Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan bergeser hingga tepat menunjukkan pukul sembilan malam.
Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di halaman rumah. Zoya yang sejak tadi masih duduk di ruang keluarga langsung menoleh ke arah jendela.
"Itu Papa."
Ia segera bangkit. Mama Dina ikut berdiri, lalu berjalan menuju pintu depan.
Saat pintu dibuka, Farhan baru saja turun dari mobil. Wajahnya tampak lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi dasinya sudah sedikit longgar. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya ikut turun sambil membawa tas tangan berwarna cokelat.
"Mama ...," sapa Mama Dina sambil tersenyum. Mama Meri membalas senyum menantunya.
"Tadi sekalian Mama jemput di rumah. Daripada sendirian, ya sudah ikut saja ke sini."
Farhan hanya mengangguk kecil.
"Malam, Pa," sapa Zoya sambil memeluk ayah tirinya.
Farhan membalas pelukan itu sekilas. "Malam."
Meski jawabannya singkat, Zoya tetap tersenyum. Ia memang sudah terbiasa dengan sifat Farhan yang tidak banyak bicara.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
Mama Dina menyuguhkan teh melati hangat dan sepiring kue lapis serta risoles yang tadi sore dibuatnya. Suasana terasa cukup hangat.
Mama Meri beberapa kali bercerita tentang tetangga lamanya hingga membuat Zoya tertawa kecil. Farhan sendiri lebih banyak diam sambil menikmati tehnya. Sesekali ia hanya mengangguk ketika ditanya sesuatu.
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Zoya yang sejak tadi menyimpan pertanyaan di dalam kepalanya akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Pa ...."
Farhan mengangkat pandangannya. "Iya?"
Zoya memainkan ujung cangkir tehnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata hati-hati, "Kalau ... suatu hari nanti Chelsea datang ke rumah ini ...."
Farhan masih menatapnya.
"Dan dia ingin tinggal di sini, apa Papa akan menerimanya?"
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Tangan Farhan yang sedang memegang cangkir teh berhenti di udara.
Perlahan ia meletakkan cangkir itu kembali di atas meja. Tatapannya berubah jauh. Seolah pertanyaan sederhana itu menyeretnya kembali pada masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur.
Beberapa detik berlalu. Lalu ia menarik napas panjang. "Tentu saja."
Jawaban itu keluar tanpa sedikit pun keraguan. "Dia juga anakku."
Jawaban Farhan itu membuat wajah Zoya langsung berubah. Mama Dina pun hanya bisa terdiam.
Sementara Mama Meri mengembuskan napas panjang. "Farhan ...."
Suara wanita tua itu terdengar penuh penekanan. "Sampai kapan kamu mau mengerti kalau Chelsea itu bukan darah dagingmu?"
Farhan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru jatuh pada uap teh yang masih mengepul di depannya.
Mama Meri kembali berkata, "Kenapa kamu masih terus memikirkannya?"
Farhan akhirnya mengangkat wajahnya. "Ma ...." Suaranya terdengar rendah. "Walaupun Chelsea bukan darah dagingku, sejak dia masih berada di dalam kandungan, aku sudah menganggapnya anakku."
Ia berhenti sesaat. Sorot matanya mulai redup. "Aku yang mengajak Chika memeriksakan kandungannya."
"Aku yang menemaninya memilih perlengkapan bayi."
"Aku yang menunggu kelahirannya."
"Dan aku yang menggendongnya pertama kali setelah dia lahir."
Farhan menundukkan kepala. "Bagiku ... hubungan itu tidak bisa hilang begitu saja hanya karena hasil tes DNA."
Tak seorang pun menyela. Farhan kembali berkata lirih, "Apalagi ...." Ia menelan ludahnya. "Ia kehilangan ibunya karena aku."
Mama Meri langsung menggeleng keras. "Bukan." Suara wanita itu terdengar tegas. "Bukan salahmu."
"Chika bunuh diri karena malu atas semua perbuatannya sendiri. Dia berselingkuh. Dia yang berbohong dan menghancurkan rumah tangganya sendiri. Itu semua pilihan yang dia ambil."
Farhan tetap diam. Kata-kata itu sudah sering ia dengar, tapi tetap saja rasa bersalah itu hadir setiap mengingat Chelsea.
Mama Meri melanjutkan, "Jangan terus menyalahkan dirimu. Sudah bertahun-tahun berlalu. Sampai kapan kamu mau menganggap kematian Chika sebagai kesalahanmu?"
Farhan menggenggam kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Namun tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar jelas. Beberapa saat kemudian Farhan berdiri dari duduknya.
"Aku capek." Ia memandang Mama Dina sang istri sebentar. "Aku mau mandi. Lalu istirahat."
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Farhan melangkah menuju lantai atas. Suara langkahnya perlahan menghilang. Begitu pintu kamarnya tertutup, Mama Meri langsung menggeleng pelan.
"Kalian lihat sendiri, kan?" Wanita tua itu menghela napas panjang. "Farhan itu masih saja merasa bersalah atas kematian Chika."
Mama Dina menatap ke arah tangga beberapa saat. Lalu ia berkata pelan, "Aku juga sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, Ma."
"Semenjak menikah dengannya, sudah hampir sepuluh tahun, sikapnya masih saja terus begitu," ucap Mama Dina selanjutnya.
"Ia memang tidak pernah kurang memberi nafkah. Semua kebutuhan rumah dipenuhi. Sebagai suami, kewajibannya tidak pernah ia abaikan. Tapi ...."
Mama Dina tersenyum pahit. "Sikapnya tetap dingin. Pendiam. Seolah masih ada bagian dari dirinya yang tertinggal di masa lalu."
Mama Meri ikut menghela napas. "Entah sampai kapan dia seperti itu. Terkadang Mama kasihan melihatnya."
"Dia menjalani hidup, tapi tidak benar-benar hidup."
Kalimat itu membuat suasana kembali hening. Zoya yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut berbicara.
"Nek ...."
Mama Meri menoleh. "Iya?"
Zoya menggigit bibir bawahnya. "Aku baru dapat kabar, Chelsea sekarang sudah keluar dari rumah Om Arsaka."
Mama Dina langsung menoleh. "Keluar dari rumah?"
"Iya." Zoya mengangguk pelan. "Aku takut dia akan mencari Papa."
Ucapan itu membuat Mama Meri mengernyit.
"Aku takut Papa akan menerimanya lagi." Suara Zoya mulai terdengar pelan.
"Kalau Chelsea kembali, bagaimana kalau Papa lebih memilih dia?"
Tatapan gadis itu mulai berkaca-kaca. "Bagaimana kalau Papa membuang aku dan Mama," ucap Zoya dengan wajah sendu. Berusaha meyakinkan mama Meri sang nenek kalau ia sangat sedih.
Mama Dina langsung menggenggam tangan putrinya. "Jangan bicara begitu."
Mama Meri justru mendengus pelan. "Lihat Nenek." Zoya mengangkat wajahnya.
"Tidak akan pernah terjadi. Nenek jamin. Nenek tahu seperti apa anak Nenek. Farhan memang berhati lembut. Tapi rumah ini juga punya aturan."
Mama Meri menggenggam tangan Zoya. "Kalau suatu hari anak itu datang dan mencoba tinggal di rumah ini ...."
Wanita tua itu menarik napas panjang. "Nenek orang pertama yang akan mengusirnya."
Ucapan itu membuat Zoya sedikit mengembuskan napas lega.
Namun, di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Farhan ternyata belum masuk ke kamar mandi.
Pria itu hanya berdiri mematung di balik pintu. Matanya terpejam. Tanpa disadari, seluruh percakapan di ruang keluarga masih terdengar samar hingga ke telinganya.
Perlahan ia mengeluarkan dompet dari saku celananya. Di balik dompet kulit hitam itu masih tersimpan sebuah foto kecil yang mulai memudar.
Foto seorang bayi perempuan yang sedang tertawa dalam gendongannya. Chelsea.
Farhan mengusap foto itu dengan ibu jarinya. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang selama bertahun-tahun.
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka
coba kl biar kn saja pasti topeng Zoya akn terbuka.
kl bgini Zoya pasti lbih hati hati demi warisan el.