Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Tengah Perang
Beberapa tahun setelah namanya dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di dunia, Leon Volkov menerima sebuah laporan yang membuatnya menghentikan seluruh pekerjaannya.
Malam itu, Leon sedang berada di ruang kerjanya. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Di luar jendela, lampu-lampu kota terlihat menyala di tengah malam. Rumah besar itu tetap dijaga ketat seperti biasa.
Namun suasana di dalam ruang kerja terasa berbeda. Salah satu orang kepercayaan Leon berdiri di depan meja sambil membawa sebuah map berwarna hitam.
“Ada masalah di wilayah selatan,” katanya.
Leon tidak langsung mengangkat kepala.
“Masalah apa?”
“Konflik politik semakin membesar. Beberapa kelompok bersenjata mulai menguasai jalur utama.”
Leon menutup dokumen yang sedang dibacanya.
“Bagaimana dengan jalur logistik kita?”
“Dua jalur sudah ditutup. Tiga kendaraan belum bisa dihubungi.”
Leon terdiam.
Wilayah tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi jaringan bisnis Volkov. Banyak perusahaan yang bergantung pada jalur perdagangan di negara itu. Jika konflik terus berkembang, kerugian yang terjadi tidak hanya akan memengaruhi satu perusahaan, tetapi seluruh jaringan bisnis yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Namun Leon tidak terlihat panik.
“Berapa lama konflik ini berlangsung?”
“Hampir dua minggu.”
“Kenapa aku baru menerima laporan sekarang?”
Pria itu menunduk.
“Kami masih mencoba menyelesaikannya tanpa melibatkan Anda.”
Leon menatapnya.
“Dan hasilnya?”
“Situasinya semakin buruk.”
Ruangan menjadi sunyi. Leon berdiri dan berjalan menuju jendela.
Dari luar, semuanya terlihat tenang. Kota tetap dipenuhi cahaya. Kendaraan masih bergerak di jalan. Orang-orang menjalani kehidupan seperti biasa. Namun ribuan kilometer dari sana, sebuah negara mulai kehilangan ketenangannya.
“Kirim tim keamanan,” perintah Leon.
“Sudah.”
“Tambahkan jumlahnya.”
“Baik.”
Orang kepercayaannya tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di tempat.
Leon menyadarinya.
“Ada hal lain?”
Pria itu menarik napas pelan.
“Kami menemukan sesuatu yang mencurigakan.”
Leon berbalik.
“Apa?”
“Beberapa informasi mengenai jalur dan pergerakan kita diketahui oleh pihak yang seharusnya tidak memiliki akses.”
Tatapan Leon berubah dingin.
“Kebocoran?”
“Kemungkinannya besar.”
Leon kembali duduk.
Ia membuka laporan yang diberikan kepadanya. Beberapa nama tercantum di dalamnya. Ada catatan tentang jalur perdagangan, pergerakan kendaraan, serta kelompok bersenjata yang mulai mengambil alih beberapa wilayah.
Semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa masalah tersebut bukan sekadar konflik biasa. Ada seseorang yang memanfaatkan keadaan. Dan orang itu mungkin mengetahui jaringan Volkov.
“Siapkan pesawat,” kata Leon.
Orang kepercayaannya terkejut.
“Anda ingin pergi sendiri?”
“Aku tidak mengatakan sendiri.”
“Maksud saya, Anda ingin datang langsung?”
Leon menutup map.
“Kalau ada seseorang di dalam organisasi yang menjual informasi, aku tidak bisa hanya duduk di sini dan menunggu laporan.”
“Wilayah itu tidak aman.”
“Karena itu aku harus pergi.”
“Pak Leon...”
Leon mengangkat tangan.
“Aku sudah membuat keputusan.”
Tidak ada lagi yang berani membantah.
Beberapa jam kemudian, pesawat pribadi Volkov meninggalkan kota. Leon duduk di dekat jendela. Di seberangnya, dua pengawal memeriksa dokumen dan peta wilayah konflik. Salah satu dari mereka menunjukkan sebuah titik.
“Bandara utama masih beroperasi. Namun sebagian wilayah di sekitar ibu kota sudah ditutup.”
“Bagaimana keadaan warga?”
“Banyak yang mulai mengungsi.”
Leon memandang peta.
“Kelompok bersenjata?”
“Jumlahnya bertambah. Mereka mulai menguasai beberapa jalur.”
Leon tidak menjawab.
Ia telah menghadapi banyak konflik sepanjang hidupnya. Namun setiap wilayah memiliki aturan yang berbeda. Jika keadaan semakin buruk, mereka harus segera memindahkan orang-orang dan menghentikan seluruh aktivitas bisnis.
“Pastikan seluruh karyawan kita yang berada di sana dievakuasi,” ujar Leon.
“Bagaimana dengan perusahaan?”
“Perusahaan bisa dibangun kembali.”
Pengawal itu terdiam.
“Dan orang-orang?”
Leon menatapnya.
“Tidak.”
Itulah salah satu alasan banyak orang tetap setia kepadanya. Leon bisa kehilangan uang, gedung, atau jalur bisnis. Namun ia tidak pernah menganggap nyawa manusia sebagai sesuatu yang bisa digantikan.
Setelah beberapa jam perjalanan, pesawat mulai memasuki wilayah negara konflik. Dari jendela, Leon melihat beberapa area gelap. Sebagian kota masih memiliki cahaya, tetapi beberapa wilayah terlihat seperti telah kehilangan kehidupan.
Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian, suara salah satu pilot terdengar.
“Kita akan segera mendarat.”
Leon menutup dokumen.
Ia tidak tahu bahwa keputusan untuk datang langsung malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah pesawat lain mendarat di bandara yang sama. Tidak ada pengawalan khusus. Tidak ada kendaraan mewah yang menunggu.
Di antara para penumpang yang turun membawa tas besar dan perlengkapan bantuan, seorang perempuan berjalan sambil mengenakan jaket sederhana. Namanya Amara. Ia datang bersama tim relawan kemanusiaan.
Di dalam tasnya terdapat perlengkapan medis, pakaian hangat, beberapa obat, dan barang-barang yang dibutuhkan untuk membantu warga yang mulai mengungsi.
Amara memandang keadaan di sekitar bandara. Banyak petugas keamanan berjaga. Beberapa kendaraan militer terlihat berada di luar. Wajah para penumpang tampak tegang.
Seorang relawan di sampingnya mendekat.
“Situasinya lebih buruk daripada yang diberitakan.”
Amara mengangguk.
“Aku juga melihatnya.”
“Kau masih yakin ingin tinggal?”
Amara memandang beberapa keluarga yang baru tiba. Seorang ibu memeluk anaknya dengan erat. Seorang pria tua duduk sendirian sambil membawa satu tas kecil.
Amara menarik napas.
“Kita sudah sampai di sini.”
“Tapi kalau perang semakin besar...”
“Kalau semua orang pergi, siapa yang akan membantu mereka?”
Relawan itu terdiam. Amara bukan orang yang tidak mengenal rasa takut. Ia takut pada suara tembakan. Ia takut melihat orang terluka. Ia juga takut tidak mampu menyelamatkan semua orang. Namun ia percaya bahwa rasa takut bukan alasan untuk meninggalkan seseorang yang membutuhkan bantuan.
Setelah keluar dari bandara, mereka dibawa menuju sebuah pos kemanusiaan di pinggir kota. Sepanjang perjalanan, Amara melihat banyak bangunan telah ditutup. Beberapa jalan dipenuhi kendaraan militer. Di beberapa tempat, warga terlihat membawa barang-barang mereka dan berjalan menuju wilayah yang lebih aman.
Seorang anak kecil berdiri di pinggir jalan sambil memegang boneka lusuh. Amara memandangnya cukup lama. Di saat itulah ia menyadari bahwa perang bukan hanya tentang kelompok yang bertempur atau orang-orang yang berebut kekuasaan. Perang selalu meninggalkan orang-orang yang tidak pernah memilih untuk terlibat.
Sementara itu, kendaraan Leon keluar dari bandara dengan pengawalan ketat. Ia duduk di kursi belakang sambil memperhatikan keadaan kota.
“Bawa aku ke kantor utama,” katanya.
“Baik.”
Namun sebelum kendaraan bergerak lebih jauh, Leon melihat beberapa truk yang membawa warga menuju tempat pengungsian. Di antara mereka, terdapat banyak anak-anak.
Leon terdiam.
Ia teringat pada masa kecilnya. Pada rumah besar yang tidak pernah terasa hangat. Pada ibunya yang selalu berusaha melindunginya.
“Kita harus mempercepat evakuasi,” katanya.
Pengawal di depan menoleh.
“Untuk karyawan kita?”
“Semua orang yang berada di wilayah perusahaan.”
“Termasuk warga sekitar?”
Leon mengangguk.
“Kalau ada ruang, bawa mereka.”
Kendaraan kembali bergerak.
Namun tidak ada satu pun dari mereka mengetahui bahwa beberapa kilometer dari sana, Amara sedang membantu menurunkan kotak-kotak bantuan dari sebuah kendaraan.
Dua orang yang berasal dari dunia berbeda telah tiba di negara yang sama. Leon datang untuk melindungi jaringan, orang-orangnya, dan kekuasaan yang telah ia bangun. Amara datang untuk membantu orang-orang yang kehilangan rumah, keluarga, dan harapan. Mereka belum pernah bertemu. Leon tidak mengetahui nama Amara. Amara juga tidak mengetahui bahwa salah satu pria paling ditakuti di dunia berada di kota yang sama. Namun perang perlahan membawa mereka menuju jalan yang sama.
Menjelang malam, suara ledakan terdengar dari kejauhan. Para relawan langsung menghentikan pekerjaan.
“Semua masuk!” teriak salah satu petugas.
Amara menoleh ke arah kota. Asap mulai terlihat di langit.
Di sisi lain, Leon menerima laporan baru.
“Pak Leon, salah satu jalur kita diserang.”
“Siapa pelakunya?”
“Belum diketahui.”
Leon berdiri.
“Siapkan kendaraan.”
“Anda mau ke sana?”
“Aku harus melihat sendiri.”
Malam semakin gelap.
Di satu sisi kota, Amara membantu para warga menuju tempat perlindungan. Di sisi lain, Leon bersiap menuju wilayah yang mulai dikuasai kelompok bersenjata.
Mereka masih berada jauh satu sama lain. Namun tanpa mereka sadari, perang telah mulai memperpendek jarak di antara keduanya.
Dan malam itu, takdir perlahan membawa Leon Volkov menuju perempuan yang suatu hari akan menjadi satu-satunya tempat yang ingin ia tuju.