NovelToon NovelToon
Tomboy Insyaf

Tomboy Insyaf

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Chicklit / Tamat
Popularitas:58.8k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.

Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Kisah Lama Terulang Kembali

Puluhan bunga mawar berjejer di depan taman kelas sepuluh F, kelas Aluna lebih tepatnya. Merah meriah, mulai rimbun karena Aluna menyirami dan memberi pupuk agar tanaman subur. Teman sekelas yang pecinta mawar juga turut merawat. Beberapa yang dulunya singut dengan Aluna justru mulai cari perhatian, tak sedikit perubahan sikap mereka justru membuat Aluna tak nyaman. Terbiasa sendiri dan tak membaur karena tak diberi kesempatan, sekarang anak kelas sibuk mendekat.

Aluna melongok ke luar jendela, pagi ini dia siap menerima satu pot mawar entah dari siapa, yang jelas pengirimannya Rara anak kelas sebelas IPA. Kurir bunga itu tumben telat lima menit dari biasanya. Aluna tak terlalu suka bunga, namun saat diberi seolah punya tanggung jawab untuk merawat. Terlebih guru-guru jadi terutama guru wanita jadi suka mencarinya untuk minta satu atau dua pot. Aluna tak masalah di bawa, toh diminta untuk dirawat bukan di jual kembali.

"Hoshhh, hoshhh, Aluna nih bunganya!" Teriak Rara jauh sebelum sampai kelas Aluna.

Sayup mendengar suara lantang Rara menyebut namanya, Aluna keluar kelas. "Heh yang benar saja."

"Kau kaget bukan, apalagi aku sebagai kurir, ingin ku tendang sepupu ku itu. Arghhhhhhhh, andai dia tak berpengaruh dalam perkembangan dompet ku, tak mungkin aku mau susah payah." Gerutu Rara, bergerak seolah meninju bunga tersebut namun tak sampai menyentuhnya.

"Hahahah, besok-besok kalau sudah wa, nanti ku bantu bawa." Tawar Aluna, melas juga melihat Rara.

"Tidak, nanti di potong gajiku. Ngomong-ngomong, aku sudah nego dibawa ke sekolah saja padanya. Tahu sendiri rumah kita jauh, kau tak masalah kan ku kasih di sekolah saja?" Alis Rara naik turun mencoba negosiasi.

"Tak masalah, meski aku tak tahu siapa sepupumu, tapi terimakasih." Senyum cantik Aluna memikat Rara.

"Aw silau sekali senyuman kembang kelas satu ini, sudah ya aku mau ngadem di kelas ku, kelas mu tak ada AC." Rara pamit, tak lupa mengambil foto Aluna untuk di setor.

Sepucuk surat di rimbun bunga diambilnya, Aluna duduk pada kursi panjang depan kelas. "Siapa sih orang ini buat penasaran saja, curiga dia punya toko bunga."

......Teruntuk gadis cantik pujaan hati......

...Apa harimu menyenangkan disana, aku rindu tapi ku tahan sampai halal ...

...Maaf tak ku kirim mawar...

...Ku rasa aster lebih indah dan mekar saat musim hujan...

...Ku harap kau tak keberatan...

Tak ada yang istimewa dari isi surat itu namun mampu memberi dampak pada sang penerima. Meski tak tahu kelak saat bertemu harus bagaimana, tapi orang itu memberi warna pada hari Aluna. Ah, tapi sedikit tepuk jidat juga karena aster yang dikirim bukan satu pot kecil seperti mawar. Aster putih cantik itu dikemas dalam pot persegi ukurannya mencapai tiga jengkal tangan Aluna. Sungguh merepotkan Rara membawanya, mungkin itu yang membuat Rara sedikit telat memberi bunga hari ini.

"Dih tak usah sok ngartis, taruh bunga tengah jalan. Menganggu!" Aster indah yang belum sempat dipindah ditendang berserak, beberapa tangkai patah.

"Yakkk, ada apa denganmu?" Jalan masih lebar kenapa harus marah hanya perkara sepele.

"Oh jadi maksud mu, aku lewat parit begitu. Sadar ini hujan bodoh, lagian suka-suka aku lewat mana!" Ditanya baik, naik pitam menghujat lewat kata.

Hati orang mudah berubah saat kondisi tak terkendali. Aluna tahu pasti jika menyahut justru mengundang pertikaian, minimal adu mulut tak terhindarkan. Memilih diam dan membereskan kekacauan. Tanah yang keluar pot dipungutnya, daun yang gugur paksa juga. Melihat tempat kosong dan pas untuk meletakkan pot aster. Aluna mengabaikan teman kelasnya yang sedang dalam susunan hati tak baik itu.

Ctarrrrr...

"Kau ini kenapa, apa salah pot bunga kenapa kau lempar dengan baru?" Semakin mirip orang kesurupan.

"Aku muak melihat kau sok kuasa dengan taman sekolah, kau pikir taman ini milikmu, lihat besok akan ku tanami dengan bunga jauh lebih bagus, jadi jangan memenuhi tempat dengan bunga busukmu." Temannya mirip gorila lapar di pagi buta.

Terlalu pagi untuk membuang energi meluapkan emosi. Bertindak tak gegabah agar tak kena sasaran kemurkaan. Menuntut langkah masuk kelas, agar wajah tak malu menjadi bahan olok-olok yang ditonton kelas lain. Temannya terus mengoceh di luar sana. menulikan telinga, membaur dengan teman lainnya.

"Tina PMS?" Pasalnya teman sekelas tahu Tina dekat dengan Aluna semenjak kepergian sang ibu.

"Mungkin." Mengendalikan bahu, Aluna tersenyum simpul lantas duduk di kursinya.

Rrrrtttt...Brakkkk...crakkk

Kursi ditarik dengan kasar hingga berderit, tas dibanding hingga terdengar isinya ada yang pecah, prilaku Tina cerminan orang marah. Duduk sebangku, Aluna terkena imbas luapan emosi itu. Bajunya terkena tumpahan bekal Tina, spontan berdiri, Aluna lari ke kamar mandi. Noda kuah pindang kuning pucat pada baju putihnya, segera dibilas agar tak sukar dibersihkan nantinya.

"Upsss, bajunya kotor ya, sama dong kaya hatinya, mampus." Tina menyusul hanya untuk mengolok.

"Hah, aku tak ingin kelahi denganmu, bisakah kau jangan memancingnya, pergilah aku bisa bersihkan sendiri." Kecewa karena Tina bercanda berlebihan.

"Aku muak dengan muka tak berdosa mu, rasakan ini!" Tak ada angin tak ada hujan, Tina mencengkram kepala Aluna, mendorongnya ke dalam ember besar penampung air di toilet.

Gelagapan, dejavu kala Eva melakukannya. Bedanya Eva tak sekasar Tina. Tangan bebas Aluna memukul Tina minta pertolongan, tanpa ampun Tina lebih dalam menenggelamkan kepala Aluna. Tak terdengar jelas dari dalam air Tina bicara apa, yang jelas cengkraman itu lepas.

"Huahh...hhh... hah..." Meraup pasokan oksigen brutal, mengucek mata yang terkena air.

Pandangannya kembali, Aluna cukup terkesima dengan penolongnya kali ini. Eva datang membantu, bahkan rela berkelahi untuk sebuah pertolongan. Selama ini tak pernah tegur sapa, ternyata Eva perduli padanya. Aluna ingin melerai, tapi tubuhnya masih terasa lemas efek ditenggelamkan meski hanya kepalanya saja.

"Tak usah ikut campur Eva, kau ada di pihak siapa sebenarnya!" Teriakan Tina, mengundang anak-anak lain mengintip.

Eva mendorong Tina sampai menabrak pintu kamar mandi. "Gadis munafik, jangan sentuh Aluna!"

"Yakkk, kau itu kenapa, apa kau lupa perangai buruk Aluna yang ditutupi selama ini hah?" Tak terima dengan semua perlakuan Eva padanya, Tina menyiram Eva dengan segayung air.

Plakkkk. "Jangan lancang kau, aku menurut karena iba padamu ternyata kau berdusta selama ini."

"Apa maksud mu, apa aku punya salah hah, jangan seperti ini, tiba-tiba memusuhi ku dan membela gadis sial ini." Tina bahkan enggan menyebutkan nama Aluna.

"Kau yang gila, bisa-bisanya marah pada Aluna saat Niki mencampakkan mu, kau pikir Aluna menggoda Niki, sadar dari awal dia memang tak suka padamu." Eva berteriak.

Ada apa ini, kenapa menyangkut Niki kakak kelasnya, pikir Aluna dalam hati. "Cukup, jangan kelahi lagi, ayo keluar."

"Cuihh, jangan mengaturku." Tina meludah ke arah Aluna.

"Cuhh..cuh..chuh.....kau pantas mendapatkan itu." Eva meludahi Tina sebanyak tiga kali.

"Ayo, kau tak tertolong lebih baik pulang." Eva menarik tangan Aluna.

Keluar dari toilet rupanya sangat banyak yang mencuri dengar. Eva melotot ke arah mereka, mengusir semuanya agar bubar. Aluna melihat tangannya di genggaman erat Eva. Tautan itu berlangsung sampai ke kelas. Eva mengambil tasnya, mengeluarkan seragam olahraga selalu dibawa karena dia atlit voli kebanggaan sekolah.

"Gantilah, biar aku yang bilang guru tentang kejadian hari ini. Tapi jangan berharap banyak, bisa saja kita yang kena marah, Tina punya banyak kenalan guru karena semua teman ibunya." Fakta yang tak Aluna tahu.

"Terimakasih, maaf merepotkan." Tak perduli apapun fakta yang di dengar, yang jelas Eva menyelamatkannya kali ini.

"Jangan berterimakasih, kau membuatku terlihat buruk, aku pernah melakukan hal yang sama padamu, aku bukan orang baik yang bisa menerima ucapan itu darimu." Eva meninggalkan Aluna dengan kata-kata yang membuat Aluna haru.

Bersambung

1
Oma yeni*🦋
keren novel nya
Oma yeni*🦋
semangat untuk Alena 💪 like, komen, subscribe plus ⭐⭐⭐⭐⭐ +🌹 slm perkenalan 😘
Oma yeni*🦋
Hm teman laknat 😤
Oma yeni*🦋
emang bisa y, mati latihan dulu 🤭
Oma yeni*🦋
aku mampir, slm knl 🤗
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ: salam kenal kembali kak
total 1 replies
Ney Maniez
bahagia sll restu aluna 🤗🤗🤗🤗
Ney Maniez
udah tamat yaa,,,
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
Ney Maniez
nyidammm
Ney Maniez
sama kyk aku ank pertama, paksu jg ank pertama, ankku yg gede cucu pertama dari dua belah pihak,,
udah kayak rajaaa😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga do' a mu di dengar 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tenang Aluna udah hamil tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
Ney Maniez
mudah2n Aluna hamil y🤲
Ney Maniez
mama apa mana🤔🤔😂😂
Ney Maniez
pkoknya riwehhhhh😂😂😂😂
Ney Maniez
gercep y bondan😂😂💪💪
Ney Maniez
asikkkk bondan,,, tak jd ma kknya ya adik nya ajj 😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kelakuanmu
Ney Maniez
mudah2n bener Aluna hamil🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!