Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kita Dan Kenangan
"Oh iya. Setelah aku keluar dari panti. Apa ... tidak ada penghuni baru lagi?" Satya memecah sunyi. Ia berjalan pelan menuju meja kayu, menuangkan air putih ke dalam gelas plastik dengan tangan yang sedikit gemetar. Kemudian menyerahkan ke Melati yang langsung diterima.
"Tidak ada,” sahut Melati. Kemudian meneguk air pemberian Satya. Usai menyerahkan jelas kembali, ia melanjutkan, “aku dan Mak Lik adalah penghuni terakhir. Setelah kamu pergi, kurang lebih enam bulan kemudian, Bu Rumanah, pemilik panti meninggal.”
Ia menghela napas berat. “Harusnya aku harus pergi. Tapi karena sekolahku kurang satu semester. Mak Lik, minta waktu. Setelah aku lulus. Barulah, aku dikembalikan ke Bibi Turi. Karena panti ditutup. Sementara Mak Lik, ia pulang ke desa. Tani, katanya.”
"Bibimu pasti tidak menjemputmu kan?" tebak Satya. Ia meletakkan gelas itu di meja. “Satu lagi, kau lebih suka di panti. Dibanding tinggal sama keluargamu.”
"Iya. Kamu benar, hehehe." Melati tekekeh getir. Senyum itu tidak sampai ke matanya, menciptakan atmosfer yang seketika terasa menyayat hati.
"Aku heran. Keluargamu kan tinggal Bibi dan sepupuku, siapa namanya aku lupa?”
“Mawar.”
“Iya benar. Kenapa tinggal satu saja. Kok ya, nggak diasuh sekalian saja. Kok tega banget mereka sama kamu.” Tangan Satya mengepal. Geram. Rautnya menegang, di balik wajah penuh guratan luka bekas terbakar.
“Karena mereka menganggapku beban. Wajar sih. Aku kan buta. Nggak bisa bantu banyak." Melati menunduk, menahan getir. Lalu tersenyum kecil. "Kamu sendiri bagaimana? Kamu pergi usai lulus sekolah menengah atas. Tanpa pamit. Membuatku kehilangan jejak," suaranya merendah. "Kamu satu-satu temanku, Satya. Usai semua teman pantiku pergi.”
“Iya aku datang, pandi sudah hampir kosong. Aku kira tak berpenghuni. Ternyata ada kamu.” Satya kembali menatap Melati.
“Ho-oh, pas aku kecil. Temanku banyak yang diadopsi. Menginjak remaja. Semua dijemput keluarganya. Untung ada kamu.
Aku jadi punya teman lagi."
Satya menatap Melati sendu. Bayangan saat pertama ia menginjakkan kaki di panti, kembali berkelebat. Trauma malam kebakaran, yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Menyisakannya dalam keadaan lumpuh, dan wajah rusak.
Mengira akan dalam pengasuhan sang paman. Satya harus menelan kecewa. Saat pamannya, menyuruh seseorang. Mengantarnya ke panti asuhan. Di daerah terpencil.
Saat hampir putus asa. Satya, yang kala itu hampir menginjak usia remaja. Diperkenalkan dengan Melati. Gadis muda buta, yang selalu bersemangat.
Dengan Melati. Satya yang semula pemurung. Perlahan berubah ceria. Belajar berjalan. Hingga akhirnya, dia bisa berlari.
Ketegangan batin membuat napasnya memburu berat.
"Maaf," cicih Satya. Ia mengepalkan tangan, menyembunyikan luka parut di pipinya dari pandangan kosong Melati.
"Maaf untuk apa?" Melati mengibaskan tangan. Ia mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak tegang.
“Ya karena aku pergi.”
"Perjanjian penitipan kan, kita memang harus pergi setelah lulusan sekolah menengah atas. Ya kali, panti mau membiayai sampai jenjang perguruan tinggi?"
Satya tersenyum. 'Aku kuliah Mel, asal kau tahu,' batinnya berbisik. 'Andai aku
jujur kalau ... aku ini pewaris yang dibuang. Apa kamu bisa percaya?" Ia melangkah mundur ke sudut remang ruangan, mengunci rapat kebenaran pahit.
"Sekarang. Apa rencanamu?" tanya Satya. Ia berdiri terpaku di dekat daun pintu, menatap sendu pada jemari Melati yang saling bertautan erat karena cemas.
Ketegangan menggantung tebal di udara, menanti sebuah jawaban.
"Aku tak mau kembali." Melati menggeleng pelan. "Satya." Ia meraba udara, hendak meraih tangan Satya. Langkahnya yang ragu-ragu terhenti saat jemarinya hanya menyapu kekosongan, memicu debar panik di dadanya. "Izinkan aku tinggal di sini."
Mendengar itu, Satya langsung memerah. Tersentak. Jantungnya berpacu liar kala menatap wajah polos gadis itu. "Maaf, tapi aku tak bisa mengizinkanmu tinggal," sahutnya, pelan. Ia mundur selangkah, menjaga jarak demi menyembunyikan rona merah sekaligus rasa mindernya.
"Kenapa? Apa kau membenciku?" tanya Melati menuntut, suaranya meninggi, sarat akan ketakutan akan penolakan. Wajahnya yang tak bisa melihat mendongak lurus ke arah datangnya suara Satya.
"Tidak, Mel. Hanya saja. Kita sudah terlalu dewasa, untuk tinggal dalam satu atap." Satya mengembuskan napas berat. Ia mengepalkan tangan di balik saku, merutuki keadaan yang membuat posisi mereka begitu pelik di mata lingkungan sekitar.
Hening. Atmosfer di dalam ruangan sempit itu mendadak mencekam dan terasa mencekik. Melati menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kau benar." Melati memecah sunyi. Bahunya merosot turun, menyiratkan kepasrahan yang teramat dalam. "Tapi kalau aku kembali. Bibi bisa menjualku lagi. Aku tak mau menjadi wanita malam. Aku ..," suaranya bergetar, menahan isak.
"Begini saja. Tak apa kau tinggal di sini. Aku akan tidur di bengkel. Tenang saja. Bengkel tempatku kerja, tak jauh dari sini. Aku akan datang, hanya untuk mengantar makanan untukmu.” Satya menyela cepat, tak tega mendengar kerapuhan gadis itu. Ia segera membalik badan, mencari sesuatu di balik lemari. “Ini pancing ikan. Sementara kamu bisa gunakan untuk berjalan. Tapi ingat! Jangan membuka pintu, kecuali aku datang.”
"Terimakasih. Satya." Tanpa sadar, bulir bening menetes di pipi Melati. Ia terharu. Dadanya yang semula sesak oleh sikap jahat sang bibi, kini sedikit meringan karena ketulusan sahabat lamanya.
"Aku balik bengkel dulu, Mel. Sudah habis waktu istirahat. Kau tenang di sini ya." Satya beranjak. Usai menyerahkan tongkat pancing, kepada Melati. “Hapus air matamu dengan ini." Setelahnya, Satya menyodorkan kain lembut tepat ke telapak tangan Melati, memastikan gadis itu menggenggamnya.
Setelah berkata demikian. Satya beranjak. Melangkah ke luar rumah. Berjalan menuju bengkel tempatnya bekerja. Di bawah sinar matahari yang merangkak naik. Ia berjalan cepat dengan tekad bulat untuk melindungi Melati dari ancaman sifat buruk manusia.
—
"Kamu dari mana saja, muka burik?" Seorang wanita dengan tubuh kurus, dan wajah penuh jerawat, menunjuk Satya dengan raut ketus. "Jam berapa ini?"
sindirnya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai semen, membuat suasana bengkel yang semula tenang mendadak tegang.
"Maaf, Mbak. Saya ada urusan mendadak tadi." Satya menjawab pelan, sengaja memalingkan wajah rusaknya agar tidak memicu makian yang lebih parah dari wanita itu.
"Urusan apa alasan?!" gertak si wanita sambil berkacak pinggang. Matanya melotot tajam, memancarkan kebencian yang mendalam. "Sudah sono balik. Tuh, mobil Pak Widodo sudah ditanyain istrinya. Sudah hampir sebulan nggak kelar. Kamu kerjain nggak sih?” Sambil mengibaskan tangannya, kasar, mengusir Satya seolah pemuda itu adalah hama.
"Iya." Satya menunduk gugup. Berjalan ke ruang lebih dalam. Langkah kakinya terasa berat, memikirkan Melati yang ia tinggalkan sendirian di rumah kontrakan dengan ancaman para preman yang masih mengintai.
"Mbak Rina marahin kamu lagi ya?" Seorang teman menepuk pundak Satya. "Jujur, aku yang sakit hati, mendengar olokan dia. Harusnya menegur tak perlu bawa fisik." Pria bernama Eko itu, berbisik rendah, melemparkan pandangan sengit ke arah depan bengkel di mana Rina masih mengomel sendirian.
Satya tersenyum, getir. "Aku dah kebal, Ko. Santai saja." Ia mulai mengambil tempat. Mengecek mobil putih di depannya. Tangannya yang kasar mulai meraba kap mesin yang terasa dingin, mencoba mengalihkan seluruh kecamuk di dadanya.
"Mobil Pak Widodo ini aneh. Masa di dalam mesin ada pasirnya?" Eko turut mengecek. Ia menyalakan senter, menyorot bagian dalam mesin dengan dahi berkerut penuh kecurigaan akan adanya sabotase.
"Bukan aneh. Ini kena oli palsu." Satya terus mengecek, lalu mengambil mesin ba bagian dalam yang sudah dibersihkan.
Memasangnya. "Lagian, Pak Widodo sudah tahu kok. Kalau penangananya lama. Karena harus bongkar mesin."
Satya memutar kunci pas dengan bertenaga, menyembunyikan intrik internal bengkel yang sengaja ingin menjatuhkan reputasinya di depan pelanggan.
"Kalau itu, emang si cungkring cari alasan saja. Supaya bisa marahin kamu. Biasa efek, dah tua belum nikah." Eko memberi penghiburan. Ia terkekeh kecil sambil menyodorkan lap kain basah ke arah Satya, berusaha meredakan ketegangan yang menyelimuti sahabatnya.
Satya terus melakukan pekerjaannya. Hingga hari mulai jingga. Tanda waktu kerja sudah hampir berakhir. Semburat merah di langit seakan menambah beban di pundaknya, mengingat Melati yang terkurung sendirian dalam kegelapan kontrakan.
"Nggak pulang, Sat?" tanya Eko, mengerutkan kening heran. Ia menyeka keringat di dahinya dengan handuk kumal, menatap Satya yang masih sibuk mengencangkan baut.
"Aku mau minta izin Pak To. Supaya bisa nginap di bengkel." Satya menjawab tanpa menoleh, tangannya tetap bergerak lincah meski hatinya dirayapi kecemasan hebat tentang keselamatan Melati dari kejaran anak buah Juragan Herwanto.