Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medan Perang Yang Panas
Pagi hari di Desa Haruto dimulai dengan kesibukan yang jauh lebih terorganisir dari sebelumnya. Berbekal sketsa denah baru yang digambar di atas tanah pada malam sebelumnya, Haruto mulai merealisasikan rencana ekspansi desa. Keberadaan gerobak dorong (wheelbarrow) yang baru saja diciptakan terbukti menjadi alat bantu yang luar biasa efisien.
Fina dan Luna dengan riang mendorong gerobak penuh muatan batu untuk fondasi. Sementara itu, Mira dan Fira dengan mudah mengangkut beberapa batang pohon besar di luar batas pagar yang telah ditebas oleh Haruto menggunakan kekuatan Divine Shadow Tool dalam wujud kapak tajam. Di sisi lain area, Kaelin dan Hana sibuk membawa pasak kayu untuk menandai batas-batas tanah yang akan dijadikan area kebun baru, sementara Elara fokus memeriksa ulang catatan persediaan makanan di gudang.
Brom berjalan mendekat sambil membawa beberapa pasak kayu tambahan ke area perluasan. Melihat aktivitas itu, Haruto menjelaskan tujuannya, "Pagar kayu yang lama tentu tetap kita pakai sebagai benteng utama. Tapi kita perlu mendirikan pagar kedua di luar sana."
"Pagar kedua?" Brom mengerutkan kening. "Untuk apa membuang tenaga membuat dua lapis?"
"Ini bukan benteng pertahanan militer," jawab Haruto sabar. "Hanya pagar pembatas luar untuk mengamankan area perluasan: sawah kedua kita, kebun anggur, serta kebun buah-buahan tambahan seperti apel, jeruk, mangga, dan durian. Jadi, kalau ada monster kecil yang kebetulan menyusup masuk, tanaman kita tidak langsung habis tersapu bersih."
Mendengar kata kebun anggur disebut, Brom langsung teringat pada impiannya akan minuman fermentasi. Dwarft tua itu langsung memasang wajah cerewet. "Kalau begitu, cepat tanam pohon anggurnya sekarang juga! Jangan ditunda-tunda!"
Haruto hanya bisa menghela napas panjang, tersenyum kecil menghadapi antusiasme sang pandai besi. "Iya... iya, sabar..."
Jauh di luar wilayah terisolasi itu, tepatnya di dalam ruang strategi markas komando militer utama Kerajaan Lumina—nama kerajaan manusia tempat para pahlawan dipanggil—suasana tegang menyelimuti meja peta. Sudah hampir genap tiga bulan sejak delapan remaja dari dunia lain dipanggil ke dunia ini untuk mengemban takdir sebagai pahlawan.
Kedelapan pahlawan—Kenji (Sword Saint), Rina (Archmage), Sarah (Healer), Hiroki (Spearmaster), Mika (Phantom Ranger), Daiki (Paladin), Yuki (Assassin), dan Emi (Chrono-Mage)—berdiri mengelilingi meja besar bersama sang raja, jenderal besar, dan para bangsawan tinggi.
Jenderal perang menunjuk sebuah titik strategis di wilayah selatan pada peta. "Pasukan Kerajaan Iblis kembali melancarkan ofensif besar-besaran dan mendesak pos pertahanan selatan kita. Ini waktunya kalian turun tangan."
Tugas pertama mereka akhirnya tiba. Bukan langsung menyerbu ibu kota musuh atau membunuh sang Raja Iblis, melainkan terjun langsung memperkuat lini pertahanan di garis depan. Mendengar perintah itu, gejolak emosi di dada kedelapan remaja tersebut bercampur aduk menjadi satu: ada semangat membara, rasa takut yang mencengkeram, dan ketegangan luar biasa yang sulit disembunyikan.
Begitu mereka tiba di zona pertempuran, realitas menghantam mereka mentah-mentah. Ini adalah kali pertama mereka menyaksikan perang yang sesungguhnya—bukan simulasi latihan di akademi yang steril atau latihan saat melawan monster.
Langit seolah tertutup oleh hujan panah berapi yang meluncur silih berganti. Suara dentuman sihir, bau besi dan darah, serta jeritan kesakitan memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, para pahlawan terpaksa bergerak cepat. Kenji dan Hiroki memimpin lini depan, menebas prajurit musuh dengan kemampuan fisik luar biasa mereka. Daiki mengerahkan sihir perisai cahaya untuk menahan badai panah, sementara Sarah bekerja tanpa kenal lelah memulihkan prajurit yang terluka parah.
Di titik lain, Rina merapal mantra destruktif skala besar yang membersihkan barisan musuh, Mika menembak jatuh para komandan iblis dari kejauhan, Yuki menyusup secara senyap ke lini belakang musuh, dan Emi memberikan buff kecepatan serta ketahanan kepada seluruh pasukan sekutu.
Berkat kekuatan luar biasa mereka, pasukan manusia berhasil memenangkan pertempuran hari itu. Namun, kemenangan itu sama sekali tidak terasa manis. Di hadapan mata kepala mereka sendiri, ratusan prajurit biasa gugur di medan perang. Sarah menangis histeris ketika menyadari bahwa kapasitas sihir penyembuhannya memiliki batas; tidak semua nyawa prajurit itu bisa ia selamatkan.
Menjelang sore, gelombang pasukan iblis yang tersisa kocar-kacir mundur menyelamatkan diri. Sebagian besar dari mereka melarikan diri ke arah timur dan selatan menjauhi zona pertempuran. Namun, dalam kepanikan luar biasa, beberapa kelompok prajurit iblis yang terluka parah justru memilih berlari compang-camping menuju ke arah utara—tepat mengarah ke hamparan hutan lebat yang terletak sekitar satu hingga dua kilometer dari medan perang.
Kenji, yang napasnya masih memburu akibat kelelahan, langsung menghunus pedang panjangnya. "Jangan biarkan mereka lolos!" serunya, bersiap mengejar sisa musuh tersebut.
Namun, sebelum Kenji sempat melangkah, tangan tua sang jenderal menahan bahunya dengan kuat.
Kenji menoleh dengan bingung. "Tapi Jenderal, mereka kabur! Kita harus habisi mereka!"
Sang jenderal menggeleng pelan, menatap lurus ke arah utara dengan ekspresi datar. "Biarkan saja. Mereka tidak akan selamat."
Kenji semakin bingung. "Maksud Anda?"
Sang jenderal menjawab singkat, "Mereka memilih jalur pelarian yang jauh lebih buruk daripada kematian di ujung pedang."
Kenji mengikuti arah pandangan sang jenderal. Di kejauhan, berbatasan langsung dengan dataran tempat mereka berdiri, terbentang sebuah dinding pepohonan raksasa yang gelap gulita, sunyi, dan tampak menelan seluruh cahaya matahari sore. Hutan itu begitu luas dan memancarkan aura menakutkan.
Jenderal itu mulai bercerita dengan nada suara yang merendah, memperingatkan para pahlawan muda di hadapannya. "Itu adalah Hutan Kematian. Wilayah paling terkutuk di benua ini. Tidak ada satu pun kerajaan yang mampu menguasainya, tidak ada pasukan militer yang berani menginjakkan kaki ke dalamnya, dan tidak ada negara waras yang mau mengklaim tanah itu."
Hiroki, yang sejak tadi menyeka peluh di dahinya, bertanya ragu-ragu, "Lantas, bagaimana kalau para prajurit iblis itu bersembunyi di dalam sana?"
Sang jenderal menggeleng tegas. "Kalau mereka nekat masuk ke dalam sana... anggap saja mereka sudah mati."
Seorang veteran perang berwajah penuh luka sayatan yang berdiri di dekat mereka ikut membuka suara, menambahkan kengerian kisah tersebut. "Puluhan tahun yang lalu, saat perang besar era sebelumnya, satu batalion pasukan elit pernah mencoba menembus jalur pintas melalui hutan itu untuk menyergap musuh," kenang sang veteran dengan suara serak.
Ia berhenti sejenak, menelan ludah kelat. "Dari ratusan prajurit hebat yang berangkat... yang berhasil kembali keluar... cuma tiga orang."
Sarah, yang masih terguncang oleh kengerian medan perang, mendengarkan dengan napas tertahan. Ia bertanya pelan, "Bagaimana... bagaimana keadaan tiga orang yang selamat itu?"
Veteran itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Mereka pulang dalam kondisi hancur secara fisik dan mental. Sepanjang sisa hidup mereka, mereka selalu mengatakan satu hal: mereka sangat berharap tidak pernah kembali lagi kedalam hutan itu."
Semua pahlawan terdiam seribu bahasa. Dinginnya angin senja seolah membekukan darah di pembuluh darah mereka.
Sore berganti senja. Seluruh pasukan manusia mulai bergerak mundur, kembali menuju benteng pertahanan utama untuk merawat yang terluka dan meratapi yang gugur.
Di barisan belakang, Kenji masih berulang kali menoleh ke belakang, menatap lekat-lekat ke arah kegelapan Hutan Kematian di kejauhan. Di antara bayang-bayang pepohonan purba yang lebat itu, ia sempat menangkap beberapa sosok bayangan kecil yang berlari panik dan akhirnya tertelan sepenuhnya oleh kegelapan hutan.
Kenji bergumam pelan pada dirinya sendiri, diliputi rasa penasaran yang mengganjal di dadanya, "Apa benar... di tempat segelap dan semengerikan itu, sama sekali tidak ada siapa pun yang hidup di sana?"
Sementara itu, jauh di dalam kedalaman Hutan Kematian—beberapa puluh kilometer dari tempat Kenji berdiri—Haruto sedang berdiri santai di bawah temaram cahaya matahari senja. Dengan senyuman puas, ia menancapkan tiang-tiang kayu untuk menegakkan pagar pembatas kebun barunya.
Ia sama sekali tidak menyadari, dan tidak memiliki petunjuk apa pun, bahwa sebuah pertempuran berdarah skala besar baru saja pecah dan hanya berjarak beberapa puluh kilometer saja dari batas desa tempat ia membangun kedamaiannya.