Memiliki Kenzo Alianso sebagai mantan suami yang masih sangat posesif kepadanya, Khalisa masih bisa menerima. Namun ketika Kenzo sekaligus keluarga mereka meminta Khalisa menikah dengan Kenan Alianso, dunia Khalisa yang awalnya mulai tertata, langsung menjadi tidak baik-baik saja.
Kenan Alianso merupakan adik kandung Kenzo. Dengan kata lain, Khalisa akan menjalani pernikahan turun ranjang. Kenzo sengaja memilih sang adik yang tengah patah hati. Sebab Syahaya kekasih Kenan, lebih memilih merintis karier balerina di luar negeri.
Kenzo yakin, Kenan tidak akan pernah tergoda kepada Khalisa yang memang sangat cantik sekaligus tipikal istri idaman. Hingga pernikahan turun ranjang rancangannya akan berakhir dengan perceraian, dan ia bisa segera kembali menikahi Khalisa.
Demi Alesha sang putri yang sedang sakit flek paru-paru dan berharap papa mamanya bersatu, Khalisa terpaksa menerima. Namun, selain Khalisa dan Kenan yang tak bisa langsung melakukan hubungan “suami istri” selaku syarat sebelum perceraian terjadi, Kenzo mendadak tergoda pesona Bella Arleta, sang mantan kekasih.
Kenzo berniat membuat dirinya kecelakaan dan dinyatakan meninggal, hanya agar bisa leluasa bersenang-senang dengan Bella. Namun, meninggalnya Kenzo justru membuat Khalisa dan Kenan tetap menjalani pernikahan turun ranjang.
Kenzo terlalu yakin, kapan pun dirinya kembali, Khalisa akan menerima apalagi ada Alesha putri mereka yang menjadi alasannya. Padahal, pernikahan turun ranjang yang diwarnai banyak emosi, membuat Khalisa dan Kenan mulai ketergantungan satu sama lain. Khalisa apalagi Kenan, benar-benar menikmati pernikahan turun ranjang yang mereka jalani.
Akan tetapi, apa jadinya jika Kenzo dan juga Syahaya, kembali mencoba menjadi bagian Khalisa maupun Kenan? Akankah pernikahan turun ranjang mereka tetap ada? Berhasilkan Kenzo dengan rencananya?
[Merupakan bagian dari novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan)]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 : Diam-Diam Bertindak
Perjalanan pulang ke Jakarta, Khalisa tak lagi duduk di sebelah Kenan. Kenan menyetir ditemani pak Aidan. Karena Khalisa memilih duduk di sebelah sang mama sambil memangku Alesha.
Alesha yang bisa merasakan kesedihan mamanya, jadi ikut bersedih. Namun sebisa mungkin, Alesha menyembunyikan kesedihannya. Alesha berusaha tegar, meski bekas dipuk.uli dan diam.uk Bella masih sangat terasa.
Dalam batinnya Alesha bertanya-tanya, kenapa mamanya justru makin bersedih dari hari kemarin? Apakah ada masalah lain? Bahkan, mamanya sampai tidak duduk di sebelah Kenan.
“Mama ...?” lirih Alesha yang kemudian menengadah.
Mata sembab Khalisa segera menatap kedua mata Alesha yang memang ada di bawahnya. Khalisa yang kembali memakai masker selaras dengan warna hijabnya, bergumam. Itu jawaban sangat lembut yang ia berikan kepada sang putri.
“Ayo kita pulang ke kampung saja. Kita enggak usah di Jakarta,” ucap Alesha yakin. Ia bersikap layaknya orang dewasa. Layaknya ketika mama dan kakek neneknya, memberi Alesha pengertian.
Bukan hanya Khalisa yang langsung terkejut kemudian bertanya-tanya dalam hati, kenapa Alesha berbicara begitu. Karena orang tua Khalisa, apalagi Kenan juga.
“Aku udah enggak mau papa. Aku beneran enggak apa-apa, meski tanpa papa. Aku mau sama Mama saja. Asal Mama bahagia,” lanjut Alesha.
Kedua mata tak berdosa milik Alesha, menatap kedua mata Khalisa penuh keyakinan. Tatapan yang begitu menenangkan. Harusnya, meski yang ada, kenyataan tersebut justru teramat menyakitkan bagi Khalisa.
Khalisa merasa sangat sakit lantaran dirinya merasa jadi orang tua gagal. Orang tua gagal yang membuat anaknya berpikir dewasa terlalu dini karena keadaan. Belum lagi, apa yang Bella lakukan, tapi Kenzo justru melindungi Bella!
Awalnya, Khalisa berusaha mati-matian menahan diri agar tidak menangis. Namun, itu terlalu sulit untuknya. Kedua matanya yang awalnya sudah terasa perih sekaligus panas, jadi makin panas. Dadanya juga terasa makin sesak. Hingga karena tangisnya telanjur pecah, Khalisa terpaksa menaruh sang putri di pangkuan ibu Arimbi. Apalagi di waktu yang sama, ibu Arimbi juga sudah mengulurkan kedua tangannya. Ibu Arimbi siap mengambil Alesha dari Khalisa.
“Pernikahanku han.cur, dan ini membuatku menjadi orang gagal. Namun sekarang, aku juga gagal menjadi orang tua,” batin Khalisa.
Khalisa tersedu-sedu membenamkan wajahnya di pangkuan. Namun sebelum itu, ia sengaja membelakangi Alesha. Ia tak mau Alesha melihatnya dalam emosi sekaligus tangis sehan.cur sekarang.
“Apakah mama sudah tahu? Menganai papa dan wanita jahat itu?” pikir Alesha. Ia ingin memeluk sang mama, tapi sang nenek yang langsung mendekapnya erat. Ibu Arimbi menggeleng, menatap kedua mata Alesa dengan berkaca-kaca.
“Memang sangat fatal. Benar-benar menyakitkan. Namun ini jauh lebih baik daripada kamu tahu nanti. Apalagi jika kamu tetap nekat bersama Kenzo,” batin Kenan yang jujur saja merasa sangat tidak tega kepada Khalisa. Jika bisa, ia ingin memeluk Khalisa. Namun, ia harus tetap fokus menyetir.
Sebagai orang tua, pak Aidan merasa sangat serba salah. Apalagi kini, status Khalisa justru istri Kenan. Pak Aidan ingin menghadap orang tua Kenan yang juga orang tua Kenzo. Pak Aidan ingin menuntut tanggung jawab karena ulah Kenzo. Masalahnya selain Kenzo tengah dicari oleh paman Syam dan anggota mafianya, pak Aidan juga tidak enak kepada Kenan. Belum lagi, sedikit banyaknya pak Aidan paham watak orang tua Kenan yang sangat mirip dengan Kenzo.
“Enggak apa-apa, Pa. Ayo, saya antar,” ucap Kenan tak lama setelah mereka sampai rumah.
Kenan paham, alasan pak Aidan gelisah karena pak Aidan tidak terima Khalisa dan Alesha seperti sekarang. Andai hanya hubungan Kenzo dan Bella, tentu Khalisa sekeluarga tidak sesakit sekaligus sangat kecewa layaknya sekarang. Karena keputusan Kenzo mencabut laporan terhadap Bella sungguh di luar nalar. Benar-benar keterlaluan.
Meski awalnya agak ragu, pak Aidan sengaja menerima tawaran Kenan. Setelah pamit, mereka langsung menuju kediaman orang tua Kenan. Kenan sampai cuti dadakan hanya untuk mengurus tuntas perkara yang ada. Perkara yang lagi-lagi diciptakan oleh Kenzo.
Sampai di rumah orang tua Kenan, di sana orang tua Kenan juga ditemani Keina. Karena kebetulan, sebelumnya Kenan sudah menghubungi mamanya. Bukan hanya perkara kedatangan Kenan dan pak Aidan. Karena Kenan juga mengirimi sang mama video CCTV hotel kebersamaan Kenzo dan Bella.
“Ya sudah, biarkan saja mereka berdua menikah. Adanya begitu, mau bagaimana lagi? Toh, kalau enggak salah, Bella sudah jadi model andal, sementara Kenan juga masih menunggu Khalisa,” tegas ibu Linda.
“Kalau Khalisa enggak mau rujuk ya enggak apa-apa, itu hak Khalisa!” tegas ibu Linda.
Pak Utama juga membenarkan. “Iya, begitu saja. Daripada dipaksakan. Sementara mengenai kasus Bella memu.kuli Alesha, nanti kita bahas secara baik-baik kalau orangnya sudah di sini. Apalagi Kenzo saja lebih memilih untuk tidak memperkarakannya,” ucapnya.
Selalu begitu jika menyangkut saja. Segala kesalahan Kenzo selalu termaafkan. Itulah yang membuat Kenan maupun pak Aidan gondok. Diam-diam keduanya makin dendam. Karena andai keduanya kembali berbicara, memang percuma. Lebih baik diam-diam, tapi bertindak.
“Sepertinya masih ada yang ingin Kak Kenan sampaikan,” ucap Keina tak kalah dingin. Keina yang duduk di sebelah sang mama, jujur saja merasa sangat bahagia. Keina berharap ada kejadian yang lebih fatal dari sekarang.
“Tapi bentar, deh. Bella kan, serakus itu. Andai Kak Kenzo jadi nikah beneran dengan Bella, alamatnya semua harta benda, dikeruk habis sama dia. Sedangkan Kak Kenzo sudah sebucin itu ke Bella. Wah, bahaya ini!” batin Keina mendadak ketar-ketir. Ia yang awalnya bersikap angkuh bin dingin, jadi tidak bisa untuk tidak gelisah.
“Bella mengaku sudah dibelikan banyak barang mewah oleh Kenzo. Coba dicek, siapa tahu uang mama atau uang perusahaan sudah raib. Karena yang aku tahu, tabungan Kenzo enggak sebanyak itu. Ditambah lagi, hobinya yang suka foya-foya, keluyuran dengan temannya, mab.ok, dan terakhir hidup mewah dengan Bella,” tegas Kenan masih bisa bersikap tenang.
Apa yang Kenan ucapkan makin membuat Keina tidak bisa tenang. Keina bahkan refleks berdiri. Keina menatap orang tuanya yang juga sudah balas menatapnya.
“Dek Keina, aku percaya, kamu jauh lebih baik dalam segalanya dari Kenzo. Termasuk dalam mengurus perusahaan, aku percaya kamu jauh lebih bisa diandalkan. Kamu beneran lebih pantas. Titip papa mama, ya. Karena hanya kamu yang punya kuasa buat mengelola segala sesuatunya!” ucap Kenan. Kenan benar-benar pamit dan sampai menggandeng pak Aidan.
“Andai mas Syam dan mafianya menemukan Kenzo dan Bella, aku pastikan, kedua orang ini dibikin menderita dulu. Enggak apa-apa kali ini aku jahat. Karena mereka saja tega ke anak dan cucuku!” sumpah pak Aidan dalam hatinya.
Diam, tapi diam-diam bertindak, sungguh itu yang tengah pak Aidan lakukan.
Masyaallah banget, bintangnya sudah jadi 5🌟🌟🌟🌟🌟 lagi. Makasih banyak, ya. Yang enggak tahu gunanya ini, ini kan penilaian buat novel. Bisa dilihat sesuai gambar, pojok atas sebelah kanan, klik itu, kalian bisa nilai. Tapi jangan dihancu.rin lagi ya 🙏✌️