Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Sandiwara sang Raja Iblis
Bunyi hantaman kapak kecil yang membentur batang bambu besi kembali terdengar ritmis sejak fajar belum sepenuhnya menyingsing di lereng Gunung Han. Di bawah temaram langit fana yang berkabut, Gu Yu kecil berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh. Napasnya teratur, sepasang mata sehitam tintanya menatap lekat-lekat pada guratan di batang bambu yang sedang ia tebang.
Meskipun tangannya yang kecil mulai terasa kaku dan pelipisnya dibanjiri keringat dingin, bocah berusia tujuh tahun itu menolak untuk menurunkan kapaknya bahkan untuk satu detik pun. Di dalam benak cerdasnya, hanya ada satu tekad yang mengeras: ia harus menjadi kuat agar ibunya tidak perlu lagi menahan sakit dan menyembunyikannya sebagai anak yatim piatu.
Beberapa langkah di belakangnya, Gu Jue berdiri bersandarkan pohon persik tua, melipat kedua tangannya di depan dada. Pakaian rami abu-abu kasarnya tampak rapi, menyamarkan jati dirinya dengan sangat sempurna sebagai Ah Jue sang tabib fana. Sepasang matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan otot dan tarikan napas putranya.
Di bawah pengawasan senyap itu, Gu Jue sebenarnya sedang memfokuskan indra sensorik iblisnya untuk memeriksa aliran energi spiritual di dalam tubuh Gu Yu. Sejak awal kedatangan bocah ini, ia sudah tahu pasti bahwa Gu Yu adalah darah dagingnya sendiri. Namun, yang ia periksa saat ini adalah bagaimana inti spiritual campuran di dalam tubuh Gu Yu beresonansi setelah delapan tahun tumbuh di pelosok fana tanpa bimbingan.
Potensinya sangat mengerikan, batin Gu Jue, seulas rasa bangga tersembunyi merayap di hatinya yang sedingin es.
Darah dewi langit dan darah raja iblis yang mengalir di pembuluh darah Gu Yu tidak saling menghancurkan, melainkan saling menjalin membentuk pusaran energi yang sangat padat. Jika bocah ini diajari teknik pernapasan Alam Kegelapan sejak dini, dalam beberapa tahun ia akan mampu membelah gunung fana ini hanya dengan sebilah pedang kayu.
"Tahan napasmu di perut saat kapakmu menghantam, Bocah," ujar Gu Jue dingin, memecah kesunyian fajar. "Kau membuang terlalu banyak tenaga di bahumu. Jika kau terus mengayun seperti itu, tanganmu akan lumpuh sebelum bambu itu retak."
Gu Yu kecil menghentikan ayunan kapaknya sejenak. Ia menoleh, menatap Gu Jue dengan tatapan kaku dan gengsi khas anak kecil, namun ia tetap mengikuti petunjuk tersebut.
Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan tenaganya di perut, lalu kembali mengayunkan kapaknya.
Brak!
Suara hantaman kali ini terdengar jauh lebih solid, dan batang bambu besi yang terkenal sangat keras itu langsung terbelah dua. Gu Yu terbelalak sekilas, menatap kapak kecilnya lalu beralih menatap Gu Jue dengan secercah rasa hormat yang mulai tumbuh di matanya. Pria rami abu-abu ini benar-benar bukan tabib biasa.
"Bagus. Bereskan sisa kayunya dan bawa ke dapur," perintah Gu Jue datar, berbalik berjalan menuju pondok kayu tanpa menunggu pujian dari anaknya.
Sementara kedamaian kaku mulai terajut di pondok Gunung Han, di belahan dunia fana yang lain, sebuah badai konspirasi yang mengerikan justru baru saja tersulut.
Jauh di puncak Gunung Guntur, tempat berdirinya Altar Agung Sekte Sembilan Pedang—sekte kultivator manusia terbesar di bumi fana—langit siang itu mendadak terbelah oleh kilatan cahaya emas yang menyilaukan.
Ribuan kultivator yang sedang berlatih di pelataran sekte seketika berlutut ketakutan saat sebuah proyeksi suara tiruan raksasa yang agung bergema dari balik awan langit tingkat sembilan.
Itu adalah titah gaib dari Dewa Tinggi Ling Cang.
"Wahai para pemburu keabadian di dunia bawah," suara tiruan Ling Cang bergaung megah, memanipulasi keserakahan di dalam hati setiap manusia mortal yang mendengarnya.
"Telah melarikan diri seorang pendosa langit pembawa petaka, seorang wanita bergaun katun biru bersama seorang anak kecil bermata hitam sepekat malam yang merupakan benih kutukan pembawa kiamat bagi dunia fana. Siapa pun yang berhasil membawa mereka di antara kalian, faksi mana pun di dunia fana yang berhasil menangkap dan membawa mereka hidup-hidup ke altar suci... akan Aku anugerahkan kenaikan tingkat kultivasi instan, mendobrak batas fana, dan diangkat menjadi Dewa Abadi di Alam Langit!"
Mendengar janji palsu tentang kenaikan tingkat instan menjadi dewa, seluruh kompleks Sekte Sembilan Pedang seketika gempar. Bagi para kultivator manusia yang telah menghabiskan ratusan tahun bermeditasi dan mengorbankan segalanya demi menembus batas kedewaan yang mustahil, sayembara berdarah ini adalah tiket emas yang paling dicari.
"Menjadi dewa instan... Titah dari Dewa Tinggi?!" gumam Ketua Sekte Sembilan Pedang, seorang pria tua berambut putih dengan mata yang mendadak berkilat haus darah dan keserakahan yang meluap-luap.
"Kirim seluruh tetua dan ribuan murid elit! Sisir setiap jengkal bumi fana! Temukan wanita biru dan anak bermata hitam itu sebelum sekte lain mendahului kita!"
Dalam hitungan jam, hasutan kejam Ling Cang menyebar seperti wabah penyakit ke seluruh pelosok dunia fana. Ratusan sekte kultivator, master pedang pengembara, hingga pendekar sesat yang haus kekuasaan mendadak berubah menjadi pemburu bayaran yang kejam. Mereka bergerak dalam kelompok-kelompok besar, menyisir pegunungan dan desa-desa fana dengan mata yang dibutakan oleh janji keabadian langit.
Di pondok kayu Gunung Han, sore hari menjelang malam.
Shen Liya sedang duduk di ambang pintu pondok, merajut sehelai kain rajut katun untuk Gu Yu kecil. Berkat energi hangat yang mengalir misterius di tubuhnya setiap malam, fisiknya terasa jauh lebih bugar. Namun, kedamaian di wajah cantiknya mendadak terusik saat ia merasakan distorsi spiritual yang aneh di udara fana jarak jauh.
Sebagai mantan dewi langit, ia bisa mencium bau energi hasutan yang pekat di atmosfer atas bumi fana.
Ada yang tidak beres... batin Shen Liya, tangannya berhenti merajut, dan matanya nampak cemas ke arah perbatasan hutan bambu yang mulai menggelap.
Gu Jue melangkah keluar dari dalam gubuk membawa mangkuk obat malam untuk Shen Liya. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di samping sang Dewi, sepasang mata sehitam malam miliknya menyipit tajam menatap ke arah kaki gunung.
Melalui ikatan spiritual rahasianya dengan Pelindung Kanan Feng Wu, Gu Jue baru saja menerima laporan darurat dari garis depan luar.
"Yang Mulia... Dewa Tinggi Ling Cang telah menghasut seluruh sekte kultivator manusia," suara Feng Wu bergaung senyap di kepala Gu Jue. "Sayembara menjadi dewa instan telah membuat ribuan manusia mortal bergerak menuju arah Gunung Han. Beberapa kelompok pengintai dari Sekte Sembilan Pedang diperkirakan akan mencapai perbatasan luar hutan kita esok pagi."
Mendengar laporan tersebut, sudut bibir Gu Jue terangkat membentuk guratan senyum tipis yang teramat mematikan. Sepasang mata hitamnya berkilat ungu pekat sesaat sebelum diredam kembali dengan rapi. Ling Cang benar-benar menggunakan taktik kotor dengan memanfaatkan keserakahan ras manusia untuk memburu anak dan istrinya.
Kultivator manusia yang serakah... batin Mo Jue, hawa pembunuh yang dingin bergolak halus di dalam dadanya. Silakan datang dan jadilah pupuk bagi hutan bambuku. Aku akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa melangkah kembali dari gunung ini hidup-hidup.
Gu Jue menyerahkan mangkuk obat hangat itu ke tangan Shen Liya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah badai kepungan ratusan pemburu manusia di luar sana sama sekali tidak ada artinya di mata sang Raja Iblis. Sandiwara perlindungan fana ini akan segera diuji oleh aksi pertumpahan darah melawan sekte-sekte serakah, dan Gu Jue bersumpah akan membantai mereka semua secara senyap demi menjaga senyuman di wajah keluarganya.