belum halal, jadi Serena lah yang memasangkan cincin berlian tersebut di jari manis Chalista.

"Sayang, kamu jaga baik - baik ya cincinya. Kamu terlihat sangat cantik dengan mengenakan cincin ini" ucap Serena sembari mengelus lembut puncak kepala Calon Menantunya yang terbalut oleh hijab syar'i berwarna hitam.

Chalista hanya membalas ucapan Calon Mama Mertuanya dengan sebuah senyuman yang tersungging di wajahnya yang cantik.

Devan sedari tadi terdiam menatap Chalista dengan tatapan penuh dengan kekaguman. Hal ini membuat Devin, sang Adik yang berada di sebelah Devan menjadi ingin menggoda sang Kakak yang sedang sang fokus memperhatikan Calon Istrinya tersebut.

"Hei Kak, biasa saja kalau menatap Calon Istrimu itu. Devin tahu kalau Kakak terpesona dengan kecantikan Calon Istrimu pada malam ini. Jujur saja, Calon Kakak Iparku itu sangat cantik dengan balutan gamis berwarna peach, hijab syar'i berwarna hitam, dan juga Make Up natural yang terhias di wajahnya" ucap Devin dengan berbisik kepada sang Kakak yang sedang fokus memperhatikan gerak - gerik calon Istrinya.

Sontak saja Devan langsung menghentikan tatapannya kepada Calon Istrinya yang sedang berbincang ria dengan Calon Mama Mertuanya.

Kini Devan beralih menatap sang Adik yang duduk di sebelahnya dengan tatapan tajam. Sontak saja Devin yang di berikan tatapan tajam oleh sang Kakak langsung membuat nyalinya ciut. Nyali Devin mendadak terbang melayang ke udara karena mendapati tatapan tajam yang di berikan oleh sang Kakak.

"Ah, maafkan Devin Kak. Devin tak sengaja mengucapkan kata - kata itu tadi" ucap Devin dengan lirih sembari menundukkan pandangannya.

Sementara itu Devan malah mengacuhkan permintaan maaf dari sang Adik. Devan sekarang beralih untuk menatap wajah Calon Ayah Mertuanya yang tak lain adalah Chandra Wirawan.

"Chalista tidak terlalu mirip dengan Ayahnya. Pasti Chalista mirip dengan almarhumah Bundanya" batin Devan di dalam hatinya.

Setelah beberapa saat memperhatikan sang Calon Ayah Mertua, kini Devan justru kembali menatap lekat ke arah Chalista yang sedang bercengkrama dengan sang Calon Mama Mertua.

"Ehem. Rupanya ada yang sedang jatuh cinta nih" sindir Dylan kepada Putra Pertamanya yang sedang asyik - asiknya memperhatikan Calon Istrinya yang sedang asyik bercengkrama dengan Calon Mama Mertuanya.

Devan langsung menghentikan tatapannya kepada Chalista yang saat ini sedang bercengkrama dengan Serena.

Sekarang Devan justru menatap wajah sang Papa dengan tatapan tajamnya. Walaupun Papanya itu seorang laki - laki, namun mulutnya yang suka menyindir itu mencerminkan seorang wanita. Haduh haduh, ada - ada aja sih.

"Papa ini suka sekali menyindir orang" batin Chalista dengan wajah yang bersemu merah.

Sementara itu Chandra justru mengerutkan dahinya karena mendengar perkataan Calon Besannya. Saat ini Chandra benar - benar tidak bisa mengerti dengan semua ini. Chandra mendadak lambat untuk mengerti apa yang terjadi pada saat ini.

"Siapa yang sedang jatuh cinta Tuan Dylan?" tanya Chandra sembari mengerutkan dahinya.

Dylan menyunggingkan senyumannya. Dylan tahu kalau Chandra masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada saat ini.

"Tentu saja Calon Manten Tuan Chandra. Fase - fase sekarang kan nyatanya Calon Manten sedang kasmaran, Tuan Chandra" ucap Dylan sembari tersenyum geli ketika mengatakan hal ini.

"Namun nyatanya tidak yang seperti yang Papa bicarakan dan yang seperti Papa bayangkan" batin Chalista sembari tersenyum getir.

"Oh iya. Saya baru ingat Tuan Dylan" ucap Chandra sembari tertawa kecil.

Serena pun menyunggingkan senyuman di wajahnya. Serena sangat ingin tertawa dengan kelakuan Calon Besannya yang satu ini.

"Baiklah Tuan Chandra, apakah Tuan bersedia memberikan kesempatan untuk Chalista dan Devan bisa menikmati malam yang indah ini dengan berdua?" ucap Dylan dengan sedikit melirik Putra Pertamanya yang kini memasang ekspresi wajahnya yang datar.

"Tentu saja. Saya ingin memberikan kesempatan kepada Kedua Calon Manten ini. Biarkan Kedua Calon Manten ini menikmati indahnya malam dengan hanya berdua saja" ucap Chandra sembari tertawa kecil.

Devan melirik ke arah Chalista yang menundukan pandangannya. Perlahan Devan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.

"Kamu dengar perkataan Papa dan Ayah kita kan? Mari kita menikmati malam yang indah ini dengan hanya berdua saja" batin Devan sembari perlahan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.

Kini Devan beralih menatap wajah Calon Ayah Mertuanya. Devan memberikan senyuman lembutnya kepada Calon Ayah Mertuanya.

"Terima kasih Om. Saya juga akan menjaga Chalista agar baik - baik saja ketika bersama saya" ucap Devan sembari memberikan senyuman lembutnya kepada Calon Ayah Mertuanya.

"Oke kalau begitu. Saya pegang ucapanmu Devan. Dan satu lagi, panggil saya Ayah. Karena kamu kan nanti akan menjadi Anak saya juga" ucap Chandra sembari tersenyum senang.

"Ah, baiklah Ayah" ucap Devan sembari tersenyum kikuk.

Devan segera beranjak dari duduknya. Niat hati Devan akan menghampiri Chalista, namun sebelum niatnya terlaksana sang Oma sudah memberinya sebuah ancaman yang sangat mengerikan.

"Jaga baik - baik Calon Cucu Menantuku. Kalau saja Chalista sampai lecet sedikit pun, akan aku musnahkan kamu dari dunia ini sebagai gantinya" ancam Hanna dengan ekspresi yang mengerikan.

"Baiklah Oma" ucap Devan sembari berjalan menuju tempat di mana Chalista berada.

"Lista sayang, ajak Devan ke taman belakang ya. Pasti Devan nanti akan menyukai pemandangannya" ucap Chandra sembari mengelus lembut puncak kepala Chalista yang terbalut oleh hijab syar'i berwarna hitam.

"Baiklah Ayah" ucap Chalista yang langsung beranjak dari duduknya.

Kini Devan telah sampai di tempat di mana Chalista berada. Sesampainya di sana, Devan langsung menggenggam tangan Chalista di hadapan semua orang yang ada di sana.

"Mama, lihatlah Putra kita. Dia terlihat sangat lucu. Apa ini karena Devan baru pertama kali jatuh cinta ya Ma?" ucap Dylan kepada sang Istri yang berada di sebelahnya.

"Mungkin" jawab Serena dengan singkat.

"Dylan, Devan itu sama sekali seperti dirimu. Sama - sama merasakan cinta pertamanya secara terlambat. Pubertas yang terlambat" ucap Hanna sembari tertawa kecil.

Karena Chalista tahu Devan sedang di pojokkan oleh Oma, Papa, dan Mamanya sendiri, Chalista segera mengajak Devan untuk menuju ke taman yang berada di belakang rumah Chalista.

"Kak Devan, ayo kita ke taman belakang" ucap Chalista ketika Devan sudah menggenggam erat tangannya.

Devan dan Chalista pun berjalan menuju ke taman yang berada di belakang rumah Chalista. Devan dan Chalista berjalan dengan bergandengan layaknya pasangan yang sedang kasmaran. Walaupun sebernarnya Devan dan Chalista sudah menaruh rasa cinta kepada satu sama lain, namun tidak ada yang mengungkapkannya baik itu Chalista maupun Devan.

Sesampainya di taman yang ada di belakang rumah Chalista, Chalista dan Devan segera menduduki kursi taman yang terbuat dari besi dan kursi tersebut berwarna putih.

Terlihatlah taman yang indah dengan bunga - bunga berwarna - warni yang di tanam dengan sedemikian rupa, serta hiasan lampu kelap - kelip yang menambah kesan indah di taman ini.

Bulan dan Bintang pun bisa terlihat dari taman ini. Perpaduan yang sangat indah antara cantiknya bunga - bunga, meriahnya lampu kelap - kelip, serta terangnya Bulan dan Bintang.

Baik Chalista maupun Devan belum ada yang memulai pembicaraan. Chalista dan Devan sangat bingung bagaimana untuk memulai pembicaraan di antara Chalista dan Devan.

Karena tidak tahu apa yang harus di bicarakan, Chalista justru mengeluarkan ponselnya dari saku yang ada di gamisnya.

Chalista berencana untuk menulis novel saja dari pada tidak ada yang bisa di ucapkan atau pun di lakukan.

"Kamu sedang bermain apa?" ucap Devan dengan refleks ketika Chalista memainkan ponselnya.

"Aku mau nulis novel Kak" ucap Chalista sembari menatap fokus pada layar ponselnya.

"Semenjak kapan kamu menulis novel?" tanya Devan sembari menatap lekat wajah Chalista.

"Semenjak Bunda meninggal. Ya, sekitar 10 tahun yang lalu" ucap Chalista tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

"Apa kamu suka dengan bulan dan bintang?" ucap Devan sembari tersenyum kepada Chalista.

Sontak saja Chalista mengalihkan pandangannya karena mendengarkan ucapan Devan, Calon Suaminya.

"Aku suka bulan dan bintang. Karena mereka sangat terang dan bersinar di malam hari. Mereka selalu menyinari bumi. Ya, kalau di ibaratkan Bunda itu seperti bulan dan bintang" ucap Chalista sembari memberikan senyumannya kepada Devan, Calon Suaminya.

1
Sukri Ani
mana kelanjutanya
Suroso
terlalu lebae critanya.kenapa hnya kluarga dewan aja yg jd tomik. crita kluarga calon ipar mana
Suroso
seharusnya bisa disingkat sedikit biar ceritanya cepat terarah.sayang crita keluarganya calon ipar ngak pernah di ambil
Suroso
ceritanya kok lain arah.persiapan lamaranya mana
Dewiiqbal
kok gk lnjut
Mhina Odonk
mna lnjutanx
Mhina Odonk
lanjut
Thanty
lanjut donk
Pengghosting novel T_T
Keluarga somplak plus absrud😂😂😂
Pengghosting novel T_T
Virus bucin lebih parah dari pada virus korona virus bucin berakibat nya yaitu pelet pasangan biar deket samanya😂😂😂😁
Marni Sumarni
lanjutkn dong cerita ya
Marni Sumarni
lanjutkn doongg cerita ya
Marni Sumarni
lnjutkn dong
Marni Sumarni
lanjutkn doonng cerita ya
aristo
no
Tutay
kashan papa dylan kena jewer
Tutay
kasihan pada rebuti kk ipar
Dwi Harti
Lanjut thor
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Fitri (。•̀ᴗ-)✧
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!