Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dasar manusia purba!
Setelah berganti pakaian. Zura turun santai dari kamarnya, pergi ke dapur untuk mengambil camilan.
Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, mengambil remot, lalu menyalakan televisi.
Rebahan santai sambil ngemil kacang koro.
Sesekali tertawa.
Leon merasa bosan di kamarnya, dia berniat mencari udara segar ke luar.
Saat melewati ruang tamu, matanya tak sengaja melirik Azura yang makan sembari tiduran.
Leon yang sangat taat dengan aturan kerajaan, segera berjalan menghampiri Azura untuk menegur.
Tapi belum sempat bicara, Mata Leon membelalak. Napasnya seolah tertahan.
Di layar, sepasang pria dan wanita saling berpelukan dengan bibir bertaut tanpa sedikit pun merasa malu dilihat orang lain.
Dia lalu melirik Azura yang malah gigit jari gemas.
Dia merentangkan kedua tangannya, berdiri tepat di hadapan Azura, dan menghalangi pandangan gadis itu.
"Kau benar-benar tidak punya etika! Untuk apa kau mengintip orang yang sedang bercinta?!"
Suara Leon menggelegar seisi ruangan, matanya menatap Azura tajam, rahangnya mengeras.
Azura tersentak, dia spontan duduk, menelan ludah berat.
Dia sedikit takut ketika Leon menatapnya seperti itu, apalagi aura pria itu tidak main-main.
Leon melangkah mendekati Azura.
Azura menundukkan pandangannya, dia merasa seperti kepergok telah melakukan kejahatan.
Tatapan Leon tetap tajam, wajahnya datar, nada dingin namun tegas masuk ke dalam telinga Azura.
"Kau seharusnya malu dengan tindakanmu! Apa orang tua mu tidak pernah mengajarimu tentang etika? Apa kau tidak pernah belajar apa itu rasa hormat terhadap orang lain?! Selama ini apa yang kau pelajari di sekolahmu?!"
Azura semakin menunduk dalam, aura di sekitar Leon terasa membeku, bahkan dia tidak dapat berkutik.
Leon melirik tv dengan ekor matanya, di sana masih terlihat sepasang kekasih tengah berpelukan di sofa dengan bibir bertaut.
Leon menutup mata sejenak, menghela nafas pelan.
Melirik Zura yang diam seraya memilin jari.
"Sekarang tutup tirainya!"
Perintahnya tegas.
Zura berdiri, dia terus menatap ke arah kakinya.
Entah kenapa, Leon terasa berbeda dari biasanya.
Karna Zura tak kunjung bergerak, Leon sedikit mengepalkan tangannya.
" Kenapa masih diam? "Tirai itu! Cepat tutup sebelum mereka menyadari ada yang mengintip!"!"
Perintahnya dingin.
Zura di tempatnya merasa bimbang.
'tirai mana yang harus gue tutup? Dia kenapa tiba-tiba galak si?'
Batin Zura kesal + takut.
"Tapi ini masih siang"
Cicit Zura, seraya memilin kaos hitamnya.
Leon mengerutkan dahinya.
"Menurutmu? Tirai yang mana yang harus kau tutup supaya mereka tidak terlihat?"
Sahut Leon, masih menatap Zura marah.
Zura sedikit menegakan punggungnya, matanya menyapu seluruh ruangan.
'supaya mereka gak terlihat? Tirai mana anjir?'
Dia menggeleng pelan, Leon semakin mengeraskan rahangnya, menunjuk jengkel pada tv yang tetap menyala.
"Tirai itu yang harus kau tutup! Kau mengintip pasangan yang hendak melakukan ritual! Apa kau tidak tau malu?!"
Ucapnya tenang, namun suara Leon terdengar menyeramkan di telinga Zura.
Farida yang mendengar keributan di depan, segera berjalan cepat di ikuti Farah.
Dia mendapati Azura yang menunduk dalam, di hadapannya, Leon menunjuk tv dengan marah.
Farida mendekat, berusaha menenangkan Leon.
"Ada apa ini den? Non? Kalian berantem?"
Leon menatap Farida tajam, membuat wanita paruh baya itu sedikit tersentak.
Zura masih diam, bahkan kini matanya berkaca-kaca, dengan bibir sedikit ke bawah.
Leon kembali menunjuk tv.
" Apa menurutmu, mengintip sepasang suami-istri yang akan bercinta itu tindakan benar?"
Tanyanya dingin.
Farida menutup mulut.
Menatap tak percaya pada Zura.
Karna mereka berpikir kalau Zura sudah mengintip orangtuanya.
Farah langsung menutup mulut.
"Non... masa ngintip bapak sama ibu sih?"
Zura menatap Leon dengan mata berembun.
" Gue gak ngintip siapa-siapa!"
Sahutnya marah.
Leon menyeringai sinis.
" Lalu apa mereka?!"
Dia kekeh menunjuk tv.
Farah dan Farida serentak melihat tv yang tengah menayangkan film drakor tema sekolah.
Membuat mereka semakin heran.
Farida berjalan mendekat, mengambil remot di sofa, mematikan tv tersebut.
Leon berkedip cepat, ketika Farida mematikan tv tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Kemana orang-orang itu?"
Tanyanya heran.
Farah yang semula salah paham dengan Zura, langsung terkekeh geli.
Untuk pertama kalinya, Zura tunduk pada orang lain selain ayahnya, dan itu karna salah paham.
Farida menggelengkan kepalanya pelan.
"Mereka cuma aktor, Den. Itu direkam pakai kamera lalu ditayangkan lewat televisi.""
Jelasnya pelan.
Leon semakin mengernyit bingung.
Terus menatap tv yang sudah menampilkan layar hitam.
"Kau jangan bercanda, di belakang sana tidak ada panggung! Dan apa kau mengurung mereka? Apa kalian semua penyihir?"
Selidik Leon.
Farida menggeleng, sementara Farida terkikik.
Zura marah campur kesal.
Menatap Leon tajam.
"Lo manusia dari abad Mana si? Bodoh banget tau gak?! Lo fitnah gue udah ngintip orang! Dan sekarang Lo bilang kita semua penyihir? Waras gak Lo?!"
Sentak nya marah, mata Zura merah, air mata mengenang di pelupuk matanya.
"Lo itu emang bener bener gila! Dasar manusia purba!"
Ucapnya tajam.
Zura melengos pergi dengan menghentakkan kakinya, mengusap matanya yang mengeluarkan air.
Leon terdiam di tempat, menatap kepergian Zura.
Lalu melirik pada mereka berdua.
"Apa aku salah? Bukankan aku mengatakan kebenaran?"
Tanyanya.
Untuk pertama kalinya Leon merasa ragu dengan dirinya.
Farida menghela nafas pelan, melengos pergi ke dapur.
Sementara Farah, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Luaskan lah wawasanmu tuan, agar tidak menjadi salah paham!"
Setelah nya, dia juga ikut pergi menyusul Farida.
Leon mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam mereka.
Di istana, tidak ada yang berani mengatainya kasar seperti mereka.
Zura terdiam di depan laptopnya, alisnya menukik tajam.
Pikirannya terus mengarah pada perkataan Leon yang menurutnya tidak masuk akal.
"Apa dia benar-benar bukan dari sini ya? Masalahnya dia itu kuno banget"
Gumamnya pelan.
Dia menutup laptopnya, berjalan ke arah balkon.
Dia duduk di kursi kayu seraya menikmati pemandangan sore.
Tok..tok..tok...
Ceklekk...
Jody masuk kamar Zura, tapi dia tidak mendapati putrinya di sana.
"Azura?"
Serunya.
Azura melihat ke dalam kamarnya.
Mendapati Jody tengah berdiri di ambang pintu.
"Aku di balkon"
Sahutnya pelan.
Jody menghampiri Azura yang tengah duduk diam.
Di belakangnya, ada Farah yang membawa dua cangkir teh dan menyimpannya di meja kecil.
Jody duduk di hadapan gadis itu, melihat Azura yang sedikit berantakan.
Zura menatap Jody sekilas.
"Ada apa Pi?"
Tanyanya pelan.
"Kamu ada masalah?"
Sahut Jody yang malah balik bertanya.
Zura menggeleng pelan, matanya terus menatap langit jingga yang hampir gelap.
Jody meminum sedikit teh nya, membenarkan letak kacamata, lalu menatap Zura.
"Kamu masih berhubungan sama Rafael?"
Tanya Jody dengan wajah serius.
Mata Zura sedikit melebar, dia menegakan punggung, matanya bergerak tak tentu arah.
'*papi liat*?'
**Bersambung**....