Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma harum gadis itu
Pukul sembilan malam, keiko sudah kembali dari makan malam bersama renji tiga jam yang lalu, ia tidak lama meninggalkan shiro dirumah sendiri.
Keiko duduk bersila di lantai ruang tamu dengan dispenser makanan otomatis yang baru saja ia beli di hadapannya. Buku petunjuk terbuka di sampingnya, sementara Shiro duduk tenang di sebelahnya, sepasang mata kuningnya terus memperhatikan benda asing itu.
"Oke..." Keiko membaca petunjuk sekali lagi. "Lalu... hubungkan ke aplikasi..."
Beberapa saat kemudian, layar ponselnya menampilkan tulisan Perangkat berhasil terhubung.
"Nah, berhasil," ia tersenyum puas. "Sekarang tinggal atur jam makannya."
Jarinya menekan beberapa tombol. "Porsi sedang. Waktu: pagi, siang, dan malam. Harusnya sudah benar." Ia menoleh ke arah Shiro. "Sekarang kita coba."
Keiko menekan tombol Tes.
Trekk... Trekk... Trekk...
Butiran makanan kering jatuh ke mangkuk. Shiro yang sedang memperhatikan dispenser itu langsung melompat mundur dengan mata membulat.
Keiko menutup mulutnya sambil tertawa. "Hahaha... kamu kaget, ya? Tenang, itu bukan monster. Itu mesin makanan otomatis." Ia mengambil beberapa butir makanan dari mangkuk. "Aku sudah mengatur jam makan dan porsinya. Kalau suatu saat aku pulang terlambat... kamu tetap bisa makan tepat waktu."
Shiro mengendus pelan, lalu beberapa detik kemudian, ia mulai memakan makanan kering itu. "Bagus, berarti kamu suka."
Selagi Shiro makan, Keiko mengambil salep dari meja dan mengoleskannya perlahan pada bekas luka di punggung Shiro. Lukanya sudah mulai mengering, dan di beberapa bagian bahkan telah tumbuh bulu-bulu halus baru.
"Sebentar lagi sembuh," Keiko tersenyum lega. "Nanti bulumu pasti kembali lebat."
Shiro tetap tenang, hanya ekornya yang bergerak pelan. Setelah selesai, Keiko menutup salep itu. "Nah, sudah selesai. Ayo tidur."
Ia bangkit sambil meregangkan punggungnya yang mulai pegal. "Ah... duduk di lantai lama-lama ternyata capek juga."
Keiko berjalan menuju kamar, dan beberapa langkah di belakangnya, Shiro ikut berjalan pelan mengikutinya.
Sesampainya di kamar, Keiko langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. "Haa... enaknya." Ia memiringkan tubuhnya menghadap sisi kasur yang kosong, lalu menepuk-nepuk pelan bagian di samping perutnya. "Sini."
Shiro melompat naik. Seperti biasa, ia berputar satu kali, dua kali, baru kemudian merebahkan tubuhnya di samping Keiko. Keiko tersenyum, tangannya perlahan mengusap kepala Shiro, lalu menyusuri punggungnya dengan lembut. Ia sedikit merapatkan tubuhnya, seolah melindungi kucing abu-abu itu di dalam pelukannya.
"Aku senang... sekarang kita tinggal serumah."
Shiro memejamkan mata. Dengkuran pelan mulai terdengar dan tubuhnya perlahan semakin rileks. Keiko kembali mengelus bulu di kepalanya. "Festival bulan nanti... kita lihat dari Aoyama saja, ya."
Shiro mengeluarkan suara lirih, "Mee..."
Keiko tertawa kecil. "Hahaha... itu artinya apa? Hmm... 'nggak masalah, asal besok ada ikan panggang'?"
Shiro membuka sebelah matanya. "Meeong..."
Keiko kembali terkekeh. "Panjang juga, ya. Padahal cuma satu 'meong'." Tangannya berpindah mengusap bagian perut Shiro. Baru beberapa kali usapan, "Hap." Shiro menggigit pelan jemarinya.
"Hahaha, nggak sakit. Aku sudah kebal." Shiro masih menggigit pelan tanpa benar-benar melukai. "Gemes, ya?"
"Meeong..."
Keiko tersenyum gemas. Ia mencium pelan kepala Shiro. "Kamu memang bikin gemas."
Shiro langsung mendorong wajah Keiko dengan kedua kaki depannya, seolah menyuruhnya menjauh. Keiko kembali tertawa. "Iya, iya... nggak kuganggu lagi."
Ia mematikan lampu di samping tempat tidur. Ruangan itu pun menjadi gelap. "Selamat tidur, Shiro. Ingat... jangan keluyuran terlalu jauh saat aku tidur. Jendelanya kubuka sedikit. Kalau mau keluar ke rooftop, lewat situ saja."
Shiro menggerakkan ekornya pelan. Keiko tersenyum. "Selamat malam."
Tak lama kemudian, suara napas keduanya mulai terdengar teratur, mengisi sunyi malam di rumah kecil di atas rooftop itu.
***
Beberapa jam kemudian... rumah kecil di atas rooftop itu telah benar-benar sunyi. Keiko masih terlelap, salah satu tangannya masih berada di atas tubuh Shiro.
"Mmm..." Keiko bergumam pelan dalam tidurnya.
Shiro perlahan membuka matanya. Sepasang telinganya bergerak sekali, dua kali... aroma itu datang lagi. Shiro mengangkat perlahan tangan Keiko yang berada di tubuhnya. Dengan hati-hati, ia melepaskan diri agar wanita itu tidak terbangun. Keiko hanya bergeser sedikit, masih tertidur lelap.
Shiro turun dari tempat tidur tanpa mengeluarkan suara, lalu berjalan menuju ruang tamu. Jendela yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka masih seperti semula. Shiro melompat ke ambang jendela; angin malam langsung menerpa bulunya. Ia mengendus pelan. Benar. Aroma Bakeneko masih berada di sekitar rumah ini.
Shiro melompat ke rooftop. Keempat kakinya mendarat tanpa suara. Tatapannya menyapu seluruh taman kecil itu: pot-pot bunga, meja kayu, kursi... kosong. Namun, nalurinya tidak pernah salah. Seseorang sedang mengawasinya.
"Kalau terus melihat dari jauh..."
Suara tenang Shiro memecah kesunyian malam.
"Percakapan kita tidak akan pernah dimulai."
Tidak ada jawaban. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Lalu, sesosok kucing berbulu oranye dan putih perlahan melompat turun dari atas pagar dengan gerakan yang sangat ringan. Tatapannya tajam, terkunci lurus pada Shiro.
"Kau menyadarinya," ujar kucing itu.
Shiro tetap diam, tidak menunjukkan reaksi berlebih. Bakeneko tersebut melangkah mendekat beberapa langkah, lalu berhenti.
"Aku sudah berada di sini sejak beberapa saat lalu," lanjut sang Bakeneko.
"Aku tahu," jawab Shiro singkat. "Aromamu terlalu mencolok."
Bakeneko oranye-putih itu tersenyum tipis. "Menarik. Jarang sekali ada yang bisa langsung menyadarinya."
Shiro menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. "Kau bukan berasal dari Tsukimori."
Bakeneko itu mengangguk pelan. "Aku berasal dari Distrik Yukishiro. Kami jarang berurusan dengan Tsukimori."
Shiro menatapnya lekat selama beberapa saat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman yang sama sekali tidak ramah.
"Pantas," gumam Shiro.
Bakeneko oranye-putih itu mengernyitkan dahi.
"Pantas kau tidak Tahu siapa aku."
Ia mendengus pelan, menantang. "Memangnya aku harus mengenalmu?"
Shiro mulai melangkah mendekat, pelan dan tanpa suara. "Seharusnya."
Keheningan kembali menyelimuti rooftop. Bakeneko itu mengangkat dagunya, berusaha menjaga wibawa. "Kau terlalu percaya diri."
Shiro berhenti tepat di hadapannya, menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Bukan," balas Shiro dingin.
"Kau hanya terlalu muda."
Bakeneko oranye-putih itu mengibaskan ekornya pelan. "Aku tidak datang untuk bertarung. Aku hanya mengikuti aroma."
Tatapan Shiro tidak berubah, tetap datar "Urusan apa kau disini? "
"Bukan hanya aku yang punya urusan disini...!!!"
"Aroma Gadis itu... berbeda," lanjut Bakeneko tersebut.
"Sudah lama aku tidak mencium aroma seperti itu. Bukan hanya aku, semakin banyak yang mulai membicarakannya. Mereka bilang, seorang Gadis memiliki aroma yang begitu nikmat..."
Shiro tetap diam, mendengarkan.
"Mereka penasaran. Ada yang ingin melihatnya, dan mungkin... ada juga yang ingin memilikinya."
"Dan aku datang untuk.... "
Seketika, tatapan Shiro berubah menjadi sedingin es.
"Cukup."
Tiba tiba suasana disekitar berubah hening
"Jangan mendekatinya."
Suara Shiro tetap tenang, namun kali ini tidak ada lagi kehangatan di dalamnya.
Bakeneko oranye-putih itu tersenyum tipis. "Kalau aku menolak? Apa yang akan kau lakukan?"
Shiro tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah lawannya. Seketika, angin malam berhenti berhembus. Suara jangkrik menghilang, dan dedaunan yang semula bergoyang kini membeku dalam diam.
Bakeneko oranye-putih mengerutkan dahi. "Apa...?"
Dadanya terasa sesak. Napasnya mulai memberat, dan bulu di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Nalurinya berteriak untuk segera lari, menjauh dari sana sekarang juga—namun kedua kakinya seolah terpaku, tak mampu bergerak sedikit pun.
Shiro tetap berdiri di tempatnya. Ia bahkan belum mengeluarkan cakarnya, belum menggeram, dan belum melakukan apa pun. Namun, tekanan yang membebani udara di sekitar mereka membuat tubuh Bakeneko oranye-putih itu mulai gemetar hebat.
"K-kekuatan ini..."
Keringat dingin mulai menetes. Matanya membelalak tak percaya. "Tidak mungkin... Siapa... Siapa sebenarnya kau?"
Shiro menatapnya tanpa berkedip. "Kalau saja kau berasal dari Tsukimori, namaku sudah tidak perlu lagi kuperkenalkan."
Jantung Bakeneko oranye-putih itu serasa berhenti sesaat. Ia akhirnya mengerti. Yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah Bakeneko biasa.
Bakeneko oranye-putih itu masih menundukkan kepalanya, napasnya belum sepenuhnya teratur dengan tubuh yang masih gemetar hebat.
"Maafkan kelancanganku... Aku benar-benar tidak tahu..."
Shiro tetap menatapnya tanpa berkata apa-apa. Perlahan, tekanan yang mencekik rooftop itu mulai menguap. Angin malam kembali berembus dan suara jangkrik mulai terdengar lagi.
Bakeneko itu akhirnya bisa mengangkat kepala, namun sorot matanya telah berubah total—tidak ada lagi kesombongan, yang tersisa hanyalah rasa hormat dan ketakutan yang mendalam.
Shiro berbalik memunggungi lawan bicaranya. "Pergi."
Bakeneko itu mengangguk buru-buru, lalu melangkah mundur beberapa langkah. Namun, sebelum pergi, ia memberanikan diri membuka suara. "...Tuan."
Shiro tidak menoleh. "Apa?"
"Bukan hanya aku yang datang ke Aoyama. Semakin dekat bulan purnama, semakin banyak yang mulai mencium aroma gadis itu. Mereka membicarakannya bahkan sampai ke Distrik Yukishiro. Banyak yang penasaran, dan tidak semua datang hanya untuk melihat."
Keheningan kembali menyelimuti rooftop. Beberapa saat kemudian, Shiro menjawab singkat, "Aku tahu."
Bakeneko itu menundukkan kepalanya sekali lagi. "Kalau begitu... aku pamit."
Shiro akhirnya menoleh, tatapannya sedingin es. "Sampaikan. Katakan pada siapa pun, gadis itu berada dalam perlindunganku. Siapa pun yang berani mendekatinya... akan berhadapan denganku."
Bakeneko oranye-putih itu menelan ludah. "Baik, Tuan."
Tanpa berani berkata apa-apa lagi, ia segera melompat ke atas pagar. Dalam beberapa lompatan, sosoknya menghilang ditelan gelapnya malam. Shiro tetap berdiri seorang diri, menatap ke arah langit. Bulan itu... belum penuh.