Hanna merupakan seorang gadis yang cantik dan juga ceria, ia hanya hidup berdua bersama dengan ibunya. Hidupnya berubah drastis saat takdir mempertemukan dirinya dengan pria yang bernama Reza. Pria yang di juluki sebagai bad boy yang menjadi biang masalah di keluarganya.
Karena sebuah insiden membuat keduanya bertemu hingga akhirnya mereka terlibat dalam sebuah hubungan yang rumit.
Apa yang akan terjadi jika Hanna dan Reza harus tinggal bersama dan bertemu setiap hari sedangkan keduanya memiliki hubungan yang tidak baik.
Mampukah Hanna mengubah Reza menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya?
Cowo bad boy vs cewe yang berhati lembut dan tulus
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Penasaran,,,!
Tetap bersama 'Stay With Me' ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMANDANG DARI JAUH
Bu Indira melangkah cepat memasuki kantor polisi tempat putranya ditahan, beliau berjalan dengan tergesa- gesa karena khawatir dengan keadaan Reza dan ingin segera bertemu dengan sang putra. Bu Indira tidak datang sendirian, beliau ditemani oleh pak Danu yang merupakan pengacara keluarganya.
"Reza!" Seru bu Indira saat melihat Reza yang terduduk sambil bersandar di kursi dengan kepala yang menengadah keatas.
Reza segera memperbaiki posisi duduknya saat mendengar suara sang ibu.
"Mama!" Reza berdiri dan menyambut kedatang ibunya.
"Apa yang terjadi Reza? Kenapa kamu bisa berada di kantor polisi? Masalah apalagi yang kamu lakukan?" Tanya bu Indira dengan raut wajah khawatir.
"Bukan masalah yang besar ma, mama tidak perlu khawatir ucap Reza.
"Bukan masalah besar bagaimana? Kalau memang bukan masalah, lantas kenapa kamu bisa berada disini?".
Reza menggaruk kepalanya yang tiba- tiba terasa gatal, ia bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan sang ibu.
"Lebih baik kita duduk dulu bu, kita dengarkan penjelasan dari pihak kepolisian" Ucap pak Danu.
Bu Indira menurut dan langsung duduk disamping Reza.
"Sebernarnya ini ada masalah apa pak? Kenapa putra saya bisa berada disini?" Tanya bu Indira pada pak Sigit.
"Begini bu, tadi siang pak Reza terlibat percekcokan dengan seorang pria yang bernama Erik dan berakhir dengan perkela hian. Dan Erik melaporkan pak Reza dengan tuduhan penga niayan. Atas dasar laporan itulah kami menahan pak Reza" Jelas pak Sigit.
"Reza! Kenapa kamu melakukan itu?" Bu Indira menatap putra seolah tidak percaya dengan semua tuduhan itu.
"Mama tidak perlu khawatir, ini bukan masalah besar kok" Ucap Reza santai.
"Reza!" Bu Indira meninggikan nada suaranya.
"Meskipun masalah ini bukan masalah yang besar tapi tetap saja ini adalah masalah Reza. Kenapa kamu sangat suka mencari masalah dengan orang lain. Tidak bisakah kamu bersikap lebih sabar dan tidak perlu meladeni pria itu".
Bu Indira memukul dada Reza dengan kuat, beliau tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya pada sang putra.
"Ma" Reza menahan tangan ibunya agar tidak kembali memukulnya.
"Sakit ma" Keluh Reza.
"Mau sampai kapan kamu hidup seperti ini Reza? Mau sampai kapan kamu bersikap seperti berandalan yang tidak punya aturan? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan mama. Mama sedih Reza, mama khawatir sama kamu" Rintih bu Indira.
Reza tertunduk, ia tidak lagi menahan tangan ibunya dan membiarkan sang ibu memukul tubuhnya. Sesungguhnya hatinya ikut sakit mendengar rintihan ibunya.
"Tidak bisakah kamu berhenti membuat ulah? Apa yang harus mama lakukan agar kamu berubah dan kembali seperti dulu. Haruskah mama mati dulu agar mau berubah" Ucap bu Indira.
"Ma. Kenapa mama bicara seperti itu?" Reza tidak suka mendengar ucapan ibunya.
"Memang benarkan kan Za! Mungkin kamu akan berubah jika mama mati dulu seperti bu Hanum baru kamu akan sadar" Ucap bu Indira lagi.
"Hah! Apa maksud mama? Bu Hanum meninggal?" Tanya Reza.
"Iya, bu Hanum meninggal dan mama baru saja pulang dari pemakamannya".
'Bu Hanum meninggal? Itu artinya, Hanna!" Pikiran Reza langsung tertuju pada Hanna.
Reza seketika berdiri sembari berucap:
"Ma, Reza harus pergi sekarang" Ucap Reza pada ibunya.
"Pak Danu, pak Sigit, tolong selesaikan masalah ini".
Usai mengatakan hal itu, Reza langsung berlari keluar tanpa menghiraukan panggilan ibunya.
"Reza, kamu mau kemana?" Teriak bu Indira.
"Menemui seseorang ma" Sahutnya sembari berlalu pergi.
"Menemui seseorang! Siapa?" Tanya bu Indira seraya menatap pak Sigit dan pak Danu secara beragantian. Pak Sigit dan pak Danu saling berpandangan lalu mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu.
Reza berlari menuju motornya dan langsung tancap gas menuju rumah Hanna. Reza melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata- rata karena ia ingin segera sampai di tujuan. Perjalanan Reza berjalan mulus dan tanpa hambatan hingga akhirnya ia tiba di tujuan dengan selamat. Reza memang mengetahui alamat bu Hanum karena sebelumnya ia sudah pernah mengantar bu Hanum pulang sewaktu masih bekerja di rumahnya.
Reza berhenti tepat di depan rumah yang menjadi tujuannya, rumah tersebut terlihat ramai dengan para pelayat yang datang berkunjung. Sebuah kain merah terpasang di pagar depan sebagai tanda jika penghuni rumah tersebut sedang berduka. Reza mengamati keadaan disekelilingnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Beberapa menit telah terlewati dan Reza masih berdiam diri atas motornya sembari mengamati situasi didalam rumah Hanna. Sebenarnya Reza ingin sekali masuk kedalam rumah itu tapi ia masih ragu- ragu karena khawatir Hanna akan marah. Kejadian kemarin membuatnya merasa segan untuk menunjukkan batang hidungnya di hadapan Hanna sehingga ia memutuskan untuk mengamati dari luar saja.
"Apa dia akan marah jika aku masuk kedalam?" Gumam Reza.
"Tapi untuk apa aku datang kesini jika aku tidak bisa bertemu dengannya".
Disaat hatinya masih di liputi keraguan, tiba- tiba Reza melihat beberapa orang keluar dari dalam rumah dan ternyata salah satu dari beberapa orang itu adalah Hanna, orang yang ingin ia temui saat ini.
Orang- orang itu tampak sedang berpamitan dengan Hanna, mereka memeluk Hanna satu persatu untuk memberi dukungan dan semangat untuk Hanna.
"Yang sabar ya Hanna, kamu tidak perlu mengkhawatirkan ibumu lagi karena beliau sudah tenang" Ucap salah satu dari mereka.
"Iya bu. Terima kasih karena sudah datang berkunjung" Balas Hanna dengan ramah.
"Kalau begitu kami pamit ya Hanna. Kapan- kapan kami akan berkunjung kembali" Ucap yang lainnya.
"Iya bu, hati- hati di jalan" Sahut Hanna.
Usai berpamitan, para pelayat itu langsung berlalu pergi meninggalkan Hanna seorang diri. Hanna menatap kepergian orang- orang tersebut dengan perasaan haru.
'Benar seperti yang bu Indira katakan tadi, ternyata begitu banyak orang yang ikut merasakan kehilangan ibu".
Sejak kepulangannya dari pemakaman tadi sore hingga menjelang tengah malam, sudah ada puluhan orang yang datang kerumahnya untuk mengucapkan belasungkawa. Mereka datang dari RT sebelah yang sebagian besar merupakan ibu- ibu yang selama ini kenal dengan bu Hanum karena sering bertemu di tempat pengajian.
"Lihatlah bu, ternyata begitu banyak orang yang ikut berduka atas kepergian ibu. Semula Hanna berpikir cuma Hanna saja yang berduka namun ternyata orang- orang juga ikut berduka atas kepergian ibu" Lirihnya.
Hanna menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang mendung, tiada cahaya bulan dan cahaya bintang yang terlihat. Langit seolah ikut merasakan kesedihan hatinya saat ini yang gelap dan hampa. Puas menatap langit, Hanna memutuskan untuk kembali kedalam rumah dan mencoba untuk beristirahat meski ia tahu pasti jika malam ini ia tidak akan bisa memejamkan matanya.
Pintu rumah akhirnya tertutup dan Hanna menghilang dari pandangan mata Reza. Meski belum puas menatap Hanna namun setidaknya Reza merasa lega saat melihat keadaan Hanna yang baik- baik saja. Reza tahu jika saat ini Hanna pasti merasa sangat sedih dan membutuhkan seorang teman untuk menemaninya, namun Reza tidak bisa melakukan apapun karena ia takut untuk mendekati Hanna, yang bisa Reza lakukan saat ini hanya memandangi Hanna dari jauh. Seketika Reza langsung menyesali perbuatannya kemarin yang telah membuat Hanna marah dan menangis karena ulahnya.
Setelah sekian lama berdiam diri di depan rumah akhirnya Reza memutuskan untuk kembali kerumah dan ia berjanji akan kembali lagi esok hari atau setidaknya setelah amarah Hanna mereda.
☆
mg ankny mjd pembawa keberuntungan kebahagian d bs meluluhkan ego kakek dn buyuty yg sombong d angkuh it. mg ankny nanti mjd pemersatu keluarga .
untuk oma. ...coba sekali2 kasih ujian.hdp sendirian jauh dr ank d cucuny .biar dia sadar klo harta byk tp dinikmatin sdiri ap enakny.tinggal di rmh mewah kek tinggal di kuburan sendirian ap enakny.punya cicit lucu tp cm bs liat dr jauh g bs gendong krn malu ama ucapan sdri yg tlh membuang cucuy apa enakny coba....bikin oma kena hidayah thor....gemes kali ak ama tu oma tua...sombongy.....alamakkk bikin ngajak orang gelud aj bawaan....klo ak jd cucuny mending kuajak ambil n ngitungin kacang ijo pake sumpit dechhh...
biar dia jd org yg g mikirin diri sendiri mulu...d g sombong wlpn memang kenyataan