Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang memanggil!
"Apa kita tersesat?" Tanya Sri.
"Jangan bicara sembarangan dulu, Sri," bisik Bagas, mencoba menenangkan Sri meski tangannya sendiri mulai terasa dingin. Ia mengencangkan pegangannya pada senter, menyorot ke sekeliling untuk mencari tengara jalan.
Pak Basir menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga wibawanya sebagai yang paling tua di antara mereka.
"Tenang, jangan panik. Kalau kita panik, pikiran kita makin buntu. Di dalam hutan seperti ini, memang pandangan kita sering menipu. Semua pohon jadi kelihatan sama."
"Tapi Pak, saya yakin seratus persen tadi kita jalan lurus mengikuti bekas langkah kita sendiri," sela Tedi, suaranya naik satu oktav karena cemas.
Matanya bergerak liar menatap kegelapan di balik barisan pohon.
"Bagaimana bisa kita kembali tepat ke pohon ini lagi?" Kang Tono tidak menjawab. Ia maju, meraba bekas tebasan parang Tedi di batang pohon tersebut untuk memastikan. Setelah yakin, ia berbalik menatap Pak Basir dengan raut wajah yang kian mengeras.
"Kita tidak boleh asal melangkah lagi, Pak. Ini sudah tidak beres," ujar Kang Tono dengan nada rendah penuh kewaspadaan.
"Hutan ini seperti memutar balikkan langkah kita."
Sri semakin merapatkan posisinya ke dekat Bagas, merasakan suasana hutan yang mendadak terasa begitu pekat dan menekan. Suara jangkrik sore yang tadi mengiringi mereka kini seolah-olah lenyap.
"Padahal, kita tidak masuk terlalu jauh kedalam hutan bagaimana mungkin kita sampai tersesat." Kata Sri.
"Benar, Sri. Kita tadi paling baru berjalan sepuluh sampai 30 menit dari pinggir jalan utama," sahut Bagas, otaknya yang rasional mencoba menghitung estimasi waktu dan jarak yang telah mereka tempuh.
"Secara logika, jarak kita dari jalan raya itu dekat sekali."
"Itu dia yang bikin saya bingung, Mas Bagas," timpal Tedi, wajahnya kian tegang di bawah siraman cahaya senter.
"Hutan ini tidak seluas itu sampai bisa bikin orang tersesat berputar-putar. Kita semua tahu batasnya." Kang Tono melirik Pak Basir, lalu berbisik lirih,
"Pak... apa kita ketumpukan sesuatu? Jalurnya seperti ditekuk."
Mendengar ucapan Kang Tono, Bagas merasakan tengkuknya benar-benar merinding. Di daerah asalnya, ia sering mendengar cerita tentang orang yang disesatkan oleh penghuni hutan, dibuat berputar-putar di tempat yang sama meski jarak dari pemukiman hanya sepelemparan batu.
"Sudah, jangan berspekulasi yang aneh-aneh dulu," potong Pak Basir tegas, mencoba memutus aura mistis yang mulai memengaruhi mental rombongan. Beliau mematikan senter besarnya sejenak, memejamkan mata, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
"Mungkin karena penerangan kita terbatas, tanpa sadar langkah kaki kita agak melenceng ke kanan atau ke kiri saat menghindari semak berduri tadi. Di kegelapan begini, belok sedikit saja jalurnya sudah beda," lanjut Pak Basir, berusaha memberikan penjelasan masuk akal demi menenangkan Bagas dan yang lainnya.
"Ayo, kita coba sekali lagi. Kali ini, Tono jalannya paling depan. Senter kita semua fokuskan ke punggung Tono. Kita jalan pelan-pelan, jangan terburu-buru."
Langkah kaki mereka yang memijak dedaunan kering kembali menimbulkan bunyi berkersek. Semua fokus mengikuti punggung Kang Tono di depan, memastikan tidak ada yang melenceng barang satu jengkal pun.
Sorot lampu senter menyatu, membentuk satu koridor cahaya di tengah kepekatan hutan.
Namun, baru sekitar lima menit mereka berjalan, telinga Sri menangkap sesuatu.
Di antara deru angin di dalam hutan yang berembus pelan, ada sebuah suara rendah yang mengalun. Suara itu begitu tipis, lirih, namun terdengar sangat jelas di indra pendengarannya.
"Sri......"
Sri seketika mematung. Langkah kakinya berhenti mendadak.
Cengkeraman tangannya pada senter mengencang, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Karena Sri berhenti tiba-tiba, Bagas yang berjalan tepat di belakangnya hampir saja menabrak punggung gadis itu.
"Sri? Kenapa berhenti?" tanya Bagas, menyadari perubahan sikap Sri yang mendadak tegang.
Tiga warga desa di depan mereka ikut menghentikan langkah dan membalikkan badan.
"Ada apa, Nduk Sri?" tanya Pak Basir dengan nada penuh kewaspadaan.
Sri tidak langsung menjawab. Ia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam.
Matanya bergerak liar, menatap ke arah kegelapan di sisi kiri mereka, mencoba menembus barisan pohon yang hitam legam.
"Kalian... mendengarnya tidak?" Tanya Sri.
"Mendengar apa, Sri?" Bagas ikut memasang telinga, mengedarkan pandangan ke arah yang sama dengan Sri.
"Ada yang memanggil namaku, Gas..." lirih Sri, nyaris tak terdengar.