Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasuki Labirin
Di serikat petualang, Altea bertemu dengan sekelompok petualang yang menerima misi pengawalan darinya. Kelompok petualang itu terdiri dari lima orang, seorang pendekar pedang, pemanah, pendeta, penyihir dan ahli bela diri.
"Jadi kita akan mengawal mereka?" ucap seorang pemanah dengan nada angkuh. Lalu ia melihat ke arah Altea yang terlihat baru bangun tidur. “Apa dia yang mau dikawal?” tanyanya dengan sinis.
“Iya, apa ada yang salah?” tanya Resepsionis.
Gadis pemanah itu merupakan ras elf, salah satu ras dunia fantasi yang sangat terkenal dengan kecantikan mereka serta memiliki harga diri yang tinggi. Rekan kelompoknya yang lain? Mereka semua merupakan petualang solo yang kebetulan bertemu untuk melakukan misi pengawalan ini. Rata-rata dari mereka memiliki peringkat D sampai C.
Altea melihat ke arah si Elf dengan tatapan polos, “apa kau beneran elf?” ucapnya lirih karena masih setengah tidur.
“Ya, apa kau tak bisa melihatnya?” balas Elf itu dengan dingin.
“Begitu, yah.. aku baru kali ini melihat elf,” ucap Altea sambil menguap.
“Hei, apa kau benar-benar ingin masuk ke labirin?” Elf itu bertanya dengan ragu saat melihat Altea yang terlihat seperti tak punya harapan hidup saat masuk ke labirin dengan kata lain lemah.
“Apa kita bisa berangkat sekarang?” sela Rudolph.
Altea mengangguk pelan masih dalam keadaan mengantuk, tanpa sadar dia menarik pakaian Rudolph. Altea sudah menganggap Rudolph seperti kakaknya sendiri, begitu pula dengan Rudolph yang menganggap Altea seperti adiknya.
Rudolph mengangkat Altea secara perlahan, menggendongnya ala putri dan berjalan keluar dari serikat petualang, diikuti oleh lima petualang yang menerima misi pengawalan.
Setelah berjalan cukup lama mereka akhirnya sampai di depan pintu masuk labirin (dungeon) yang menjadi tujuan. Altea akhirny terbangun dan langsung meloncat turun dari gendongan Rudolph.
"Ayo masuk!" seru Altea penuh semangat.
"Hah, aku tak paham dengan sikap anak ini, terkadang dia terlihat begitu dewasa, tapi terkadang dia juga terlihat seperti anak-anak seumurannya," gumam Rudolph dalam batinnya.
Meski Altea adalah orang yang bereinkarnasi, jiwanya memang sudah dewasa tetapi tubuhnya masih anak-anak, lalu jiwa akan mengikuti tubuh, karena itulah pemikiran Altea yang seharusnya sudah dewasa mulai berubah karena tubuhnya yang masih anak-anak, dengan kata lain labil.
"Hei, jangan pergi sendiri!" seru Rudolph berlari mengejar Altea yang telah masuk ke dalam labirin.
Ke lima petualang yang mengikuti mereka merasa tak yakin, tapi karena mereka telah menerima misi itu, mau tak mau mereka harus mengejar Altea dan melindunginya selama berada dalam labirin.
Lantai pertama labirin (kita sebut dungeon aja biar lebih enak).
Lantai pertama merupakan padang rumput yang luas dengan beberapa hutan rimbun, monster di lantai ini tergolong lemah dan bisa dikalahkan oleh kelompok petualang pemula.
"Hebat!" seru Altea saat melihat pemandangan yang begitu luas. "Apa kita benar-benar di dalam dungeon?" serunya bertanya entah kepada siapa.
"Ya, kita benar-benar berada di dalam dungeon," balas Rudolph berseru.
Altea menoleh ke arah Rudolph dengan senyum lebar yang terlihat begitu senang. Ia berlarian ke sana kemari seperti anak-anak yang pertama kali masuk ke wahana bermain.
“Dasar bocah,” gerutu Elf itu pelan melihat ke arah Altea dengan sinis.
Altea yang merasakan tatapan itu menoleh dan menatap mata Elf itu lalu tersenyum simpul. Menandakan jika dirinya tak peduli dan tak mau menanggapi hawa permusuhan dari Elf tersebut. Melihat senyuman itu tentunya membuat si Elf tambah jengkel. “Apa maunya bocah ini?!”
Perjalanan itu menjadi begitu canggung mengingat mereka tak mengenal satu sama lain, terlebih lagi ini merupakan kali pertama mereka berada di kota Arum. Altea berlari menuju ke sebuah hutan, diikuti oleh para petualang yang menjadi pengawalnya. Ia duduk berjongok, mengambil beberapa tanaman herbal dengan begitu hati-hati untuk menjaga kualitasnya.
“Kalau kalian ingin jalan-jalan tak apa, aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar Altea sembari mengambil tanaman herbal. Rudolph langsung berjalan pergi meninggalkan Altea.
“Kalau begitu aku akan memburu beberapa monster,” katanya langsung pergi dengan cepat.
Lima orang yang lain termasuk Elf itu menjadi bingung, “apa memang boleh melakukan itu?” itulah apa yang mereka gumamkan dalam batin.
Altea menoleh kebelakang dengan heran, “apa kalian tak ingin melihat sekitar atau memburu monster seperti Kak Rud?” katanya bertanya.
“A- apa memang boleh?” salah satu dari merek bertanya.
“Iya, tak apa lagi pula ini masih lantai satu, tak ada monster yang berbahaya,” jawab Altea sambil bangun berdiri.
Tiga dari mereka berjalan pergi, dua sisanya tetap bersama dengan Altea, seorang pendekar pedang manusia dan pemanah elf. “Kalian tak ingin pergi?” Altea bertanya sekali lagi.
“Terus jika kami pergi siapa yang akan menjaga Anda? Walau ini lantai satu, tetap saja kita tak boleh lengah, lagi pula kami dibayar untuk menjaga Anda,” jawab sang Pendekar Pedang dengan jiwa keadilan yang tinggi.
“Huft.. aku benci mengakuinya, tapi benar yang dikatakan oleh Manusia ini, kami dibayar untuk menjagamu, meski kau menjengkelkan,” sambung Elf dengan sedikit sinis.
Altea menghembuskan nafas pendek, “oh, begitu,” katanya lalu berjalan masuk ke hutan lebih dalam. Kedua petualang itu berjalan perlahan mengikutinya, meskipun enggan Elf itu tetap melakukan pekejaannya secara profesional.
Setengah jam berlalu dengan cepat, Altea telah mengumpulkan cukup banyak tanaman herbal dan kini pergi ke titik berkumpul. Di sana sudah ada empat orang yang menunggu.
“Jadi kita akan pergi kemana?” Rudolph bertanya kemana tujuan Altea selanjutnya.
“Aku menginginkan material dari Fire Grizzly dan Balck Viper,” jawab Altea dengan santai.
“Kalau begitu tujuan kita ada di lantai dua belas dan lantai dua puluh tiga,” ujar Rudolph yang mengetahui lokasi ke dua monster tersebut. Disisi lain lima orang petualang yang mengikuti mereka cukup terkejut mendengar nama monster tersebut.
Dungeon yang saat ini mereka masuki baru pernah dijelajah sampai lantai tiga puluh, setiap sepuluh lantai akan ada perubahan dengan alam yang ada di dungeon.
1-10 \= Padang rumput luas dengan hutan yang rimbun.
11-20 \= Hutan dan pegunungan.
21-30 \= Goa yang luas dan gelap.
“A- apa mereka serius?” ucap salah satu petualang dengan tak percaya.
“Ya,” jawab Rudolph yang mendengar hal itu.
“Kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanannya!” seru Altea dengan penuh semangat.
Mereka mulai berjalan menuju ke lantai dua belas untuk mencari habitat dari Fire Grizzly yang tinggal di pegunungan berapi. Untuk menuju ke sana mereka melewati lantai demi lantai, bertarung melawan monster yang menghalangi hingga akhirnya mereka sampai dalam kurun waktu dua hari perjalanan.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿