Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paket Lagi
Denting garpu perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya penghidup suasana di meja makan malam itu. Adrian duduk dengan punggung tegak, mengunyah potongan daging wagyu panggang premium tanpa ekspresi.
Di sampingnya, Freya juga sedang memotong daging tersebut dengan gerakan jemari yang lentik nan gemulai, mencoba mengimbangi keheningan yang mencekam.
Mata tajam Adrian mendadak beralih, menatap lurus ke arah Freya yang duduk di sebelahnya. "Mainan berbulu di meja rias itu melanggar keteraturan tata ruang kamar, dan merusak pemandangan estetika," ketus Adrian kaku, tanpa nada emosi sedikit pun.
Freya menghentikan gerakan pisaunya, lalu menopang dagu dengan tangan kiri sembari menatap suaminya penuh binar jenaka. Rambut poninya bergoyang lucu saat ia terkekeh renyah.
"Aduh, Hubby... Itu namanya boneka beruang kutub. Bahannya super lembut, empuk, dan nyaman banget dipeluk kalau lagi tidur," balas Freya santai sambil memberikan senyum manis.
Adrian mendengus pelan, kembali memotong dagingnya dengan gerakan taktis yang kaku. "Kekanak-kanakan."
"Daripada meluk kamu, Hubby? Lagian kamu nggak pernah meluk aku sama sekali," sindir Freya centil, memberikan kedipan mata yang sangat memikat hingga membuat kunyahan Adrian mendadak berhenti seketika.
Ia kemudian melanjutkan dengan nada mengejek. "Beruangnya jauh lebih hangat tahu daripada Tuan Kulkas berjalan ini."
Adrian berdehem kaku, jakunnya naik turun dengan cepat demi menyembunyikan sensasi aneh di tenggorokannya akibat sindiran frontal tersebut. Ia memperbaiki posisi garpunya dengan ketukan tegas di atas meja marmer.
"Jangan bicara hal aneh yang tidak masuk akal dalam sistem rumah tangga. Segera selesaikan makan malammu."
Melihat kepanikan terselubung suaminya, senyum ceria Freya perlahan memudar, berganti dengan gurat serius yang jarang ia tunjukkan. Ia memajukan tubuh di tepi meja. "Tapi, Mas... ngomong-ngomong soal rumah, tadi sore pas aku baru sampai, ada kejadian yang bikin aku merinding."
Adrian mengangkat kepalanya, sorot matanya kembali menyipit tajam. "Kejadian apa?"
"Aku mendapat telepon dari nomor asing. Suaranya pecah dan berat, jelas sengaja diubah pakai alat digital," bisik Freya, tangannya meremas ujung garpu dengan gugup.
"Dia tahu aku habis nongkrong di kafe. Dia bahkan tahu aku sedang memakai gaun sutra merah muda di dalam mansion. Dia sebut aku... permata."
Rahang Adrian mengeras seketika, menciptakan garis kaku yang mengerikan pada struktur wajahnya. Amarahnya langsung tersulut menyadari privasi wilayah domestiknya telah ditembus secara visual oleh pihak luar. "Sistem keamanan perimeter luar tidak mendeteksi adanya panggilan terenkripsi tak dikenal hari ini. Kamu yakin?"
"Aku serius, Mas Adrian. Aku nggak mungkin bercanda soal ini," aku Freya dengan napas yang memburu takut, matanya menyiratkan kecemasan yang nyata.
"Bagaimana dia bisa tahu seluruh aktivitas pribadiku secara detail? Aku merasa... mansion ini benar-benar diawasi."
Adrian mengembuskan napas pendek lewat hidung, mencoba menetralkan sarafnya yang menegang. Ia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya, menatap Freya dengan sorot mata yang dingin dan kaku.
"Tenang saja. Sistem keamanan mansion ini sudah saya perketat secara berlapis," ucap Adrian dengan nada otoritatif yang datar, mutlak tanpa kompromi.
"Tidak akan ada celah digital atau penyusup yang bisa menembus tempat ini lagi."
Langkah kaki yang tergesa memutus kalimat Adrian. Pak Teguh muncul di ambang pintu ruang makan, membungkuk hormat dengan raut yang luar biasa tegang, memegang sebuah kotak paket berbungkus beludru hitam mewah.
"Mohon maaf, Tuan Muda, Nyonya Muda," potong Pak Teguh dengan suara tertahan.
"Seorang kurir tanpa pelat nomor baru saja menitipkan paket ini di gerbang depan. Atas nama Nyonya Muda Freya."
Adrian bangkit berdiri, tubuh tinggi tegapnya memancarkan aura seorang penguasa yang luar biasa menekan. Sebelum membuka kotak hadiah tersebut, mata elangnya melirik tajam dan dingin ke arah Freya yang tampak kebingungan.
"Paket lagi?" desis Adrian dengan nada rendah yang menusuk, penuh kecurigaan.
Ia langsung menyambar kotak hitam tersebut dari tangan Pak Teguh, lalu menyentak pita pengikatnya hingga terbuka kasar dengan satu gerakan taktis.
Napas Adrian memburu kasar seketika, buku-buku jarinya memutih sempurna menahan ledakan amarah yang mendidih di dadanya.
Di dalam kotak tersebut terletak selembar gaun malam tipis berenda transparan, dilengkapi sepotong surat dengan gaya ketikan otomatis yang rapi. Di sudut bawah kertas tersebut, tertulis sebuah inisial kapital tunggal berdarah dingin: D.
Adrian membaca barisan kalimat tersebut dengan mata yang menyipit sedingin es kutub:
"Kuhadiahkan gaun malam tipis ini khusus untuk tubuh indah permataku. Kulit selembut dirimu pasti terasa sangat tersiksa jika terus dipaksa tidur di bawah barikade guling konyol suamimu yang kaku itu. Simpan gaun ini, dan tunggulah sampai kamu bisa memakainya di atas ranjangku, Freya.--- D"
"Sialan!" bentak Adrian menggelegar, suara baritonnya meruntuhkan seluruh keheningan ruang makan.
Kotak itu dihantamkan kasar ke atas meja marmer hingga mangkuk buah di dekatnya terguling dan isinya berserakan. Tanpa membuang waktu, Adrian melangkah kaku dengan hentakan kaki yang tegas menuju pintu ganda foyer. Freya yang panik langsung berlari mengekor di belakang suaminya, membelah hawa malam yang dingin menuju gerbang utama di luar.
Di bawah pendar lampu pos penjagaan yang temaram, dua satpam bertubuh kekar langsung berdiri tegak dengan tubuh gemetar melihat wajah sang tuan muda yang luar biasa mengerikan.
"Siapa yang mengantarkan paket itu tadi?!" tanya Adrian tajam, suaranya menekan rendah penuh intimidasi.
"M-mohon maaf, Tuan Muda," jawab satpam yang menerima paket dengan suara bergetar ketakutan.
"Kurir itu hanya bilang ini paket mendesak untuk Nyonya Muda, lalu dia langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi ke arah distrik industri barat."
Adrian mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya, rahang tegasnya bergerak rapat menahan dongkol sekaligus naluri protektif yang asing di dalam jiwanya. "Pak Teguh, ambil seluruh rekaman visual CCTV dari interkom luar dan gerbang sekunder sekarang juga!"
Freya berdiri di samping suaminya, meremas ujung gaunnya sembari menatap kegelapan jalan raya di balik jeruji besi gerbang dengan tubuh sedikit bergetar.
Malam itu, benteng kaku Adrian resmi terbakar hebat demi melindungi kehormatan dan sang permata hidupnya dari intaian kegelapan siber yang kian menggila.