Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pertelongan Datang
Pukul empat dini hari, suasana masih gelap dan sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahutan serta desir angin yang menemani langkah Raya menyusuri jalan berbatu di Desa Sukarumpi. Sesekali kakinya menginjak genangan air dan tanah becek sisa hujan semalam.
Di pundaknya tergantung sebuah tas lusuh yang hanya berisi beberapa helai pakaian dan barang-barang seperlunya. Dengan hati yang berat, Raya melangkah meninggalkan rumah yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangannya.
Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Setelah berulang kali berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah Swt., akhirnya Raya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya—pergi ke kota demi mencari peruntungan.
Bayangan rumah peninggalan ayahnya yang hampir roboh terus berputar di benaknya. Atap yang lapuk, dinding yang mulai retak, serta tumpukan utang yang tak kunjung lunas membuat dadanya terasa sesak. Ia sadar, jika terus bertahan di desa, hidupnya mungkin tidak akan pernah berubah.
Dengan berat hati, Raya juga harus mengubur sementara cita-citanya menjadi guru tetap di Taman Kanak-Kanak Desa Sukarumpi. Tawaran mengikuti pelatihan dari kepala sekolah yang seharusnya menjadi langkah awal menuju impiannya terpaksa ia tolak. Bukan karena tidak menginginkannya, melainkan karena keadaan tidak memberinya pilihan lain.
"Maafkan Raya, Bu Riska," bisiknya lirih.
Langkahnya tak pernah berhenti.
Saat langit mulai memancarkan semburat jingga, Raya telah tiba di terminal kecil di kecamatan. Dengan uang pas-pasan hasil honor mengajar selama satu bulan, hanya tujuh ratus ribu rupiah, ia berharap jumlah itu cukup untuk bertahan hidup hingga mendapatkan pekerjaan tetap.
Perjalanan yang seharusnya terasa menyenangkan justru dipenuhi kecemasan. Raya duduk di dekat jendela bus, memandangi hamparan sawah, kebun, dan perbukitan yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Desa Sukarumpi semakin kecil.
Semakin jauh.
Dan akhirnya menghilang.
Raya pergi tanpa berpamitan kepada Maimun. Ia hanya meninggalkan selembar kertas berisi pesan singkat dan permintaan maaf karena memilih pergi diam-diam.
Menjelang siang, bus yang ditumpangi Raya akhirnya memasuki terminal kota.
Raya turun dengan tubuh yang terasa lemas. Sejak kemarin, ia hampir tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Ditambah demam yang telah dirasakannya sejak dua hari terakhir, kepalanya terasa berat dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga.
Namun, ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan kesehatannya.
Dengan menggenggam erat secarik kertas berisi alamat sebuah tempat pelatihan kerja yang pernah direkomendasikan oleh temannya, Raya mulai menyusuri jalanan kota yang begitu ramai.
Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti.
Suara klakson bersahutan dari berbagai arah.
Gedung-gedung tinggi menjulang, membuat Raya merasa begitu kecil di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.
Meski langkahnya mulai goyah, ia terus berjalan.
Peluh membasahi pelipis dan tengkuknya.
Napasnya semakin berat.
"Ya Allah... kuatkan hamba. Jangan biarkan perjuangan ini berakhir di sini," gumamnya lirih.
Namun, tubuhnya telah mencapai batas.
Perut yang kosong membuat lambungnya terasa perih. Demam yang sejak pagi ia tahan kini semakin tinggi. Suara kendaraan di sekitarnya perlahan terdengar samar, seolah menjauh.
Raya mencoba melangkah sekali lagi.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu dunia di sekelilingnya berputar.
Tas lusuh yang berada di pundaknya terlepas lebih dahulu dan jatuh ke atas trotoar.
Tubuh Raya limbung.
Matanya perlahan terpejam.
Bruk!
Tubuhnya ambruk tepat di trotoar pinggir jalan.
Beberapa pejalan kaki yang melihat kejadian itu sontak menghentikan langkah mereka.
"Ya Allah, ada yang pingsan!"
"Mbak... Mbak, dengar saya?"
"Ada yang bawa air, cepat!"
"Kasihan sekali. Wajahnya pucat banget."
Orang-orang mulai berkerumun. Sebagian mencoba membangunkan Raya, sementara yang lain hanya menyaksikan dari kejauhan. Tak sedikit pula yang mengangkat ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
Namun, Raya sudah tidak mampu mendengar apa pun.
Air mata bening mengalir dari sudut matanya, meski ia telah kehilangan kesadaran.
Seolah-olah, di ujung antara sadar dan tidak, ia masih merindukan sosok yang tak mungkin kembali.
Di seberang jalan, sebuah mobil mewah berwarna hitam yang baru saja keluar dari area perkantoran mendadak berhenti.
Sepasang suami istri yang berada di dalamnya segera turun begitu melihat kerumunan orang di pinggir jalan.
Mereka adalah Bram Mahendra dan istrinya, Sinta Mahendra.
Pandangan Bu Sinta langsung tertuju pada seorang gadis berhijab yang tergeletak tak sadarkan diri. Wajah gadis itu tampak sangat pucat, bibirnya kering, sementara tubuhnya terlihat begitu lemah.
Entah mengapa, hati Bu Sinta seketika dipenuhi rasa iba.
"Ayo kita tolong, Pah," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pak Bram mengangguk pelan.
"Tentu."
Keduanya segera menghampiri kerumunan.
"Tolong beri jalan," ujar Pak Bram dengan sopan.
Beberapa warga langsung menyingkir.
Bu Sinta berjongkok di samping tubuh Raya. Dengan lembut, ia menyentuh dahi gadis itu.
"Ya Allah... panas sekali."
Bu Sinta menoleh kepada suaminya.
"Kasihan sekali, Pah."
"Kita bawa ke rumah sakit?" tanya Pak Bram.
Bu Sinta menggeleng pelan.
"Rumah kita lebih dekat. Panggil Dokter Edi ke rumah. Yang penting gadis ini segera mendapatkan pertolongan."
Pak Bram kembali mengangguk.
"Baik."
Tanpa membuang waktu, Pak Bram meminta bantuan beberapa warga untuk mengangkat tubuh Raya dengan hati-hati ke dalam mobil.
Sementara itu, Bu Sinta mengambil tas lusuh milik Raya yang terjatuh di trotoar.
Ia memegang tas itu erat seolah ingin memastikan tidak ada barang milik gadis tersebut yang tertinggal.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Bu Sinta menoleh kepada warga yang masih berkerumun.
"Bapak-Ibu, terima kasih sudah membantu gadis ini. Mohon maaf, saya juga ingin meminta tolong. Demi menjaga privasinya, jangan ada yang mengunggah foto ataupun video kejadian ini ke media sosial. Terima kasih atas pengertiannya."
Mendengar permintaan itu, beberapa warga mengangguk.
"Baik, Bu."
"Semoga gadisnya cepat sembuh."
Tak lama kemudian, mobil mewah itu pun melaju meninggalkan lokasi.
Tak lama berselang, Dokter Edi tiba.
Ia segera memeriksa kondisi Raya dengan teliti. Setelah memastikan denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuhnya, dokter itu mengembuskan napas lega.
"Syukurlah, tidak ada kondisi yang membahayakan, Bu."
Bu Sinta yang sejak tadi berdiri di samping sofa langsung menghela napas lega.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Demamnya dipicu kelelahan dan stres. Selain itu, lambungnya mengalami iritasi karena terlalu lama tidak mendapatkan asupan makanan. Saya sudah memberikan penanganan awal. Setelah beristirahat dan mengonsumsi obat secara teratur, kondisinya akan segera membaik."
"Alhamdulillah," lirih Bu Sinta.
Dokter Edi kemudian menuliskan resep obat dan menyerahkannya kepada Pak Bram.
"Silakan tebus obat ini di apotek. Kalau nanti demamnya belum turun atau kondisinya memburuk, segera hubungi saya."
"Tentu, Dok. Terima kasih."
Dokter Edi mengangguk kecil sebelum berpamitan meninggalkan kediaman keluarga Mahendra.
Bu Sinta kembali duduk di samping Raya.
Tatapannya tak pernah lepas dari wajah gadis itu.
Wajah yang sederhana.
Tanpa riasan berlebihan.
Namun memancarkan kecantikan yang begitu alami.
Entah mengapa, sejak pertama kali melihatnya, hati Bu Sinta merasa begitu dekat dengan gadis asing itu.
Perasaan yang bahkan sulit ia jelaskan dengan kata-kata.
Ia hanya berharap, gadis itu segera membuka mata dan kembali sadar.
Beberapa menit kemudian, kelopak mata Raya bergerak pelan.
Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya. Pandangannya masih buram. Langit-langit rumah yang asing membuatnya mengernyit bingung.
"Di... di mana aku?" gumamnya lirih.
Raya berusaha bangkit, tetapi kepalanya kembali berdenyut hebat hingga tubuhnya limbung.
"Pelan-pelan, Nak."
Suara lembut itu membuat Raya menoleh.
Seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat tengah duduk di sampingnya.
"Kalau masih pusing, jangan dipaksakan bangun. Istirahatlah dulu. Kamu aman di sini."
Mendengar kalimat itu, Raya justru semakin gelisah. Ia refleks menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tas lusuh miliknya.
Melihat kegelisahan itu, Bu Sinta segera mengambil tas tersebut dari meja kecil di dekat sofa.
"Kamu sedang mencari ini?"
Raya mengangguk cepat.
"Iya, Bu."
"Tidak ada satu pun barangmu yang hilang. Ibu menyimpannya sejak tadi."
Raya menerima tasnya dengan kedua tangan.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Perkenalkan, nama Ibu Sinta. Kamu bisa memanggil Ibu dengan Bu Sinta. Tadi Ibu dan suami menemukanmu pingsan di pinggir jalan, jadi kami membawamu ke sini."
Raya menatap Bu Sinta dengan ragu.
Ia belum pernah bertemu wanita itu sebelumnya.
Dalam benaknya, berbagai kemungkinan buruk bermunculan. Namun, tatapan mata Bu Sinta yang penuh ketulusan perlahan membuat rasa takut itu berkurang.
"Maaf kalau saya merepotkan," ucap Raya lirih.
Bu Sinta menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak sama sekali. Justru Ibu bersyukur bisa menolongmu."
Suasana kembali hening selama beberapa saat.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Bu Sinta lembut.
"Ra... Raya, Bu."
"Masyaallah, namanya indah sekali."
Raya hanya tersenyum tipis.
"Kamu sebenarnya sedang sakit. Kenapa masih memaksakan diri berjalan sendirian di bawah terik matahari?"
Raya menundukkan kepala.
"Saya baru datang dari desa, Bu."
"Dari desa?"
"Iya."
"Dengan tujuan apa?"
"Saya ingin mencari pekerjaan."
Bu Sinta mendengarkan dengan saksama.
Raya kemudian menceritakan sedikit tentang kehidupannya. Tentang pekerjaannya sebagai guru Taman Kanak-Kanak di Desa Sukarumpi, rumah peninggalan ayahnya yang hampir roboh, serta keputusannya merantau demi memperbaiki keadaan ekonomi.
Meski hanya bercerita singkat, Bu Sinta dapat merasakan betapa berat kehidupan yang dijalani gadis di hadapannya.
Tanpa disadari, rasa iba di hatinya semakin besar.
Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang membawa semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.
"Mari dimakan dulu, Nak. Perutmu kosong. Dokter bilang kamu belum makan sejak kemarin."
Raya memandangi semangkuk bubur itu dengan mata berkaca-kaca.
Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan perhatian setulus ini dari orang lain.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Sama-sama. Anggap saja Ibu sedang membantu anak sendiri."
Kalimat sederhana itu membuat hati Raya menghangat.
Di tengah kota yang terasa begitu asing, ternyata masih ada orang baik yang bersedia menolong tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Raya tidak pernah menyangka, keputusannya merantau akan mempertemukannya dengan seseorang yang kelak mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.