NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Kebun Teh

Jalanan menuju kebun teh begitu berkelok-kelok. Untung saja Sagara tangkas mengendalikan setang motornya.

Di belakang, Nara tenggelam dalam keheningan, tawaran pria itu barusan belum juga dijawabnya. Bibirnya terkatup rapat dengan pikiran yang melalang buana.

Suara mesin motor terdengar nyaring di tengah sunyi perkebunan teh, memancing seseorang yang tengah duduk di bale-bale bambu untuk turun dan melihat siapa gerangan yang datang. Bagja memicingkan mata, mengamati motor besar yang dinaiki oleh dua orang itu.

"Sepertinya itu Pak Bagja," komentar Sagara, melirik ke arah pria tersebut. Ia melajukan motornya untuk menghampiri Bagja yang tengah berdiri mengenakan sepatu botnya.

"Ya ampun, ternyata A Sagara dan Neng Nara. Kirain saya siapa tadi," sapa Bagja hangat. Ia langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan begitu Sagara turun dari motor, lalu beralih menyapa Nara.

"Iya, Pak. Katanya Bu Marni ... Bapak di sini, jadi kita langsung menyusul. Nara yang mengantar saya sampai ke sini."

Pak Bagja segera berterima kasih kepada Nara. "Haduh, maaf ya, A. HP saya jatuh ke sungai kemarin. Jadi kalau A Saga hubungi, nomor saya ndak aktif," beritahu pria itu, meluruskan situasi. Ada rasa sungkan di wajahnya, takut-takut pemuda di depannya ini tersinggung.

Sagara mengangguk paham. "Bu Marni juga sudah memberi tahu saya tadi, Pak."

"Kalau begitu, A Saga sama Neng Nara mau keliling dulu atau istirahat di bale-bale?" tanya pria itu sopan.

"Langsung saja, Pak. Saya mau membahas hal penting dengan Bapak. Kita ngobrol sambil duduk saja biar nyaman, nanti baru keliling. Tapi, sepanjang jalan tadi ... saya lihat semua baik-baik saja. Bapak telah merawat kebun teh ini dengan sangat baik."

Obrolan kedua pria itu mulai memasuki topik serius, sementara Nara memilih menarik diri. Ia sibuk menikmati pemandangan kebun teh yang menghampar hijau memanjakan mata, lalu menghirup udaranya dalam-dalam. Terasa sangat menyejukkan, berbeda sekali dengan udara perkotaan yang sesak oleh polusi.

"Kalau begitu, mari A Saga, Neng Nara, kita duduk dulu," ajak Bagja yang langsung diangguki oleh Sagara.

Mendengar namanya disebut, Nara menoleh. "Mm, Pak, saya izin keliling kebun tehnya saja, boleh? Sudah lama sekali saya tidak ke sini. Terakhir kali itu saat tanahnya baru digaru untuk ditanami bibit teh."

Pak Bagja sejenak menoleh ke arah Sagara, mendapatkan anggukan samar dari pria itu. "Iya, boleh, Neng. Tapi hati-hati ya, awas tergelincir."

Nara mengangguk mantap. "Siap, Pak!"

Gadis itu mulai menelusuri sela-sela larikan pohon teh yang sengaja dibuat untuk memudahkan pemetikan pucuk daun. Ponselnya sudah siap di tangan, siap mengabadikan panorama alam yang memesona. Aktivitas itu perlahan membuatnya melupakan sejenak masalah yang tengah menjerat pikiran.

Setelah Nara menjauh, Bagja dan Sagara melanjutkan obrolan mereka di bale-bale bambu beratap anyaman daun kelapa.

"Saya dengar dari beberapa warga, tanah mereka bukannya tidak ingin dijual. Tetapi mereka kurang percaya dengan orang luar, apalagi dari perusahaan besar," ujar Sagara, membuka topik. Informasi itu ia dapatkan dari bapak-bapak yang sempat diajaknya mengobrol di masjid.

Pak Bagja mengangguk lesu, ingatan masa lalu berputar di kepalanya. "Benar, A. Warga desa bukannya tidak mau menjual tanah mereka. Tapi mereka takut masuknya perusahaan asing bisa merusak lingkungan, sama seperti kejadian lima tahun lalu. Apalagi kalau tahu tanahnya mau dijadikan pabrik pengolahan, warga langsung sensitif. Bagi mereka, lebih baik tanahnya dipenuhi semak belukar daripada dijual lalu dibangun pabrik yang merusak alam."

"Memangnya merusak seperti apa, Pak?" tanya Sagara penasaran. "Kenapa trauma warga begitu mendalam?"

"Lima tahun lalu, ada pabrik teh instan berdiri di ujung sana. Baru beroperasi beberapa bulan saja, desa ini langsung tercemar. Udara penuh asap jelaga hitam, dan aliran air sungai jadi keruh berbau karena limbah cairnya dibuang sembarangan. Banyak warga yang batuk-batuk sampai sesak napas. Karena air sungai tercemar, petani juga kehilangan akses air bersih untuk sawah mereka. Ikan-ikan di sungai banyak yang mati membusuk. Pokoknya kacau, A! Sampai akhirnya warga mengamuk, mengusir paksa orang-orang itu, dan menghancurkan pabriknya sampai rata."

Sagara menghela napas panjang. Pantas saja warga desa begitu berhati-hati terhadap perusahaan besar dari kota. Namun, ada satu hal yang mengganjal di benaknya.

"Tapi Pak, saya lihat ada dua pabrik teh yang beroperasi di ujung desa. Kenapa warga tidak mempermasalahkannya?"

"Oh, kalau yang itu pabrik teh milik investor kota yang masih kerabat dekat Pak Kades, A. Manajemen mereka bagus. Mereka pakai sistem pengolahan modern, jadi asap ketelnya disaring dulu pakai wet scrubber supaya tidak bikin jelaga hitam ke pemukiman. Limbah cairnya juga masuk instalasi khusus sebelum dialirkan. Makanya warga tenang-tenang saja. Justru mereka terbantu karena pabrik itu membuka banyak lapangan kerja baru. Pekerja dari luar pun bisa membaur dan menghormati adat di sini."

Sagara berpikir sejenak, mencerna penjelasan Bagja dengan cepat. "Jadi, kalau warga kenal siapa pengelolanya dan percaya sistemnya aman, mereka tidak akan keberatan menjual tanahnya untuk dibangun pabrik."

"Benar, A. Tinggal bagaimana kita melakukan pendekatan ke warga dan bicara baik-baik," Bagja membenarkan. "Lagi pula, kalau sudah ada pabrik pengolahan di desa ini, setelah panen kita tidak perlu lagi kirim daun teh jauh-jauh ke kota. Bisa langsung diproduksi di sini."

"Rencananya memang begitu, Pak. Pabrik pusat di kota sudah tidak sanggup menampung volume panen yang makin besar. Lagi pula, pucuk teh segar itu harus langsung diolah maksimal beberapa jam setelah dipetik. Kalau terlalu lama di perjalanan dan layu karena kepanasan, oksidasi alaminya rusak dan kualitas tehnya akan anjlok," jelas Sagara.

Pembahasan keduanya berlanjut hingga tanpa terasa hari semakin siang. Cuaca yang awalnya cerah perlahan berubah menjadi temaram, tertutup mendung tebal.

"Ya ampun, keasyikan ngobrol sampai tidak sadar waktu zuhur sudah lewat," ujar Bagja menepuk dahinya.

Sagara melirik arloji di pergelangan tangan, dan mendapati jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Dari kejauhan, Nara berjalan mendekat ke arah bale-bale seraya memeluk lengannya sendiri. Udara sejuk pegunungan telah berubah menjadi dingin yang menggigit. Hembusan angin dari puncak bukit terasa lembap, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi pekat pucuk daun teh.

Kabut putih keabu-abuan mulai merayap turun secara perlahan, menyusup ke celah-celah larikan pohon, membuat pemandangan di kejauhan pudar menyisakan siluet samar.

"Sepertinya mau hujan ini, sebaiknya kita pulang saja, A. Neng Nara juga kedinginan itu," ucap Bagja melihat keadaan Nara yang memang sedikit menggigil.

Sagara mengangguk setuju lalu bangkit berdiri. "Kalau ada hal penting lain yang ingin Bapak sampaikan, bisa temui saya di kosnya Bu Ratna."

"Siap, A."

Pandangan Sagara beralih pada Nara yang berjalan sambil menggigil kecil. Tanpa berpikir dua kali, pria itu melepas jaket tebalnya lalu melangkah lebar menghampiri sang gadis.

"Pakai ini," ujar Sagara menyodorkan jaketnya.

"Tidak perlu. Nanti kamu sendiri yang kedinginan," tolak Nara halus, mencoba menepis.

"Jangan membantah. Aku tidak mau ibu marah karena anak gadisnya pulang-pulang masuk angin," kata pria itu dengan nada rendah yang mutlak. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung menyampirkan jaket besar itu ke tubuh mungil Nara.

Nara berdecak kesal. "Seharusnya tidak perlu! Aku bisa—"

Kata-kata Nara tertahan di tenggorokan saat jemari Sagara dengan cekatan menarik ritsleting jaket ke atas hingga menutup rapat lehernya.

Tarikan mendadak itu membuat Nara kehilangan keseimbangan. Ia nyaris menubruk dada Sagara jika pria itu tidak segera menahan kedua bahunya. Dengan santai, Sagara lalu menarik kupluk jaket untuk menutupi kepala Nara yang mulai basah oleh rintik gerimis.

"Kamu ya!" desis Nara tajam.

Salah satu alis Sagara terangkat. "Hm?" gumamnya seolah tak berdosa, sementara jemarinya berpindah mencengkeram lembut pergelangan tangan Nara yang terasa dingin.

"Ehem," Pak Bagja berdehem keras-keras, memutus ketegangan intens yang mendadak tercipta di antara kedua anak muda yang seperti siap berperang itu. "Sebaiknya kita segera pulang, sebentar lagi hujan."

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!