Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Debu jalanan di depan kediaman Kiai Ahmad Bashir belum sepenuhnya mengendap, namun desas-desus sudah terbang lebih cepat daripada angin. Tetangga dan warga sekitar mulai mengerubungi halaman depan. Mereka berdiri berkelompok, berbisik-bisik dengan mata yang terus melirik ke arah pintu rumah yang terbuka lebar.
"Benar kan, menantu Kiai itu bukan orang sembarangan. Ada polisi datang, pasti urusannya gelap," bisik seorang ibu dengan nada menghakimi.
"Kasihan Kiai, reputasi bertahun-tahun runtuh karena wanita itu," timpal yang lain.
Asumsi liar mulai liar bermunculan, menciptakan kabut fitnah yang semakin pekat menyelimuti rumah yang biasanya penuh dengan cahaya doa tersebut.
Logika yang Kembali dan Penyesalan yang Terlambat
Di teras rumah, Fatih berdiri mematung, menatap kosong ke arah gerbang tempat mobil hitam tadi menghilang. Napasnya masih memburu, namun amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh kekosongan yang menyesakkan. Lukman menghampirinya perlahan. Ia mengenal Fatih sejak kecil; ia tahu bahwa di balik ketegasan sahabatnya itu, ada emosi yang mudah meledak jika menyangkut kehormatan keluarga.
"Tih, apa kamu tidak merasa ada yang janggal?" tanya Lukman dengan nada rendah dan tenang.
Fatih menoleh, matanya masih tampak bingung. "Maksudmu apa, Man?"
"Pikirkan lagi... dua orang tadi. Terutama si Herman itu. Gayanya sama sekali tidak mencerminkan anggota kepolisian. Cara dia bicara, kakinya yang diangkat ke kursi, bahkan dia merokok di dalam rumah Kiai... itu tidak sopan. Dan yang paling fatal, kamu tadi tidak menanyakan surat tugas mereka, kan?" terang Lukman panjang lebar.
Fatih terdiam. Kalimat Lukman bagai siraman air es yang mengejutkan kesadarannya. "Astaga... kenapa aku begitu bodoh?"
"Kamu terlalu dikuasai api, Tih. Hingga Kamu tidak bisa berfikir jernih , kamu main hantam saja dengan logika hukum yang belum tentu benar. Kalau mereka ternyata polisi gadungan, kamu baru saja menyerahkan istrimu sendiri ke penjara di tangan penjahat," lanjut Lukman tajam.
"Benar... kamu benar, Lukman. Kenapa aku bisa seceroboh ini?!" Fatih memukul pilar rumah dengan frustrasi. "Lalu kenapa kamu baru bicara sekarang, Man?!"
Lukman menghela napas. "Tadi emosimu sedang di ubun-ubun. Siapa pun yang bicara tidak akan kamu dengar. Aku hanya menunggu momen saat kamu mulai bisa berpikir jernih."
"Bang Fatih tega ya! Bang Fatih jahat!" Tiba-tiba Zahra muncul dari balik pintu, wajahnya sembap dan suaranya serak karena menangis. "Ayo Bang, kejar Mbak Bella! Sekarang!"
Fatih melihat ke dalam rumah. Di sana, Abi masih duduk lesu sambil menahan tubuh Umi yang pingsan. Mata Fatih bertemu dengan mata Abi. Tanpa kata, Abi memberikan isyarat berupa anggukan kepala dan sorot mata yang seolah berkata: Pergilah, selamatkan istrimu.
"Ayo, cepat Man!" Fatih berlari menuju mobil.
"Tunggu, aku ikut!" Zahra tidak memberikan pilihan. Ia langsung melompat ke kursi belakang sebelum Fatih sempat melarang.
Mobil Fatih meluncur kencang, bannya berdecit di aspal, membelah jalanan desa menuju jalan raya.
Pencarian Identitas: Wulan atau Bella?
Di dalam mobil yang melaju kencang, suasana terasa sangat tegang. Fatih terus bergumam sendiri sambil mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. "Wulan... kamu pasti Wulan... harusnya aku sadar lebih awal..."
Lukman yang duduk di sampingnya hanya bisa menatap jalanan dengan perasaan bersalah yang amat sangat. Di saku bajunya, ada sepucuk surat yang belum sempat ia berikan—surat terakhir yang ia simpan selama sepuluh tahun. Namun melihat situasi Fatih yang sedang kalut, ia menahan diri. Ia takut jika kejujuran saat ini justru akan tambah menghancurkan Fatih saat ini.
Zahra, yang dari tadi terisak, akhirnya meledak. "Wulan... Wulan... terus saja panggil nama itu! Sudahlah Bang, Kak Wulan itu sudah tidak ada! Sekarang yang jelas-jelas ada di depan mata dan jadi istri Abang itu Mbak Bella! Harusnya Abang menyelamatkan dia karena dia istri Abang, bukan karena bayangan masa lalu!"
"Bukan begitu, Ra. Abang baru sadar... Bella itu sepertinya memang Wulan yang selama ini Abang cari," jawab Fatih parau.
"Ih, Abang ini benar-benar belum move on ya? Apa sih yang membuat Abang yakin begitu?" protes Zahra lagi.
"Masakan yang dia buat... rasanya sama persis dengan masakan Wulan dulu. Tatapan matanya saat ketakutan, bross yang Abang temukan di kamarnya... dan yang terakhir tadi, dia memanggilku 'Abbas'. Tidak ada yang tahu nama itu selain teman-teman pesantren kita dulu, Ra!" Fatih mencoba menyatukan kepingan puzzle di kepalanya.
"Aduh Abang... Abang benar-benar kehilangan akal sehat ya?" Zahra mendengus kesal. "Bang, masakan itu bisa dipelajari, banyak orang punya selera yang sama. Mata mirip juga banyak. Bross? Semua orang bisa beli di pasar! Dan soal nama 'Abbas'... tadi pagi aku yang kasih tahu Mbak Bella waktu di studio! Aku bilang kalau Abang dulu dipanggil Abbas di pesantren. Makanya dia panggil Abang begitu tadi!"
DEG.
Fatih tertegun. Harapan yang tadi mulai tumbuh di hatinya kembali goyah. Jadi, dia memanggilku Abbas karena diberi tahu Zahra? Bukan karena dia benar-benar mengenalku? batinnya ragu.
"Kasihan loh Bang, Mbak Bella itu. Dia nangis-nangis di dalam, dan Abang malah masih menunggu Kak Wulan. Aku sebagai sesama wanita sakit hati dengarnya. Sebenarnya Abang ini cinta sama Mbak Bella atau cuma bayangan Kak Wulan?" Zahra terus melancarkan protes.
Namun, Zahra kemudian mengeluarkan ponselnya. "Bang, lihat ini. Ini dari temanku yang jago IT. Dia sudah cek akun yang ditunjukkan polisi gadungan tadi. Itu akun palsu, Bang! Wajahnya memang editan dari foto Mbak Bella, tapi badannya asli milik orang lain. Dan lihat ini..."
Zahra memperbesar sebuah foto dari akun tersebut. "Temanku tanya, apa Mbak Bella punya tato kupu-kupu kecil di atas dadanya? Karena di foto akun itu, wanita itu punya tato."
Fatih mengerutkan dahi, mencoba mengingat momen-momen singkatnya bersama Bella. "Tidak... Bella tidak punya tato. Tubuhnya bersih."
"Nah! Berarti itu benar-benar fitnah, Bang! Polisi itu bohong!" seru Zahra.
Fatih memaki dirinya sendiri dalam hati. Bodoh kamu, Fatih! Hal sekecil itu saja tidak kamu perhatikan! "Maafkan aku, sayang.. Aku akan menyelamatkanmu, tidak peduli kamu wulan ataupun bella.. kamu adalah istriku!" gumamnya penuh tekad.
"Tih! Itu mereka!" teriak Lukman tiba-tiba sambil menunjuk ke arah mobil hitam yang melaju sekitar seratus meter di depan mereka. "Cepat kejar!"
Konspirasi dan penghalangan
Sementara itu, di dalam mobil hitam yang dikendarai Herman, suasana terasa berbeda. Herman yang tadi tampak garang kini terlihat santai sambil menyesap rokoknya. Ponselnya berdering. Nama "Barja" muncul di layar.
"Bagaimana, Herman? Apa berhasil?" suara Barja terdengar berat dari seberang sana.
"Beres, Bos! Mainanmu sudah ada di tangan kami," jawab Herman sambil melirik Bella yang terisak di kursi belakang.
Iptu Deni, yang duduk di samping Herman, memberikan isyarat agar ponsel itu diberikan kepadanya. "Halo, Barja... tugasku hampir selesai. Sekarang jangan lupa, segera transfer sisa uangnya," ujar Deni dengan nada profesional namun korup.
Rupanya, Iptu Deni adalah polisi asli—namun ia adalah oknum yang haus uang. Sementara Herman hanyalah preman bayaran Barja yang menyamar menggunakan seragam hasil curian. Itulah sebabnya gaya mereka berbeda; yang satu terlalu kaku, yang satu terlalu "preman".
"Beres, Pak Deni... Bapak jangan khawatir," jawab Barja. "Satu lagi, sepertinya suaminya mulai mengejar. Rencana B, Pak. Anak buahku sudah bersiap di jalur itu."
"Bagus," Deni tersenyum licik.
Fatih memacu mobilnya, hendak menyalip mobil hitam itu. Namun tiba-tiba, sebuah mobil perak muncul entah dari mana, langsung menyalip dan menghalangi laju mobil Fatih. Fatih mencoba membanting setir ke kanan, namun mobil perak itu ikut menutup jalur.
BRAKK!
Terjadi senggolan antara bemper depan mobil Fatih dan bagian belakang mobil tersebut.
"Aaaaaaaahhh!" Zahra menjerit ketakutan.
CITTTTTTT!
Fatih terpaksa mengerem mendadak. Mobil perak itu juga berhenti tepat di depannya, menutup jalan sepenuhnya. Empat orang pria berbadan besar turun dengan membawa balok kayu dan alat pemukul.
"Eh... monyet! Turun lu!" tantang salah satu dari mereka sambil menggedor kaca mobil Fatih.
Fatih menatap Lukman. "Man, jaga Zahra di dalam. Jangan biarkan dia keluar!"
"Aku tidak bisa diam saja, Tih!" Lukman bersikeras.
Keduanya turun dari mobil. Tanpa basa-basi, empat anak buah Barja itu langsung menyerang. Fatih, yang memang sejak remaja "jagoan sekolah" dan terlatih dalam beladiri silat di pesantren, bergerak dengan gesit. Ia menghindari ayunan balok kayu, lalu membalas dengan tendangan berputar yang telak mengenai rahang salah satu penyerang.
Lukman, meski tidak sejago Fatih, memberikan perlawanan sengit. Namun ia sempat tersungkur karena dikeroyok dua orang. Saat sebuah linggis hendak menghantam kepala Lukman, Fatih menerjang dengan tendangan terbang, menjatuhkan lawan tersebut hingga tersungkur di aspal.
"Lari! Cepat lari!" teriak salah satu preman itu saat melihat rekan-rekannya mulai bertumbangan dihajar Fatih. Mereka segera melompat kembali ke mobil dan tancap gas, melarikan diri karena kalah telak.
"Cepat, Man! Mereka semakin jauh!" seru Fatih sambil melompat kembali ke kursi pengemudi.
Dialog di Ujung Tanduk
Di dalam mobil hitam, Bella yang masih terisak mulai menatap Dahlan dengan tatapan penuh luka. "Ayah... kenapa Ayah tega padaku? Ayah sudah janji pada Ambu akan menjagaku... Ayah bohong! Ayah kejam!"
Dahlan tertunduk, wajahnya tampak hancur. Dulu, ia memang ayah tiri yang baik. Ia mencintai ibu Bella—Ambu nengsih—dengan tulus, dan ia sangat memanjakan Bella saat mereka masih berkeluarga. Namun sejak istrinya meninggal, Dahlan kehilangan arah. Ia terjebak judi dan hutang pada rentenir sekaligus bos mucikari bernama Barja.
"Nak... maafkan Ayah, Nak... Ayah bukannya tidak sayang," suara Dahlan bergetar. "Tapi apa Bella tega lihat Ayah dibunuh sama Barja? Ayah punya utang besar padanya, Bella..."
"Itu perbuatan Ayah! Kenapa Bella yang harus menanggungnya?!" tuntut Bella dengan suara parau.
"Maafkan Ayah, Nak... sekali ini saja Ayah mohon. Tidurlah dengan Barja... setelah itu utang Ayah lunas, dan kamu bebas. Kamu bisa kembali ke suamimu," Dahlan memohon dengan nada yang sangat memuakkan.
Hati Bella terasa seperti diiris sembilu. Di satu sisi, ia teringat kebaikan Dahlan di masa lalu yang pernah menjadi sosok ayah yang hangat. Namun di sisi lain, ia tak percaya bahwa pria ini tega menjual kehormatan anaknya demi nyawanya sendiri.
Tiba-tiba, Iptu Deni yang sedari tadi diam mulai menunjukkan wajah aslinya. Ia menatap Bella dari spion tengah dengan pandangan lapar. Sebuah ide licik muncul di otaknya.
"Herman... belokkan dulu mobilnya ke arah penginapan di jalan sana. Jangan langsung ke tempat Barja," perintah Deni.
Herman mengernyitkan dahi. "Maksud Pak Deni? Kita mau apa?"
"Kita cicipi dulu gadis ini... Sayang kalau dilewatkan begitu saja sebelum diberikan pada Barja," jawab Deni dengan senyum mesum yang mengerikan.
"Apa...!!!" Dahlan terhenyak, matanya membelalak tak percaya. "Jangan, Pak! Perjanjiannya tidak begitu!"
"Diam kamu, tua bangka! Atau kamu mau aku tembak di sini?!" bentak Deni sambil mengeluarkan senjata apinya.
Bella mematung. Ketakutan yang lebih besar kini menjalar di nadinya. Ia baru saja lepas dari fitnah, kini ia berada di ambang neraka yang lebih gelap.
"KANG ABBAS...!!!" jeritnya dalam hati, berharap sang suami bisa menembus waktu dan jarak untuk menyelamatkannya.