NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Lelang Batu di Hotel Bintang Lima

Empat hari lalu, Bayu diusir dari sebuah kantor kecil.

Malam ini, petugas keamanan JW Marriott Surabaya menghentikannya di depan pintu ruang lelang.

"Undangan peserta ada di meja registrasi umum, Mas. Acara di dalam khusus VIP."

Bayu memandang polo hitam polos yang dibelinya sore tadi. Bersih, ukurannya pas, tetapi jelas tidak memiliki logo merek yang dikenali orang hotel.

Hendra, yang mengenakan kemeja batik pinjaman, berbisik, "Aku sudah bilang, pakai jam emas palsu dari bengkel."

"Supaya kita ditahan karena barang palsu?"

"Setidaknya ditahannya sebagai orang kaya."

Bayu mengeluarkan amplop hitam dari Toko Zamrud Nusantara. Petugas memindai kode pada kartu di dalamnya. Layar berubah hijau dan menampilkan nama Bayu Prasetyo serta akses pratinjau koleksi.

Sikap petugas itu langsung berubah. "Mohon maaf, Pak Bayu. Silakan masuk. Ruang VIP di sisi kanan."

"Terima kasih."

Bayu tidak memperpanjang kesalahan tersebut. Perubahan panggilan dari Mas menjadi Pak sudah cukup terdengar.

Ruang lelang dipenuhi pemilik toko, kolektor, dan perwakilan perusahaan perhiasan. Lampu gantung memantul pada etalase batu. Di bagian depan ada mesin potong untuk sesi penilaian bahan mentah. Di bagian samping, beberapa benda koleksi akan dilelang dalam sesi khusus hari berikutnya.

Intan menghampiri mereka. Ia mengenakan setelan abu-abu dan anting giok yang sama seperti saat pertama bertemu.

"Akhirnya Mas Bayu punya polo."

"Hendra memilihkan."

"Aku yang membayar dulu," sela Hendra. "Dia baru mengganti setelah aku mengancam menulis utang di belakang bajunya."

Intan tertawa kecil. "Audit gerai belum selesai. Polisi menemukan salah satu pelat terdaftar pada motor yang dilaporkan hilang. Tapi daftar orang dalam sudah menyempit."

"Jangan buru-buru menekan mereka," kata Bayu. "Orang yang merasa aman lebih mudah membuat kesalahan."

Intan mengangguk. "Aipda Joko mengatakan hal yang sama."

Seorang staf membagikan katalog. Bayu membuka halaman sesi benda koleksi.

Tangannya berhenti pada nomor 17.

Keris Pusaka Majapahit. Harga pembukaan Rp500 juta. Identitas penitip dirahasiakan.

Foto pada katalog memperlihatkan warangka yang sangat dikenalnya. Ada retak tipis di dekat pendok, noda hitam pada gagang, dan bentuk lekuk yang pernah ia lihat di tasnya sendiri.

Bayu berjalan ke area pratinjau.

Keris itu berada di balik kaca.

Ketika ia memusatkan Mata Dewa, struktur bilah muncul jelas. Lapisan tempa dan pola pamor sama dengan benda yang dibawa Rizal kepadanya. Bahkan bekas karat dangkal di sisi ketujuh masih ada.

Itu Keris Rizal.

Bayu membaca keterangan katalog sekali lagi. Asal barang hanya ditulis "koleksi pribadi Jawa Timur". Tidak ada nama keluarga, tahun perpindahan, atau dokumen sebelum masuk lelang. Untuk benda biasa, keterangan sesingkat itu mungkin cukup. Untuk Keris yang baru empat hari lalu berada di tangannya, kalimat tersebut justru menjadi lubang besar.

Ia meminta formulir laporan kondisi dari petugas pratinjau. Nomor seri lot, retak warangka, panjang bilah, dan waktu pemeriksaan dicatat. Bayu tidak menuduh siapa pun. Ia hanya memastikan kondisi benda hari ini memiliki jejak tertulis yang tidak bisa diubah diam-diam.

Pak Karto menjualnya seharga dua juta. Empat hari kemudian, pusaka itu muncul di hotel bintang lima dengan harga pembukaan setengah miliar.

Amarah naik ke tenggorokan Bayu, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia mencatat nomor benda, jadwal sesi, dan nama petugas penyerahan. Jika membuat keributan sekarang, pihak yang menitipkan barang bisa menghilang sebelum ia mendapatkan satu petunjuk pun.

"Menarik, ya?"

Suara laki-laki itu datang dari belakang.

Kevin Putra Wijaya berdiri dengan setelan biru tua. Senyumnya masih sama seperti foto yang pernah dilihat Bayu di grup kantor: percaya bahwa setiap ruangan sudah dimiliki keluarganya sebelum ia masuk.

Di sisinya ada seorang perempuan muda berhijab rapi dengan syal bermotif Mega Mendung. Wajahnya lembut, tetapi pandangannya tajam. Di belakang mereka berdiri Haji Rachmat Permata, sosok yang dikenal hampir semua orang di industri batu mulia.

"Mbak Intan," sapa perempuan itu lebih dulu. "Saya dengar keluarga Wibowo menemukan penilai baru."

"Keluarga kami tidak mempekerjakannya," jawab Intan. "Mas Bayu bekerja untuk dirinya sendiri."

"Bagus. Orang berbakat cepat rusak kalau terlalu dini dianggap milik satu keluarga."

Intan tersenyum tipis. "Dan cepat dimanfaatkan kalau terlalu banyak keluarga menawarkan bantuan."

Riani tertawa lembut. "Berarti kita sama-sama akan melihat dulu."

Bayu menangkap persaingan halus itu. Tidak ada suara tinggi, tidak ada saling merendahkan. Dua pewaris keluarga besar berbicara dengan senyum, tetapi setiap kalimat menandai batas wilayah.

Kevin baru menyadari siapa yang ada di depannya.

"Eh, lo yang kemarin dipecat dari kantorku, kan?" Ia tertawa. "Sekarang jadi tukang batu?"

Beberapa orang menoleh.

Bayu menutup katalog. "Saya bekerja di sana sebelum keluarga Anda membeli jalan masuk untuk satu posisi. Sekarang saya memang menilai batu."

"Mas Kevin," kata perempuan berhijab itu, "kalau mau bicara soal bisnis, jangan mulai dengan membanggakan pemecatan orang."

Kevin segera melunakkan suara. "Riani, gue cuma kenal dia. Bayu ini staf biasa."

Riani Permata mengangguk kepada Bayu. "Kalau staf biasa bisa masuk ruang VIP, mungkin penilaiannya yang tidak biasa."

Hendra menutup mulut dengan tangan, menyembunyikan senyum.

Kevin melihatnya. Harga dirinya tersengat di depan perempuan yang sedang ia dekati.

"VIP bisa didapat dari rekomendasi satu toko." Ia menunjuk area bahan mentah. "Kemampuan asli kelihatan dari pilihan. Berani uji sekarang?"

"Uji seperti apa?"

Panitia baru saja membuka sesi pembelian bahan dan potong langsung. Puluhan batu berlabel tersedia. Peserta dapat membeli satu bahan, menentukan garis potong, lalu menerima penilaian terbuka.

Kevin mengeluarkan buku cek. "Lo pilih satu batu. Kalau hasilnya tidak menutup harga beli, lo bayar seratus juta kepada gue. Kalau nilainya lebih tinggi, gue bayar dua ratus juta. Kita tulis sebagai tantangan penilaian dan transfer resmi biar jelas ini serius."

Intan mendekat. "Kevin, tidak perlu mengubah acara jadi panggung pribadi."

"Takut jagoanmu malu?"

Bayu memandang deretan batu. Ia telah beristirahat sehari penuh dan membatasi penggunaan Mata Dewa. Satu batu di sisi belakang memancarkan cahaya emas begitu kuat sampai batu-batu lain tampak kusam.

"Saya terima," katanya.

Rachmat, yang sejak tadi diam, mengangkat satu jari. "Tantangan harus jelas. Harga beli dicatat. Hasil dinilai oleh dua penilai independen. Pembayaran wajib lewat transfer. Uang tunai di meja tidak diterima."

Kevin tersenyum. "Sepakat, Pak Haji."

Bayu mengangguk. "Sepakat."

Dokumen satu halaman disiapkan. Kevin menandatangani janji pembayaran Rp200 juta. Bayu membeli batu pilihannya dengan harga Rp90 juta dan menyetujui kewajiban Rp100 juta jika hasilnya tidak menutup harga beli.

Seorang penilai yang dibawa Kevin memeriksa batu itu. Kulitnya kasar, bentuknya pipih, dan salah satu sisinya tampak lebih ringan.

"Pilihan buruk," katanya keras agar orang-orang mendengar. "Batu biasa."

Kevin menepuk dokumen di meja. "Masih bisa mundur sebelum dipotong."

"Dokumennya sudah ditandatangani," jawab Bayu. "Saya tidak punya kebiasaan mundur setelah tanda tangan."

Kevin meletakkan cek jaminannya di depan panitia. Semua mata beralih kepada batu pipih di meja potong.

Riani mengangkat gelas jusnya, untuk pertama kali menatap Bayu tanpa selingan.

Di mata mereka, Bayu baru saja membayar Rp90 juta untuk batu buruk.

Di mata Bayu, batu itu menyimpan cahaya paling terang di seluruh ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!